Jamal D. Rahman

Anak-anak Tembakau

Puisi Jamal D. Rahman

    kepada petani tembakau di madura

kami anak-anak tembakau
tumbuh di antara anak-anak batu
nafas kami bau kemarau campur cerutu

bila kami saling dekap,
kami berdekapan dengan tangan kemarau
bila kami saling cium,
kami berciuman dengan bau tembakau

langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menangis
sebab kulit kami tetap coklat
secoklat tanah
tempat kami menggali airmata sendiri

langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menyerah

pada setiap daun tembakau
kami urai urat hidup kami
pada setiap pohon tembakau
kami rangkai serat doa kami

2000

32 Komentar »

  1. Untung saya ngrokok ji sam soe. Konon dari madura.
    Lumayan bisa menerima manfaat dari anak-anak tembakau.
    :-))

    salam,
    istanto
    wismamas

    Suka

    Komentar oleh istanto — 26 Oktober 2008 @ 05:00 | Balas

  2. singgah membaca

    dan eko link yah…

    salam

    Suka

    Komentar oleh Eko Putra — 1 November 2008 @ 05:00 | Balas

  3. salam hangat

    eko link yah blognya

    Suka

    Komentar oleh eko putra — 1 November 2008 @ 05:00 | Balas

  4. Mas. aku salut baca tulisan-tulisanmu, terus berkarya untuk umat. mari kita bantu desa dan kampung kita, Lenteng dengan karya dan pengabdian kita dari seberang

    ttd
    Ainul Hayat
    Jurusan Administrasi Publik-FIA
    Unibraw Malang

    Suka

    Komentar oleh AINUL HAYAT — 10 November 2008 @ 05:00 | Balas

  5. Salam,,,

    Semoga tak lupa…

    Salam,

    _dee_

    Suka

    Komentar oleh sudutbumi — 25 November 2008 @ 05:00 | Balas

  6. langit desa kami rubuh seribu kali
    tapi kami tak pernah menyerah

    >>> dasyat nian optimisme larik ini. horas, bang. puisi ini udah kubaca di Reruntuhan Cahaya. salam. baru ini kali berkunjung di sini.

    Pandapotan MT Siallagan

    Suka

    Komentar oleh siallagan — 11 Desember 2008 @ 05:00 | Balas

  7. mas, aku semakin tidak bisa cerai dengan dunia sastra ketika membaca puisimu. seakan kita masih bersama saat acara SBSB di Bima-NTB beberapa tahun lalu…. selamat deh, mas.

    Suka

    Komentar oleh DYLLA LALAT — 18 Januari 2009 @ 05:00 | Balas

  8. Salam kenal, Mas. Maskipun sama-sama dari Madura saya dana mengisap tembakau virginia, saya tetap ngefans, loh, Mas, sama Sampeyan.
    Salam…

    Suka

    Komentar oleh Klebun To Beih — 6 Februari 2009 @ 05:00 | Balas

  9. saya baru tahu jika anda punya blog.
    kapan menjenguk sumenep lagi ?
    (saya, ibnu h, hidayat raharja malam itu –hujan lebat, listrik padam– mengantar anda ke lenteng sehabis dari kongres bhs madura di pamekasan)

    Suka

    Komentar oleh enhidayat — 8 Februari 2009 @ 05:00 | Balas

  10. Mas…
    Saat kau ajarkan aku ti, ang, dan am
    Saat kau bimbing dengan hijau, merah, dan hitam
    Aku merasa terlahir dalam lebam
    Blog mas pun tak luput kucengkeram
    Pukul 17.00 istirahat MMAS kutulis dengan meram
    Hari itu, aku hilangkan geram

    Oleh: Peserta MMAS LPMP Sul_SEl
    Hari Selasa tanggal 3 Maret 2009

    Suka

    Komentar oleh Muh. Syukur Salman — 3 Maret 2009 @ 05:00 | Balas

  11. Salam kenal buat admin

    Suka

    Komentar oleh "Abdur — 21 Maret 2009 @ 05:00 | Balas

  12. salamullah ‘alaikum. .
    pa. .puisi bapak bagus-bagus. .
    saya mohon bimbingannya. .

    alamat website saya sastraku.ucoz.com

    Suka

    Komentar oleh gilang nugraha (PBSI 4A) — 27 Maret 2009 @ 05:00 | Balas

  13. assalamu’alaikum wr. wb.

    mas jamal, blog ny sy link ya ^_^

    wassalamu’alaikum wr. wb

    Suka

    Komentar oleh Dea Anugrah — 5 April 2009 @ 05:00 | Balas

  14. assalamu’alaikum wr. wb

    mas jamal, kalau ad ksempatan, silahkan berkunjung ke blog saya: http://sepasangbalingbaling.blogspot.com/
    dan kalau berkenan, mohon kritikannya untuk puisi-puisi saya.

    wassalamu’alaikum wr. wb

    Dea Anugrah

    Suka

    Komentar oleh Dea Anugrah — 5 April 2009 @ 05:00 | Balas

  15. selamat sore, maaf aku gak nulis komentar, tapi datang untuk memberi salam saja dulu 🙂

    Suka

    Komentar oleh nanoq da kansas — 21 April 2009 @ 05:00 | Balas

  16. mogeh2 kauleh bisa niroh sampean

    Suka

    Komentar oleh herman — 5 Mei 2009 @ 05:00 | Balas

  17. langit desa kami rubuh seribu kali
    tapi kami tak pernah menangis
    sebab kulit kami tetap coklat
    secoklat tanah
    tempat kami menggali airmata sendiri

    numpang ngelink ya mas

    Suka

    Komentar oleh Pringadi Abdi — 17 September 2009 @ 05:00 | Balas

  18. anak tembakau… diksinya keren sekali.. saya suka. menelisik lebih dalam anak-anak yang ada di madura ternyata lebih asyik ditampilkan lewat puisi

    Suka

    Komentar oleh ihsan subhan — 24 Oktober 2009 @ 05:00 | Balas

    • Alhamdulillah. Terima kasih. Salam hangat.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 26 Oktober 2009 @ 05:00 | Balas

    • Alhamdulillah. Terima kasih. Salam.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 4 November 2009 @ 05:00 | Balas

  19. pak sy dpt tugas nyari 10 karya bapak sy cr di web gk ktemu..sy jg gk punya bukunya..mana rabu dpan dikumpulin..tolong dong pak…maturnuhun..
    kalo bapak berkenan tlg donk di email ke shiroj_03@yahoo.co.id
    maaf ya pak..

    Suka

    Komentar oleh yg terlupakan — 2 November 2009 @ 05:00 | Balas

    • Beberapa puisi saya bisa didapat di blog ini. Jika perlu puisi saya yang lain, nanti saya kirim. Terima kasih. Salam.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 4 November 2009 @ 05:00 | Balas

  20. aku juga dari madura loh, tepatnya Sumenep

    Suka

    Komentar oleh Syaiful Bahri — 5 November 2009 @ 05:00 | Balas

  21. aku masih senang ada orang yang menulis puisi untuk para petani Tembakau di Madura, walau para penguasa tidak peduli, terhadap perkembangan tembakau di Madura, tapi penyair tetap peduli.

    Suka

    Komentar oleh Matroni el-Moezany — 12 November 2009 @ 05:00 | Balas

  22. assalamu’alaikum Pak Djamal!

    puisinya keren!

    saya salah satu peserta FLP ciputat. ketika itu melihat bapak mengisi materi perihal penulisan essai.
    satu hal yang saya tangkap dari kesan pertama terhadap bapak adalah, keren!
    bukan bermaksud melebihkan, tetapi saya cukup salut terhadap bapak. kata-kata yang keluar dari bapak begitu hidup dan segar. pemaparan essai yang merupakan perpaduan subjektif dan objektif cukup dapat dipahami dengan baik.

    boleh jika bapak tidak sibuk untuk bertandang ke blog saya. saya butuh suplemen gizi dari bapak.hehe..

    ^_^
    terima kasih…

    Suka

    Komentar oleh deddy_ds — 8 Januari 2010 @ 05:00 | Balas

  23. dan kita melupakan kehidupan yang sederhana. tapi justru saya menemukannya dalam puisi ini…

    Suka

    Komentar oleh Alex R. Nainggolan — 2 April 2012 @ 05:00 | Balas

  24. […] Blog puisi terbaik Jamal D Rahman, salah seorang penyair terkemuka Indonesia dapat kita temukan di https://jamaldrahman.wordpress.com/puisi/  […]

    Suka

    Ping balik oleh Blog Puisi Terbaik Jamal D Rahman | Puisi Terbaik — 10 Maret 2013 @ 05:00 | Balas

  25. Tembakau, kemarau, batu dan debu, seperti sedang menggebu-gebukan betapa sadisnya waktu menulisi segala luka petani di ladang tembakau. Akh.. Aku turut menyumbangkan air haru kepada cuaca.

    Suka

    Komentar oleh Binoto H Balian — 23 Oktober 2013 @ 05:00 | Balas

  26. Izinkan kutemani puisi Tembakaunya, Bung dengan sejemput doa dari negeri Samosir.

    Kepada: Penguasa Cuaca

    ya sajak, ya puisi, ya waktu, ya rahim ibu!
    lidah-lidah petani masih patuh bersyair tentang ulah petir
    dan dengus angin yang terus membentak-bentak di pucuk bukit.
    air mata kami, getir terperangkap di lidah kemarau
    yang gemar hadir sebentuk amarah dan dendam

    ya api, ya tanah, ya salju kutub!
    jangan bakar, jangan kubur dan jangan bekukan-dulu suara kami
    yang bertarung menikami cuaca.
    sebab mengeja setitik gerimis susahnya bahkan melebihi usia gerhana

    ya langit, ya air, ya halilintar! telingaku nyaris tuli oleh detak luka,
    dan mereka nyaris buta oleh percak-percik terik
    yang bertebaran di sekeliling rimba hitam
    yang kaku serupa pohon-pohon besi, yang
    memar dan lebamnya mirip ngangaan luka

    wahai roh segala batu, ya arwah segala moyang, ya firman segala tuhan!
    tangan kami telah pegal menugal hujan yang masih terperangkap
    di gundukan arang-arang rimba. dan tengadah kami telah bertumbangan
    sangat letih memunguti kerak air mata yang berserakan
    di sebilah bangkai telaga berjelaga yang belajar menjerang lukanya

    ya timur, ya barat, ya jantung malam, ya terik!
    ya raungan gergaji mesin! apa harus kami tonton sendiri
    bocah-bocah kerbau menyala-bersama dengan semak belukar
    dalam siar berita koran yang mengisahkan elegi kota tua
    yang terkunyah lumpur bah yang mengancam gubuk
    dan kampung-kampung?
    wahai, siapapun. atau siapapun merasa penguasa cuaca!
    sedangkan janin, sedangkan kepompong dan
    sedangkan jerit telur-telur bangau pun masih gemeretakan
    disamping rahim ibunya. menanti pecah dan hangus

    Tao Toba Parbaba, Mei 2012

    Suka

    Komentar oleh Binoto H Balian — 23 Oktober 2013 @ 05:00 | Balas

    • Terima kasih, Bung Binoto. Salam hangat.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 23 Oktober 2013 @ 05:00 | Balas

    • Terimakasih, Bung Jamal.. Sesuatu yg sangat berharga ketika saya menemukan halaman indah ini. Salam hangat kembali.

      Suka

      Komentar oleh Binoto H Balian — 23 Oktober 2013 @ 05:00 | Balas

  27. Rindu puisi ini…

    Suka

    Komentar oleh iren — 25 Juni 2014 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: