Jamal D. Rahman

14 Juni 2017

Yang Transenden dan Yang Imanen, Yang Maskulin dan Yang Feminin

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Cover Buku Berbagi ZikirPengantar Jamal D. Rahman

Aku dibuat mencintai perempuan dan wewangian.
Nabi Muhammad SAW.

Sebagai bunga rampai puisi perempuan penyair Indonesia, buku ini bukan yang pertama. Sejauh ini sudah terbit beberapa bunga rampai puisi perempuan penyair Indonesia. Di antaranya adalah Sembilan Kerlip Cermin (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000), Pesona Gemilang Musim (Pekanbaru: Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru, 2004), dan Perempuan Laut (Sumenep: Forum Bias, 2016). Buku pertama berisi puisi 9 perempuan penyair, dibicarakan dengan menarik oleh Melani Budianta, dan dengan tak kalah menarik oleh Korrie Layun Rampan. Buku kedua berisi puisi 83 perempuan penyair dari berbagai daerah Indonesia. Buku ketiga berisi puisi 10 perempuan penyair asal Madura, Jawa Timur.

(more…)

18 Mei 2016

Berthold Damshäuser: Wisata Intelektual Seorang Indonesianis

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

cover buku ini itu berthold okeOleh Jamal D. Rahman

“Ada banyak kesungguhan dalam main-main, dan banyak main-main dalam kesungguhan.”

―Berthold Damshäuser

Di tahun 2011, seusai mengikuti acara Jakarta-Berlin Arts Festival yang diprakarsai penyair Jerman Martin Jankowski di Berlin, kami melakukan perjalanan darat selama 8 jam dari Berlin ke Bonn, Jerman. Kami berempat: Berthold Damshäuser, Mbak Dian Apsari (istrinya), Joni Ariadinata, dan saya sendiri. Saya dan Joni harus ke Bonn untuk diskusi sastra di Universitas Bonn, tempat Berthold mengajar. Mengendarai mobil Volkswagen hitamnya yang nyaman, Berthold Damshäuser menyetir mobilnya di musim panas itu. Mbak Dian di depan; saya dan Joni di belakang. Perlu diketahui bahwa di Jerman, mobil setir kiri semua. Bagi saya (dan pasti bagi Joni Ariadinata juga), ini merupakan satu kehormatan sekaligus kebahagiaan. Bayangkan: kami melakukan perjalanan bersama indonesianis Jerman di kampung halamannya sendiri, ditemani istrinya pula, Dian Apsari, yang ramah dan sangat hangat, bahkan menyediakan kopi untuk perjalanan kami. Ini pasti perjalanan yang sangat mengesankan.

(more…)

26 April 2016

Haiku Herry Dim: Ketidakbebasan untuk Pembebasan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

maka biarkan
aku memilih sepi
sunyi sendiri
―Herry Dim, “Cowong”

Ketika Herry Dim meminta saya menulis pengantar untuk bukunya yang merupakan kumpulan haiku (dan haiga) ini, saya katakan bahwa saya tak faham haiku. Saya tidak bisa menghayati haiku dengan baik, karena saya sama sekali tak bisa bahasa Jepang. Saya tak mungkin menghayati haiku dalam tradisi asalnya. Tapi Herry Dim tetap meminta saya menulis pengantar. Tentu saja saya harus mengapresiasi kerja dan karya kreatifnya ini. Akhirnya saya mengiyakan, dengan catatan bahwa pengantar saya hanyalah catatan seseorang yang awam di bidang haiku dan puisi Jepang pada umumnya.

(more…)

8 Februari 2016

Ketam Ladam Rumah Ingatan: Menggali Madura, Menggali Pesantren

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Ketam Ladam Rumah Ingatan

Pengantar Jamal D. Rahman


aku ombak
Berdebur
Memanjang
Mencari diam
yang hilang
di dalam engkau.

(Muhammad Ali Fakih, “Di Laut Musik”, dimuat dalam buku ini).

Dalam kurang-lebih sepuluh tahun terakhir, Madura adalah taman subur bagi puisi Indonesia. Bunga-bunga puisi tumbuh dan mekar dari pulau kecil ini dalam jumlah relatif tinggi, menghiasi berbagai media massa di berbagai daerah Indonesia, baik cetak maupun online. Banyak juga puisi dimuat dalam beberapa bunga rampai yang terbit di luar Madura untuk beberapa dalam rangka. Tumbuh pula sejumlah sanggar dan komunitas sastra, yang tentu saja menyediakan likungan kondusif bagi gairah kehidupan puisi dan sastra pada umumnya. Terbangun juga jaringan antara beberapa komunitas sastra di Madura dengan komunitas-komunitas sastra di Jawa, Sumatera, dan lain sebagainya. Beberapa penyair asal pulau ini menerbitkan buku puisi, meluncurkannya di berbagai kota, menghadiri forum-forum sastra baik di dalam maupun di luar negeri, dan lain sebagainya. Beberapa karya mereka mendapatkan perhatian dan dibicarakan oleh kritikus sastra. Secara berlebihan dapat dikatakan bahwa dalam satu dekade terakhir terjadi ledakan puisi Indonesia di Madura.

(more…)

2 Februari 2013

Fiksionalisasi Fakta: Masalah Teoritis Puisi Esai Ahmad Gaus

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Saya mengenal Ahmad Gaus sebagai intelektual dan aktivis yang banyak menyuarakan isu-isu pluralisme dan inklusivisme Islam, di samping tentang politik dan kebudayaan. Dia telah menulis dan menyunting sejumlah buku seputar isu-itu tersebut. Salah satu karyanya yang cukup penting adalah Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner (2010),1 yang merupakan biografi dan pemikiran Nurcholish Madjid, salah seorang tokoh neo-modernis Islam Indonesia terkemuka. Sudah tentu Ahmad Gaus adalah intelektual yang pemikirannya mengikuti dan sejalan dengan neo-modernisme Islam Indonesia. Maka ketika kini Gaus datang dengan sebuah buku puisi, dengan segera kita menduga bahwa puisi-puisinya pun mengusung gagasan-gagasan yang telah digelutinya selama ini. Tapi mengapa puisi? Apakah puisi di tangannya akan menjadi kaki dan tangan melalui mana gagasan dan obsesi intelektualnya diharapkan sampai kepada khalayak sasaran dan khalayak andaiannya? Jika puisi lebih merupakan kaki dan tangan, dan bukan Puisi —dengan P besar— itu sendiri, untuk menyampaikan gagasan apakah gerangan Gaus berpuisi?

(more…)

1 Februari 2013

Puisi-puisi Arahmaiani: Setelah Lari Sejauh Impian dan Kekecewaan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Dalam mangkuk teh hijau
tak ada bayang-bayang apa pun

(Puisi “Upacara Minum Teh”)

Dalam kerangka kerja keseniannya yang secara kreatif seringkali mencoba menerobos batas-batas konvensi, dan secara lantang menyuarakan sejumlah pesan sosial-politik di banyak tempat dan kesempatan, di manakah puisi Arahmaiani (Iani) mengambil tempat?

(more…)

20 September 2008

Cinta, Tuhan, Indonesia

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Puisi adalah pesona bahasa. Puisi yang baik pastilah menyuguhkan keindahan bahasa yang membuat kita terpukau dan terpesona. Ia membuktikan bahwa bahasa memiliki keindahannya sendiri. Lewat puisi kita bisa menikmati salah satu kekuatan bahasa, yaitu nuansa estetis yang mungkin mengharu-biru perasaan dan hati kita. Tidak mengherankan kalau ada kalanya kita begitu terpesona pada sebuah puisi bukan karena makna yang disampaikannya, melainkan karena pilihan kata dan metafor yang digunakannya. (more…)

Taufiq Ismail: Sebuah Dering Peringatan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman


tapi bila malam lembayung
dan antara kapas langit bulan berdayung
temaram di atas tetangkai jeruk
rawa dengan wajah kaca hitam
mengunjur dan menggeliat ke hulu
bagai perempuan berahim subur
dan angin yang mengaliri pepohonan
membawa nafas Tuhan

(Taufiq Ismail, “Surat dari Lampung”, Mimbar Indonesia, no. 38/39, thn. XIII, 10 Oktober 1959)

Dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi sosialnya yang tajam, dan seringkali tanpa begitu peduli pada capaian estetika tinggi yang merupakan obsesi kebanyakan penyair, apa sesungguhnya obsesi intelektual Taufiq Ismail? Membaca karya-karyanya, terutama yang terhimpun dalam buku ini, ialah membaca sikap seorang intelektual yang tengah terlibat atau melibatkan diri dalam berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam konteks ini ada dua hal. Pertama, kegelisahan intelektual seorang pengarang yang sedang menghadapi masalah besar yang amat konkret di sekitarnya, yaitu antara lain masalah ideologi, perang, benturan peradaban, dan pendidikan. Kedua, kepedulian seorang pengarang pada masalah sederhana namun menggoda dan menuntut perhatiannya pula, misalnya beberapa masalah kesenian dan olahraga sederhana dilihat dari bangunan besar obsesi intelektual Taufiq sendiri. (more…)

Puisi-puisi Epri Tsaqib: Kembali ke Dunia-Dalam Manusia

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Hidup kita adalah hidup yang sibuk dan berisik, baik dalam arti harfiah maupun eksistensial. Secara harfiah, hidup kita sibuk dengan berbagai pekerjaan, rutinitas sehari-hari, di kantor, pasar, jalan raya, bahkan sawah dan ladang. Hidup kita berisik oleh berbagai suara kendaraan, radio, televisi, mesin, dan lain-lain. Bahkan di rumah pun, hidup kita amat berisik: suara televisi mendesakkan diri mengisi rumah kita nyaris sepanjang waktu. Lebih dari itu, hidup kita berisik oleh banjir informasi yang, sayangnya, tidak seluruhnya kita perlukan namun kita tidak selalu kuasa untuk menolaknya. Begitulah kita pun kian sibuk: harus menerima informasi yang tidak kita perlukan sekalipun. Kita hidup nyaris di bawah tekanan kesibukan dan kebisingan, yang kian hari tampak kian menekan. Kita tidak bisa keluar dari kesibukan dan kebisingan, yang lambat-laun menjebak kita untuk ambil bagian di dalamnya, sehingga kita turut “menikmati” kesibukan dan kebisingan sebagai bagian dari tuntutan eksistensial kita. Hidup kita terasa berarti karena kita berada di tengah arus deras kesibukan dan kebisingan. Berada di luar itu, kita seakan teralienasi, merasa terasing, bahkan mungkin merasa tidak berarti. Kita hanya merasa berarti, merasa ada, ketika kita berada di tengah deru hidup yang sibuk dan berisik. (more…)

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: