Jamal D. Rahman

24 April 2016

Suara Sastra dari Bekasi

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman


Empat puluh hari setelah penyair malang itu dikubur
Kain kafannya kauambil dan kaurajut menjadi senja
….

(Yoyong Amilin, “Senja di Genggamanmu”,
buletin Jejak, 01, April 2011)

Pertama-tama saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Forum Sastra Bekasi (FSB), yang pada April 2016 ini genap 5 tahun. Secara pribadi saya senang, bangga, dan bersyukur dengan apa yang telah dicapai FSB, lembaga yang dengan gigih dan kerja keras merawat suatu komunitas, sehingga melahirkan sejumlah karya yang dengannya telah pula menggairahkan kehidupan sastra Indonesia. Dalam lima tahun perjalanannya, tentu saja cukup banyak hal telah dilakukan, betapapun saya yakin para eksponennya sendiri tidak merasa puas dengan apa yang telah dicapai. Bagaimanapun, FSB adalah satu kasus komunitas sastra Indonesia yang dengan dedikasi tinggi berusaha menyumbangkan sesuatu bagi sastra Indonesia. Dengan segala keterbatasan, sebisa mungkin saya akan mencatat apa yang dalam pertimbangan subjektif saya merupakan hal penting yang telah dicapai FSB, terutama dengan menimbang publikasi-publikasinya. Dengan itu semua, keberadaan FSB akan memaksa kita untuk lebih mengakui komunitas sebagai salah satu faktor dalam sastra Indonesia.

Dalam sejarah komunitas sastra di Indonesia, pada mulanya komunitas tidak diakui sebagai faktor dalam sastra Indonesia itu sendiri. Meskipun banyak penulis atau sastrawan lahir dari komunitas, komunitas dipandang non-faktor. Nama-nama angkatan tidak dinisbahkan pada komunitas, melainkan pada penerbit atau media tempat sastrawan mempublikasikan karya mereka: Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Generasi Kisah, Generasi Horison, dll. Meskipun di Jakarta misalnya ada komunitas Seniman Senen yang melahirkan Chairil Anwar, dan kemudian di Yogyakarta ada Persada Studi Klub yang melahirkan Emha Ainun Nadjib, komunitas tetap dianggap non-faktor. Tapi setidaknya sejak tahun 2000-an, mulai muncul pandangan dan kesadaran baru bahwa komunitas merupakan faktor penting dalam sastra Indonesia.

Terdapat hubungan segitiga yang sangat jelas dan saling mendukung, yaitu antara penulis, komunitas, dan publikasi. Penulis membangun komunitas, selanjutnya komunitas menerbitkan sejumlah publikasi baik buku maupun buletin, dan kemudian melahirkan penulis-penulis baru. Sudah tentu komunitas memiliki beberapa program atau aktivitas seperti diskusi dan panggung sastra, baik rutin maupun insidental. Namun pada akhirnya kegiatan penting mereka adalah menerbitkan sejumlah publikasi, baik berkala maupun insidental seperti buku, yang terutama berisi karya anggota komunitas itu sendiri. Publikasi pastilah mendorong anggota komunitas untuk berkarya dan mengkomunikasikan karya mereka kepada khalayak. Hubungan segitiga yang saling mendukung ini bahkan merupakan suatu lingkaran kreasi dan produksi sastra yang saling menghidupi dan saling menghidupkan satu sama lain.

Jejak Sajak Bekasi
FSB adalah satu kasus dimana lingkaran kreasi dan produksi sastra itu berlangsung. Inilah suara sastra dari Bekasi, Jawa Barat. Dimotori oleh penyair Budhi Setyawan, M. Taufan Musonip, Yoyong Amilin, Dani Ardani, dll., FSB berdiri di tahun 2011, dan segera melakukan sejumlah kegiatan, seperti diskusi dan penulisan. Di antara kegiatannya yang penting, segera setelah berdiri, FSB menerbitkan buletin Jejak secara berkala. Terbit setiap bulan sejak April 2011, buletin Jejak memuat puisi, cerpen, esai sastra-budaya, kritik sastra, dan ulasan buku. Ada pula “Embrio”, rubrik untuk puisi karya siswa, dan karya siswa yang dimuat di situ diulas oleh redaksi. Yang pertama-tama harus diapresiasi adalah bahwa buletin ini terbit rutin setiap bulan hingga mencapai usia 5 tahun di bulan April 2016. Dengan buletin Jejak, sekarang FSB adalah satu-satunya komunitas sastra Indonesia yang sejak berdirinya memiliki publikasi bulanan dan mampu mempertahankannya setidaknya hingga 5 tahun pertama usianya.

Terbit 16 halaman setiap edisi, Jejak tak hanya memuat karya para eksponen FSB, melainkan juga karya sastrawan Jakarta, Yogyakarta, Malang, Madura, Lombok, Kalimantan, Sumatera, dll. Dengan demikian, kepada para penulis di berbagai daerah, Jejak segera memperkenalkan diri sebagai buletin sederhana yang diterbitkan oleh sebuah forum sastra yang relatif muda di Bekasi, Jawa Barat. Lebih dari itu, ia merupakan jangkar yang dengannya FSB mencoba menancapkan posisinya di hati para penulis di berbagai daerah. Tampaknya hal tersebut segera memberikan rasa percaya diri bagi FSB, yaitu bahwa FSB dan Jejak-­nya benar-benar ada dan hadir, tidak hanya untuk Bekasi, melainkan juga untuk sastra Indonesia secara luas. Dengan Jejak, FSB seolah berkata dengan yakin, “Lihat, kami ada. Kami berkarya, dan akan terus berkarya.”

Beberapa eksponen FSB menulis secara relatif rutin di buletin tersebut. Budhi Setyawan, ketua FSB yang juga pemimpin redaksi Jejak, menulis “Mukaddimah” di setiap edisi. Di situ dia melaporkan perkembangan FSB, kegiatan yang telah dan/atau akan dilakukan, juga renungan-renungan pribadinya tentang sastra dan fenomena kebudayaan. Sementara, M. Taufan Musonip, redaktur pelaksana, di samping menulis puisi dan cerpen, secara relatif rutin menulis esai-esai sastra-budaya di rubrik “Catatan Kebudayaan”, dengan tema yang cukup beragam, juga dengan minat terhadap filsafat sebagai perspektif kebudayaannya. “Catatan Kebudayaan” adalah rubrik tetap yang menyajikan isu utama buletin Jejak setiap edisi.

Kadang-kadang “Catatan Kebudayaan” diisi oleh penulis dari daerah lain. Tapi rubrik tersebut diisi terutama oleh eksponen-eksponen FBS sendiri, yaitu Budhi Setyawan, Bagus Anom, Martin Moentadhim S.M., Rismudji Rahardjo, Hasan Bisri BFC, Ummi Risa, Dee Diana, Sofyan RH. Zaid, Fitrah Anugerah, Nila Hapsari, En Kualiadi Nf, Bagus Setyo Purwo, Arini Airiaririn, dan Jack Efendi. Meskipun isu utama buletin dapat diisi oleh penulis dari luar FSB, isu-isu utama buletin Jejak bagaimanapun diisi oleh eksponen-eksponen FSB sendiri. Dengan demikian, FSB-lah yang memproduksi isu-isu utama sastra budaya dalam buletin ini. Apa yang penting dari fakta ini adalah bahwa FSB tak hanya memproduksi karya-karya kreatif, melainkan juga memproduksi berbagai pemikiran sastra-budaya. Dalam arti itu, FSB bukan saja komunitas kreatif sastrawan, melainkan juga komunitas diskursif.

Buletin Jejak dapat menjelaskan keberadaaan FSB lebih jauh. Lepas dari isinya, buletin Jejak merupakan bukti bahwa FSB memiliki stamina untuk melakukan lari jarak jauh. Bahwa ia terbit rutin setiap bulan, itu berarti FSB tidak pernah berhenti berkarya dan beraktivitas. Di antara kegiatan-kegiatannya yang lain, menerbitkan Jejak merupakan kegiatan FSB yang kontinu selama lima tahun usianya. Dalam arti itu, FSB melakukan maraton, bukan lari cepat (sprint). FSB melakukan lari jarak jauh tanpa henti setidaknya selama lima tahun sejak berdirinya, dan saya berharap akan terus larik jarak jauh dengan capaian yang lebih membanggakan.

Tentu saja, baik maraton maupun lari cepat memerlukan stamina yang prima, namun dalam maraton stamina tidak bisa dikuras “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Dalam maraton, penggunaan stamina harus diatur, kemampuan nafas harus diukur, penggunaan tempo untuk jarak yang akan ditempuh harus terukur. Maka di situ perlu ada irama atau tempo: kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat, kadang-kadang sangat cepat ―tentu saja tanpa pernah berhenti. Memang, dalam maraton kecepatan merupakan hal penting. Tapi hal itu mensyaratkan strategi dan kemampuan mengatur irama dan tempo, agar stamina dan lain sebagainya tak habis di tengah jalan. Sayangnya, dalam kasus FSB, lari jarak jauh dilakukan justru dengan mental “lari cepat”. Buletin Jejak seakan digesa untuk terbit “dalam tempo yang sesingkat-singkat”. Jejak terkesan selalu dikerjakan dengan terburu-buru.

Tapi sekali lagi, FSB setidaknya telah membuktikan bahwa ia memiliki stamina yang cukup untuk lari jarak jauh. Hal itu ditandai pula dengan dua publikasi lainnya, yaitu antologi puisi Kepada Bekasi (2013) dan Saksi Bekasi (2015). Antologi Kepada Bekasi memuat puisi 17 penyair; sedangkan antologi Saksi Bekasi memuat puisi 16 penyair. Sebagaimana tampak dari judulnya, dua buku tersebut berbicara tentang Bekasi, kota yang di zaman kolonial dan revolusi merupakan basis perjuangan fisik, kota yang kini mengalami perubahan-perubahan besar sebagai penyangga ibukota Jakarta. Secara umum antologi puisi itu mengekspresikan berbagai suasana hati menghadapi kota itu dengan segala kenangan dan perasaan terasing akibat perubahan-perubahannya yang dramatis.

Untuk sekadar memberikan gambaran bagaimana para penyair bersaksi berikut pandangan dan sikap mereka tentang Bekasi, saya kutip puisi “Ode Bekasi” karya Dian Rusdiana (dalam Saki Bekasi):

ODE BEKASI
 
di tubuhmu
apakah sawah-sawah masih berderai
dengan hijau hampar permadani
 
jika benar kau adalah ladang
harusnya jagung, umbi dan ketela
telah bertunas dan tumbuh
pada tiap jengkal tanahmu
 
lalu,
ke manakah pucuk pepohonan
yang basah dan bercahaya
kala tertimpa air hujan
dan memantulkan kenangan
tentang matahari yang selalu rindu
pada kicauan burung
yang hinggap di dahan gelisah
 
tak lagi kulihat
matamu yang menyimpan
ricik jernih air kalimalang
yang selalu mengalirkan gairah para petani
untuk mencangkul waktu
 
hari-hariku serupa pertarungan panjang
kian asing dalam remang langitmu
dan pada tanahmu yang memendam bara api
aku hangus terbakar
 
Januari 2015.

Dengan nada prihatin, puisi Dian Rusdiana di atas melukiskan perubahan Bekasi di mana alam pertaniannya tergerus oleh pertumbuhan kota. Juga suasana alamnya yang terkikis habis dan tak asri lagi, dan sungainya yang tak menyuburkan pertanian lagi. Nada prihatin melihat perubahan itu dibarengi dengan perasaan terasing dan kehilangan yang sangat dalam: … pada tanahmu yang memendam bara api/ aku hangus terbakar.

Hal senada dikemukakan Fitrah Anugerah dalam puisinya “Pabrik” (dalam Saksi Bekasi). Sebagai jalan menuju kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi, berdirinya pabrik tentu perlu bahkan merupakan keharusan. Tapi bagaimanapun ia memerlukan ongkos yang sangat mahal, di antaranya adalah hilangnya berbagai sumber daya lama. Dalam konteks itu, pabrik hadir dengan wajah ganda: ia adalah roda penggerak ekonomi di satu sisi, sekaligus penggerus berbagai hal lama di lain sisi. Dengan nada cukup keras, Fitrah Anugerah melihat sisi kedua:

 
dari ledakan nyala api tungku pembakaran
kau tahu akan takdirmu, diurai asap dari cerobong
dan keping-keping logam yang dientas
menjadi pisau menusuk sepi ladang menjadi bising abadi
….

Bekasi yang mengalami perubahan dramatis itu tentu saja berdampak langsung pada manusianya, pada hidup warganya. Lingkungan alam dan pertanian yang berubah menjadi lingkungan pabrik dan industri mengubah pola hidup dan hubungan sosial, dari tingkat keluarga hingga tingkat kemasyarakatan yang lebih luas. Puisi “Keluarga K” karya Bayu Ambuari (dalam Saksi Bekasi) mengekspresikan dampak perubahan kota terhadap manusia dalam sebuah keluarga kecil, dimana seluruh anggota keluarga seakan berusaha bertahan hanya dengan sisa-sisa sumber daya yang masih tersedia, setelah hampir semuanya tertelan oleh deru perubahan kota:

KELUARGA K
 
di tengah kepungan pabrik, kukenang ibu: angka-angka tanggal dari almanak, waktu terus memberat di dinding dan persimpangan urat; ia tak lagi ada di keduanya. tapi benih paling cinta yang dengan tabah dituai telah mengakar dalam dada.
 
kakak perempuanku, menjelma padi. menguning di sepetak sisa sawah kami. pucuknya menggapai-gapai pagi, kulitnya bertukar warna dengan kilau matahari.
 
ayahku; tangan kanannya memegang cangkul, tangan kiri menggenggam tongkat ―bergerak ia dalam diamnya.
 
kakak laki-lakiku, tabib sekaligus penyair. mengusir segala penyakit dengan puisi dan ramuan tumbuh-tumbuhan. senyaring kesiur selatan, ia melengking. hilang, kemudian ke kota tanpa kata.
 
aku kini semata angin yang sebatang kara. berdepus, berhembus mencari kamus: doa berdetak, bergema menanak usia.
 
14 Februari 2015

Tentu saja kita bisa mempersoalkan kenapa puisi cenderung melihat katakanlah sisi-sisi negatif dari pertumbuhan kota Bekasi yang berdampak pada berbagai perubahan dramatis itu. Kenapa puisi tidak melihat juga segi-segi positif kota dengan segala pertumbuhan dan perubahannya yang pastilah tidak seluruhnya negatif. Betapapun kota menimbulkan perasaan terasing dan kehilangan, toh orang-orang ―bahkan penyair yang menangisi perubahan pun― tak lantas meninggalkan kota. Bekasi tetaplah kota yang menarik urbanisasi, menyedot orang-orang datang ke sana untuk menemukan hidup mereka.

Tapi demikianlah puisi. Ia menggali sekaligus mengekspresikan kompleksitas berbagai dilema dari perasaan-perasaan yang tertimbun di balik berbagai hal yang tampak meriah di permukaan. Apa yang tampak meriah di permukaan ―pertumbuhan pabrik, pembangunan gedung, dibukanya mal-mal, dan lain sebagainya― bagaimanapun membawa serta hal-hal yang bergejolak bahkan pedih, jauh di dibalik apa yang tampak meriah di permukaan itu sendiri. Puisi mencoba menggali hal-hal yang bergejolak jauh di bawah permukaan itu. Barangkali untuk mengingatkan orang bahwa di balik hal-hal yang tampak meriah ada hal-hal yang pedih. Bagaimanapun, penyair menangisi Bekasi karena mereka mencintai kota itu sendiri, sebagaimana dikatakan Yudhistira ANM Massardi dalam puisinya “Bekasi, Aku Bersaksi” (dalam Saksi Bekasi):


Bekasi
Meski makin payah menggapaimu 
Aku tak bisa tak mencintaimu
Anak-anak dalam pelukmu
Uzurku ada padamu
….

Telpon Pintar dan Kepak Sajak 
Dan FSB terus berkarya, yang dalam perjalanan selanjutnya menunjukkan capaian dan pekembangan yang kian menjanjikan. Sejak tahun 2013, FSB membuka program baru, yaitu program yang mendorong bahkan mewajibkan anggota atau eksponennya menulis puisi lewat grup Black Berry Massanger (BBM). Program yang dikelola oleh penyair Sofyan RH. Zaid ini bernama Lumbung Sajak. Di situ setiap anggota diwajibkan menyetor puisi setiap minggu lewat grup BBM dalam telpon pintar mereka. Puisi-puisi mereka selanjutnya didiskusikan, disempurnakan, dikumpulkan, dan kemudian diseleksi. Hasilnya adalah dua buah bunga rampai Sajak Puncak (2015) dan Kepak Sajak (2016). Sajak Puncak memuat 22 puisi karya 22 penyair; Kepak Sajak  memuat 23 puisi karya 23 penyair.

Pada hemat saya, dua antologi puisi ini menandai perkembangan penting FSB dalam etape terakhir dari 5 tahun usianya. Secara umum ia memperlihatkan perkembangan antologi puisi yang kian matang dibanding dengan publikasi-publikasi sebelumnya. Di sini saya tidak berbicara perkembangan puisi setiap penyair, melainkan antologi puisi secara garis besar. Demikianlah maka itu tidak berarti bahwa puisi penyair A dalam antologi ini lebih baik dibanding puisi penyair A itu sendiri dalam antologi dan publikasi lainnya. Dalam kasus tertentu terjadi sebaliknya. Misalnya, puisi En Kurliadi Nf, “Penyair yang Jatuh Cinta”, dalam Sajak Puncak, lebih mengesankan dibanding sajaknya, “Musim yang Baik”, dalam Kepak Sajak. Demikian juga itu bukan berarti tak ada kelemahan dalam puisi yang dimuat dalam dua antologi ini. Kelemahan tetap ada, tapi terasa bahwa kadar kelemahan di dalamnya lebih rendah dibanding kelemahan publikasi-publikasi lainnya.

Dikatakan dengan cara lain, sebagai antologi puisi, Sajak Puncak dan Kepak Sajak lebih meyakinkan dan mengesankan dibanding dua antologi puisi FSB sebelumnya, apalagi dibanding buletin Jejak. Puisi-puisi di situ terasa digarap dengan lebih cermat dan hati-hati, tentu oleh penyair sendiri, barangkali bersama editor dan eksponen FSB lainnya. Kalau disebut “puncak”, maka ia bukan saja “puncak” dari sekian banyak puisi yang dihasilkan dalam grup BBM itu, melainkan dari seluruh publikasi kolektif FSB. Terutama dalam konteks itulah, dua bunga rampai puisi ini menandai perkembangan penting publikasi dan capaian eksponen-eksponen FSB. Sekali lagi, puisi para penyair dalam dua antologi ini bagi saya mengesankan. Ingin saya sebut sebagian dari mereka: Bagus Anom, Bayu Ambuari, Budhi Setyawan, Diana Rusdiana, En Kurliadi Nf, Hasan Bisri BFC, Indra Kusuma, Jack Efendi, Nduk Win, Neneng Irnawati, Sofyan RH. Zaid, dan Wans Sabang.

Untuk mendiskusikan sebagian dari puisi dalam dua antologi ini, saya kutip puisi Bagus Anom (dalam Sajak Puncak):

ODE

Aku ingin berterimakasih pada gerimis yang turun semalaman
Dan lampu jalan yang nyala gemilang
Pada angin yang membawa napas kampung halaman
Pada waktu yang tak pernah berhenti merakit kenangan

Tambun, 5-9-2014

Bagi saya, puisi Bagus Anom di atas menarik, karena ia mengemukakan apa yang tak terpikir oleh banyak orang. Tak banyak, bahkan mungkin tak ada orang berterima kasih pada gerimis, lampu jalan, angin, dan waktu. Orang cenderung menganggap semua itu sebagai sudah demikian seharusnya. Orang mungkin bersyukur kepada Tuhan yang telah menurunkan gerimis; mungkin berterima kasih pada pemerintah kota yang telah menyediakan lampu kota. Tapi tidak pada gerimis dan lampu kota itu sendiri, yang sebenarnya memberikan manfaat atau berjasa secara langsung. Dengan demikian, puisi itu mengingatkan bahwa ada banyak hal yang memberikan manfaat atau berjasa langsung, yang karenanya kita harus berterima kasih kepada mereka. Yang tak kalah penting, puisi tersebut sangat asosiatif, membangkitkan asosiasi dan imajinasi kita tentang angin yang membawa napas kampung halaman, juga tentang waktu yang tak pernah berhenti merakit kenangan.

Berikut ini puisi Budhi Setyawan (dalam Kepak Sajak):

LAGU LUKA BATAS KOTA
 
aku mencatat nyanyianmu dengan partitur yang kehilangan
beberapa nada. lalu kulafalkan irama yang mengaduk sumbang,
dan entah mengapa aku pun hafal meski dikepung bimbang.
setiap malam tubuhku dikelupasi oleh kata kata dari bisik yang
mengaku berasal dari bibir masa depan. barangkali aku
terlampau terburu mengeja peta di garis tangan. dan aku mau
saja menurutkan arus risau hingga aku tersekap dalam ruang
dengan sekat yang pisau.
 
pada beraneka ritme pertemuan aku menandai dengan siluet
kepak capung di senja murung. aku tak pernah meminta
senarai kilau lelampu, karena biasnya memberat dalam
retinaku. mengirimkan birama ngilu yang berkepanjangan,
hingga aku seperti tersapih dari kisah awal mula hari
mengabarkan murni perasaan. kau tak pernah membuka pintu
bagi jeda kesibukan mimpi menara menara, tak pernah sampai
cahaya, sementara aku meriang demam terpisah dari asuhan
doa doa.
 
tak bisa kutampik pelukan banalmu yang kaupetik dari gaduh
kota. dan dengan dada koyak, aku tandai senandung yang
mengapung pada cuaca retak, diiringi matahari kemasygulan
yang mengalir sampai tanah kelahiran.
 
Bekasi, 19 Oktober 2015

Puisi Budhi Setyawan di atas mengandung banyak sekali imaji (citraan): imaji lihatan, imaji dengaran, dan imaji rabaan. Imaji demi imaji susul-menyusul dengan cepat, nyaris tanpa jeda. Dan, kata-kata di dalamnya melimpah pula, terutama diukur dari puisi sebagai karya kreatif yang menekankan efisiensi kata. Yang ingin saya katakan adalah bahwa dalam puisi yang mengandung imaji dan kata yang melimpah-ruah diperlukan kecermatan tingkat tinggi dalam mengendalikan atau mengontrol imaji demi imaji agar semuanya berada dalam satu struktur yang utuh, sehingga setiap bagiannya saling mendukung satu sama lain. Dalam puisi di atas, Budhi Setyawan menunjukkan kecermatannya dalam mengontrol imaji dan kata-katanya yang tumpah-ruah itu.

Bandingkan puisi tersebut dengan puisi yang menggunakan larik dan kalimat-kalimat pendek, dimana imaji demi imaji disajikan setahap demi setahap, misalnya puisi karya Sofyan RH. Zaid, “Mas Kawin”. Dalam puisi “Mas Kawin”, ada beberapa imaji, di antaranya adalah pohon-pohon doa dan bunga waktu yang akan tumbuh, burung-burung abad tinggal di pohon doa dan bunga waktu itu, dan sarang burung tersebut terbuat dari jerami bulan. Imaji demi imaji ini disajikan dengan perlahan, selangkah demi selangkah, setahap demi setahap. Imaji-imaji seakan disajikan satu demi satu. Hal itu sejalan dengan suasana umum puisi, yaitu suasana romantis dimana waktu seakan berjalan lambat dan perlahan. Berikut puisi Sofyan RH. Zaid (dalam Kepak Sajak):

MUSIM KAWIN

untuk menyuburkan tanah gersang
kita butuh setetes air mata saja, sayang

pohon-pohon doa akan tumbuh
begitu juga bunga waktu
burung-burung abad tinggal
sarangnya dari jerami bulan
hujan dan kemarau berjumpa

angin menyuguhkan anggur
dari perasan musim
: bumi dipeluk, langit dicium
kita duduk memandang keluasan

setelah membangun rumah dari pohon yang ditebang
demi anak-anak kita yang belum lahir.

2015

Mohon maaf saya tak mungkin membahas semua puisi penyair dalam dua antologi ini. Sekali lagi saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada FSB dan eksponen-eksponennya. FSB telah dan saya yakin akan terus melakukan apa yang bisa dilakukannya. Karena FSB bagaimanapun adalah sebuah komunitas, maka ia pertama-tama tentu harus memberikan perhatian pada anggota atau eksponennya. Dan karena FSB berbasis di Bekasi, maka ia harus pula memberikan perhatian dan kepeduliannya pada Bekasi sebagai kota dengan kompleksitas persoalan dan perubahannya. FSB telah melakukan itu, saya kira dalam batas maksimal yang bisa dilakukannya. Dengan itulah, FSB memberikan kontribusi pada lingkungan terdekatnya, dan dengan cara itu pula ia mengiur sesuatu pada sastra Indonesia. Dengan cara itu ia berarti.

Dan hanya setelah berarti, penyair boleh pergi. Tapi ia tak boleh pergi. Tak boleh pergi. Jikapun kelak memang harus pergi, mudah-mudahan: empat puluh hari setelah penyair malang itu dikubur/ kain kafannya kauambil dan kaurajut menjadi senja. Salam. []

Makalah disampaikan dalam Ulang Tahun Ke-5 Forum Sastra Bekasi (FSB) dan buletin Jejak, 24 April 2016, di Bekasi, Jawa Barat.

4 Komentar »

  1. Saya juga merasakan gebrakan Jejak, ini Bang Jamal. Sungguh mengesankan. Semoga komunitas tidak saja hadir pada pentas-pentas, namun hadir secara nyata dalam karya-karya mereka. Amiin.

    Komentar oleh Pilo Poly — 25 April 2016 @ 05:00 | Balas

    • Setuju sekali, Mas Pilo. Terimakasih. Salam.

      Komentar oleh Jamal D. Rahman — 26 April 2016 @ 05:00 | Balas

  2. Terima kasih mas Jamal. semoga menyemangati kita semua. salam sastra

    Komentar oleh budhisetyawan — 13 Mei 2016 @ 05:00 | Balas

    • Sama2, Mas Budhi. Salam untuk teman2.

      Komentar oleh Jamal D. Rahman — 14 Mei 2016 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: