Jamal D. Rahman

Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami

Puisi Jamal D. Rahman

karena ingin siang tidak berganti,
matahari kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
kami luput, dan jadi tahu:
siang terang bukan karena matahari,
tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami

karena ingin malam tidak berganti,
rembulan kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
kami luput, dan jadi tahu:
malam terang bukan karena rembulan,
tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami

2002

Iklan

4 Komentar »

  1. prosa Lirik yang mungkin kurang menawarkan hal-hal baru lewat kata, lewat bahasa. Konsekwensinya, puisi ini mungkin hanya jadi semacam berita, lebih menyuarakan suara personal atau kolektif dan transenden..maaf mas

    Suka

    Komentar oleh Akhyar Fuadi — 24 Februari 2009 @ 05:00 | Balas

  2. Puisi ini bagus sekali.

    Suka

    Komentar oleh agus — 23 Desember 2009 @ 05:00 | Balas

  3. TARIQOH SRIPUAL DALAM PUISIBagikan
    Hari ini jam 21:49 | Sunting Catatan | Hapus
    Sebuah Ulasan Puisi Terhadap Karya Jamal D Rahman berjudu Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami yang diterbitkan di situs pribadinya https://jamaldrahman.wordpress.com/puisi/karena-laut-menggemuruh-dalam-rakaat-kami/

    Berikut ini izinkan saya mengulas karya penyair Indonesia yang berasal dari tanah Madura. Tanah yang akrab budaya, akrab tatatkrama.
    Lagi-lagi puisi menjadi pelampiasan seseorang untuk melukiskan segala badai yang ada dalam sanubarinya dalam wujud kata-kata. Kalau bisa saya ibaratkan, puisi bisa kita katakan tariqoh dalam menjabarkan luapan batin seseorang kepada dirinya sendiri. Seseorang kepada orang lain ataupun seorang hamba kepada Tuhan yang telah diyakininya.
    Kali ini Mas Jamal D Rahman datang dengan wajah baru. Datang dengan wajah yang penuh renungan. Penuh dengan fatwa yang saya rasa cukup tegas.
    Puisi ini lahir dari kegelisahan seorang Jamal D Rahman dalam menyaksikan kenyataan hidup. Jamal mencoba keluar dari kehidupan yang penuh kegelisahan kepada kehidupan yang penuh kebahagiaan. Semua cara ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Marilah kita simak sejenak puisi berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami yang ditulis oleh Mas Jamal D Rahman pada tahun 2002. Namun meski terbilang sudah 8 tahun penulisan puisi isi masih menggoda hati saya untuk mengulasnya karena memang masih relevan dengan kehidupan di jaman sekarang.

    Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami
    Puisi Jamal D. Rahman

    karena ingin siang tidak berganti,
    matahari kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
    kami luput, dan jadi tahu:
    siang terang bukan karena matahari,
    tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami

    karena ingin malam tidak berganti,
    rembulan kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
    kami luput, dan jadi tahu:
    malam terang bukan karena rembulan,
    tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami

    2002
    Puisi yang hanya terdiri dari dua bait ini, telah menuntaskan permasalahan yang ada. Puisi ini adalah jawaban dari kegelisahan seorang penyair tentang apa yang dialaminya mungkin juga pernah kita alami dan pernah kita saksiakan dalam kehidupan nyata kita.
    Baiklah kita bahas dan kita bedah puisi ini bait demi bait sehingga nantinya kita bisa merasakan kehadiran puisi ini dalam kehidupan kita.
    Pada bait pertama, penyair mencoba mencari jawaban atas segala keresahan tentang terang yang ingin diperolehnya, tentang kebahagiaan yang hendak didekapanya. Namun penyair menemukan suatu kejutan yang lain. Ternyata terang hidup itu tak diperoleh karena Matahari di pindah ke dalam rumah atau kekuasaan dipindah kedalam kehidupan nyata, dalam tempat yang biasa yang ditempati melainkan kebahagiaan itu ada atau kebersamaan itu ada lantaran sungai membucah dalam tangis kami.
    Dengan kata lain bisa kita artikan bahwa kebahagiaan itu ada dalam kebersamaan meski semua mengalami luka jika dijalani dengan bersama-sama maka akan tanpak ringan dan tanpak mempesona.
    Secara garis besar bait pertama ini menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada dalam kebersamaan bukan dalam kekuasaan yang dapat digenggamnya dalam rumah hingga dalam ranah yang lebih luas.
    Sementara bait kedua lebih romantis dalam lebih tegas. Malam dan rembulan memang tidak bisa dipisahkan. Agar malam dan rembulan lebih terlihat mempesona dan tidak bisa digantikan dengan panorama lainnya, maka diadakanlah usaha untuk memindahkannya ke dalam rumah secara berkali-kali namun sebesar itu pula penyair mendapatkan kekecewaan. Namun dalam kekecewaan penyair masih menemukan jawaban bahwa terangnya panorama hati, kebahagiaan itu selalu ada bukan karena telah berhasil memindahkan pesona malam ke dalam rumah melainkan karena laut bergemuruh dalam rakaat kami.
    Secara sadar penyair mengakui bahwa laut yang bergemuruh dalam rakaat penyair dan orang-orang yang berada disekitar penyair yang melabuhkan segala perasaannya kepada Tuhan disanalah dia mendapatkan kebahagiaan.
    Dua bait puisi ini, kata kuncinya berada pada baris terakhir pada tiap bait. Bait pertama berbunyi tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami yang melukiskan betapa kebersamaan itu harus selalu ada dalam tiap tawa ataupun luka. Sementara bait kedua yang menjadi kunci dari semua gembok kata yang ada berbunyi tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami yang melukiskan penghambaan yang utuh kepada Tuhan.
    http://sanggarsastraalief31.blogspot.com/2010/04/tariqoh-sripual-dalam-puisi.html
    Puisi Mas Jamal D Rahman berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami bisa kita sebut tariqoh spritual dalam puisi.
    Terlepas puisi ini sudah berhasil atau tidak dalam meyampaikan risalah hati maka biarkanlah zaman yang akan membahasnya. Mari kita beri aplus kepada Mas Jamal D Rahman dengan puisinya berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami.

    Al-Amien, 28 April 2010
    Sumber

    Suka

    Komentar oleh Moh. Ghufron Cholid — 28 April 2010 @ 05:00 | Balas

  4. seperti sebuah perjuangan seseorang mencapai makrifat. puisi religius penuh perenungan. salam terbaik buat anda, Pak Jamal.

    Suka

    Komentar oleh Zahra Zhou — 29 September 2011 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: