Jamal D. Rahman

18 Maret 2009

Chairil Anwar: Gelora Hidup, Gelora Cinta

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Tak ada penyair Indonesia lebih dikenal dibanding Chairil Anwar. Tak ada penyair Indonesia lebih banyak dikenang dibanding Chairil Anwar. Siapakah tak kenal penyair ini, si binatang jalang yang mati muda?

Sejak awal kepenyairannya, dia sudah berbicara tentang maut. Puisi pertamanya adalah “Nisan”, yang ditulis Chairil di tahun 1942 untuk neneknya yang tentulah sudah pergi mendahuluinya. Puisi itu mengemukakan duka yang dalam, yang meskipun menyiratkan kekaguman penyair pada keridlaanmu [nenek] menerima segala tiba, tetaplah duka maha tuan bertahta. Sikap sang nenek menerima maut dengan rida ini tampak memberikan kesan yang dalam bagi Chairil, kesan yang kelak muncul dalam puisi yang ditulisnya menjelang kematiannya sendiri. Dalam puisi “Nocturno”, yang ditulis Chairil 3 tahun sebelum kematiannya, dia ada menulis: … ingatan pada ajal yang menghantu/ dan demam yang nanti membikin kaku …. Maut bagaimanapun masih menggelayuti pikirannya. Dan nanti, sang penyair bahkan seakan meramalkan sendiri bahwa hidupnya akan singkat.

Tetapi Chairil Anwar begitu yakin pada dirinya sendiri, pada bakat kepenyairannya —yang telah diperlihatkannya sejak puisi pertamanya. “Kalau umurku ditakdirkan pendek,” kata Chairil pada isterinya suatu kali, “anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga.” Chairil mengatakan itu dengan bercanda, tetapi di situ tersirat keyakinannya yang bersifat penuh seluruh. Ialah keyakinan pada pilihan dan jalan hidupnya sebagai seorang penyair. Dia seakan meramalkan penghormatan yang akan diterimanya sebagai buah dari jalan hidupnya sendiri: pendek usia, namun dia akan dikenang secara abadi. Dalam sebuah puisinya, Chairil pernah menyatakan aku mau hidup seribu tahun lagi, yang pastilah tidak dimaksudkannya dalam arti harfiah. Aku mau hidup seribu tahun lagi adalah proklamasi tekad penyair kita ini, yang untuk itu dia mendedikasikan seluruh darah-daging hidupnya bagi cakrawala kepenyairan sebagai pilihan hidupnya. Dan Chairil seakan tahu, bahwa dia sendiri baru akan memetik buah dedikasinya setelah dia mati: “anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga” —dan itu tidak hanya dalam arti harfiah tentu saja.

Chairil menulis puisi di usia 20-an tahun, dan mungkin itulah sesungguhnya sebab puisi-puisinya penuh gelora.
Puisi-puisi Chairil jelas menyuarakan semangat hidup yang menyala-nyala, sebentuk optimisme anak muda yang yakin sepenuhnya pada potensi dirinya sendiri. Puisi Chairil adalah semangat merebut hidup yang pastilah tidak mudah, apalagi bagi penyair yang penuh kesulitan hidup ini. Bahkan meskipun dia berbicara tentang sesuatu yang perih-pedih, semangat hidupnya tetap terasa menggelora. Adalah karakter penyair ini tampaknya, bahwa dia tidak mudah menyerah melawan hidup yang begitu pedih. Puisi “Aku” jelas menunjukkan itu. Juga puisi “Kita Guyah Lemah” ini: kita guyah lemah/ sekali tetak tentu rebah/ segala erang dan jeritan/ kita pendam dalam keseharian// mari tegak merentak/ diri-sekeliling kita bentak/ ini malam purnama akan menembus awan.

Gelora hidup, elan vital, vitalitas, dan optimisme itu rupanya bukan suara batin Chairil seorang diri, melainkan semangat zamannya. Di tahun 1940-an, tahun-tahun ketika Chairil menulis puisi-puisinya yang mengagumkan, elan revolusioner tengah menggelora dan digelorakan dengan penuh semangat di sini di Indonesia, guna merebut kemerdekaan. Puisi “Diponegoro”, “Persetujuan dengan Bung Karno”, dan puisi saduran “Krawang-Bekasi” adalah karya Chairil yang secara langsung berhubungan dengan semangat revolusioner zaman itu. Tak pelak lagi, puisi-puisi Chairil Anwar bukan saja suara diri pribadinya yang lantang, melainkan juga suara zamannya yang berdentang-dentang.

Dengan demikian, betapapun sikap penyair ini sering diasosiakan sebagai indiviualistis, Chairil jelas terlibat dalam isu-isu penting bangsanya. Dia ambil bagian dalam sejarah perjuangan tanahairnya. Dengan caranya sendiri, sang penyair bergulat secara sungguh-sungguh dengan dunia kepenyairannya, dan dengan itu dia memainkan peran penting bagi kebudayaan Indonesia yang sedang mencari bentuknya, bahkan sampai batas tertentu memainkan peran pula di lapangan politik. Gelora yang menyala-nyala jelas amat dibutuhkan oleh sebuah bangsa yang tengah berjuang merebut kemerdekaan, juga untuk pembentukan kebudayaan sebagai salah satu tiang penyangganya. Chairil Anwar dan puisi-puisinya jelas berada di tengah gelanggang itu semua.
Dan Chairil tak hanya mengekspresikan gelora jiwanya sebagai isi puisinya, melainkan juga sebagai bahasanya. Puisi Chairil adalah perpaduan sempurna isi dan bahasa yang keduanya secara bersama-sama mengemukakan gelora jiwa, vitalitas, dan semangat hidup yang menyala-nyala. Sementara isi puisi —yang mencerminkan pikiran, perasaan, dan sikap penyair— menyuarakan vitalitas yang pantang menyerah, bahasa puisinya sendiri terasa begitu bertenaga dan penuh energi. Adalah penemuan Chairil yang gemilang bahwa dia mampu menyelaraskan vitalitas hidup dan vitalitas bahasa. Tenaga hidup dan tenaga bahasa bahkan menyatu dalam diri Chairil Anwar sendiri.

Bahkan pada puisinya yang paling murung sekalipun, tenaga bahasa Chairil tetap terasa menggema. Puisi “Selamat Tinggal”, misalnya, yang berbicara tentang perpisahan, jelas bernada murung: meskipun mesti diterima, perpisahan bagaimanapun pastilah menyisakan kesedihan. Tetapi, kecanggihan Chairil Anwar mengolah bahasa membuat kemurungan itu sedemikian kelam di satu sisi, namun kemurungan yang kelam itu seakan disangga oleh bahasa yang bertenaga di lain sisi, sehingga ia —kemurungan itu— tidak “terjatuh” menjadi kemurungan yang lemas-lunglai. Tenaga bahasa itu sangat terasa terutama dengan asosiasi yang dibangkitkan oleh permainan rima vokal dan konsonan: aku berkaca/ bukan buat ke pesta// ini muka penuh luka/ siapa punya?// kudengar seru-menderu/ -dalam hati?-/ apa hanya angin lalu?// lagu lain pula/ menggelepar tengah malam buta// ah …!!!// segala menebal, segala mengental/ segala tak kukenal …// selamat tinggal …!!!

Adalah bahasa Chairil ini juga, yaitu bahasa yang —meminjam kata-katanya sendiri— mempribadi dan menjadi, yang menjadikan puisi-puisinya sedemikian penting dalam sejarah puisi Indonesia. Juga bagi perkembangan bahasa Indonesia. Dengan puisi-puisinya, sang penyair membuktikan bahwa bahasa Indonesia sanggup menjadi bahasa sastra yang demikian efektif dan modern. Dia mendorong beberapa langkah lagi apa yang telah dilakukan penyair-penyair pendahulunya, khususnya Amir Hamzah, dalam usaha menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern lewat puisi. Dengan demikian, pada tingkat makro penyair kita ini menyuarakan semangat zaman dan bangsanya, pada tingkat mikro dia membuktikan efektivitas bahasa Indonesia sebagai alat ucap puisi modern.

Sebagai penyair, tugas utama Chairil sesungguhnya berada pada tingkat mikro ini. Dan dalam hal itu jelas dia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Membaca puisi-puisinya, jelas pula bahwa dia lebih banyak bergelut dengan masalah-masalah mikro, masalah pribadi sang penyair, ialah terutama masalah cinta. Chairil adalah penyair yang cukup terobsesi oleh sejumlah pengalaman cintanya, dengan seluruh gelora, harapan, kecewa, bahagia, dan pedihnya. Bahkan dari puisi-puisinya, tampak bahwa cinta adalah tenaga sekaligus sumber energi kreatifnya yang penting dalam menulis puisi. Dia menulis setidaknya 23 puisi cinta dari 76 puisi yang ditulisnya. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa sampai batas tertentu gelora hidupnya sesungguhnya merupakan gelora cintanya.

Penyair kita ini rupanya adalah pria yang romantis, namun tampaknya lebih banyak dirundung cinta-yang-pedih. Tetapi cinta-yang-pedih itulah justru yang kadangkala melecut intuisi kepenyairannya, membangkitkan tenaga puitiknya secara maksimal, dan membakar gelora hidupnya. Hal itu tampak misalnya pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Cintaku Jauh di Pulau”, “Sia-sia”, atau “Tak Sepadan”. Dalam puisi “Tak Sepadan”, setelah mengemukakan kemungkinan berpisah dengan sang kekasih, Chairil menutup puisi tersebut dengan: … jadi baik juga kita padami/ unggunan api ini/ karena kau tidak ‘kan apa-apa/ Aku terpanggang tinggal rangka. Dalam pada itu, puisi “Sia-sia” ditutup dengan: Ah! Hatiku yang tak mau memberi/ mampus kau dikoyak-koyak sepi. Sekiranya cinta takkan sampai juga, memadamkannya sekalian adalah pilihan yang menyakitkan. Tetapi sebagai pilihan sadar, ia adalah juga sebentuk vitalitas —dan itu adalah gelora hidup.

Sementara itu, puisinya tentang cinta-yang-indah terasa tidak begitu menggelora, setidaknya tidak semenggelora puisinya tentang cinta-yang-pedih. Misalnya puisi “Puncak” berikut ini: … maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu/ mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di balik rupa./ kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap yang/ masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa antara/ cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau/ mengembang juga tanya dulu, tanya lama, tanya. Larik-larik ini tentu terdengar indah dan merdu, namun terasa terlalu sendu jika dilihat dari karakter Chairil yang menghentak-hentak.

Dengan demikian, Chairil tampak menemukan vitalitasnya justru di bawah situasi yang menekan. Juga dalam hal cinta. Di luar situasi yang menekan, bagi sang penyair hidup barangkali terlalu mulus untuk bangkit menggelora, untuk meradang menerjang. Di gelanggang hidup yang menekan itulah, cahaya hidupnya tampak berkobar menyala-nyala. Bahkan dalam sajak “Di Mesjid”, di mana dia menemukan Tuhan, dia menemukan-Nya dalam gelanggang perang batinnya sendiri yang berkobar-kobar. Ini ruang/ gelanggang kami berperang, kata Chairil. Di gelanggang perang itu, sang penyair meradang: binasa-membinasa/ satu menista lain gila. Dengan kata lain, bahkan di hadapan Tuhan pun sang penyair meradang menerjang.

Tetapi, gelora hidup Chairil akhirnya tiba juga di garis batas vitalitasnya sendiri, di titik keterbatasannya sendiri. Pertempuran habis-habisan di gelanggang perang hidup sang penyair kini membimbingnya menuju relung terdalam dunia batinnya sendiri. Dalam puisi “Doa”, yang ditulis 6 bulan setelah “Di Mesjid”, dia menemukan Tuhan tak lagi di gelanggang perang, melainkan di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. Sang binatang jalang itu kini hilang bentuk, remuk, terbakar cayaMu [yang] panas suci bersama seluruh gelora hidup dan cintanya. Kiranya kini dia benar-benar tak bisa berpaling.
Di tahun 1949, sang penyair tahu bahwa maut mulai mendekat. Meskipun baginya kini maut bukan lagi ajal yang menghantu, sebagaimana dikatakan penyair dalam “Nocturno”, dia tidaklah menghadapinya dengan sikap melawan. Alih-alih, dia melucuti hampir seluruh gelora dan vitalitasnya —yang sejauh ini telah menjiwai hidup sang penyair. Sebagaimana tergambar dalam puisi “Yang Terampas dan yang Putus” dan “Derai-derai Cemara”, di hadapan bayangan maut tak ada lagi yang bisa berdentang, meradang, menerjang. Tidak hidup, tidak juga cinta. Yang tersisa kini hanya tangan yang bergerak lantang. Bersamaan dengan itu, sang penyair mulai membayangkan pemakaman tempat dia akan dikuburkan, yaitu di Karet, di mana tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Hanya saja, barangkali karena gelora dan vitalitas yang telah menjiwai hidup penyair, dia sampai pada konsekuensinya sendiri dalam memandang hidup, yaitu bahwa hidup hanya menunda kekalahan … sebelum pada akhirnya kita menyerah. Akhirnya Chairil —dan siapa pun— memang harus kalah dan menyerah. Tetapi, bagaimanapun tidak ada petunjuk yang meyakinkan bahwa penyair yang wafat pada 28 April 1949 ini menerima maut tanpa perasaan rida lagi lapang. Bahwa puisi “Nisan”, puisi pertama yang ditulisnya untuk sang nenek, menyiratkan kekaguman penyair pada keridlaanmu [nenek] menerima segala tiba, kiranya itulah juga sikap Chairil dalam menerima maut. Maka sajak “Nisan” cocok pula kita baca untuk mengenang 60 tahun kematian penyair besar kita ini:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta.
***

Iklan

1 Komentar »

  1. chairil memang tak paernah habis untuk digali, kedalaman karya-karyanyaaaaa,,, salam buat bang Hamzah Arsaaaaa

    Suka

    Komentar oleh musthofa aldo — 20 Maret 2009 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: