Jamal D. Rahman

2 Februari 2013

Puisi Esai: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Denny JA memperkenalkan apa yang disebutnya “puisi esai”, dengan menerbitkan buku puisi Atas Nama Cinta (2012). Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden membicarakan puisi Denny, dalam buku itu juga. Sebagai ilmuwan sosial, esais, dan kolumnis, Denny merasa medium-medium “lama” (esai, kolom, karya ilmiah) tidak memadai lagi untuk mengungkapkan gagasan, perhatian dan kepeduliannya atas fenomena dan fakta sosial. Sementara itu, puisi yang umum dipahami orang pun tidak memuaskannya pula, sebab puisi sulit dipahami atau diapresiasi oleh khalayak luas. Tapi bagaimanapun puisi dipandangnya sebagai bentuk karya yang bisa menyentuh dan menggugah perasaan orang. Atas dasar itu, Denny mencari medium baru yang pas untuk mengemukakan gagasan-gagasannya. Bagi Denny, puisi esai adalah medium baru yang dipandangnya tepat untuk itu.

Apa sesungguhnya puisi esai? Denny JA (2012) telah menetapkan kriterianya, yaitu: “Pertama, ia mengeksplor sisi batin, psikologi dan sisi human interest pelaku. Kedua, ia dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami. Ketiga, ia tak hanya memotret pengalaman batin individu tapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki dalam karangan menjadi sentral. Keempat, ia diupayakan tak hanya menyentuh hati pembaca/pemirsa, tapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial.” Dengan kriteria tersebut, kiranya apa yang dimaksud dengan “puisi esai” cukup jelas. Karenanya, di sini kita tidak akan mendiskusikan istilah “puisi esai” yang memadukan dua jenis karangan (puisi dan esai) yang sesungguhnya berbeda itu.

Apa yang dihasilkan Denny JA dengan konsep puisi esai adalah puisi-puisi naratif tentang fenomena atau fakta sosial dalam Atas Nama Cinta. Karena naratif, maka puisi-puisi di situ relatif panjang. Buku itu sendiri berisi 5 puisi esai, yang masing-masing merupakan puisi naratif, lengkap dengan catatan kaki sebagai keterangan dan terutama sebagai sumber rujukan tentang fenomena, data, dan fakta sosial yang menjadi perhatian sang penyair dalam puisi-puisinya. Isu-isu sosial yang dibicarakan adalah diskriminasi terhadap faham agama, diskriminasi gender, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa, diskriminasi terhadap kaum homoseks, dan diskriminasi terhadap agama. Kisah-kisah ini diceritakan dari atau menggali sudut pandang para korban, sehingga kisah-kisah itu mengharukan. Dengan demikian, secara implisit puisi esai Denny memberikan simpati kepada para korban berbagai diskriminasi sosial.

Melihat kriteria puisi esai dan apa yang dihasilkannya (Atas Nama Cinta), segera tampak pula bahwa ada satu hal penting yang tidak disebutkan dalam kriteria namun muncul dalam puisi esai, yaitu cerita. Semua puisi esai dalam Atas Nama Cinta adalah cerita tentang korban-korban diskriminasi sosial yang ditulis dalam susunan larik. Dengan demikian, apa yang disebut puisi esai sebenarnya merupakan puisi naratif, yakni puisi yang mengandung cerita dengan sejumlah tokoh, alur, latar, konflik, dan selesaian yang sejauh mungkin diusahakan menyentuh, menggugah, dan atau mengejutkan.

Bentuk puisi sejenis itu tentu saja sudah kita kenal dalam puisi kita, misalnya puisi Ajip Rosidi, Taufiq Ismail, dan terutama puisi-puisi balada Rendra. Hanya saja, puisi esai Denny lebih spesifik mengangkat isu-isu diskriminasi sosial. Kecuali itu, berbeda dengan beberapa penyair yang menulis puisi naratif, Denny menekankan arti penting catatan kaki pada puisi esainya. Denny menulis, “Karangan [puisi esai] itu ditulis dalam bentuk puisi kisah cinta, namun dipenuhi catatan kaki tentang fakta. Ini sebuah eksperimen yang menjembatani fiksi dan fakta. Detail kisahnya fiksi. Tapi kenyataan sosial dari isu itu fakta.” Begitu pentingnya catatan kaki, sehingga Denny mengatakan pula, “Kehadiran catatan kaki dalam karangan [puisi esai itu] menjadi sentral.”

Demikianlah Denny JA menekankan pentingnya catatan kaki dan mengangkat isu-isu sosial dalam puisi esai. Apa artinya itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya konsep puisi esai kita lihat dari sosok Denny JA sendiri sebagai seorang sarjana ilmu sosial atau seorang aktivis sosial. Dalam arti tertentu, dalam menulis puisi esai Denny JA bekerja dengan cara kerja atau cara pandang seorang ilmuwan sosial —sebab dia memang seorang sarjana ilmu sosial, seorang ilmuwan sosial. Bagi seorang ilmuwan sosial, data dan fakta sosial adalah hal primer. Sebaliknya, imajinasi adalah skunder, betapapun imajinasi relevan dalam rangka memahami dan menafsirkan fenomena dan fakta sosial. Dalam arti itu imajinasi “hanya” digunakan dalam konteks merespon atau menyikapi fakta sosial. Karena merupakan hal primer, maka fakta sosial harus diriset dengan disiplin (ilmu) tertentu agar diperoleh fakta yang sesungguhnya. Dalam “puisi esai”, riset itu harus ditunjukkan dengan jelas, tidak ambigu, dan dinyatakan dengan sumber akurat. Kerja kesarjanaan (akademis) mewujudkannya dalam catatan kaki, yang di samping merupakan keterangan tambahan, juga adalah sumber referensi yang sahih dan terpercaya.

Dalam puisi esai, catatan kaki juga berfungsi menjelaskan konteks atau fakta sosial dari kisah korban diskriminasi sosial yang merupakan fiksi. Itulah yang oleh Denny disebut eksperimen untuk menjembatani fakta dan fiksi. Maka, fiksi harus diletakkan atau didasarkan pada fakta atau kenyataan sosial yang sejauh mungkin diperoleh melalui riset. Fiksi tidak boleh mengawang-ngawang di langit imajinasi belaka, melainkan harus dikaitkan langsung dengan fakta dan kenyataan sosial. Sekali lagi ini merupakan cara pandang seorang ilmuwan sosial: meskipun dia sedang berimajinasi dan menciptakan sebuah fiksi, dia tidak lantas meninggalkan fakta sosial, sebab baginya fakta sosial merupakan hal primer. Fakta tak bisa dinomorduakan bahkan di ranah fiksi sekalipun.

Pada hemat saya, karya sastra selalu merupakan dialektika antara fakta dan fiksi. Karya sastra merupakan hasil dari pengolahan kreatif atas keduanya. Fakta akan merangsang fiksi, dan fiksi akan menemukan relevansi aktualnya dalam kenyataan-kenyataan partikular yang mungkin berbeda-beda. Tapi dalam puisi (dan sastra), fakta (sosial) bersifat skunder. Yang primer adalah fiksi, imajinasi dan terutama bahasa sebagai alat artikulasinya dalam menanggapi fakta (sosial). Ini tidak berarti sastrawan tidak meriset fakta sosial yang menarik perhatiannya dan akan diresponnya lewat karyanya. Seorang sastrawan pastilah meriset dan mendalami fakta yang menarik perhatiannya. Hanya saja, cara kerja risetnya tidak menggunakan metodologi ketat seperti di dunia ilmu/ akademis. Katakanlah riset seorang penyair adalah sebuah riset intuitif atas fenomena atau fakta partikular. Maka, penyair tidak selalu (merasa perlu) menyertakan catatan kaki pada puisi sosialnya.

Lalu apa itu fakta bagi seorang penyair dan apa pula fakta bagi seorang ilmuwan sosial? Atau tepatnya, fakta macam apa yang menjadi perhatian seorang penyair dan fakta macam apa yang menjadi perhatian seorang ilmuwan sosial? Bagi penyair, fakta sekecil apa pun merupakan hal penting sejauh ia menggugah perasaan dan hatinya. Dan, fakta sesederhana apa pun dapat menggugah jiwa seorang penyair. Maka D. Zawawi Imron, misalnya, menulis puisi “Sungai Kecil” yang diilhami oleh sebuah sungai kecil yang pernah dilihatnya. Sementara itu, fakta yang akan menarik perhatian seorang ilmuwan sosial pertama-tama dan yang utama adalah fakta atau fenomena sosial. Dalam konteks itulah kita bisa memahami kenapa puisi esai Denny JA selalu dikaitkan dengan fakta sosial.

Dalam menggagas puisi esai, sosok Denny JA sebagai seorang sarjana ilmu sosial yang juga seorang aktivis tampaknya mengandung konsekuensi lebih jauh. Kalau sebagai seorang ilmuwan sosial Denny menaruh perhatian pada fakta dan kenyataan sosial, sebagai seorang aktivis tampaknya Denny menaruh perhatian dan simpati pada korban isu-isu (diskriminasi) sosial. Tidak mengherankan kalau dari 5 puisi panjangnya dalam Atas Nama Cinta dia sama sekali tidak berbicara tentang korban bencana alam, misalnya. Korban diskriminasi sosial pastilah lebih menarik perhatiannya ketimbang korban bencana alam yang paling dahsyat sekalipun. Demikianlah maka korban diskriminasi sosial akibat faham keagamaan lebih menarik perhatiannya tinimbang korban tsunami misalnya. Gay sebagai korban diskriminasi sosial lebih menggugah kepeduliannya tinimbang misalnya korban gempa bumi 9,7 skala richter. Tentu ini tidak berarti dia tidak punya simpati dan solidaritas terhadap korban bencana alam.

Bagaimanapun, dengan beberapa alasan, gagasan puisi esai bukan saja menarik, melainkan juga penting. Pertama, puisi esai adalah sebuah percobaan: menulis puisi sosial dengan cara kerja atau cara pandang seorang ilmuwan/ akademisi sosial. Cara pandang tersebut menempatkan fakta sosial sebagai hal primer, sementara puisi justru menempatkan fiksi (dan imajinasi) sebagai hal primer. Dengan demikian, dalam puisi esai fakta dan fiksi sama pentingnya. Fiksi dikaitkan langsung dengan fakta partikular, tanpa menutup kemungkinan kaitan fiksi itu sendiri dengan fakta-fakta partikular lainnya yang relevan.

Kedua, sudah jamak diketahui bahwa puisi Indonesia mutakhir didominasi oleh puisi liris, yaitu puisi yang berbicara tentang perasaan, masalah, dan pengalaman pribadi penyair, bahkan seringkali perasaan yang sangat pribadi. Sesungguhnya mengherankan juga bahwa di tengah begitu karut-marutnya berbagai masalah sosial kita, kebanyakan puisi kita justru berbicara tentang masalah-masalah pribadi. Kiranya gagasan puisi esai akan mendorong para penyair dan banyak pihak untuk menulis puisi naratif, yang dengan sendirinya merupakan puisi sosial. Hal itu sekaligus merefleksikan tanggung jawab sosial puisi kita atas kenyataan-kenyataan Indonesia yang dalam banyak aspek terasa pahit dan diskriminatif pula.

Ketiga, karena bersifat naratif, puisi esai niscaya akan lebih komunikatif dengan lebih banyak kalangan. Dalam konteks itu, menyemarakkan puisi naratif berarti mendekatkan puisi dengan sebanyak mungkin kalangan. Puisi esai akan mempersempit jarak antara puisi dengan publiknya. Memang, puisi kian marak di mana-mana. Tapi bagaimanapun harus diakui bahwa sesungguhnya ada jarak dan kesenjangan yang cukup jauh antara khalayak dengan puisi, yang untuk sebagian disebabkan oleh kekurangpedulian para penyair atas perhitungan komunikatif-tidaknya puisi dengan penikmatnya.

Tentu saja, untuk melihat seberapa besar sumbangan gagasan tersebut bagi khazanah puisi Indonesia, kita masih harus menunggu perkembangan dari percobaan ini selanjutnya. Perkembangan mana berkaitan dengan lingkup pengaruh puisi esai itu sendiri dan terutama capaian estetikanya yang membanggakan. []

Dimuat dalam Horison, edisi Juli 2012

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: