Jamal D. Rahman

2 September 2015

Jalan Keluar bagi Presiden Jokowi

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Ada kabar mengejutkan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo. Yaitu keluarnya kebijakan yang mencoret syarat “dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia” bagi pekerja asing yang dipekerjakan di Indonesia. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 16 Tahun 2015, menggantikan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 12 Tahun 2013. Peraturan baru itu ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada 29 Juni 2015, namun baru diketahui publik akhir Agustus lalu dan segera mendapatkan sejumlah reaksi. (more…)

Iklan

14 Februari 2013

Polisi (Kok) Tidur

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Polisi tidur di mana-mana. Di jalan kampung, di jalan kompleks perumahan, di lingkungan universitas, di jalan umum, bahkan di jalan raya yang relatif besar. Polisi tidur berkembang-biak di banyak tempat, baik di kota maupun desa, di banyak daerah di Indonesia. Ke mana pun kita pergi, kita pasti bertemu dengan polisi tidur. Tanpa disadari, polisi tidur telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sudah tentu fenomena tersebut merupakan satu pertanda tentang kebudayaan kita akhir-akhir ini. (more…)

2 Februari 2013

Sekali Lagi, tentang Kapur

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Ada bahasa Indonesia “asli” dalam Al-Qur’an. Yaitu kata kâfûr, artinya kapur, kapur barus, atau kamper. Itu terdapat dalam QS 76: 5: Dan [di sorga] orang-orang saleh akan minum, dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus]. Dari konteks ayat tersebut jelas bahwa kapur barus merupakan sesuatu yang mewah dan istimewa. Bagaimana dan kenapa Al-Qur’an menyerap kata yang berasal dari daerah kita itu? Di dalam tulisan Agung Yuswanto (“Kosakata Arab dalam Bahasa Indonesia”, Tempo, 15 Agustus, 2010) sempat menyebut kata kapur yang tercantum dalam Al-Quran. Tetapi saya ingin membahas sejarahnya lebih dalam lagi.

(more…)

Ikan Tempe

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kata ikan sering mendenging di benak saya. Setiap kali datang ke daerah pesisir di mana pun di Indonesia, saya selalu membayangkan ikan di daerah tersebut. Bukan tentang keragaman jenisnya atau keindahannya dan lain sebagainya, melainkan tentang kedudukan budayanya sebagai masakan. Soalnya, kawan saya yang sangat menyukai masakan ikan, merasa heran kenapa di banyak daerah pesisir di Indonesia masakan ikan kurang dianggap istimewa. Orang setempat merasa lebih menghormati tamu dengan menyuguhinya masakan daging (terutama ayam, kambing, dan sapi) tinimbang masakan ikan. Mereka tampak kurang percaya diri untuk menyuguhkan masakan ikan. Bahkan meskipun konon masakan ikan yang istimewa dulu merupakan santapan raja-raja, masakan ikan tetap dianggap masakan kelas dua.

(more…)

Empat Salam

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pada Mei 2011 saya ke Bali, untuk acara sastra yang diikuti sekitar 700 orang. Ini kesekian kalinya saya ke Bali untuk acara serupa. Ada hal khusus setiap kali saya akan ke Bali untuk mengisi acara di depan khalayak. Yaitu, diam-diam saya berlatih sendiri mengucapkan om swastiastu, agar lancar melafalkannya di depan hadirin.

(more…)

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: