Jamal D. Rahman

20 Juni 2016

Ramadan, Ketupat Masjid dan Kuda

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Mengenang puasa Ramadan pada masa kanak-kanak saya adalah mengenang bhancèt —sesuatu yang kini telah hilang dalam kebudayaan Madura. Bhancèt yang terkenang bagi saya adalah bhancèt kakek dari pihak ibu. Di masa kanak-kanak, saya memang tinggal bersama kakek, yang —saya ingat betul— sering mengelus ubun-ubun saya dengan tangannya yang lembut. Kampung kakek saya adalah Lembung Barat, kurang-lebih 14 km dari kota Sumenep, Madura, Jawa Timur. Inilah kampung halaman Bindara Saod, salah seorang sultan Sumenep di abad ke-18 yang terkenal. Sudah barang tentu kakek sering mengisahkan kehebatan Bindara Saod, dan dengan rasa bangga seringkali mengingatkan bahwa sultan itu berasal dari kampung halamannya. Saya sering diajak berziarah ke kuburan Nyai Izza, istri pertama Bindara Saod, di pemakaman desa yang sangat tua. Juga ke kuburan Kè Pekkè (Kiai Faqih), guru Bindara Saod, di kompleks yang sama. Saya terkesan dengan kisah-kisah kakek. Tapi kalau mengingat puasa Ramadan di masa-masa itu, yang terbayang di benak saya tetaplah bhancèt.

Bhancèt berdiri tegak di halaman rumah kakek. Berbentuk balok, terbuat dari batu bata, adukan tanah dan semin —ya, balok tembok. Tingginya 70 cm, seperut saya ketika itu. Lebar masing-masing sisi samping dan sisi atasnya 30 cm. Tepat di titik tengah atas balok itu tertancap balok besi setinggi 10 cm, dengan lebar sisi samping masing-masing 2 cm. Di permukaan balok tembok itu terdapat 2 garis membujur ke utara dan selatan tepat di sisi barat dan timur balok besi. Ada pula 2 garis cincin melingkari balok besi di tengahnya. Jarak titik sumbu balok besi dengan garis cincin pertama 9 cm; dengan garis cincin kedua 10 cm. Kakek melihatnya dari dekat setiap hari. Bhancèt memang harus dilihat dari dekat, pada ketika hari cerah, sebab hanya dengan demikian petunjuknya dapat terbaca. (more…)

14 Juni 2016

Secangkir Kopi Seorang Musafir

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

1

Minum kopi kini merupakan gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah-kota. Di mana-mana orang minum kopi, di rumah, di kafe, di pelbagai pertemuan, di berbagai perhelatan. Mereka menjadikannya sebagai minuman penting baik sebagai kesukaan pribadi maupun alat penghangat pergaulan. Dalam sepuluh tahun terakhir, kopi menemukan momentum yang mengandung banyak segi: ekonomi, sosial, dan budaya. Barangkali kopi kini juga mengekspresikan dimensi eksistensial seseorang: aku minum kopi maka aku ada. (more…)

18 Mei 2016

Berthold Damshäuser: Wisata Intelektual Seorang Indonesianis

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

cover buku ini itu berthold okeOleh Jamal D. Rahman

“Ada banyak kesungguhan dalam main-main, dan banyak main-main dalam kesungguhan.”

―Berthold Damshäuser

Di tahun 2011, seusai mengikuti acara Jakarta-Berlin Arts Festival yang diprakarsai penyair Jerman Martin Jankowski di Berlin, kami melakukan perjalanan darat selama 8 jam dari Berlin ke Bonn, Jerman. Kami berempat: Berthold Damshäuser, Mbak Dian Apsari (istrinya), Joni Ariadinata, dan saya sendiri. Saya dan Joni harus ke Bonn untuk diskusi sastra di Universitas Bonn, tempat Berthold mengajar. Mengendarai mobil Volkswagen hitamnya yang nyaman, Berthold Damshäuser menyetir mobilnya di musim panas itu. Mbak Dian di depan; saya dan Joni di belakang. Perlu diketahui bahwa di Jerman, mobil setir kiri semua. Bagi saya (dan pasti bagi Joni Ariadinata juga), ini merupakan satu kehormatan sekaligus kebahagiaan. Bayangkan: kami melakukan perjalanan bersama indonesianis Jerman di kampung halamannya sendiri, ditemani istrinya pula, Dian Apsari, yang ramah dan sangat hangat, bahkan menyediakan kopi untuk perjalanan kami. Ini pasti perjalanan yang sangat mengesankan.

(more…)

26 April 2016

Haiku Herry Dim: Ketidakbebasan untuk Pembebasan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

maka biarkan
aku memilih sepi
sunyi sendiri
―Herry Dim, “Cowong”

Ketika Herry Dim meminta saya menulis pengantar untuk bukunya yang merupakan kumpulan haiku (dan haiga) ini, saya katakan bahwa saya tak faham haiku. Saya tidak bisa menghayati haiku dengan baik, karena saya sama sekali tak bisa bahasa Jepang. Saya tak mungkin menghayati haiku dalam tradisi asalnya. Tapi Herry Dim tetap meminta saya menulis pengantar. Tentu saja saya harus mengapresiasi kerja dan karya kreatifnya ini. Akhirnya saya mengiyakan, dengan catatan bahwa pengantar saya hanyalah catatan seseorang yang awam di bidang haiku dan puisi Jepang pada umumnya.

(more…)

24 April 2016

Suara Sastra dari Bekasi

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman


Empat puluh hari setelah penyair malang itu dikubur
Kain kafannya kauambil dan kaurajut menjadi senja
….

(Yoyong Amilin, “Senja di Genggamanmu”,
buletin Jejak, 01, April 2011)

Pertama-tama saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Forum Sastra Bekasi (FSB), yang pada April 2016 ini genap 5 tahun. Secara pribadi saya senang, bangga, dan bersyukur dengan apa yang telah dicapai FSB, lembaga yang dengan gigih dan kerja keras merawat suatu komunitas, sehingga melahirkan sejumlah karya yang dengannya telah pula menggairahkan kehidupan sastra Indonesia. Dalam lima tahun perjalanannya, tentu saja cukup banyak hal telah dilakukan, betapapun saya yakin para eksponennya sendiri tidak merasa puas dengan apa yang telah dicapai. Bagaimanapun, FSB adalah satu kasus komunitas sastra Indonesia yang dengan dedikasi tinggi berusaha menyumbangkan sesuatu bagi sastra Indonesia. Dengan segala keterbatasan, sebisa mungkin saya akan mencatat apa yang dalam pertimbangan subjektif saya merupakan hal penting yang telah dicapai FSB, terutama dengan menimbang publikasi-publikasinya. Dengan itu semua, keberadaan FSB akan memaksa kita untuk lebih mengakui komunitas sebagai salah satu faktor dalam sastra Indonesia.

(more…)

9 Maret 2016

Moral Islam tentang Gerhana

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Islam hadir menyikapi pandangan masyarakat tentang banyak hal. Di antaranya pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana matahari dan bulan. Dalam konteks itu, Islam menepis mitos dan pandangan primitif abad ke-7 tentang gerhana, sekaligus menekankan dimensi relijius, spiritual, dan sosial pada gerhana itu sendiri sebagai missi kenabian Nabi Muhammad.

(more…)

2 Maret 2016

Filed under: Foto — Jamal D. Rahman @ 05:00
Jamal D. Rahman - foto keren 2

Jamal D. Rahman, 2016. (Foto: Januar Herwanto).

Filed under: Foto — Jamal D. Rahman @ 05:00

Jamal D. Rahman - foto keren 1

 Jamal D. Rahman, 2016. (Foto: Januar Herwanto)

The First Congress of Iranian and World’s Poets

Filed under: Foto — Jamal D. Rahman @ 05:00
Jamal D. Rahman menghadiri The First Congress of Iranian and World’s Poets di Iran, 2010. Para penyair bersama Presiden Iran (waktu itu) Mahmoud Ahmadinejad.

Jamal D. Rahman menghadiri The First Congress of Iranian and World’s Poets di Iran, 2010. Peserta Kongres bersama Presiden Iran (waktu itu) Mahmoud Ahmadinejad.

 

(Foto: Munir Mezyed).

 

8 Februari 2016

Puisi, Do’a, dan Sepeda

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

 

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi dan do’a memiliki hubungan khusus, lebih dari hubungan puisi dengan segi-segi kehidupan lain. Do’a tentu saja merupakan laku relijius dalam tradisi keagamaan apa pun, yang dengannya seseorang menjalin hubungan khusus dengan Tuhan. Demikianlah maka hubungan puisi dengan do’a adalah hubungan puisi dengan aspek sangat dalam dari tradisi relijius dan spiritual. Dan hubungan puisi dengan tradisi relijius dalam agama pada akhirnya adalah hubungan puisi dengan kitab suci, firman Tuhan yang merupakan sumber ajaran agama itu sendiri. Maka di ujung terjauh hubungan puisi dengan kitab suci adalah hubungan puisi dengan Tuhan, dan hubungan puisi dengan Tuhan adalah puisi sebagai do’a.

(more…)

Merindukan Imajinasi Indonesia

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kenapa tak ada lagi imajinasi Indonesia dalam puisi kita dewasa ini? Pertanyaan ini tidak bermaksud menutup mata terhadap adanya imajinasi tentang Indonesia dalam puisi. Sudah tentu ada banyak imajinasi Indonesia dalam puisi kita, sebab imajinasi merupakan salah satu alat penting puisi. Yang kita maksud di sini adalah imajinasi tentang Indonesia yang kita impikan. Yakni imajinasi yang bukan saja merekam atau merespon realitas dan fenomena aktual yang pada umumnya negatif, melainkan imajinasi yang memproyeksikan Indonesia yang diidamkan, Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang bagai bunga mekar berseri-seri.

(more…)

Pesan Perdamaian dari Vietnam

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00
Istana Presiden Vietnam

Para penyair di tangga Istana Presiden Vietnam.

Oleh Jamal D. Rahman

Siang terasa sejuk ketika tujuh bus kami berhenti tepat di depan tangga Istana Presiden Vietnam. Karpet merah yang membentang pada tangga istana itu seakan menyambut kami dengan hangat. Sementara satu-dua orang dari kami menyempatkan diri berfoto di tangga dan teras istana, kami memasuki istana berwarna emas itu. Kami memasuki ruang pertemuan yang terletak di bagian paling depan gedung istana, di mana Presiden Vietnam Truong Tan Sang akan menerima kami peserta Festival Puisi Asia-Pasifik Kedua (The 2nd Asia-Pasific Poetry Festival). Sambil menunggu presiden, sebagian kami sempat berfoto-foto di dalam ruang pertemuan. Tak ada larangan memotret. Juga tak ada peringatan untuk menonaktifkan telpon genggam. Tak ada pula detektor keamanan. Tak ada pemeriksaan. Seakan tak ada protokoler. Juga tak tampak aparat keamanan berjaga-jaga.

(more…)

Ketam Ladam Rumah Ingatan: Menggali Madura, Menggali Pesantren

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Ketam Ladam Rumah Ingatan

Pengantar Jamal D. Rahman


aku ombak
Berdebur
Memanjang
Mencari diam
yang hilang
di dalam engkau.

(Muhammad Ali Fakih, “Di Laut Musik”, dimuat dalam buku ini).

Dalam kurang-lebih sepuluh tahun terakhir, Madura adalah taman subur bagi puisi Indonesia. Bunga-bunga puisi tumbuh dan mekar dari pulau kecil ini dalam jumlah relatif tinggi, menghiasi berbagai media massa di berbagai daerah Indonesia, baik cetak maupun online. Banyak juga puisi dimuat dalam beberapa bunga rampai yang terbit di luar Madura untuk beberapa dalam rangka. Tumbuh pula sejumlah sanggar dan komunitas sastra, yang tentu saja menyediakan likungan kondusif bagi gairah kehidupan puisi dan sastra pada umumnya. Terbangun juga jaringan antara beberapa komunitas sastra di Madura dengan komunitas-komunitas sastra di Jawa, Sumatera, dan lain sebagainya. Beberapa penyair asal pulau ini menerbitkan buku puisi, meluncurkannya di berbagai kota, menghadiri forum-forum sastra baik di dalam maupun di luar negeri, dan lain sebagainya. Beberapa karya mereka mendapatkan perhatian dan dibicarakan oleh kritikus sastra. Secara berlebihan dapat dikatakan bahwa dalam satu dekade terakhir terjadi ledakan puisi Indonesia di Madura.

(more…)

4 Oktober 2015

Kaulah Mata Air Rinduku

Filed under: Puisi — Jamal D. Rahman @ 05:00

Puisi Jamal D. Rahman

kaulah mata air rinduku:
ricik-ricik pecah di dasar malam
memainkan sunyi hatiku di kedalaman batu

kaulah mata air cintaku:
butir-butir lepas dari gemuruh diam
melontarkan riuh sepi pada biru sajakku

kaulah mata air gelisahku:
dingin mengendap di bukit-bukit karang
menggerakkan laut ke dalam tidurku

kaulah mata air airmataku:
menghangatkan dingin dalam subuhku
mengucapkan gelisah laut karena doaku tak lagi biru

2000

Raja Ali Haji, Oktober, dan Senja

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00
20140913_180028

Di kompleks makam Raja Ali Haji

Oleh Jamal D. Rahman

Kompleks makam keluarga Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat sore itu sunyi. Kemarau sepi. Waktu berhenti. Dan semua diam. Tenang. Khusyuk. Saya pun tenggelam di tengah suasana khidmat beraroma kemarau dengan nisan-nisan yang dibungkus kain kuning ini. Tapi berada di sini, di tengah lingkungan yang menyimpan sejarah politik dan budaya Melayu Riau-Lingga yang penuh guncangan di abad ke-19 ini, hati saya segera berubah jadi riuh. Riuh oleh kelebatan perang hebat melawan kolonialisme, perlawanan sengit yang digerakkan dari pulau kecil ini. Juga, dan terutama, riuh oleh sumbangan besar daerah ini pada kebudayaan Indonesia. Kerajaan Riau-Lingga (kini Provinsi Kepulauan Riau) adalah sejarah ditumpasnya kedaulatan politik kerajaan oleh kolonialisme, sekaligus sejarah tegaknya kebudayaan yang gemilang.

(more…)

2 September 2015

Jalan Keluar bagi Presiden Jokowi

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Ada kabar mengejutkan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo. Yaitu keluarnya kebijakan yang mencoret syarat “dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia” bagi pekerja asing yang dipekerjakan di Indonesia. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 16 Tahun 2015, menggantikan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 12 Tahun 2013. Peraturan baru itu ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada 29 Juni 2015, namun baru diketahui publik akhir Agustus lalu dan segera mendapatkan sejumlah reaksi. (more…)

23 Agustus 2015

Shalatmu, Istana Rohanimu

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Shalat adalah istana rohanimu yang suci dan megah. Di situlah engkau istirahat sejenak dari semua kesibukan duniawimu. Maka ke sanalah engkau kembali setelah perjalananmu yang melelahkan, dan di situlah engkau bisa menjumpai Tuhan dengan mesra, menemui Rosulullah, dan menemukan dirimu sendiri. Setiap kali engkau kembali ke istana rohanimu, engkau memperbaharui diri, engkau terlahir kembali. (more…)

1 Juli 2015

Al-Qur’an, Penyair, dan Lembah

Filed under: Esai Agama,Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII telah berlangsung di Singapura, 29-30 Agustus 2014, mengambil tema “Menjejaki Akar Sejarah Kewibawaan dan Perkembangan Dunia Perpuisian Nusantara”. Tak kurang dari 15 makalah dibentangkan dalam forum yang dihadiri penyair, sarjana sastra, dan peminat sastra dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand itu. Terbit pula antologi puisi Lambaian Nusantara dari Kota Singa, disunting oleh Djamal Tukimin dan Ahmad Md Tahir. Selain pembacaan puisi, pertemuan tersebut mendiskusikan perkembangan sastra di setiap negara peserta dan tantangan yang dihadapinya serta tanggung jawab budaya yang mesti diberikannya, terutama bertolak dari akar sejarah sastra Nusantara, khususnya sastra Melayu. (more…)

16 Mei 2014

Putu Wijaya di Arena SBSB

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

SMP Negeri 2 Cimahi, Bandung, 26 Juni 2013. Di arena Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) ini Putu Wijaya baca cerpen. Dia naik ke panggung dipapah Mbak Dewi Pramowati, istri yang dengan setia mendampinginya. Di atas panggung, dia membacakan cerpen dengan duduk di atas kursi. Tak berjingkrak-jingkrak ke sana-ke mari lagi. Memegang mik hanya dengan tangan kanan. Sejak terserang pendarahan otak beberapa bulan sebelumnya, dia tak bisa menggerakkan tangan kiri. Tapi gelora semangatnya tetap terpancar dari pembacaan cerpennya ini. “Sebenarnya saya masih belum sehat. Tapi saya datang karena saya mencintai kalian,” dia berkata kepada para siswa, disambut tepuk tangan lama sekali. (more…)

Sastra Kawasan

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Produksi sastra Indonesia akhir-akhir ini tampak relatif tinggi. Hal itu antara lain ditandai dengan maraknya publikasi karya sastra baik di media cetak, dunia maya (internet), dan bahkan dalam penerbitan buku di berbagai daerah, baik oleh penerbit komersial maupun lebih-lebih oleh penerbit non-komersial. Sudah tentu ini merupakan gejala menggembirakan, betapapun kita masih mengharapkan tingginya produksi sastra dibarengi dengan tingginya mutu sastra itu sendiri. Bagaimanapun, produksi sastra yang relatif tinggi patut kita sambut, misalnya dengan mengubah arah pandangan kita terhadap sastra Indonesia. Produksi sastra kita tampak kian menyebar, sehingga perlulah arah pandangan kita terhadap sastra Indonesia menyebar pula secara terencana. (more…)

Asap, Pantun, dan Pokok Lada

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Begitu turun dari pesawat di Bandar Udara Internasional Minangkabau akhir Februari 2014, saya agak heran melihat lingkungan sekitar bandara dipenuhi kabut. Di Sumatera Barat, khususnya daerah Bukittinggi dan danau Maninjau, kabut memang merupakan pemandangan biasa, yang tentu saja memberikan kesejukan dan keindahan. Tapi tidak di bandara ini. Bagaimana mungkin kawasan berudara panas ini dipenuhi kabut? Lagi pula, bandara hanya berjarak 23 km dari Padang, ibu kota provinsi di pinggiran pantai yang tentu berudara panas. (more…)

Novel Bulang Cahaya Rida K Liamsi: Konstruksi Imajinasi atas Sultan Mahmud Riayat Syah

Filed under: Kritik Sastra,Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

“Perang saudara ini harus dihentikan. Kalau tidak,
kita semua akan binasa dan Kerajaan Riau ini akan runtuh.”

—Sultan Mahmud,
dalam Bulang Cahaya Rida K Liamsi (2007: 174).

Untuk memahami tokoh historis berikut peran dan kedudukannya dalam sejarah, sejatinya kita tidak hanya mengacu pada hasil-hasil rekonstruksi historiografi modern, melainkan juga pada rekonstruksi imajinasi (yang juga modern) atas tokoh historis itu sendiri. Sepintas, konstatasi tersebut terdengar mengandung kontradiksi: bagaimana mungkin kita memahami sosok historis lewat imajinasi? Tetapi, rekonstruksi imajinasi bagaimanapun tak selalu bisa dielakkan dalam memahami kenyataan sejarah. Persoalannya adalah bahwa apa yang disebut kenyataan sejarah, yang direkonstruksi oleh atau dalam historiografi modern, tak pernah benar-benar kenyataan yang sebenarnya, melainkan selalu merupakan sebentuk re-presentasi dan representasi, yang —paling tidak sampai batas tertentu— mendistorsi kenyataan sejarah yang ingin dikemukakannya. Rekonstruksi sejarah bagaimanapun adalah re-presentasi dan representasi fakta sejarah, yang dengan asumsi-asumsinya mengelakkan tendensi esensialis tentang fakta sejarah itu sendiri. Dalam kerangka itu, rekonstruksi imajinasi atas sejarah pada dasarnya adalah juga re-presentasi dan representasi: menghadirkan kembali dan mewakili “kehadiran” sejarah yang ingin dihadirkan. Dengan demikian, baik rekonstruksi historiografi maupun rekonstruksi imajinasi atas sosok historis pada dasarnya sama-sama mustahil menghadirkan fakta sejarah yang sebenarnya secara bulat dan utuh. (more…)

2 April 2014

Diskriminasi, Puisi, Jembatan

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Appeal of Conscience Foundation (ACF), Amerika Serikat, akhirnya tetap memberikan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dan presiden menerimanya pula, 30 Mei 2013, waktu Amerika. Sebelumnya, banyak kalangan aktivis prodemokrasi, pluralisme, toleransi dan antidiskriminasi di Indonesia menyampaikan protes atas rencana pemberian penghargaan itu kepada presiden. Presiden SBY dinilai tidak layak menerima penghargaan tersebut, karena pemerintahan yang dipimpinnya gagal menjamin kehidupan yang benar-benar demokratis, menghargai pluralisme, dan bebas dari segala bentuk tindakan intoleran dan diskriminatif. (more…)

Sejarah di Hadapan Sastra

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Beberapa waktu lalu terbit buku Hari Terakhir Kartosoewirjo (Jakarta: Fadlin Zon Library, 2012), disusun oleh Fadli Zon. Buku tersebut berisi 81 foto eksklusif dan orisinal hari-hari terakhir Kartosoewirjo, sejak menjelang diekskusi, ketika diekskusi, hingga imam Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) itu dikuburkan. Tak pelak lagi buku tersebut merupakan sumber informasi paling mutakhir dan akurat tentang Kartosoewirjo, yang dieksekusi mati pada 12 September 1962, terutama menyangkut hari-hari terakhir sang imam. Ia menggambarkan, mengoreksi, memastikan hal-hal keliru dan meragukan tentang eksekusi Kartosoewirjo. Tak diragukan lagi bahwa buku 94 halaman itu merupakan sumber sejarah yang sangat penting. (more…)

14 Februari 2013

Puisi, Setelah Kebebasan …

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Berthold Damshäuser mengajukan pemikiran menarik seputar puisi Indonesia mutakhir. Dalam tulisannya di Jurnal Sajak, nomor 2, 2011, dia mengatakan bahwa kebanyakan puisi Indonesia mutakhir merupakan prosa, atau paling sedikit mengandung unsur prosa yang kental. Sedikit sekali puisi yang mengeksplorasi keindahan rima, metrum, dan larik secara teratur lagi ketat, yang secara teknis dapat disebut sajak. Meskipun banyak puisi Indonesia mutakhir berlarik(-larik), namun secara sintaksis ternyata berbentuk prosa. Itu sebabnya, dengan nada masygul dosen bahasa dan sastra Indonesia pada Universitas Bonn, Jerman, itu, mengatakan bahwa, sebagaimana tersurat dari judul tulisannya, dia “merindukan puisi yang bukan prosa: merindukan sajak”. (more…)

Baiti Masjidi

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Rumah pertama-tama tentu saja merupakan tempat tinggal. Yakni tempat orang berlindung dari panas dan hujan untuk bisa beristirahat dari kerja rutin sehari-hari. Tempat seseorang bercengkerama bersama keluarga, membangun dan menemukan kehangatan kehidupan keluarga dalam sebagian besar waktu mereka. Rumah adalah tempat seseorang pergi dan kembali lagi ke haribaan keintiman keluarga, atau keintiman dirinya sendiri. Rumah adalah tempat seseorang kembali pada dirinya sendiri. Dalam arti itu rumah bukan sekadar house, melainkan juga home. Rumah bukan sekadar memberikan kenyamanan jasmani, melainkan juga kenyamanan rohani. (more…)

Hari ‘Asyuro, Hari yang Amat Kelam

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Hari ‘Asyuro adalah hari kesepuluh bulan Muharrom dalam penanggalan Hijriyah. Hari ‘Asyuro merupakan hari istimewa dalam Islam, di mana umat Islam dianjurkan berpuasa. Karena merupakan hari istimewa, Hari ‘Asyuro diperingati dengan berbagai cara di berbagai daerah di Indonesia. Juga di berbagai negara Islam. Di Jawa, Hari ‘Asyuro jadi Hari Suro, yang tentu saja menunjukkan bahwa kebudayaan Jawa menyerap tradisi ‘Asyuro dari khazanah Islam. Di Minangkabau, ‘Asyuro konon jadi kata surau karena dulu pada hari itu orang-orang berkumpul di surau-surau untuk memperingati Hari ‘Asyuro sebagai ajaran dan tradisi Islam. (more…)

Al-Qur’an, Kapur Barus, Hamzah Fansuri

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

Dan orang-orang yang taat akan minum, dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus] (QS 76: 5).

Minuman bercampur kapur barus? Al-Qur’an menggunakan kata kâfûr, yang secara harfiah berarti kapur barus. Dalam bahasa kita yang lebih populer sekarang berarti kamper. Apa enaknya minuman bercampur kamper? Salah satu jawabnya, kata Fakhrurrozi dalam kitab tafsirnya, kâfûr adalah nama mata air di sorga, yang airnya seputih, sewangi, dan sedingin kapur barus, tapi tidak rasa apalagi bahayanya. Kemungkinan tafsir yang lain, lanjut Fakhrurrozi, adalah bahwa mungkin saja Allah SWT menciptakan kapur barus di sorga namun rasanya lezat, dan Allah menghilangkan semua bahayanya. (more…)

Al-Qur’an dan Angka 7

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

(Rasulullah SAW bersabda: “Al-Qur’an ini diturunkan atas 7 huruf.”)
(Shahîh al-Bukhârî, Hadis Nomor 4608).

Kita tidak tahu apa maksud sesungguhnya 7 huruf dalam Hadis di atas. Para ulama berbeda pendapat soal itu. Ada yang mengatakan 7 huruf itu berarti 7 jenis bacaan atau seni baca Al-Qur’an; ada yang mengatakan 7 huruf itu sekadar angka untuk menunjukkan banyak —jadi tidak menunjuk pada angka yang sesungguhnya. Yang pasti, 7 huruf tidak mungkin berarti apa yang biasa kita fahami secara harfiah tentang 7 huruf. Al-Quran jelas menggunakan seluruh huruf Hijaiyah yang berjumlah 28, 29, atau 30 huruf (perbedaan jumlah huruf ini tergantung pada apakah hamzah dan lam-alif dianggap huruf tersendiri atau tidak). Bagaimanapun, tampaknya kita tidak akan menemukan pengertian yang benar-benar memuaskan tentang maksud 7 huruf dalam Hadis di atas. (more…)

Polisi (Kok) Tidur

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Polisi tidur di mana-mana. Di jalan kampung, di jalan kompleks perumahan, di lingkungan universitas, di jalan umum, bahkan di jalan raya yang relatif besar. Polisi tidur berkembang-biak di banyak tempat, baik di kota maupun desa, di banyak daerah di Indonesia. Ke mana pun kita pergi, kita pasti bertemu dengan polisi tidur. Tanpa disadari, polisi tidur telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sudah tentu fenomena tersebut merupakan satu pertanda tentang kebudayaan kita akhir-akhir ini. (more…)

2 Februari 2013

Sekali Lagi, tentang Kapur

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Ada bahasa Indonesia “asli” dalam Al-Qur’an. Yaitu kata kâfûr, artinya kapur, kapur barus, atau kamper. Itu terdapat dalam QS 76: 5: Dan [di sorga] orang-orang saleh akan minum, dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus]. Dari konteks ayat tersebut jelas bahwa kapur barus merupakan sesuatu yang mewah dan istimewa. Bagaimana dan kenapa Al-Qur’an menyerap kata yang berasal dari daerah kita itu? Di dalam tulisan Agung Yuswanto (“Kosakata Arab dalam Bahasa Indonesia”, Tempo, 15 Agustus, 2010) sempat menyebut kata kapur yang tercantum dalam Al-Quran. Tetapi saya ingin membahas sejarahnya lebih dalam lagi.

(more…)

Ikan Tempe

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kata ikan sering mendenging di benak saya. Setiap kali datang ke daerah pesisir di mana pun di Indonesia, saya selalu membayangkan ikan di daerah tersebut. Bukan tentang keragaman jenisnya atau keindahannya dan lain sebagainya, melainkan tentang kedudukan budayanya sebagai masakan. Soalnya, kawan saya yang sangat menyukai masakan ikan, merasa heran kenapa di banyak daerah pesisir di Indonesia masakan ikan kurang dianggap istimewa. Orang setempat merasa lebih menghormati tamu dengan menyuguhinya masakan daging (terutama ayam, kambing, dan sapi) tinimbang masakan ikan. Mereka tampak kurang percaya diri untuk menyuguhkan masakan ikan. Bahkan meskipun konon masakan ikan yang istimewa dulu merupakan santapan raja-raja, masakan ikan tetap dianggap masakan kelas dua.

(more…)

Empat Salam

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pada Mei 2011 saya ke Bali, untuk acara sastra yang diikuti sekitar 700 orang. Ini kesekian kalinya saya ke Bali untuk acara serupa. Ada hal khusus setiap kali saya akan ke Bali untuk mengisi acara di depan khalayak. Yaitu, diam-diam saya berlatih sendiri mengucapkan om swastiastu, agar lancar melafalkannya di depan hadirin.

(more…)

Puisi Esai: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Denny JA memperkenalkan apa yang disebutnya “puisi esai”, dengan menerbitkan buku puisi Atas Nama Cinta (2012). Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden membicarakan puisi Denny, dalam buku itu juga. Sebagai ilmuwan sosial, esais, dan kolumnis, Denny merasa medium-medium “lama” (esai, kolom, karya ilmiah) tidak memadai lagi untuk mengungkapkan gagasan, perhatian dan kepeduliannya atas fenomena dan fakta sosial. Sementara itu, puisi yang umum dipahami orang pun tidak memuaskannya pula, sebab puisi sulit dipahami atau diapresiasi oleh khalayak luas. Tapi bagaimanapun puisi dipandangnya sebagai bentuk karya yang bisa menyentuh dan menggugah perasaan orang. Atas dasar itu, Denny mencari medium baru yang pas untuk mengemukakan gagasan-gagasannya. Bagi Denny, puisi esai adalah medium baru yang dipandangnya tepat untuk itu.

(more…)

Fiksionalisasi Fakta: Masalah Teoritis Puisi Esai Ahmad Gaus

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Saya mengenal Ahmad Gaus sebagai intelektual dan aktivis yang banyak menyuarakan isu-isu pluralisme dan inklusivisme Islam, di samping tentang politik dan kebudayaan. Dia telah menulis dan menyunting sejumlah buku seputar isu-itu tersebut. Salah satu karyanya yang cukup penting adalah Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner (2010),1 yang merupakan biografi dan pemikiran Nurcholish Madjid, salah seorang tokoh neo-modernis Islam Indonesia terkemuka. Sudah tentu Ahmad Gaus adalah intelektual yang pemikirannya mengikuti dan sejalan dengan neo-modernisme Islam Indonesia. Maka ketika kini Gaus datang dengan sebuah buku puisi, dengan segera kita menduga bahwa puisi-puisinya pun mengusung gagasan-gagasan yang telah digelutinya selama ini. Tapi mengapa puisi? Apakah puisi di tangannya akan menjadi kaki dan tangan melalui mana gagasan dan obsesi intelektualnya diharapkan sampai kepada khalayak sasaran dan khalayak andaiannya? Jika puisi lebih merupakan kaki dan tangan, dan bukan Puisi —dengan P besar— itu sendiri, untuk menyampaikan gagasan apakah gerangan Gaus berpuisi?

(more…)

1 Februari 2013

Puisi-puisi Arahmaiani: Setelah Lari Sejauh Impian dan Kekecewaan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Dalam mangkuk teh hijau
tak ada bayang-bayang apa pun

(Puisi “Upacara Minum Teh”)

Dalam kerangka kerja keseniannya yang secara kreatif seringkali mencoba menerobos batas-batas konvensi, dan secara lantang menyuarakan sejumlah pesan sosial-politik di banyak tempat dan kesempatan, di manakah puisi Arahmaiani (Iani) mengambil tempat?

(more…)

14 Februari 2011

Aksara yang Membingungkan

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Datanglah ke terminal mana saja di Indonesia. Hal pertama yang segera Anda temukan adalah tidak memadainya informasi tertulis menyangkut kebutuhan-kebutuhan primer yang diperlukan calon penumpang. Tidak ada informasi tertulis tentang kendaraan apa saja yang tersedia di terminal, rute mana saja yang dilayani, jam keberangkatan, jam kedatangan, dan tarif yang ditetapkan. Ini tidak berarti di terminal-terminal kita sama sekali tidak ada informasi tertulis. Di terminal kita tentu saja selalu ada informasi tertulis. Tetapi, calon penumpang yang hanya mengandalkan informasi tertulis yang tersedia di terminal dijamin bingung atau bahkan tersesat. Aksara di sana bagaimanapun membingungkan. (more…)

Komunitas, Puisi, dan Publikasi: Menimbang Antologi Puisi Empat Amanat Hujan

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pertumbuhan sastra Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran penting yang dimainkan oleh komunitas, baik dalam pengertian formal maupun informal. Barangkali tak ada seorang sastrawan pun yang tumbuh tanpa pernah mendapat keuntungan dari kegiatan suatu komunitas. Karena sifat komunitas biasanya longgar dan terbuka, seorang sastrawan bahkan bisa memetik keuntungan dari kegiatan beberapa komunitas sekaligus. Demikianlah seorang sastrawan lahir dan tumbuh, untuk sebagiannya, bahkan mungkin sebagian besarnya, atas sokongan beberapa komunitas tempat sang sastrawan mula-mula bersosialisasi dan menempa diri. Seorang sastrawan bergiat di suatu komunitas, bergiat pula di komunitas-komunitas lain guna bersosialisasi dan menempa diri secara lebih intensif. Persinggungan antarkomunitas secara positif dan konstruktif tentulah memainkan peran lebih penting lagi bagi kehidupan sastra. (more…)

Multikulturalisme dan Kemungkinan Sastra Indonesia

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Multikulturalisme memberikan harapan baru bagi keinginan untuk hidup bersama dalam pluralisme budaya. Ia memperkuat landasan dan wawasan tata kebudayaan, demi lebih menjamin hubungan dan pergaulan yang adil antarunsur kebudayaan itu sendiri. Sudahlah pasti kehidupan bersama yang sehat dan adil, baik secara sosial, politik, maupun budaya secara umum, baik pada tingkat lokal, nasional, regional maupun global, selalu merupakan tuntutan yang mendesak. Globalisasi memang berhasil mendekatkan atau bahkan menghapus sama sekali jarak georafis, tetapi ia tidak mendekatkan jarak kultural yang terdapat pada berbagai tingkatan. Sampai batas tertentu, jarak kultural melahirkan sentimen budaya yang seringkali menimbulkan ekses dan atau bahkan letupan sosial yang tidak diharapkan. Tantangan yang dihadapi semua lapisan sosial adalah bagaimana menjamin sentimen budaya selalu positif dan konstruktif. Untuk sebagian, multikulturalisme adalah jawaban atas tantangan tersebut. (more…)

Menikmati Puisi di Taman Penyair

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Saya datang ke Iran dengan hati agak menggebu. Inilah negara pewaris dan penerus sastra Persia, dengan banyak penyair sufi yang telah diakui dunia sejak berabad lamanya. Inilah pula sebuah eksperimen negara Islam bermazhab Syi’ah, sejak Ayatullah Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah Reza Pahlevi di tahun 1979. Inilah pula negara yang oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, dituduh mengembangkan nuklir yang mengancam perdamaian dunia. Tapi saya datang ke negara itu dengan hati berbunga puisi. (more…)

8 Januari 2011

Amir Hamzah: Penyair yang Kalah, tapi Menang

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Bonda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak langkat musafir lata

Puisi Amir Hamzah itu termaktub pada sisi kanan makamnya yang sedih. Dia wafat secara tragis dan mengenaskan, 20 Maret 1946, dalam usia 35 tahun, pada suatu malam yang mencekam. Hingga beberapa tahun kemudian kepergiannya masih diselimuti kabut gelap, sebelum akhirnya terkuak. Di makam yang sedih itu, puisi di atas terasa memiliki konteks baru. Begini rupanya akhir hidup seorang penyair yang —dengan segala pengorbanan dan dedikasi tingginya— telah berjuang untuk bangsanya: dia dibunuh secara sadis oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri.

Dia memang sebuah riwayat yang kelam, sebuah kisah yang kalah. Tapi bagaimanapun dia keluar sebagai pemenang.

(more…)

4 Februari 2010

Raja Ali Haji: Paduka Kakanda Dibawa Bertahta

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores qalam (pena) jadi tersarung. —Raja Ali Haji dalam Bustanul Katibin.

Dia adalah Zaman dan Nama dari Melayu-Riau abad ke-19 (dengan Z dan N besar).

Sebagai seorang pujangga, dia adalah pintu abadi sejarah politik dan kebudayaan Melayu, khususnya Melayu Johor-Riau-Lingga-Pahang, lebih khusus lagi Riau-Lingga. Siapa pun yang akan memasuki sejarah politik dan kebudayaan Melayu Riau-Lingga, dia akan melewati pintu itu, langsung atau tidak. Dari sanalah dia bisa memasuki rumah besar sejarah Melayu Riau-Lingga dan mengenal lekak-liku-likat kehidupan politik dan kebudayaannya yang gemilang sekaligus penuh guncangan. Tokoh itu, Raja Ali Haji namanya. Pulau Penyengat tempat lahirnya. Pulau itu juga tempat kuburnya. (more…)

3 Februari 2010

Gintamini, Korban Getir Globalisasi Ekonomi

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Di hadapan kekuatan global, suatu komunitas lokal tidak saja dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka didorong untuk berjuang guna meraih berbagai impian, yang sebagiannya dirangsang oleh godaan dunia global itu sendiri. Lebih dari itu, mereka juga dihadapkan pada berbagai dilema, sebagiannya ialah antara merawat tradisi atau mengorbankannya demi meraih impian, antara menjaga nilai-nilai luhur atau mengabaikannya, dan antara menjaga manusia dan kemanusiaan atau terpaksa melecehkannya. Pendeknya, antara meraih impian dan ongkos mahal yang mesti dibayarkan untuk meraih impian itu sendiri. Dilema tersebut demikian sulit, sebab ia bukan saja pilihan-pilihan yang mesti diambil guna mengejar ketertinggalan dengan ongkos yang mungkin sedia dibayarkan, melainkan juga bersinggungan dengan arti atau makna sebuah impian dalam kehidupan mereka. Seandainyapun bisa diraih, apakah sebuah impian akan benar-benar menjadi sesuatu yang bermakna bagi mereka? Dalam arti itu maka impian, lebih dari sekadar menyangkut pertumbuhan sosial-ekonomi yang direncanakan, pada akhirnya menyentuh juga dimensi-dimensi eksistensial manusia dan psikososial suatu masyarakat. (more…)

4 November 2009

Bahasa Membangun Generasi Muda, Atau Generasi Muda Membangun Bahasa? Bercermin pada Muhammad Yamin

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Tema lokakarya ini, “Bahasa dan Sastra Indonesia Membangun Generasi Muda yang Dinamis dan Kreatif”, merupakan tema yang sangat penting terutama sehubungan dengan Bulan Bahasa dan Sastra dan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2009. Tema itu jelaslah mengaitkan Bulan Bahasa dan Sastra dengan hari Sumpah Pemuda, dua hal yang sesungguhnya diilhami oleh sejarah yang sama, yaitu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tema itu penting setidaknya karena tiga alasan.
(more…)

18 Maret 2009

Chairil Anwar: Gelora Hidup, Gelora Cinta

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Tak ada penyair Indonesia lebih dikenal dibanding Chairil Anwar. Tak ada penyair Indonesia lebih banyak dikenang dibanding Chairil Anwar. Siapakah tak kenal penyair ini, si binatang jalang yang mati muda?

Sejak awal kepenyairannya, dia sudah berbicara tentang maut. Puisi pertamanya adalah “Nisan”, yang ditulis Chairil di tahun 1942 untuk neneknya yang tentulah sudah pergi mendahuluinya. Puisi itu mengemukakan duka yang dalam, yang meskipun menyiratkan kekaguman penyair pada keridlaanmu [nenek] menerima segala tiba, tetaplah duka maha tuan bertahta. Sikap sang nenek menerima maut dengan rida ini tampak memberikan kesan yang dalam bagi Chairil, kesan yang kelak muncul dalam puisi yang ditulisnya menjelang kematiannya sendiri. Dalam puisi “Nocturno”, yang ditulis Chairil 3 tahun sebelum kematiannya, dia ada menulis: … ingatan pada ajal yang menghantu/ dan demam yang nanti membikin kaku …. Maut bagaimanapun masih menggelayuti pikirannya. Dan nanti, sang penyair bahkan seakan meramalkan sendiri bahwa hidupnya akan singkat. (more…)

A. Mustofa Bisri, Seorang Ulama, Seorang Penyair

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

K.H.A. Mustofa Bisri. Seorang ulama. Seorang penyair. Maka dia memandang dunia dengan mata batin seorang ulama sekaligus mata batin seorang penyair. Pandangan-dunianya adalah pandangan-dunia seorang ulama sekaligus seorang penyair. Seorang ulama memandang dunia dari sudut-pandang agama; pandangan-dunianya merefleksikan kesadaran relijiusnya. Sementara, seorang penyair memandang dunia dari intuisi kepenyairannya; pandangan-dunianya merefleksikan bangunan intuitifnya. (more…)

14 Januari 2009

Bahasa Madura dan Dunia Santri: Negosiasi yang Belum Selesai

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kongres I Bahasa Madura (di Pamekasan, Madura, 15-19 Desember 2008) adalah kabar gembira sekaligus kabar duka. Kabar gembira, karena Kongres ini adalah salah satu usaha menjunjung dan memajukan bahasa Madura, bahasa etnis terbesar ketiga di Indonesia setelah bahasa Jawa dan Sunda —mudah-mudahan ia melahirkan langkah-langkah lebih konkret ke arah tujuan yang ingin dicapai oleh Kongres itu sendiri. Kabar duka, karena Kongres tersebut bukan saja membenarkan apa yang diresahkan atau diprihatinkan banyak pihak tentang nasib bahasa Madura hari ini, melainkan juga sebuah bukti langsung tentang itu. Yaitu bahwa bahasa Madura mengalami kemunduran baik dari segi populasi pengguna maupun fungsi komunikasi dan sosialnya, yang karenanya dalam jangka panjang terancam punah. (more…)

13 Januari 2009

Teks dan Konstruksi Identitas: Indonesia

Filed under: Senggang — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Sebagai makhluk budaya, manusia mencoba membangun identitas mereka dalam relasi sosial dan kultural mereka, untuk menegaskan posisi individual dan sosial suatu komunitas di hadapan orang atau komunitas lain. Identitas adalah representasi diri melalui mana seseorang atau masyarakat melihat dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihat mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya. Dengan demikian, identitas adalah produk budaya yang dalam praktik sosialnya berlangsung demikian kompleks, namun kadangkala atau bahkan seringkali direduksi sebagai sesuatu yang pasti, utuh, stabil, dan tunggal. Kajian budaya (cultural studies) menjadikan identitas sebagai salah satu tema penting kajiannya, dengan menunjukkan signifikansi sosial dan kultural identitas itu sendiri sekaligus memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi internalnya.
(more…)

Burn Me with Your Letters

Filed under: Poems — Jamal D. Rahman @ 05:00

Jamal D. Rahman

ALL THE MORE ETERNAL ROCKS

With wounded corpse, I smeared blood onto this wall
then I let the sky talked to itself. Scorning or laughing

I felt the rocks are becoming more eternal. Because upon them
my anger and saturation were being carved.
Pouring all the meanings of love and hatred
of the sky. Calling on lightning and waking up the night.
The stars had fallen, as drizzle of tears.
Trickled without a sound

1990

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

CORRIDOR’S BREEZE

At the end, we finally created many stopovers
inside our bodies. Dusty and smoky was the road
that we’ve walked through. Our children had fell along
that road. Ahead of us, broken bones and iron wreckage.
The road has narrowed, the fences wider, the bridges higher.

Corridor’s breeze blows, day and night. Connecting
all the growing stopovers inside our bodies. But we’ve
became unable to make contact. Even as the wind blows,
nothing seemed connecting us to other people.
Neither did we feel any need to do so. The roads have taught us
merely with touches we’d never realized. Still,
something is moving inside our bodies

Within the coldness of our prayers, eventually we built bridges
and sidewalks. There, the corridor’s breeze felt even colder.
And when those stopovers have been built completely,
we are no longer recognize our own bodies….

1993

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THE WRECKS OF HUMAN AGE

I haven’t yet finished unloading my body. Sandstones
reformate themselves. Like the days that stacked on
the freeway, endlessly embracing the clock who after you
all day: motor vehicles will only take you to mortal dreams.

I witness again the Sun
blazes eternally, like the circles made by Earth,
circles that continuously being cut by continent’s thirst

But still I wake my body up from the wrecks of
human age. While my dreams moved between
the bouncing balls this world has thrown

Yet I unload again my body, keep on unloading.
Couldn’t reach its spirit in dreams: I shouted
all alone in the solitude of human age

1994

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

CHANGE ME INTO A WAVE

From the tips of your eyebrows, I began this life.
The pointyness of my ’Bismillah’ cut down the shrubs
in the forest of eternity, sharpened the everlastingly opened
land of prayers. But where have the holy water delivered
your epistles? In my bow I did not read. In my worship
I did not spell. Tears of my prayers dropped from every tree,
every star, every bird, every water spot in the river of the sun.
O, my bow is the ocean who carries mountains towards
refugee’s land. And I have rolled and crashed
before I became a wave

Yes, from the tips of your eyebrows, change me into a wave
who chase on continent’s age. Because everytime I get crushed,
there will be something you hear: the pointyness of my ’Bismillah’
pounding, slashing the world’s alienation

1997

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

RAIN IN PAINTINGS OF TEARS

I read the rain that poured from the paintings
of our tears. The clouds still spread my yearnings
in procession, to the curves of your eyebrows
that started to shed. I saw the fire of my prayer
burned the dry soil, caused a crack on the earth
who read you until the sound of the bell ends

I read your letters with the squeaking sound of the doors
calling on you each time I open up the land of the Sun.
Yes, burn me. Burn me with your letters that hide my heartbeat.
Burn my tears until the roads burst out the fire of prayer
into crater that holds our pure soil

Yes, burn my love, before I look back to the rain
falling from your prayers.

1997

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THOSE WHO PLANT THE SEEDS OF WIND,
WILL HARVEST THE STORM (1)

For the martyr of Reformation,1998

While holding on to the storm, I kiss the sea fire
Burning within your chest. I still can smell the dry season
in your breath, like that cracked tower of time. But we wept:
the sea fire fell into our palms — tonight

I’ll kiss the fire that burns the city:
your cremated ashes blaze on the stairs of the dry season,
until pain springs from wounds. Your cremated heart
slaughters the children of time, until blood
springs from the pain.

While holding on to the storm,
I kiss the sea fire that burns my heart

1998

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THOSE WHO PLANT THE SEEDS OF WIND,
WILL HARVEST THE STORM (2)

On this river, you are the tinkling sounds of water
flowing between the stones. Bamboo tree’s rustles,
gets us closer to a rose. But you say: in here, I am
a thorny rose of your heart

On this river, you are the roots of casuarina tree
stuck outward the water. You wash your feet
and utter an incantation. The rhythm of the river changed.
Its banks flattened. And you say: in here, I am
The roots of casuarina tree that strangle your heart

1998

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

IN OUR CHESTS THUNDER AND LIGHTNING
ARE STILL ROARING

Rain always reminds me of the ocean who
arouses my infatuation, to the river who produces
the cries of water, calling on estuary. Because I know,
once it flows away from the source, water will never again
hear the tinkling sounds that it used to play. Therefore
I can never understand, why everytime the freshwater
meets the salty water in that estuary,
the sea always churns:

please don’t leave. The rain hasn’t yet subsided,
in our chests thunder and lightning are still roaring!

1999

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

WOUND CAN NOT RETAIN THE PAIN

We, the boiled tin, become
breaking bubbles in the bottom of lava,
struggling to hold on inside a burning breast,
inside a bruised chest

the wound in my poem
can no longer retain any pain

Mother. Mother. Mother.

2000

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

ON THE MOUNTAINSIDE OF THE DRY SEASON

On the mountainside of the dry season,
how many seasons have come and go?

Your cries has dried on that mountainside.
Withered, and shattered
become a slab of prayer:

you pry up my stone,
but you don’t break its sufferings
you dig up my weeping,
but you don’t shed its tears

2000

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

BENEATH THE WINGS OF THE NIGHT

Beneath the wings of the night,
the hills scrape on solitude

the chill broods on fire,
cuts the wind within hurricane’s embrace,
makes bright red slices,
until blood can no longer be hurt

but behind the hills that crowded
with the cries of the children of the sun,
the wind dried. Restlessness rains. And I heard
the twitters of birds caged in the woods.
Burnt. Cremated alone

behind that hill, I bowed
with an injured prayer

2001

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

TWILIGHT HAS HATCHED

I will only sacrifice my rib to be made a flute
for the sounds adored by the wind. Or even typhoon.
So when I looked at the dim of the early twilight,
I knew: it has hatched from the tears of my rib

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

CARRYING THUNDER

I heard the rain’s restlessness, clinking, scissoring time.
Then I cried: the clouds always save some frequencies.
Glowing. Thundering. Striking everything that comes
everything that goes. Only my yearning. Only my yearning
considers the drizzle. Before the ocean spills on the black soil…

You cried too, brother. But keep on crying. The jingling sounds
of a harp still you hear, as I still hear the restlessness of rain
jingles. Scissors. Keep on crying, before your silence
thundering…

The sky splits. Through the curving rainbow, I grasped after
a slice of prayer. Twining the ruins of my years
and plunge them into acid. And when you came singing
drizzle’s yearning, I still carrying thunder
booms like a canon, like a sickle cuts the sky….

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

O, BLUENESS THAT CRASHED MY SOUL

How deep does the sky dig the chasm of time? Too much
that needs to be buried. But memories have to stay remembered,
so that your heart will always be implanted, touching the sky,
and pointing at a certain height where you will
explode the rage of the Earth

you scratch the stars until they become the blueness
in my solar plexus. My anxiety dropped at the glare
of a knife, who stared at you with quiet slashes

How deeper will the sky dig the chasm of time?
Does the blueness of the sky, the blueness of the sea,
the blueness of my heart, not deep enough
for the earth’s anger and the knife’s fury?

O, blueness that soothes my heart
O, blueness that crashed my soul

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THE RUINS OF LIGHT

It is a long time indeed, waiting for you under the ruins of light.
Until pieces of time hollowed out the crater in my heart.
Can’t you hear my weaken moans become the cliffs
in your valley of love? They steeped, abrupted, rocked.
But my weaken moans are your faithfulness
lulls my nasty deeds

No decree is more divine than the ruins of light.
Thus, so deep now the meaning awaits:
crater waits for the wind to catch the silence from a raging spirit.
Cliff waits for the crying stone, longing for lava sediments

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

SPINNING THE HOUR HAND OF THE SUN

We spin the hour hand of the sun, rapidly running
towards you, with wounded time. Days knocking on
our doors. For us to open another path into another continent.
Running along blacken asphalt, after being burned by charcoal stove,
before being diffused by dusty gravels. Day by day
chases after each other at the top of the hour hand
in the ravine of a waterfall. Stabbing one another, leaping
and jumping, chewing the stones. We hunt death with a needle,
seek for life by diving into a lake

flaming stones drown us in noisy pieces. Twining the soil
of the hillside, squeezing all the pain at the bottom of the wound.
Then we resurrect a thousand antelopes, a thousand horses
within the remains of our prayers. We want to run together
with a thousand pronged horns on the fields, with
a thousand trots stomping amidst the dust

we will keep on running. Spinning the hour hand of the sun

2002

translated by Nikmah Sarjono

9 Desember 2008

Idul Adlha: Semangat Melawan Diri Sendiri

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Sejarah para nabi dan rasul adalah sejarah yang sangat menggetarkan, yang dengan energi kerohaniannya memancarkan kesucian dan kemurnian manusia dalam sejarah konkretnya yang seringkali begitu sulit dan berat. Sejarah mereka tetap menggetarkan melintasi ruang dan waktu, karena di situlah pusat abadi hakikat kemanusiaan dalam perjuangan mencapai misi suci kenabian dan kerasulan, yaitu menegakkan landasan iman bagi sejarah kemanusiaan yang sejati. Dan menegakkan landasan iman yang kokoh bagi sejarah kemanusiaan yang sejati pastilah tidak mudah, ada kalanya ia meminta darah dan airmata, bahkan menuntut pengorbanan yang amat besar. Tidaklah mengherankan kalau sejarah para nabi dan rasul yang begitu menggetarkan itu adalah riwayat manusia-manusia agung keluar dari lubang jarum sejarah mereka yang seringkali membuat mereka sendiri terguncang.

(more…)

18 November 2008

Burn Me with Your Letters

Filed under: Tidak terkategori — Jamal D. Rahman @ 05:00

Jamal D. Rahman

ALL THE MORE ETERNAL ROCKS

With wounded corpse, I smeared blood onto this wall

then I let the sky talked to itself. Scorning or laughing

I felt the rocks are becoming more eternal. Because upon them

my anger and saturation were being carved.

Pouring all the meanings of love and hatred

of the sky. Calling on lightning and waking up the night.

The stars had fallen, as drizzle of tears.

Trickled without a sound

1990

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

CORRIDOR’S BREEZE

At the end, we finally created many stopovers

inside our bodies. Dusty and smoky was the road

that we’ve walked through. Our children had fell along

that road. Ahead of us, broken bones and iron wreckage.

The road has narrowed, the fences wider, the bridges higher.

Corridor’s breeze blows, day and night. Connecting

all the growing stopovers inside our bodies. But we’ve

became unable to make contact. Even as the wind blows,

nothing seemed connecting us to other people.

Neither did we feel any need to do so. The roads have taught us

merely with touches we’d never realized. Still,

something is moving inside our bodies

Within the coldness of our prayers, eventually we built bridges

and sidewalks. There, the corridor’s breeze felt even colder.

And when those stopovers have been built completely,

we are no longer recognize our own bodies….

1993

translated by Nikmah Sarjono


Jamal D. Rahman

THE WRECKS OF HUMAN AGE

I haven’t yet finished unloading my body. Sandstones

reformate themselves. Like the days that stacked on

the freeway, endlessly embracing the clock who after you

all day: motor vehicles will only take you to mortal dreams.

I witness again the Sun

blazes eternally, like the circles made by Earth,

circles that continuously being cut by continent’s thirst

But still I wake my body up from the wrecks of

human age. While my dreams moved between

the bouncing balls this world has thrown

Yet I unload again my body, keep on unloading.

Couldn’t reach its spirit in dreams: I shouted

all alone in the solitude of human age

1994

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

CHANGE ME INTO A WAVE

From the tips of your eyebrows, I began this life.

The pointyness of my ’Bismillah’ cut down the shrubs

in the forest of eternity, sharpened the everlastingly opened

land of prayers. But where have the holy water delivered

your epistles? In my bow I did not read. In my worship

I did not spell. Tears of my prayers dropped from every tree,

every star, every bird, every water spot in the river of the sun.

O, my bow is the ocean who carries mountains towards

refugee’s land. And I have rolled and crashed

before I became a wave

Yes, from the tips of your eyebrows, change me into a wave

who chase on continent’s age. Because everytime I get crushed,

there will be something you hear: the pointyness of my ’Bismillah’

pounding, slashing the world’s alienation

1997

translated by Nikmah Sarjono


Jamal D. Rahman

RAIN IN PAINTINGS OF TEARS

I read the rain that poured from the paintings

of our tears. The clouds still spread my yearnings

in procession, to the curves of your eyebrows

that started to shed. I saw the fire of my prayer

burned the dry soil, caused a crack on the earth

who read you until the sound of the bell ends

I read your letters with the squeaking sound of the doors

calling on you each time I open up the land of the Sun.

Yes, burn me. Burn me with your letters that hide my heartbeat.

Burn my tears until the roads burst out the fire of prayer

into crater that holds our pure soil

Yes, burn my love, before I look back to the rain

falling from your prayers.

1997

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THOSE WHO PLANT THE SEEDS OF WIND,

WILL HARVEST THE STORM (1)

For the martyr of Reformation,1998

While holding on to the storm, I kiss the sea fire

Burning within your chest. I still can smell the dry season

in your breath, like that cracked tower of time. But we wept:

the sea fire fell into our palms — tonight

I’ll kiss the fire that burns the city:

your cremated ashes blaze on the stairs of the dry season,

until pain springs from wounds. Your cremated heart

slaughters the children of time, until blood

springs from the pain.

While holding on to the storm,

I kiss the sea fire that burns my heart

1998

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THOSE WHO PLANT THE SEEDS OF WIND,

WILL HARVEST THE STORM (2)

On this river, you are the tinkling sounds of water

flowing between the stones. Bamboo tree’s rustles,

gets us closer to a rose. But you say: in here, I am

a thorny rose of your heart

On this river, you are the roots of casuarina tree

stuck outward the water. You wash your feet

and utter an incantation. The rhythm of the river changed.

Its banks flattened. And you say: in here, I am

The roots of casuarina tree that strangle your heart

1998

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

IN OUR CHESTS THUNDER AND LIGHTNING

ARE STILL ROARING

Rain always reminds me of the ocean who

arouses my infatuation, to the river who produces

the cries of water, calling on estuary. Because I know,

once it flows away from the source, water will never again

hear the tinkling sounds that it used to play. Therefore

I can never understand, why everytime the freshwater

meets the salty water in that estuary,

the sea always churns:

please don’t leave. The rain hasn’t yet subsided,

in our chests thunder and lightning are still roaring!

1999

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

WOUND CAN NOT RETAIN THE PAIN

We, the boiled tin, become

breaking bubbles in the bottom of lava,

struggling to hold on inside a burning breast,

inside a bruised chest

the wound in my poem

can no longer retain any pain

Mother. Mother. Mother.

2000

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

ON THE MOUNTAINSIDE OF THE DRY SEASON

On the mountainside of the dry season,

how many seasons have come and go?

Your cries has dried on that mountainside.

Withered, and shattered

become a slab of prayer:

you pry up my stone,

but you don’t break its sufferings

you dig up my weeping,

but you don’t shed its tears

2000

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

BENEATH THE WINGS OF THE NIGHT

Beneath the wings of the night,

the hills scrape on solitude

the chill broods on fire,

cuts the wind within hurricane’s embrace,

makes bright red slices,

until blood can no longer be hurt

but behind the hills that crowded

with the cries of the children of the sun,

the wind dried. Restlessness rains. And I heard

the twitters of birds caged in the woods.

Burnt. Cremated alone

behind that hill, I bowed

with an injured prayer

2001

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

TWILIGHT HAS HATCHED

I will only sacrifice my rib to be made a flute

for the sounds adored by the wind. Or even typhoon.

So when I looked at the dim of the early twilight,

I knew: it has hatched from the tears of my rib

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

CARRYING THUNDER

I heard the rain’s restlessness, clinking, scissoring time.

Then I cried: the clouds always save some frequencies.

Glowing. Thundering. Striking everything that comes

everything that goes. Only my yearning. Only my yearning

considers the drizzle. Before the ocean spills on the black soil…

You cried too, brother. But keep on crying. The jingling sounds

of a harp still you hear, as I still hear the restlessness of rain

jingles. Scissors. Keep on crying, before your silence

thundering…

The sky splits. Through the curving rainbow, I grasped after

a slice of prayer. Twining the ruins of my years

and plunge them into acid. And when you came singing

drizzle’s yearning, I still carrying thunder

booms like a canon, like a sickle cuts the sky….

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

O, BLUENESS THAT CRASHED MY SOUL

How deep does the sky dig the chasm of time? Too much

that needs to be buried. But memories have to stay remembered,

so that your heart will always be implanted, touching the sky,

and pointing at a certain height where you will

explode the rage of the Earth

you scratch the stars until they become the blueness

in my solar plexus. My anxiety dropped at the glare

of a knife, who stared at you with quiet slashes

How deeper will the sky dig the chasm of time?

Does the blueness of the sky, the blueness of the sea,

the blueness of my heart, not deep enough

for the earth’s anger and the knife’s fury?

O, blueness that soothes my heart

O, blueness that crashed my soul

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

THE RUINS OF LIGHT

It is a long time indeed, waiting for you under the ruins of light.

Until pieces of time hollowed out the crater in my heart.

Can’t you hear my weaken moans become the cliffs

in your valley of love? They steeped, abrupted, rocked.

But my weaken moans are your faithfulness

lulls my nasty deeds

No decree is more divine than the ruins of light.

Thus, so deep now the meaning awaits:

crater waits for the wind to catch the silence from a raging spirit.

Cliff waits for the crying stone, longing for lava sediments

2002

translated by Nikmah Sarjono

Jamal D. Rahman

SPINNING THE HOUR HAND OF THE SUN

We spin the hour hand of the sun, rapidly running

towards you, with wounded time. Days knocking on

our doors. For us to open another path into another continent.

Running along blacken asphalt, after being burned by charcoal stove,

before being diffused by dusty gravels. Day by day

chases after each other at the top of the hour hand

in the ravine of a waterfall. Stabbing one another, leaping

and jumping, chewing the stones. We hunt death with a needle,

seek for life by diving into a lake

flaming stones drown us in noisy pieces. Twining the soil

of the hillside, squeezing all the pain at the bottom of the wound.

Then we resurrect a thousand antelopes, a thousand horses

within the remains of our prayers. We want to run together

with a thousand pronged horns on the fields, with

a thousand trots stomping amidst the dust

we will keep on running. Spinning the hour hand of the sun

2002

translated by Nikmah Sarjono

3 November 2008

Kebudayaan Materi dan Materialisme Budaya: Beberapa Prinsip Epistemologis

Filed under: Senggang — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Ontologi kebudayaan mengandaikan adanya tiga lapis kebudayaan, yaitu ideofakt, sosiofakt, dan artefakt. Ideofakt adalah ide dan nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat, yang kemudian dikonkretkan secara sosial menjadi perilaku, konvensi, dan tradisi sebagai sosiofakt, dan selanjutnya dimaterialisasikan dalam artefakt sebagai produk material kebudayaan. Sementara itu, ada 7 elemen kebudayaan yang masing-masing mengandung ideofakt, sosiofakt, dan artifakt tersebut. Yaitu, bahasa, religi, seni, pengetahuan, organisasi sosial, kekerabatan, dan ekonomi. Semuanya itu dapat digambarkan secara lebih jelas sebagai lingkaran konsentris, dimana ideofakt merupakan sisi terdalam dan artefakt merupakan sisi terluar. Artefakt inilah yang kemudian disebuat kebudayaan materi (material culture), sementara dasar-dasar teoritis dan prinsip-prinsip epistemologisnya disebut materialisme budaya (cultural materialism), yang kemudian menjadi paradigma untuk penelitian antropologi dan ilmu-ilmu terkait.

(more…)

26 Oktober 2008

Cerpen Muh. Asyrofi: Cerita Tanpa Intervensi Bahasa

Filed under: Siswa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Perhatian. Kata itu demikian penting dalam cerpen “Insaf” karya Muh. Asyrofi, siswa SMUN 1 Purworejo, Jawa Tengah (lihat di bawah). Dari situlah masalah dalam cerpen tersebut dibangun, dan di situ pulalah masalah diselesaikan: perhatian dalam hubungan suami-istri. Perhatian adalah kata kunci dalam cerpen itu, dan secara normatif menjadi kata kunci pula dalam keharmonisan suami-istri. Cerpen itu secara keseluruhan ingin mengatakan bahwa tanpa perhatian dari masing-masing suami-istri –¬¬satu hal yang sa¬ngat sederhana sebenarnya– sebuah keluarga bisa terancam bubar. (more…)

Cerpen Eko Putra: Memotret Gelisah dengan Kamera Bahasa

Filed under: Siswa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pernahkah engkau gelisah hingga tak bisa tidur? Pernah. Engkau gelisah saat jatuh cinta dan diharu-biru oleh rasa rindu yang amat dalam. Engkau gelisah saat tugas-tugasmu menumpuk, mulai tugas sekolah hingga tugas ekskul dan kegiatan lain di luar sekolah. Engkau gelisah karena harapan, impian, khayalan, dan fantasi-fantasimu sendiri. Engkau gelisah saat menunggu hasil ujian yang amat menentukan masa depanmu. Engkau gelisah dan merasa tertekan, hingga sulit tidur dan tak tahu apa mesti kaulakukan. (more…)

Jilbab Biru sebagai Representasi Budaya: Penjelasan The Signifying Order

Filed under: Senggang — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Manusia hidup dengan kebudayaan yang secara sosial diproduksi untuk memberikan dan mencari makna pada hidup manusia itu sendiri. Untuk sebagian, makna hidup manusia dibentuk atau ditentukan oleh arti (meaning) kebudayaannya, atau arti yang dia berikan pada kebudayaannya. Untuk mencapai hidup yang bermakna baik secara eksistensial maupun sosial, manusia kadangkala mencari atau memberikan arti baru pada kebudayaan mereka yang secara sosial dan kultural telah lama terbentuk, atau bahkan menciptakan kebudayaan baru. Dalam konteks itu, arti sebuah kebudayaan bisa bersifat personal, bisa pula bersifat sosial. Arti kebudayaan bersifat personal bilamana seseorang memiliki arti tertentu tentang sebuah produk budaya atas dasar pandangan pribadinya di luar pandangan kolektif komunitas pemilik produk budaya itu sendiri. Arti kebudayaan bersifat sosial bilamana arti sebuah produk budaya mengikuti konvensi, norma, atau nilai yang dianut suatu masyarakat. (more…)

Penelitian Ilmu Budaya dan Hermeneutika Paul Ricoeur

Filed under: Senggang — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Sudah lama para ilmuwan mendiskusikan metode dan proses penelitian ilmiah. Diskusi itu meliputi antara lain aspek epistemologi, ontologi, dan aksiologi, baik dalam bidang kajian ilmu alam maupun budaya, berikut metodologi penelitian dengan segala problematikanya. Diskusi mereka bermuara pada pencarian kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipandang sahih (secara epistemologis dan ontologis), dan dalam batas tertentu dapat diterima secara moral dan etik (aksiologis). Persoalan epistemologis muncul ketika disadari bahwa sumber-sumber pengetahuan ternyata sangat ditentukan oleh asumsi dasar tentang kebenaran dan pengetahuan itu sendiri, misalnya antara asumsi dasar idealisme, empirisisme, dan behaviorisme —yang memiliki asumsi dasarnya masing-masing. Dari sini persoalan pengetahuan beranjak ke aras ontologis, yaitu apa sesungguhnya hakekat pengetahuan dan kebenaran. (more…)

25 Oktober 2008

Ramadhan dalam Imajinasi Nabi

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Keagungan bulan Ramadhan seringkali digambarkan dengan imajinasi yang luar biasa. Saya begitu terpukau dengan imajinasi Nabi Muhammad melukiskan keunggulan bulan Ramadhan dalam banyak hadis. Imajinasi Nabi Muhammad terasa segar, kaya, dan hidup. Sebuah hadis mendeskripsikan suasana sorga pada awal bulan Ramadhan, lengkap dengan detail alam sorga, pakaian, makanan, tempat tidur, dan pasangan bermata jelita yang disediakan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Berikut hadis dimaksud (saya kutip dari kitab Durrotunnashihin karya Al-Khubiri): (more…)

Sastra, Pesantren, dan Radikalisme Islam

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Antara sastra Indonesia dan sosisiologi Islam Indonesia, di manakah posisi pesantren kini? Perhatian terhadap pesantren sebagai potensi atau bagian dari khazanah sastra Indonesia modern tampak meningkat belakangan ini. Pada saat yang sama, dalam sosiologi Islam Indonesia, pesantren seringkali dikaitkan dengan fenomena munculnya, bahkan menguatnya radikalisme Islam. Adakah hubungan antara sastra, pesantren, dan radikalisme Islam? (more…)

24 Oktober 2008

Wahdatul Wujud di Indonesia Modern: Pantulan dari Cerpen-cerpen Danarto

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

    Bertentangan dengan asumsi-asumsi yang umumnya dianut tentang sikap keagamaan orang Jawa dan orang Indonesia non-Jawa, pesantren Jawa-lah yang merupakan pusat berkembangnya ortodoksi, sebaliknya doktrin-doktrin tasawuf spekulatif masih bertahan di pulau-pulau luar Jawa.
    (Martin van Bruinessen 1995: 164)

    Saya tidak bertemu dengan seorang pun santri yang menerima doktrin wahdah al-wujud atau teori yang berkaitan dengannya, yaitu dunia ini lebih merupakan emanasi daripada ciptaan Allah.
    (Mark R. Woodward 2004: 203)

    Ya, aku adalah Tuhan, sembahlah aku. Tetapi engkau juga Tuhan, dia juga, mereka juga, dan kusembahlah semuanya.
    (Danarto 1987: 30).

Islam Melayu-Nusantara adalah sejarah resistensi dan negosiasi terhadap faham wahdatul wujud. Faham tersebut memang merupakan isu kontroversial dalam sejarah intelektual Islam setidaknya sejak abad ke-13. Ia dikecam sekaligus dibela dalam serangkaian polemik panjang yang menegangkan namun mengasyikkan juga, dari Andalusia hingga Nusantara. Dengan demikian, sejarah resistensi dan negosiasi terhadap faham wahdatul wujud di dunia intelektual Melayu-Nusantara sesungguhnya merupakan kesinambungan dari polemik tentang tema tersebut dalam sejarah intelektual Islam secara umum. Ini sama sekali tidak mengherankan, karena hubungan intelektual dan spiritual dunia Melayu-Nusantara dengan pusat-pusat penting intelektual dan spiritual Islam baik di Afrika, Timur Tengah, Persia, maupun Asia Selatan berlangsung demikian intensif dan ekstensif terutama sejak abad ke-17. (more…)

23 Oktober 2008

Jalaluddin Rumi: Puncak Gunung Paling Tinggi Puisi Sufi

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Dia penyair sufi terbesar Persia. Dia salah seorang penyair terkemuka dunia. Dikenal dan berpengaruh di Barat dan Timur hingga kini, namanya terpahat kuat di hati dunia yang mencintai dunia tasawuf, spiritualitas, ketuhanan, cinta, dan puisi. Dia menarik perhatian dunia terutama karena wawasan tasawufnya yang begitu dalam, universal, dan tetap relevan, sebagaimana tercermin dalam perjalanan hidup dan karya-karyanya. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Barat dan Timur, termasuk Indonesia. Dia mengilhami kebudayaan dunia. Dia duta cinta sepanjang masa.
(more…)

23 September 2008

Rubaiyat Matahari

Filed under: Puisi — Jamal D. Rahman @ 05:00

Puisi Jamal D. Rahman

1

dengan bismilah berdarah di rahim sunyi
kueja namamu di rubaiyat matahari
kau dengar aku menangis sepanjang hari
karena dari november-desember selalu lahir januari

2

engkaulah sepi di jemari hujan
kabar semilir dari degup gelombang
engkaulah api di jemari awan
membakar cintaku hingga degup bintang-gemintang

3

atas sepi perahuku bercahaya
membawa matahari ke jantung madura
atas bara api cintaku menyala
menantang matahari di lubuk semesta

4

aku peras laut jadi garam
mengasinkan hidupmu di ladang-ladang sunyi
aku bakar langit temaram
bersiasat dengan bayangmu dalam kobaran api

5

batu karam perahu karam
tenggelam di rahang lautan
darahku bergaram darahmu bergaram
menyeduh asin doa di cangkir kehidupan

6

karena laut menyimpan teka-teki
di puncak suaramu kurenungi debur gelombang
karena layar hanya selembar sepi
di puncak doamu kukibarkan bintang-gemintang

7

pohon cemara ikan cemara
menggelombang biru di riak-riak senja
antara pohon dan ikan kita adalah cemara
mendekap cakrawala di dasar samudera

8

di rahang rahasia rinduku abadi
sampai runtuh seluruh sepi
rinduku adalah ketabahan matahari
menerima sepi di relung puisi

9

di relung malam lambaianku menua
juga pandanganmu di kaca jendela
alangkah dalam makna senja
menanggung berat perpisahan kita

10

dari pintu ke pintu ketukanku kembali
tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi
dari rindu ke rindu aku pun mengaji
tak tamat-tamat membaca cinta di aliflammim puisi

2002-2003

20 September 2008

Malin Kundang Bernama Indonesia: Puisi dan Kesadaran Berbangsa

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Judul yang diajukan panitia Kongres Bahasa Indonesia VIII1 kepada saya mengandaikan dua persoalan tentang kedudukan sastra dalam masyarakat kita. Persoalan pertama menyangkut pandangan bahwa apresiasi masyarakat kita terhadap sastra masih relatif rendah, dan karena itu perlu ditingkatkan melalui program yang amat konkret, yaitu menyebarluaskan karya sastra. Persoalan kedua menyangkut pentingnya memacu fungsi pragmatis sastra bagi kehidupan masyarakat dalam rangka memantapkan kesadaran berbangsa. Yang terakhir ini pun mengandaikan bahwa fungsi pragmatis sastra bagi kehidupan masyarakat, khususnya dalam konteks berbangsa, masih relatif rendah pula. Dua persoalan tersebut tentu saja merupakan masalah lama, namun kiranya tetap relevan untuk terus kita pertimbangkan. Meskipun ada beberapa kemajuan di bidang apresiasi sastra masyarakat, yang antara lain ditandai dengan maraknya penerbitan buku-buku sastra belakangan ini, kemajuan itu bagaimanapun tidaklah sebanding dengan, bahkan jauh dari apa yang kita harapkan. (more…)

Cinta, Tuhan, Indonesia

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Puisi adalah pesona bahasa. Puisi yang baik pastilah menyuguhkan keindahan bahasa yang membuat kita terpukau dan terpesona. Ia membuktikan bahwa bahasa memiliki keindahannya sendiri. Lewat puisi kita bisa menikmati salah satu kekuatan bahasa, yaitu nuansa estetis yang mungkin mengharu-biru perasaan dan hati kita. Tidak mengherankan kalau ada kalanya kita begitu terpesona pada sebuah puisi bukan karena makna yang disampaikannya, melainkan karena pilihan kata dan metafor yang digunakannya. (more…)

Puisi yang Tumbuh di Jembatan

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi-puisi dalam buku Angin pun Berbisik (Jakarta: Sp@asi dan Yayasan Mitra Netra, Januari 2008) ini lahir dari sebuah proses yang mengharukan. Ditulis oleh sebuah keluarga, Irwan Dwi Kustanto (suami/ayah), Siti Atmamiah (istri/ibu), dan Seffa Yurihana (anak), puisi-puisi itu adalah ekspresi, saksi, sekaligus dokumentasi pasang-surut cinta, rindu, cemburu, kesedihan, dan kebahagiaan dalam hubungan suami-istri dan ayah-ibu-anak. (more…)

Keislaman, Kemaduraan, Keindonesiaan: Tatapan dari Kacamata Kesenian

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kembang, kembang malatè
Ètamena è Kebunagung
Rassana bedhe sè gaggar
Duh Paman
kembang ponapa
….

(Kembang, kembang melati
Akan ditanam di Kebunagung,
Terasa ada yang jatuh
Duh Paman
kembang apa gerangan
….)

Lahir dari keluarga guru agama (Islam) dan tumbuh di lingkungan pesantren di Madura, saya menyukai kesenian tradisi Madura sejak kecil. Di awal tahun 1970-an, ketika usia saya kira-kira 5 tahun, saya suka sekali nonton ludruk, topeng, dan tandha’, misalnya. Sementara pertunjukan tandha’ biasanya diadakan dalam pesta perkawinan, pertunjukan ludruk dan topeng dulu sering diadakan di Lapangan Sepakat Lenteng Timur, Sumenep, tidak jauh dari rumah orangtua saya. Pertunjukan itu biasanya berkarcis. Sekeliling lapangan ditutup dengan saksak (rajutan bambu berukuran kira-kira 80 cm x 2,5 m untuk menjemur tembakau) setinggi kira-kira 2,5 meter. Karcis bisa dibeli di loket-loket yang tersedia. Tentu, hanya orang yang memiliki karcis yang boleh memasuki lapangan. Orang di luar lapangan tidak bisa menyaksikan pertunjukan, meskipun tentu saja bisa mendengarkannya karena setiap pertunjukan pastilah menggunakan pengeras suara. Ada kalanya pertunjukan kesenian diadakan juga di tempat-tempat lain di sekitar desa, yang bisa saya tempuh cukup dengan jalan kaki. (more…)

Taufiq Ismail: Sebuah Dering Peringatan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman


tapi bila malam lembayung
dan antara kapas langit bulan berdayung
temaram di atas tetangkai jeruk
rawa dengan wajah kaca hitam
mengunjur dan menggeliat ke hulu
bagai perempuan berahim subur
dan angin yang mengaliri pepohonan
membawa nafas Tuhan

(Taufiq Ismail, “Surat dari Lampung”, Mimbar Indonesia, no. 38/39, thn. XIII, 10 Oktober 1959)

Dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi sosialnya yang tajam, dan seringkali tanpa begitu peduli pada capaian estetika tinggi yang merupakan obsesi kebanyakan penyair, apa sesungguhnya obsesi intelektual Taufiq Ismail? Membaca karya-karyanya, terutama yang terhimpun dalam buku ini, ialah membaca sikap seorang intelektual yang tengah terlibat atau melibatkan diri dalam berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam konteks ini ada dua hal. Pertama, kegelisahan intelektual seorang pengarang yang sedang menghadapi masalah besar yang amat konkret di sekitarnya, yaitu antara lain masalah ideologi, perang, benturan peradaban, dan pendidikan. Kedua, kepedulian seorang pengarang pada masalah sederhana namun menggoda dan menuntut perhatiannya pula, misalnya beberapa masalah kesenian dan olahraga sederhana dilihat dari bangunan besar obsesi intelektual Taufiq sendiri. (more…)

Paus Merah Jambu Zen Hai: Puisi di Luar dan di Dalam Sistem Bahasa

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi-puisi Zen Hae adalah sebuah percobaan membangun struktur puisi di dalam dan di luar sistem bahasa. Disadari atau tidak oleh sang penyair, beberapa puisi Zen Hae (yang terhimpun dalam Paus Merah Jambui, Yogyakarta: Akar Indonesia, 2007) menyediakan sarana yang cukup memadai bagi pembaca untuk mendekatinya, tetapi sebagian puisinya yang lain hanya menyediakan sarana yang amat terbatas untuk mendekatinya. Dalam arti kata lain, sebagian puisinya sangat memudahkan saya memasuki inti puisi itu sendiri, sementara beberapa puisi lainnya menyulitkan saya untuk masuk ke dalam inti puisi. Memudahkan atau menyulitkan itu rupanya sangat tergantung pada apakah jalinan internal puisi berada di dalam atau di luar sistem bahasa. (more…)

Puisi-puisi Epri Tsaqib: Kembali ke Dunia-Dalam Manusia

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Hidup kita adalah hidup yang sibuk dan berisik, baik dalam arti harfiah maupun eksistensial. Secara harfiah, hidup kita sibuk dengan berbagai pekerjaan, rutinitas sehari-hari, di kantor, pasar, jalan raya, bahkan sawah dan ladang. Hidup kita berisik oleh berbagai suara kendaraan, radio, televisi, mesin, dan lain-lain. Bahkan di rumah pun, hidup kita amat berisik: suara televisi mendesakkan diri mengisi rumah kita nyaris sepanjang waktu. Lebih dari itu, hidup kita berisik oleh banjir informasi yang, sayangnya, tidak seluruhnya kita perlukan namun kita tidak selalu kuasa untuk menolaknya. Begitulah kita pun kian sibuk: harus menerima informasi yang tidak kita perlukan sekalipun. Kita hidup nyaris di bawah tekanan kesibukan dan kebisingan, yang kian hari tampak kian menekan. Kita tidak bisa keluar dari kesibukan dan kebisingan, yang lambat-laun menjebak kita untuk ambil bagian di dalamnya, sehingga kita turut “menikmati” kesibukan dan kebisingan sebagai bagian dari tuntutan eksistensial kita. Hidup kita terasa berarti karena kita berada di tengah arus deras kesibukan dan kebisingan. Berada di luar itu, kita seakan teralienasi, merasa terasing, bahkan mungkin merasa tidak berarti. Kita hanya merasa berarti, merasa ada, ketika kita berada di tengah deru hidup yang sibuk dan berisik. (more…)

Syekh Nawawi, Maafkan Kami …

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Memandang ke arah depan dari lantai 8 hotel itu, saya tiba-tiba terdiam. Di hadapan saya kini terbentang pemakaman kuno yang sudah lama terngiang-ngiang di telinga hati saya. Di pemakaman itu dikuburkan keluarga Rasulullah SAW, antara lain Siti Khadidah (istri), Qasim bin Muhammad (anak), Abdul Muthalib (kakek), Abu Thalib (paman), dan para sahabatnya. Inilah Ma’la, pemakaman keluarga besar Bani Hasyim, trah keluarga Rasulullah, yang kemudian dijadikan pemakaman umum. Terletak sekitar 1 km utara kota Makkah, Saudi Arabia, Jannatul Ma’la —nama lengkapnya— menyeret saya ke masa silam yang jauh. (more…)

19 September 2008

Menghidupkan Kembali Kepercayaan pada Hidup

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Yang diperlukan Indonesia hari ini adalah kepercayaan pada hidup. Yaitu bahwa hidup sangatlah bermakna, berharga, dan karena itu selalu ada harapan di sana. Kepercayaan pada hidup dengan demikian adalah semangat untuk mengisi hidup itu sendiri dengan kesadaran penuh akan potensi diri pribadi di tengah makin tipisnya harapan akibat beban hidup yang kian berat. Kepercayaan ini kiranya perlu terus-menerus dibangkitkan bahkan dikobarkan, ketika situasi kita kini lebih banyak menguburkan harapan demi harapan hingga ke titik nadir yang amat menakutkan. Rasa putus asa pada sebagian masyarakat kita, yang antara lain ditandai dengan kasus bunuh diri akibat tekanan kemiskinan yang tak tertanggungkan, kiranya sudah sampai pada taraf yang amat mencemaskan. Mereka merasa, dalam lorong gelap yang seakan tanpa ujung, hidup hanyalah kesia-siaan. Dan, karena tak ada setitik pun cahaya di ujung jauh lorong gelap itu, maka mengakhiri hidup diambil sebagai pilihan pahit untuk memecahkan jalan buntu hidup yang terasa sia-sia. (more…)

20 Agustus 2008

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Dalam hubungannya dengan kepenyairan Zawawi, yang paling penting dari desa kelahirannya mungkin kekayaan alamnya —kekayaan alam di mata seorang penyair. Sudah barang tentu terdapat hubungan kompleks antara alam desa dengan kepenyairan Zawawi, yang tidak mungkin direduksi menjadi sekedar hubungan kausalitas linear. Tapi apa pun bentuk hubungan itu, desa Batangbatang pastilah memiliki arti penting bagi Zawawi. (more…)

12 Agustus 2008

Sebuah Foto Berdinding Kuning

Filed under: Foto — Jamal D. Rahman @ 05:00
Jamal D. Rahman

Jamal D. Rahman

Polisi Tidur

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Polisi memberikan sumbangan penting pada bahasa Indonesia. Polisi telah turut memperkaya bahasa nasional kita, dan sumbangan polisi terhadap pengayaan bahasa kita tampaknya terus meningkat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan tahun 1990, baru ada 8 istilah berkaitan dengan polisi. Dalam KBBI terbitan tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 12 buah, yaitu polisi ekonomi, polisi hukum, polisi keagamaan, polisi lalu lintas, polisi militer, polisi moral, polisi negara, polisi pamongraja, polisi perairan (laut), polisi rahasia, polisi susila, dan polisi tidur. Istilah-istilah ini jelas memperkaya bahasa Indonesia. (more…)

Melayu, Puisi, Mantra

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Usaha merevitalisasi kebudayaan Melayu akhir-akhir ini berlangsung cukup marak terutama di Riau. Berbagai kegiatan berkaitan dengan usaha menghidupkan atau menyemarakkan kembali kebudayaan Melayu kerap dilakukan, mulai penerbitan buku, festival, seminar, sampai pemberian penghargaan kepada individu-individu yang memainkan peran tertentu dalam memajukan kebudayaan Melayu. Semua itu jelas menunjukkan adanya kesadaran generasi Melayu kini akan kebesaran kebudayaan mereka dan pentingnya menjaga kesinambungan kebudayaan Melayu itu sendiri kini dan esok, bahkan juga memajukannya sampai pada tingkat yang membanggakan seperti telah dicapai kebudayaan Melayu di masa silam. (more…)

1 November 2007

Keislaman, Kemaduraan, Keindonesiaan: Tatapan dari Kacamata Kesenian

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kembang, kembang malatè
Ètamena è Kebunagung
Rassana bedhe sè gaggar
Duh Paman
kembang ponapa
….

(Kembang, kembang melati
Akan ditanam di Kebunagung,
Terasa ada yang jatuh
Duh Paman
kembang apa gerangan
….)

Lahir dari keluarga guru agama (Islam) dan tumbuh di lingkungan pesantren di Madura, saya menyukai kesenian tradisi Madura sejak kecil. Di awal tahun 1970-an, ketika usia saya kira-kira 5 tahun, saya suka sekali nonton ludruk, topeng, dan tandha’, misalnya. Sementara pertunjukan tandha’ biasanya diadakan dalam pesta perkawinan, pertunjukan ludruk dan topeng dulu sering diadakan di Lapangan Sepakat Lenteng Timur, Sumenep, tidak jauh dari rumah orangtua saya. Pertunjukan itu biasanya berkarcis. Sekeliling lapangan ditutup dengan saksak (rajutan bambu berukuran kira-kira 80 cm x 2,5 m untuk menjemur tembakau) setinggi kira-kira 2,5 meter. Karcis bisa dibeli di loket-loket yang tersedia. Tentu, hanya orang yang memiliki karcis yang boleh memasuki lapangan. Orang di luar lapangan tidak bisa menyaksikan pertunjukan, meskipun tentu saja bisa mendengarkannya karena setiap pertunjukan pastilah menggunakan pengeras suara. Ada kalanya pertunjukan kesenian diadakan juga di tempat-tempat lain di sekitar desa, yang bisa saya tempuh cukup dengan jalan kaki. (more…)

Rubaiyat November

Filed under: Puisi — Jamal D. Rahman @ 05:00

Puisi Jamal D. Rahman

1

november, ya november
jika tahun-tahunku berakhir desember
januari lepas, waktu pun gemetar
di abad keberapa lagi akan kutemukan cintaku

2

november, ya november
jika di tanganku matahari bertakbir
bulan kugenggam, bumi pun berzikir
ke titik mana lagi harus kukembalikan cintaku

3
november, ya november
jika tak kutemukan juga seutas akar
dan hutan resah di belitan belukar
di tanah mana lagi harus kutanam ketenangan gelisahku

4

november, ya november
jika pecah batu mataair
dan gerak masih diam di dalam sumber
bulan apalagi akan bangkit dari batu-batu rinduku

5

november, ya november
jika angin berjejak di pasir
dan pantai tak menerima lagi bulan semilir
laut mana lagi akan berdebur dari atlantik hatiku

6

november, ya november
jika kejora tertulis di selembar janur
lalu tiupan angin membuatnya gugur
bintang apa lagi harus kutulis di janur-janur kesepianku

7

november, ya november
jika ombak usai di puncak debur
dan waktu usai di batas umur
airmata apa lagi akan tumpah dari doa-doaku

8

november, ya november
jika doa meminta airmata terakhir
langit leleh dan matahari pun mencair
bintang apa lagi takkan mengekalkan cintaku

9

november, ya november
jika angka tanggal dari kalender
dari jam dinding, detik pun gugur
fana apa lagi bisa memahami keabadian rahasiaku

10

november, ya november
jika gunung dan lembah bertemu di surat penyair
rahasia kalam bangkit dari balik tabir
tak ada, tak ada yang lebih kekal dibanding rahasia-rahasiaku

2003-2004

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda