Jamal D. Rahman

20 September 2008

Puisi-puisi Epri Tsaqib: Kembali ke Dunia-Dalam Manusia

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Hidup kita adalah hidup yang sibuk dan berisik, baik dalam arti harfiah maupun eksistensial. Secara harfiah, hidup kita sibuk dengan berbagai pekerjaan, rutinitas sehari-hari, di kantor, pasar, jalan raya, bahkan sawah dan ladang. Hidup kita berisik oleh berbagai suara kendaraan, radio, televisi, mesin, dan lain-lain. Bahkan di rumah pun, hidup kita amat berisik: suara televisi mendesakkan diri mengisi rumah kita nyaris sepanjang waktu. Lebih dari itu, hidup kita berisik oleh banjir informasi yang, sayangnya, tidak seluruhnya kita perlukan namun kita tidak selalu kuasa untuk menolaknya. Begitulah kita pun kian sibuk: harus menerima informasi yang tidak kita perlukan sekalipun. Kita hidup nyaris di bawah tekanan kesibukan dan kebisingan, yang kian hari tampak kian menekan. Kita tidak bisa keluar dari kesibukan dan kebisingan, yang lambat-laun menjebak kita untuk ambil bagian di dalamnya, sehingga kita turut “menikmati” kesibukan dan kebisingan sebagai bagian dari tuntutan eksistensial kita. Hidup kita terasa berarti karena kita berada di tengah arus deras kesibukan dan kebisingan. Berada di luar itu, kita seakan teralienasi, merasa terasing, bahkan mungkin merasa tidak berarti. Kita hanya merasa berarti, merasa ada, ketika kita berada di tengah deru hidup yang sibuk dan berisik.

Kita tidak akan mendiskusikan lebih lanjut arti kesibukan dan kebisingan ini bagi kehidupan kita. Poin saya di sini adalah bahwa kita —tepatnya sebagian dari kita— sudah telanjur dihadapkan pada kesibukan dan kebisingan sebagai tuntutan, yang untuk berbagai alasan memang tak mungkin seluruhnya ditampik. Katakanlah kesibukan dan kebisingan yang kita hadapi setiap saat sebagai tuntutan yang bisa diterima baik secara rasional maupun moral. Tetapi bahkan pada titik itu pun, sesungguhnya kita berada dalam kebenaran rasional dan moral yang diam-diam mengasingkan diri kita dari dunia-dalam kita sendiri. Seandainya pun kesibukan dan kebisingan yang kita hadapi adalah sesuatu yang bisa dibenarkan secara rasional dan moral, tanpa kita sadari keduanya sesungguhnya telah menyeret kita ke dunia-luar diri kita sendiri, dunia-luar yang mungkin teramat jauh.

Dalam konteks itulah puisi-puisi Epri Tsaqib memiliki arti penting. Yaitu bahwa ia mengingatkan kita pada dunia-dalam kita sendiri yang hening, sunyi, lengang, bahkan diam. Puisi-puisi Epri (dalam buku puisi pertamanya, Ruang Lengang [Jakarta: Pustaka Jamil, 2008) adalah sebuah interupsi, sebuah jeda, dari kesibukan dan kebisingan hidup yang lebih banyak menyeret bahkan menenggelamkan kita ke dunia-luar kita hingga titik yang amat jauh. Ia membawa kita kembali ke kedalaman diri kita sendiri sebagai manusia, sebuah dunia yang —di tengah kuatnya daya tarik dan tuntutan dunia-luar— jarang kita sadari sebagai sesuatu yang teramat luas dan dalam. Pendeknya, puisi Epri membawa kita kembali ke dunia-dalam kita sendiri di saat kita tak mungkin lagi menampik daya tarik dan tuntutan dunia-luar yang sibuk dan berisik tadi.

Sejalan dengan apa yang ingin diingatkannya, puisi Epri terdengar lirih dan lembut, tanpa sesuatu yang bisa kita sebut sebagai kesibukan dan kebisingan:

di dasar ruang hatimu kutanam sunyi
sebuah tempat yang selalu bisa kudatangi
kapan saja aku mau termangu

hari ini aku datang ke situ
memandangi kamu yang galau

lalu aku tulis sebuah sajak yang tak selesai
kuletakkan di salah satu dindingnya

kau boleh melengkapinya kapan saja
atau membiarkannya basah sendirian
dengan tetes airmatamu

(sajak “Di Ruangan Itu”).

Lebih dari sekadar mengingatkan kita pada dunia-dalam kita yang sunyi, puisi di atas bahkan membalik kemungkinan adanya perasaan teralienasi di tengah dunia yang sibuk dan berisik. Tidak seharusnya kita merasa terasing ketika kita keluar dari dunia yang sibuk dan berisik itu, alih-alih kita sesungguhnya teralienasi justru ketika kita meninggalkan dunia-dalam kita yang diam dan lengang. Dikemukakan dengan kalimat lain, sejatinya kita merasa teralienasi dan menangis ketika kita alpa akan dunia-dalam kita sendiri karena terlalu jauh terseret oleh deru dunia-luar yang sibuk dan bising. Puisi Epri di atas sekaligus mengingatkan kita, bahwa ada yang tak selesai di kedalaman batin dan rohani kita, yang tentulah meminta kita untuk menyelesaikannya. Kita selalu berusaha menyelesaikan dunia-luar kita, tetapi kita kerapkali abai untuk menyelesaikan dunia-dalam kita sendiri —meskipun kita tahu, dunia-dalam itu tak akan pernah selesai juga.

Puisi Epri Tsaqib berikut ini mempertegas ajakannya untuk kembali ke dunia-dalam kita:

Aku pergi menulis
kamu lambaikan tangan
lalu bilang,”Selamat jalan,
hatihati ya!”

Padahal aku pergi
ke dalam ruang sepi
hatimu

Suatu saat kalau kau
sudah sadar, kau mungkin
akan bilang,”Selamat
datang, kau betah
di sini kan sayang?”

(sajak “Pergi”).

Di dunia yang bising, dunia lengang adalah tempat kita menimbang kembali hal-hal yang kurang mendapat tempat dalam kesadaran kita, sekaligus tempat kita merenungkan kembali dunia yang bising itu sendiri. Menyertakan foto-foto karya fotografer Tika Nirwanjaya, yang juga menghadirkan dunia yang lengang, buku ini seakan menghentak kita akan kelengangan, kesunyian, dan kesepian, bukan saja di sudut-sudut terdalam dalam diri kita, melainkan juga di sudut-sudut alam yang memang menyediakan juga kelengangan dan kesunyian. Dengan demikian, puisi dan foto di sini mempertemukan dua dunia sunyi, yaitu dunia sunyi di dalam dan di luar diri manusia: di dunia yang sibuk dan berisik yang tak mungkin kita tampik itu, selalu ada sudut lengang tempat kita mengambil jeda guna menimbang dan menghayati kembali eksistensi kita sebagai manusia.

Kembali ke dunia-dalam manusia tidak berarti lari dari dunia nyata yang mengandung banyak masalah sosial. Dalam konteks itu, puisi Epri Tsaqib justru menawarkan pemecahan masalah sosial lewat jalan kembali ke kedalaman dunia batin manusia. Tak perlu diragukan bahwa jalan kembali ke kedalaman dunia batin yang lengang dan sunyi itu untuk sebagian adalah juga respon penyair terhadap masalah-masalah aktual manusia. Dalam hubungannya dengan puisi-puisi Epri, hal itu jelas terlihat misalnya dari puisi tipografisnya berikut ini:

KAU

L S T
a e e
n r r
g i s
k n e
a g o
h k
k
u

terluka dalam perih

sungguh aku tak peduli
bila KAU masih ada
: di setiap

t a m
e i a
t r t
e a
s k
u

(Desember 2006)

Meskipun bukan ciri utama puisi-puisi Epri Tsaqib, puisi tipografis ini memiliki arti penting tersendiri, setidaknya karena dua hal. Pertama, puisi di sini adalah tradisi tulis atau aksara, yang berbeda dengan tradisi tutur atau lisan. Dalam tradisi tulis, komposisi huruf dan larik secara visual memberikan efek psikologis dan mental tertentu bagi pembaca, dan akhirnya membangkitkan penafsiran tertentu pula. Efek dan penafsiran itu akan berbeda bila misalnya komposisi huruf dan larik puisi yang sama disusun seperti lazimnya puisi. Kedua, puisi tipografis tersebut jelas memiliki pertautan dengan perhatian utama Epri (sebagaimana tercermin dari banyak puisinya yang telah dibicarakan di atas), yaitu bahwa ajakannya untuk kembali ke dunia-dalam manusia merupakan respon sekaligus jalan keluar yang ditawarkan penyair atas masalah sosial.

Dalam puisi “Kau”, larik-larik puisi disusun vertikal dan horisontal. Larik langkahku sering terseok, yang disusun secara vertikal dan kata terseok disusun meliuk atau melengkung, memberikan efek makna vertikal dan menimbulkan asosiasi pada atas dan bawah. Karena itu, larik tersebut di satu sisi berarti bahwa langkah yang sering terseok bisa menimbulkan kejatuhan (dari atas ke bawah), dan di sisi lain berarti betapa tidak mudah meniti tangga vertikal untuk mencapai ketinggian dan keagungan. Sementara itu, larik terluka dalam perih, yang disusun secara horisontal, memberikan asosiasi horisontal pada makna terluka dalam perih, ialah harapan bahwa luka akibat kejatuhan tidak ditanggung sendiri oleh aku-lirik, melainkan dirasakan juga secara horisontal oleh sesama. Dirumuskan dengan cara lain, larik-larik yang disusun secara tipografis sedemikian rupa itu mengemukakan gagasan tentang kejatuhan yang perih, dan keperihan itu adalah keperihan bersama.

Sementara itu, kata KAU (dengan huruf besar semua) dalam larik-larik berikutnya mungkin menimbulkan asosiasi tentang Tuhan. Namun dilihat dari makna dan nada larik-larik puisi itu sendiri, KAU di situ adalah kau yang angkuh, sombong, dan sok besar, sehingga tidak mungkin diasosiaskan dengan Tuhan. Larik-larik sungguh aku tak peduli/ bila KAU masih ada/ :di setiap/ tetes air mataku bernada perlawanan dan pembangkangan, namun bukan perlawanan atau pembangkangan kepada Tuhan, melainkan kepada keangkuhan dan kesombongan. Maka, sejalan dengan makna bait sebelumnya, bait terakhir puisi itu menegaskan satu hal: betapa dalam kejatuhan yang dialami aku-lirik, sehingga dia tidak memperdulikan lagi apakah KAU masih ada di setiap tetes airmataku.

Pada titik itulah, puisi ini adalah sebuah kritik sosial. Di satu sisi ia menegaskan kejatuhan individual akibat langkahku [yang] sering terseok dan terluka dalam perih, namun di sisi lain menegaskan juga kejatuhan sosial akibat sesuatu yang bersifat struktural —dan kejatuhan sosial itu bersifat horisontal. Dirumuskan dengan cara lain, luka manusia yang bersifat horisontal adalah akibat sesuatu yang diturunkan begitu saja secara struktural ke lapisan sosial di bawah. Contoh yang sangat konkret dalam hal ini adalah kebijakan kenaikan harga BBM: diputuskan oleh elit politik, kebijakan itu membuat masyarakat kebanyakan secara horisontal terluka dalam perih. Kejatuhan inilah yang menimbulkan perlawanan dan pembangkangan pada kau yang angkuh dan tak peduli pada masyarakat bawah: sungguh aku tak peduli/ bila KAU masih ada/ :di setiap/ tetes air mataku. Demikianlah, dalam kejatuhan sosial-ekonomi yang parah dan ketika manusia terluka dalam perih akibat kebijakan yang diambil oleh elit politik, perlawanan sosial dilancarkan.

Akhirnya perlu ditegaskan kembali, bahwa puisi-puisi Epri Tsaqib bagaimanapun adalah puisi yang tenang, lembut, lirih, teduh, dan hanya dengan sedikit sekali gejolak. Puisinya tidak meledak-ledak, karena dia memang ingin menawarkan kelembutan dengan sebentuk refleksi yang kuat. Meskipun di sana-sini terdapat hal yang terasa mengganggu kedalaman renungan dan kekuatan diksinya, puisi-puisi Epri Tsaqib tetaplah bisa memberikan kita keteduhan di tengah dunia yang kian bising ini, misalnya lagi puisi berikut: cinta menetes bersama embun/ mengepulkan larik rindu/ di atas seduh kopi// mengerjap mentari/ mengayuh sepi (sajak ”Sebening Embun Sehangat Kopi”).

Membaca puisi-puisi Epri Tsaqib adalah usaha menemukan kembali keteduhan di balik kebisingan, ialah usaha menemukan kembali ketenangan dan kedalaman dunia-dalam kita di balik riuh-rendah dunia-luar kita sebagai manusia. Salam.***

Tulisan ini adalah pengantar untuk buku puisi Epri Tsaqib, Ruang Lengang. Jakarta: Pustaka Jamil, 2008.

2 Komentar »

  1. Saya sudah baca bukunya. Wah kerennnnnn…..

    paduan Foto dan Puisi, sangat indah.

    Terimakasih mas Jamal, ini tulisan di majalah Horison kah??

    Komentar oleh rosa — 27 September 2008 @ 05:00 | Balas

  2. Terima kasih tulisannya Pak. Saya kebetulan datang di acara launching buku ini tapi hanya sempat mendengar bagian akhir dari ulasan dari Pak Jamal karena datang terlambat. Lewat tulisan ini saya bisa mengetahuinya secara utuh.

    Komentar oleh agus — 23 Desember 2009 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: