Jamal D. Rahman

Rubaiyat Matahari

Puisi Jamal D. Rahman

1

dengan bismilah berdarah di rahim sunyi
kueja namamu di rubaiyat matahari
kau dengar aku menangis sepanjang hari
karena dari november-desember selalu lahir januari

2

engkaulah sepi di jemari hujan
kabar semilir dari degup gelombang
engkaulah api di jemari awan
membakar cintaku hingga degup bintang-gemintang

3

atas sepi perahuku bercahaya
membawa matahari ke jantung madura
atas bara api cintaku menyala
menantang matahari di lubuk semesta

4

aku peras laut jadi garam
mengasinkan hidupmu di ladang-ladang sunyi
aku bakar langit temaram
bersiasat dengan bayangmu dalam kobaran api

5

batu karam perahu karam
tenggelam di rahang lautan
darahku bergaram darahmu bergaram
menyeduh asin doa di cangkir kehidupan

6

karena laut menyimpan teka-teki
di puncak suaramu kurenungi debur gelombang
karena layar hanya selembar sepi
di puncak doamu kukibarkan bintang-gemintang

7

pohon cemara ikan cemara
menggelombang biru di riak-riak senja
antara pohon dan ikan kita adalah cemara
mendekap cakrawala di dasar samudera

8

di rahang rahasia rinduku abadi
sampai runtuh seluruh sepi
rinduku adalah ketabahan matahari
menerima sepi di relung puisi

9

di relung malam lambaianku menua
juga pandanganmu di kaca jendela
alangkah dalam makna senja
menanggung berat perpisahan kita

10

dari pintu ke pintu ketukanku kembali
tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi
dari rindu ke rindu aku pun mengaji
tak tamat-tamat membaca cinta di aliflammim puisi

2002-2003

Iklan

7 Komentar »

  1. sip. saya cinta sekali puisi ini 🙂

    Suka

    Komentar oleh listya — 16 September 2009 @ 05:00 | Balas

    • alhamdulillah. terima kasih. salam hangat.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 25 September 2010 @ 05:00 | Balas

  2. saya tertolong banget dengat puisi ini

    Suka

    Komentar oleh boy hanafi — 22 September 2010 @ 05:00 | Balas

  3. atas sepi perahuku bercahaya
    membawa matahari ke jantung madura
    atas bara api cintaku menyala
    menantang matahari di lubuk semesta

    – Ada satu hal yang ingin kukatakan
    sejak dulu tanah ini semakin tua
    tapi tak sedikitpun kerutan diwajahnya
    engkaulah penjaring matahari madura
    hingga kini tak ada yang membandingkannya ..

    heee .. maaf jikalau kurang berkenan

    salam budaya ..

    Suka

    Komentar oleh MD. Andi Ardana — 10 November 2011 @ 05:00 | Balas

  4. wah keren bnget puisinya…

    Suka

    Komentar oleh gagasanherman — 2 April 2013 @ 05:00 | Balas

    • Terima kasih, Mas Herman. Salam hangat.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 4 April 2013 @ 05:00 | Balas

  5. Musim ini Madura sedang hangat hingga panas menyengat. Malamnya dingin hebat. Salam dari tanah garam, Pak Pujangga.

    Suka

    Komentar oleh Sheila — 5 Oktober 2015 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: