Jamal D. Rahman

20 September 2008

Taufiq Ismail: Sebuah Dering Peringatan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman


tapi bila malam lembayung
dan antara kapas langit bulan berdayung
temaram di atas tetangkai jeruk
rawa dengan wajah kaca hitam
mengunjur dan menggeliat ke hulu
bagai perempuan berahim subur
dan angin yang mengaliri pepohonan
membawa nafas Tuhan

(Taufiq Ismail, “Surat dari Lampung”, Mimbar Indonesia, no. 38/39, thn. XIII, 10 Oktober 1959)

Dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi sosialnya yang tajam, dan seringkali tanpa begitu peduli pada capaian estetika tinggi yang merupakan obsesi kebanyakan penyair, apa sesungguhnya obsesi intelektual Taufiq Ismail? Membaca karya-karyanya, terutama yang terhimpun dalam buku ini, ialah membaca sikap seorang intelektual yang tengah terlibat atau melibatkan diri dalam berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam konteks ini ada dua hal. Pertama, kegelisahan intelektual seorang pengarang yang sedang menghadapi masalah besar yang amat konkret di sekitarnya, yaitu antara lain masalah ideologi, perang, benturan peradaban, dan pendidikan. Kedua, kepedulian seorang pengarang pada masalah sederhana namun menggoda dan menuntut perhatiannya pula, misalnya beberapa masalah kesenian dan olahraga sederhana dilihat dari bangunan besar obsesi intelektual Taufiq sendiri.

Sudah tentu dua hal itu sesungguhnya tidak terpisah secara tegas, melainkan seringkali bersifat tumpang-tindih. Demikianlah misalnya dia mengajak para seniman untuk berkesenian secara melarat dalam situasi ekonomi yang masih berat setelah krisis ekonomi yang parah. Pada titik itu dia bukan saja sedang mengajak para seniman agar tidak bermanja-manja menuntut anggaran besar dari kantong negara untuk kesenian, melainkan juga tengah melihat masalah besar di balik itu yang lebih menuntut perhatian keuangan negara dan kepedulian seniman, ialah terutama kemiskinan dan beban hidup kebanyakan orang. Berkesenian memang memelukan uang, tetapi, lebih dari sekadar memerlukan uang, beban hidup kebanyakan orang melarat menuntut juga kepekaan dan kepedulian para seniman. Jika kebanyakan orang hidup melarat, maka berkesenian secara melarat sejatinya adalah panggilan etik seorang seniman. Demikianlah ajakan berkesenian secara melarat tampak sederhana, namun kesederhanaan itu justru menyiratkan etik intelektual yang besar.

Dua hal tersebut, yakni kegelisahan pada masalah besar dan kepedulian pada masalah sederhana, tampaknya dibangkitkan oleh kesadaran pengarang pada adanya ancaman serius terhadap masalah kemanusiaan, baik langsung maupun terselubung. Ancaman itu menyebar bahkan menyerbu dari dan ke berbagai penjuru: komunisme di bidang ideologi, kemiskinan di bidang ekonomi, kebodohan di bidang pendidikan, hegemoni di bidang politik, insensitivitas di bidang budaya, perang di bidang keamanan, korupsi dan pornografi di bidang moral, narkoba di bidang mental, dan seterusnya. Hampir semua nada tulisan Taufiq Ismail adalah upaya sungguh-sungguh menangkis dan menghalau ancaman-ancaman itu, dan dengan demikian berarti juga upaya sungguh-sungguh menyelamatkan manusia dari berbagai bahaya yang mungkin menghancurkan manusia dan kemanusiaan.

Dengan demikian, obsesi intelektual Taufiq Ismail bukan digerakkan terutama oleh cita ideal yang ingin dicapainya, melainkan terutama oleh hambatan dan ancaman yang merongrong jalan menuju manusia dan kemanusiaan. Dia tidak merumuskan secara konseptual cita ideal yang ingin dicapainya, pada hemat saya karena dalam pandangannya hal itu sudah sedemikian universal pada dataran ide, sehingga yang lebih mendesak untuk dipikirkan dan dipecahkan adalah bahaya yang mengancamnya pada dataran kenyataan. Menyadari adanya ancaman kemanusiaan bagaimanapun harus lebih diprioritaskan tinimbang mematangkan rumusan cita ideal kemanusiaan, sebab ancaman itu sudah sedemikian konkret sebagai sesuatu yang amat membahayakan manusia dan kemanusiaan. Lebih dari itu, menangkal dan memecahkan bahaya yang mengancam cita ideal manusia dan kemanusiaan pastilah lebih mendesak dibanding menajamkan rumusan konseptual cita ideal itu sendiri.

Dalam konteks itulah, pada banyak tulisan Taufiq Ismail kita hampir selalu mendengar dering peringatan akan marabahaya di depan mata, dan agak jarang mendengar potensi atau modal apa saja yang kita miliki untuk bergerak maju membangun sejarah dan, lebih dari itu, ke mana sejarah mesti diarahkan. Jika totalitarianisme berbahaya, mungkinkah demokrasi menjadi pilihan ideal, dan sejauhmana cukup tersedia potensi atau modal yang dimiliki untuk menegakkan demokrasi? Jika komunisme gagal, sejauhmana kapitalisme atau Pancasila benar-benar merupakan alternatif yang menjanjikan? Jika ideologi sekular mengandung banyak problem, sejauhmana ideologi agama (Islam) bisa mengatasi problem ideologi sekular? Semua pertanyaan ini bisa dipastikan tidak cocok untuk citarasa intelektual Taufiq Ismail. Bangunan intelektualnya jelas tidak bersifat intensional: sejarah tidak mesti berjalan dalam satu sistem tertentu, tidak pula harus mengarah pada satu titik sejarah yang diandaikan ideal. Apa yang ideal baginya adalah sejauh sejarah itu terbebas dari ekses-ekses negatif dan destruktif bagi manusia dan kemanusiaan. Dering peringatan dalam hampir semua tulisannya adalah usaha seorang pemikir mencegah ekses-ekses negatif dan destruktif itu, demi mewujudkan tatanan sosial yang ideal.

Guncangan Sejarah
Hal tersebut bisa difahami, melihat bangunan intelektual Taufiq Ismail lebih banyak dibentuk oleh pengalaman hidupnya yang memang terlibat dalam sejarah yang penuh guncangan. Dia tidak tumbuh dalam kerja asketis intelektual, dimana dunia seakan digerakkan oleh konsep dan ide yang bersifat abstrak, dimana dunia seakan bisa diubah dari laboratorium pemikiran. Pembelaannya terhadap manusia, karenanya, tidak digerakkan misalnya oleh filsafat manusia, melainkan oleh pengalaman dan kenyataan hidup manusia yang mengerikan. Dalam konteks itu dia adalah seorang aktivis-pemikir yang melihat dan mengalami langsung berbagai bentuk ancaman amat berbahaya dalam sejarah, dan mencoba memainkan peran dalam pergolakan sejarah itu sendiri. Bangunan intelektual Taufiq Ismail tumbuh di tengah sejarah yang gemuruh. Di pertengahan tahun 1960-an hingga awal 1970-an, masa-masa pembentukan bangunan intelektual dan kepenyairannya, dia mengalami guncangan sejarah yang amat getir, mengerikan, dan menakutkan, di sini di Indonesia dan di sana di belahan dunia lain.

Di Indonesia, dia mengalami sendiri situasi mencekam ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) menggerus secara totaliter semua kekuatan sosial, politik, dan ideologi yang berseberangan dengan mereka. Taufiq Ismail adalah satu dari banyak sekali orang yang mengalami tekanan luar biasa baik secara fisik maupun lebih-lebih secara mental akibat totalitarianisme PKI yang mengayunkan palu arit di mana-mana. Salah satu pil pahit yang mesti ditelannya akibat menandatangani Manifes Kebudayaan pernyataan seniman dan intelektual Indonesia yang dipandang berlawanan dengan PKI itu adalah dia dipecat sebagai dosen muda IPB dan itu jelas meruntuhkan jembatan karier akademisnya. Bagi generasi yang hidup di zaman itu, tekanan atau bahkan ancaman fisik dan mental yang mereka alami adalah kenyataan getir yang mungkin bisa dimaafkan, tapi jelas tak bisa dilupakan. Terutama dari pengalamannya sebagai seorang yang terlibat langsung dalam perang politik dan ideologi yang menelan ribuan korban jiwa ini, kita bisa memahami penampikan tiada ampun Taufiq Ismail terhadap marxisme dan anak-anak turunan ideologisnya: komunisme, leninisme, dan stalinisme.

Di pertengahan tahun 1960-an juga, sejarah menggemuruh dari belahan dunia lain dan terdengar tak kalah bengis lagi mengerikan di telinga banyak orang di sini. Juga di hati Taufiq Ismail. Itulah pencaplokan tanah orang-orang Palestina oleh Israel nun di Timur Tengah sana dan Perang Vietnam tak jauh dari negeri kita. Bahwa perhatian Taufiq terhadap Perang Vietnam tak sebesar perhatiannya terhadap Palestina, bagaimanapun tidak mengurangi kepedihannya melihat Perang Vietnam yang berlangsung antara 1964-1974 itu. Serangkaian tulisannya tentang Palestina, yang melukiskan kepedihan orang-orang Palestina yang teraniaya dengan kejam di satu pihak dan menggambarkan kekejaman Israel di pihak lain, dengan baik merefleksikan kemarahan seorang anak manusia yang melihat saudara-saudaranya dibunuh, hak-hak mereka dirampas, dari kampung halaman sendiri mereka diusir dan kampung halaman mereka dirampas pula.

Terutama melalui esai dan puisinya, Taufiq Ismail melibatkan diri secara aktif dalam isu-isu politik, ideologi, dan kemanusiaan itu. Dan hal itu tampak sangat berpengaruh terhadap pembentukan orientasi intelektual dan kepenyairannya kemudian. Sebagai penyair, Taufiq Ismail sesungguhnya telah membuktikan bahwa dia adalah penyair lirik yang kuat, yaitu penyair yang menulis puisi bertemakan suasana hati sebagai respon personal penyair atas hidup yang tengah dihayatinya, yang seringkali terdengar lirih, sayup-sayup, seakan berbicara sendiri, namun amat menyentuh juga dengan penguasaan dan eksperimen bahasa yang canggih dari seorang penyair lirik yang berbakat. Tapi kita tahu, perkembangan Taufiq selanjutnya adalah perkembangan seorang penyair lirik berbakat yang lebih terpanggil oleh isu-isu aktual di sekitarnya. Masalah kemanusiaan tampaknya lebih kuat memanggil-manggil tanggungjawab kepenyairannya tinimbang suara lirih hatinya sendiri yang mungkin hanya akan memberikan kepuasan estetis. Manusia dan kemanusiaan pada akhirnya memang lebih penting dibanding “estetisme”. Jadilah dia penyair sosial terkemuka dari sedikit sekali penyair sosial kita yang menonjol.

Demikianlah sejarah yang gemuruh telah membentuk orientasi kepenyairan Taufiq pada masalah sosial, dan demikian pulalah ia membentuk orientasi intelektualnya: manusia yang malang dalam sejarah adalah pusat orientasi, obsesi, empati, pembelaan, solidaritas, airmata, dan doa Taufiq Ismail, ialah tanggungjawabnya sebagai seorang pengarang. Sebaliknya, manusia yang pongah dan kejam dalam jaringan sistem dan kekuasaan ideologi-politik-ekonomi, baik di sini di Indonesia maupun di sana di belahan dunia lain, adalah pusat abadi perlawanannya, ialah juga tanggungjawabnya sebagai seorang pengarang. Dia tidak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya melihat korban kemanusiaan akibat totalitarianisme ideologi, politik, ekonomi, dan lebih-lebih perang dengan kekuatan militer. Dalam bentuk apa pun dan atas nama apa pun, perang selalu menghancurkan manusia dan kemanusiaan dalam wujud paling konkret dan paling mengerikan sepanjang sejarah.

Koalisi Kekuatan Kolonial
Maka adakah yang lebih mulia dibanding mewujudkan perdamaian dunia? Missi mewujudkan dunia damai inilah yang tertanam jauh di hati Taufiq Ismail muda, ketika di tahun 1957 dia terpilih mengikuti program pertukaran pelajar SMA di Amerika Serikat melalui program AFS (American Field Service). Dalam konteks itu jugalah kiranya kita dengar suaranya yang pedih dan keras tentang Nikaragua, Bosnia Herzigovina, Kasymir, Kuwait, Irak, dan lain-lain. Ironisnya, adalah Amerika Serikat yang dulu mengajarkan Taufiq Ismail muda tentang missi perdamaian dunia, tetapi adalah politik luar negeri Amerika Serikat juga yang dengan telanjang menginjak-injak perdamaian dunia. Politik luar negeri Amerika Serikat yang kerap menyokong perang dengan standar ganda yang amat telanjang inilah salah satu sasaran kritik keras Taufiq Ismail. Dia antara lain mengutip Noam Chomsky, yang menyebut Amerika Serikat sebagai leading terrorist state. Tetapi perlu diingat, mengkritik keras politik luar negeri Amerika Serikat, dia tetap mencintai manusia-manusianya: petani, penjaga pom bensin, sopir taksi, orangtua di panti jompo, pemusik jazz, penyair ….

Bagaimanapun, mewujudkan perdamaian dunia bukan hal mudah. Tatanan dunia sudah sedemikian rupa terpola pada konflik abadi yang sengaja atau tidak sengaja diciptakan. Watak kolonialisme dan imperialisme masih melekat dalam siklus sejarah yang berulang lagi dan berulang lagi. Taufiq Ismail menyinggung tema ini merespon tesis Samuel P Huntington tentang benturan peradaban (the clash of civilization). Mengutip Kishore Mahbubani, dia menyinggung sedikit kelemahan-kelemahan tesis Huntington, misalnya bahwa di kalangan umat Islam tak pernah ada persatuan, sehingga Islam tidak akan dapat membentuk kekuatan tunggal. Karena itu, perihal benturan antara Barat dan Islam-Konfusianisme lebih mencerminkan kegagalan Barat dalam menemukan strategi dalam meladeni Dunia Islam dan Cina.

Lebih dari itu, sejalan dengan cara pandangnya terhadap manusia, dimana dia lebih menekankan bahaya yang mengancam manusia itu sendiri, Taufiq menggarisbawahi siklus dominasi kolonialisme sejak abad ke-15 hingga abad modern. Di sini dia merujuk pada Roger Garaudy: Perang Teluk 1992 menandai puncak proses pembelahan dunia menjadi dua bagian yang dimulai pada 1492 (ketika Eropa merampas benua Amerika), dan Perang Teluk adalah perang koalisi kekuatan kolonial lama melawan suatu bangsa Dunia Ketiga (Irak). Dengan kata lain, bagi Taufiq, watak kolonial dan imperial yang masih melekat pada kekuatan negara-negara kolonial lama, di bawah pimpinan Amerika Serikat kini, merupakan bahaya paling serius terhadap masa depan perdamaian dunia. Karenanya, manusia dan kemanusiaan tampaknya akan tetap berada dalam posisi terancam di masa-masa yang akan datang. Pada titik inilah dering peringatan Taufiq terdengar amat nyaring.

Manusia dan kemanusiaan. Tetapi alangkah besar tema ini dalam lanskap sejarah yang menuntut juga perhatian dan keberpihakan pada lingkup sejarah yang lebih terbatas. Ialah hal konkret namun tampak lindap dalam kesadaran banyak orang. Penolakan Taufiq Ismail terhadap tinju adalah suara sunyi di tengah suara riuh kapitalisme yang mengelu-elukan adu-pukul kepala manusia itu dengan korban-korbannya yang disembunyikan. Tinju adalah penistaan terhadap manusia dan kemanusiaan yang lindap dalam deru ekonomi dan rasa haus akan hiburan dalam skala global. Taufiq menolak menyebut tinju sebagai olahraga, sebab baginya tinju tak lebih sebagai kesinambungan yang lebih canggih dari hasrat manusia dalam mengadu binatang dengan binatang, binatang dengan manusia, dan manusia dengan manusia. Semua itu melembaga secara sosial mulai adu jangkrik, sabung ayam, dan yang paling mengerikan di zaman kuno adu gladiator di zaman Romawi.

Bagi Taufiq, kapitalisme modern telah menggerakkan dan melembagakan tinju menjadi tontonan global kekerasan manusia atas manusia, memupuk rasa haus akan tontonan kekerasan terhadap manusia, dan secara laten telah mengimunisasi rasa kemanusiaan di dunia global. Juga di sini di Indonesia. Tinju adalah arena dimana orang-orang rela merogoh koceknya dalam-dalam demi memenuhi dahaga primitifnya pada kekerasan manusia atas manusia. Mereka bersorak ketika sang petinju rubuh terkapar di lantai ring tinju, pada saat yang sama mengelu-elukan sang petinju lainnya sebagai pahlawan seakan tak ada manusia yang terkapar karenanya, seakan tak ada kemanusiaan yang telah diinjak-injaknya. Penolakan Taufiq terhadap tinju demi menghormati manusia adalah perhatian, keprihatinan, dan keberpihakannya pada lingkup sejarah yang lebih terbatas, fakta konkret pelecehan manusia yang lindap dalam kesadaran banyak orang di tengah deru kapitalisme. Dan anehnya, tak banyak yang berminat pada penghormatan manusia dalam jenis ini tapi juga tak banyak, jika pun ada, yang membantahnya.

Berdamai dengan Masa Depan
Tetapi, perang, benturan peradaban, dan tinju adalah masalah global, dimana raksasa ekonomi dan politik merupakan sumber utama pendahsyatannya. Sikap menghormati manusia dan kemanusiaan hanya harus diberikan dengan segala daya yang amat terbatas di hadapan kekuatan raksasa global yang nyaris tanpa batas dalam menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan lewat cara apa pun. Ekses-ekses yang ditimbulkannya jauh lebih mengerikan tinimbang sekadar alienasi sosial dan eksistensial, ketimpangan ekonomi, atau ketidakadilan global akibat ketimpangan sumberdaya yang parah. Dengan segala daya yang amat terbatas, seorang pengarang pada akhirnya harus lebih melihat keadaan negaranya sendiri, bangsanya sendiri, yang masih terombang-ambing dalam tarik-ulur pembentukan dirinya, demokrasinya, ekonominya, pendidikannya, dan lain sebagainya. Dalam konteks inilah kita bisa memahami kenapa Taufiq Ismail belakangan tampak sedikit undur dari arena gemuruh persoalan global, dan lebih banyak membidikkan kamera intelektualnya pada masalah-masalah tanah air. Bagimanapun, pertama-tama dia terpanggil oleh masalah-masalah mendesak bangsanya sendiri.

Yang sering kita dengar hingga sekarang adalah suara kerasnya tentang komunisme dan kecemasannya akan kebangkitan kembali ideologi tersebut di tanah air, terutama melalui anak-anak muda. Dalam menghalau komunisme, dia bahkan kini jadi orang terdepan di antara teman-temannya sesama korban kekerasan PKI, ketika sebagian korban itu justru tak lagi terlalu mempersoalkannya meskipun tentu tak melupakannya. Bagi sebagian orang, mungkin juga bagi anda, di sini tampak bahwa gemuruh sejarah totalitarianisme PKI telah meninggalkan psikologisme yang akut jauh di dalam kesadaran korban kekerasan PKI itu sendiri. Tetapi hal tersebut hanya harus difahami dari dunia kemungkinan Taufiq Ismail sendiri, yang tampaknya jauh lebih dalam daripada sekadar psikologisme atau trauma dan kecemasan berlebihan terhadap kekerasan yang pernah dialaminya.

Persoalannya adalah bahwa dia tampak sangat cemas dengan kemungkinan bangkitnya kembali ideologi komunisme di tanah air terutama di kalangan anak-anak muda. Hal itu menurutnya bukan tidak mungkin terjadi, sebab kondisi riil Indonesia terutama tingginya angka kemiskinan dan kebodohan serta lemahnya penegakan hukum merupkan tanah subur bagi janji-janji eskatologis sekuler komunisme. Maka dia mengingatkan tentang bahaya ideologi itu dengan menunjukkan pengalaman yang mengerikan dari langkah-langkah totaliter PKI dalam sejarah tanah air, baik pengalamannya sendiri maupun pengalaman yang amat menentukan dalam sejarah Indonesia, dari zaman kolonial hingga zaman kemerdekaan. Di samping itu, argumen yang juga dikemukakannya dalam menghalau komunisme dan mencegah pengaruh ideologi PKI di tanah air adalah bahwa komunisme sudah ambruk dan gulung tikar. Ia tinggal puing-puing sejarah lagi. Komunisme telah kehilangan legitimasi historisnya. Di sini kita menangkap sebuah kontradiksi: jika ideologi komunisme secara historis sudah ambruk dan gulung karpet, betapakah dia berbahaya di sini, di Indonesia, bahkan pun jika kondisi riil Indonesia memungkinkannya? Orang mungkin perlu memungut puing-puing sejarah, tetapi hanya bila bersedia menyimpannya dalam museum.

Kontradiksi ini pada hemat saya perlu difahami dari jurusan lain stuktur pandangan Taufiq sendiri: dengan berbagai argumen, komunisme adalah ideologi yang berbahaya. Karenanya, meskipun komunisme sudah ambruk, tetaplah penting mewaspadai gejala kemunculannya kembali di tanah air, seperti antara lain tampak dari kontroversi pencabutan TAP MPRS No. XXV/1966 tentang pelarangan PKI di tahun 2000. Sekecil apa pun gejala itu, adalah tugas Taufiq Ismail sebagai seorang aktivis-intelektual untuk mengingatkan orang tentang bahaya ideologi komunisme, bahwa ideologi tersebut telah menelan korban 100 juta jiwa di berbagai negara eks komunis, dan bahwa komunisme adalah anti-demokrasi, anti-hak asasi manusia, dan anti-Tuhan. Tetapi setelah itu, dia segera menekankan pentingnya menyudahi konflik ideologis masa lalu, untuk bersama-sama menatap masa depan.

Penekanan sedemikian rupa pada kemungkinan munculnya ekses kemanusiaan yang dibenarkan oleh komunisme inilah yang untuk sementara mengabaikan kontradiksi argumen tentang bahaya komunisme yang diajukannya. Dengan demikian, bagi Taufiq Ismail, tampaknya bukan kemungkinan munculnya kembali komunisme itu benar yang begitu mencemaskannya, melainkan ekses-ekses kemanusiaan yang telah (dan mungkin kembali) ditimbulkannya secara mengerikan dalam sejarah ekses kemanusiaan yang dibenarkan oleh ideologi komunisme itu sendiri. Dengan cara itu, sebagai salah seorang korban kekerasan PKI, Taufiq Ismail tidak saja berdamai dengan masa lalu, melainkan juga berdamai dengan masa depan.

Bentuk lain berdamai dengan masa lalu dan masa depan adalah menyadari sepenuhnya kenyataan dan kemungkinan dikorbankannya kebebasan di bawah ideologi totalitarian atau apa pun juga. Korban jiwa jelas tak dapat diterima oleh sistem nilai apa pun, tetapi bahkan “sekadar” korban kebebasan saja pun tak bisa diterima. Kebebasan tak boleh dikorbankan demi dan untuk tujuan ideologi apa pun, sebab kebebasan memberikan makna eksistensial pada manusia. Maka Taufiq Ismail tampil membela kebebasan, tema penting dalam wacana intelektual di mana pun termasuk di Indonesia. Dia misalnya turut menandatangani Pernyataan Protes 20 seniman Jakarta atas pelarangan majalah Sastra oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di tahun 1968 dalam kasus cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin. Tetapi, sejurus dengan caranya memandang masalah, dia tidak berbicara kebebasan misalnya dari status ontologisnya sebagai sesuatu yang niscaya, sebagai sebuah inperatif. Dia juga tidak memberikan tekanan pada berbagai bahaya yang mengancam kebebasan demi menyelamatkan kebebasan itu sendiri; tidak juga menggarisbawahi bahaya yang akan timbul bila kebebasan diberangus.

Alih-alih, dasar pikiran Taufiq Ismail tentang kebebasan adalah bahwa benar kebebasan memang mesti dibela, dijamin, dan ditegakkan, tetapi dia mengingatkan tentang bahaya kebebasan itu sendiri. Kebebasan akan berbahaya manakala melampaui batas-batas moral dan kewajarannya, yaitu adab, logika, akidah, dan sensitivitas. Cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin kasus kontroversial tentang personifikasi Tuhan hingga diseret ke meja hijau adalah contoh karya yang ditulis oleh seorang pengarang yang kebebasannya berfantasi telah melampaui batas-batas adab dan logika. Jika Kipandjikusmin adalah seorang Muslim, menurut Taufiq, maka dia telah melampaui batas-batas akidah; jika dia bukan Muslim, maka dia telah terlalu jauh memasuki daerah krusial ini. Sementara itu, Salman Rushdy dengan Ayat-ayat Setan-nya adalah seorang pengarang yang insensitif, dan itu sebabnya muncul reaksi keras dari komunitas-komunitas Muslim internasional. Agar tidak menimbulkan marabahaya, kebebasan hanya boleh dijalankan dalam batas-batas kewajaran moral, adab, logika, akidah (keyakinan), dan dengan sensitivitas yang memadai. Apa bahaya dari kebebasan yang menerabas batas-batas kewajaran itu? Taufiq tidak memberikan jawaban eksplisit, namun kita tahu arah logikanya.

Sejarah yang Alpa
Berdamai dengan masa lalu dan masa depan, pada akhirnya adalah juga kesadaran sejarah tentang manusia dan berbagai marabahaya yang mengancamnya. Marabahaya mana bertingkat-tingkat, dari yang keras hingga yang lunak. Namun pada tingkat apa pun marabahaya itu mengintai, ia mengandung implikasi kemanusiaan yang kurang-lebih sama seriusnya. Perang jelas berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan, sama juga kemiskinan dan kebodohan akan berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan. Yang pertama berbahaya dalam bentuk keras; yang kedua dalam bentuk lunak. Dalam konteks ini, kesadaran sejarah berarti kesadaran untuk menyelamatkan manusia dari semua marabahaya yang mengancamnya, dari bentuknya yang paling keras hingga yang paling lunak. Demikianlah manusia mesti diselamatkan dari perang dan ideologi yang dalam sejarah terbukti memberangus manusia dan kemanusiaan dalam bentuknya yang keras. Pada saat yang sama, manusia harus diselamatkan pula dari kemiskinan dan kebodohan yang membahayakan dalam bentuknya yang lunak. Karena implikasi kemanusiaan baik yang keras maupun lunak sama seriusnya, maka perhatian terhadap hal-hal yang berimplikasi baik keras maupun lunak pada manusia, haruslah diberikan dengan sama sungguh-sungguhnya.

Maka itu, kesadaran sejarah tidak saja berarti kesadaran akan sesuatu yang telah menjadi ingatan kolektif, melainkan juga kesadaran akan sejarah yang alpa. Sejarah yang alpa bagaimanapun punya implikasi pada manusia, dalam bentuknya yang sangat lunak dan halus, misalnya meniadakan manusia dalam sejarah. Sudah tentu begitu banyak sejarah yang teralpakan. Seorang pengarang akhirnya dihadapkan pada pilihan-pilihan strategis sebagai rencana kerja intelektualnya dalam batas jangkauan informasi dan kepedulian yang dimilikinya.

Dalam kaitannya dengan obsesi intelektual Taufiq Ismail, sejarah yang alpa terutama adalah terabaikannya Syekh Yusuf Makasar dalam struktur kognitif kita. Hingga awal tahun 1990-an, ulama asal Makasar itu yang berjuang secara fisik melawan kolonialisme Belanda di Banten hingga dibuang bersama para pengikutnya, mula-mula ke Sailan, lalu ke Cape Town, Afrika Selatan, sampai wafat di sana pada tahun 1699 tak cukup dikenal di sini di Indonesia. Penelitian akademis tentang Syekh Yusuf relatif terbatas. Serangkaian tulisan Taufiq tentang tokoh ini di koran Republika pada tahun 1993 (yang sangat provokatif mengingatkan kita akan posisi penting Syekh Yusuf sebagai seorang ulama, sufi, dan pejuang kemerdekaan), berikut surat-menyuratnya dengan beberapa tokoh untuk mencatat Syekh Yusuf dengan tinta emas dalam ingatan sejarah kita, adalah usaha memecahkan sejarah yang alpa itu.

Sejarah yang alpa: alangkah samar sosok Syekh Yusuf dalam ingatan sejarah kita di sini, dan betapakah akan benar-benar terputus hubungan kita dengan saudara-saudara kita keturunan Melayu di Cape Town, sekiranya dering peringatan tak dibunyikan. Taufiq Ismail adalah satu dari suara-suara yang memperdengarkan tokoh ini ke telinga kita, hingga akhirnya Syekh Yusuf secara resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional di tahun 1995. Lebih dari sekadar memecahkan sejarah yang alpa, dia juga mempertautkan kembali hubungan batin antara kita di sini dan saudara-saudara kita di Cape Town. Bahwa pada Maret 2008 Presiden Susilo Bambang Yudoyono berkunjung ke Cape dan bertemu dengan keturunan Melayu di sana, ditambah lagi dengan perkawinan anak Indonesia dengan anak keturunan Melayu di Cape Town pada waktu yang sama, jelaslah bahwa sekurang-kurangnya secara simbolik kesadaran historis kini benar-benar telah memecahkan sejarah yang lama alpa, sejarah yang lama teralpakan.

Dalam kerangka itu jugalah segala usahanya memajukan apresiasi sastra lewat pendidikan yang dilakukannya secara ekstensif sejak 1996 dapat kita tempatkan. Sebagimana halnya kita pernah alpa pada tokoh sekaliber Syekh Yusuf, kita pun pernah alpa bahwa pada suatu masa sebelum Indonesia merdeka, pengajaran sastra di sekolah-sekolah kita sudah sedemikian baiknya. Yaitu, kata Taufiq, masa ketika siswa-siswa Algemeene Middlbare School (AMS) membaca sedikitnya 25 buku selama mereka belajar di bangku sekolah setingkat SMA itu, dalam 4 bahasa pula. Mutu bacaan mereka itu kurang-lebih sama dengan mutu bacaan siswa-siswa SMA di berbagai negara maju di Amerika dan Eropa hari ini. Inilah sejarah yang alpa dan mencengangkan: sejak 60 tahun lebih silam, siswa-siswa SMA kita hanya membaca 0 buku sastra, tentu dengan sedikit sekali pengecualian. Dilihat dari cara Taufiq melihat masalah sebagaimana diuraikan di atas, situasi ini demikian membahayakan. Bukan merosotnya pengajaran sastra itu benar yang menjadi problem, melainkan implikasinya pada perkembangan kognitif anak bangsa: kemerosotan luar biasa pengajaran sastra itu adalah juga kemerosotan pendidikan secara umum. Maka, dalam hal ini Taufiq Ismail menarik agenda kerja intelektualnya dari tataran ide ke tataran aktual, dari “sekadar” berpikir ke bertindak.

Akhirulkalam
Membaca tulisan-tulisan Taufiq Ismail, terutama esai-esainya, hampir selalu berhadapan dengan kelincahan meramu pikiran, perasaan, imajinasi, dan kenyataan. Ia adalah kelebatan dan lompatan ulang-alik dari kenyataan ke pikiran, dari pikiran ke imajinasi, dari imajinasi ke perasaan, dari yang partikular ke yang general, dan dari semuanya ke sebuah sikap yang tegas: sebuah dering peringatan. Ia adalah potongan-potongan fragmentaris yang dirajut sedemikian rupa dengan cantik, kadang nakal dan jenaka, yang secara keseluruhan membentuk keutuhannya sendiri. Taufiq bahkan kadangkala dengan sengaja membiarkan potongan-potongan itu seakan berdiri sendiri-sendiri, toh pembaca akan bisa merajutnya sendiri menjadi struktur yang relatif utuh. Dengan kata lain, potongan-potongan pikiran dan pengalaman dalam tulisan Taufiq Ismail telah mengaktifkan pembaca untuk menemukan sendiri benang merahnya yang samar-samar terentang dalam tulisan itu sendiri.

Sengaja saya tidak memasuki diskusi sekitar tema-tema tulisan Taufiq Ismail, betapapun tulisannya membuka banyak peluang untuk diskusi, bahkan sebagian sangat polemis. Saya lebih ingin menunjukkan bahwa sekian banyak peluang diskusi dalam tulisannya hampir-hampir tak dipedulikannya, karena apa yang menjadi perhatian utamanya dalah ekses-ekses kemanusiaan dalam berbagai bentuknya. Dalam arti kata lain, ekses kemanusiaan sekecil apa pun telah merebut perhatian Taufiq sedemikian besarnya, melebihi perhatiannya pada hubungn-hubungan logis argumen yang diajukannya. Sebab, itulah panggilan moralnya sebagai seorang pengarang.

Dari berbagai tulisannya, dengan gaya dan tema yang cukup beragam, cukup jelas setidaknya bagi saya bagaimana caranya melihat masalah berikut jalan keluar yang diajukannya. Pertama-tama, manusia yang malang dalam sejarah adalah pusat orientasi dan obsesi intelektualnya. Maka kerangka kerja intelektualnya adalah menepis berbagai kemungkinan destruktif terhadap manusia, terutama dengan cara membunyikan dering peringatan bahwa ada banyak marabahaya yang mengancam manusia dari berbagai jurusan. Sejarah yang ideal baginya adalah sejarah yang terselamatkan dari semua jenis marabahaya manusia dan kemanusiaan. Tidak mengherankan kalau dia melihat sesuatu seringkali dengan keyakinan-penuh, kadangkala dengan nada geram. Sedikit sekali dia bersikap ragu-ragu, seperti juga sedikt sekali dia bertanya sebagai sebentuk renungan.

Dalam arti tertentu, kerangka kerja intelektual semacam ini adalah tugas profetik. Dalam banyak kesempatan, Al-Quran menjelaskan bahwa tugas seorang nabi atau rasul adalah memberi kabar gembira dan memberi peringatan semacam dering marabahaya. Di sinilah akar kerangka kerja intelektual Taufiq Ismail dapat dilacak, sebab Islam adalah keyakinan agamanya dan pastilah merupakan sumber utama kekuatan moral sekaligus dasar intelektualnya.

Dalam batas tugas seorang pengarang yang bertahun-tahun mencoba merespon masalah kemanusiaan sebagai tanggungjawab intelektualnya, tantangan akhirnya tampaknya adalah melawan ketidaksabaran dan keputusasaannya sendiri. Melalui tulisan dan tidankannya, seorang pengarang bagaimanapun telah menyuarakan panggilan intelektualnya sebagai sebentuk perjuangan. Dan perjuangan manusia tak harus dinilai hanya oleh hasil nyatanya hari ini, tapi juga dari inspirasi yang diberikannya pada orang lain bagi kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik di masa depan. Apa boleh buat, sejarah manusia memang tak seindah tanaman rimbun di sebuah kebun, dimana bila malam lembayung/ dan antara kapas langit bulan berdayung/ temaram di atas tetangkai jeruk/ rawa dengan wajah kaca hitam/ mengunjur dan menggeliat ke hulu/ bagai perempuan berahim subur/ dan angin yang mengaliri pepohonan/ membawa nafas Tuhan. Menghadapi kegagalan manusia dan kemanusiaan dalam sejarah, seorang pengarang pada akhirnya tak hanya harus berdamai dengan masa lalu dan masa depan, melainkan terutama berdamai dengan dirinya sendiri. Dan ini adalah juga sikap profetik.***

Pondok Cabe, 27 Maret 2008

Tulisan ini adalah pengantar dalam buku karya Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 2-3 (Jakarta: Majalah Horison, 2008).

1 Komentar »

  1. […] Taufiq Ismail: Sebuah Dering Peringatan « Jamal D. Rahman20 Sep 2008 … Hampir semua nada tulisan Taufiq Ismail adalah upaya ….. Sementara itu, Salman Rushdy dengan Ayat-ayat Setan-nya adalah seorang … […]

    Ping balik oleh Taufiq rushdy | Keritesorszag — 6 September 2012 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: