Jamal D. Rahman

16 Mei 2014

Novel Bulang Cahaya Rida K Liamsi: Konstruksi Imajinasi atas Sultan Mahmud Riayat Syah

Filed under: Kritik Sastra,Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

“Perang saudara ini harus dihentikan. Kalau tidak,
kita semua akan binasa dan Kerajaan Riau ini akan runtuh.”

—Sultan Mahmud,
dalam Bulang Cahaya Rida K Liamsi (2007: 174).

Untuk memahami tokoh historis berikut peran dan kedudukannya dalam sejarah, sejatinya kita tidak hanya mengacu pada hasil-hasil rekonstruksi historiografi modern, melainkan juga pada rekonstruksi imajinasi (yang juga modern) atas tokoh historis itu sendiri. Sepintas, konstatasi tersebut terdengar mengandung kontradiksi: bagaimana mungkin kita memahami sosok historis lewat imajinasi? Tetapi, rekonstruksi imajinasi bagaimanapun tak selalu bisa dielakkan dalam memahami kenyataan sejarah. Persoalannya adalah bahwa apa yang disebut kenyataan sejarah, yang direkonstruksi oleh atau dalam historiografi modern, tak pernah benar-benar kenyataan yang sebenarnya, melainkan selalu merupakan sebentuk re-presentasi dan representasi, yang —paling tidak sampai batas tertentu— mendistorsi kenyataan sejarah yang ingin dikemukakannya. Rekonstruksi sejarah bagaimanapun adalah re-presentasi dan representasi fakta sejarah, yang dengan asumsi-asumsinya mengelakkan tendensi esensialis tentang fakta sejarah itu sendiri. Dalam kerangka itu, rekonstruksi imajinasi atas sejarah pada dasarnya adalah juga re-presentasi dan representasi: menghadirkan kembali dan mewakili “kehadiran” sejarah yang ingin dihadirkan. Dengan demikian, baik rekonstruksi historiografi maupun rekonstruksi imajinasi atas sosok historis pada dasarnya sama-sama mustahil menghadirkan fakta sejarah yang sebenarnya secara bulat dan utuh. (more…)

Iklan

8 Januari 2011

Amir Hamzah: Penyair yang Kalah, tapi Menang

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Bonda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak langkat musafir lata

Puisi Amir Hamzah itu termaktub pada sisi kanan makamnya yang sedih. Dia wafat secara tragis dan mengenaskan, 20 Maret 1946, dalam usia 35 tahun, pada suatu malam yang mencekam. Hingga beberapa tahun kemudian kepergiannya masih diselimuti kabut gelap, sebelum akhirnya terkuak. Di makam yang sedih itu, puisi di atas terasa memiliki konteks baru. Begini rupanya akhir hidup seorang penyair yang —dengan segala pengorbanan dan dedikasi tingginya— telah berjuang untuk bangsanya: dia dibunuh secara sadis oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri.

Dia memang sebuah riwayat yang kelam, sebuah kisah yang kalah. Tapi bagaimanapun dia keluar sebagai pemenang.

(more…)

4 Februari 2010

Raja Ali Haji: Paduka Kakanda Dibawa Bertahta

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores qalam (pena) jadi tersarung. —Raja Ali Haji dalam Bustanul Katibin.

Dia adalah Zaman dan Nama dari Melayu-Riau abad ke-19 (dengan Z dan N besar).

Sebagai seorang pujangga, dia adalah pintu abadi sejarah politik dan kebudayaan Melayu, khususnya Melayu Johor-Riau-Lingga-Pahang, lebih khusus lagi Riau-Lingga. Siapa pun yang akan memasuki sejarah politik dan kebudayaan Melayu Riau-Lingga, dia akan melewati pintu itu, langsung atau tidak. Dari sanalah dia bisa memasuki rumah besar sejarah Melayu Riau-Lingga dan mengenal lekak-liku-likat kehidupan politik dan kebudayaannya yang gemilang sekaligus penuh guncangan. Tokoh itu, Raja Ali Haji namanya. Pulau Penyengat tempat lahirnya. Pulau itu juga tempat kuburnya. (more…)

3 Februari 2010

Gintamini, Korban Getir Globalisasi Ekonomi

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Di hadapan kekuatan global, suatu komunitas lokal tidak saja dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka didorong untuk berjuang guna meraih berbagai impian, yang sebagiannya dirangsang oleh godaan dunia global itu sendiri. Lebih dari itu, mereka juga dihadapkan pada berbagai dilema, sebagiannya ialah antara merawat tradisi atau mengorbankannya demi meraih impian, antara menjaga nilai-nilai luhur atau mengabaikannya, dan antara menjaga manusia dan kemanusiaan atau terpaksa melecehkannya. Pendeknya, antara meraih impian dan ongkos mahal yang mesti dibayarkan untuk meraih impian itu sendiri. Dilema tersebut demikian sulit, sebab ia bukan saja pilihan-pilihan yang mesti diambil guna mengejar ketertinggalan dengan ongkos yang mungkin sedia dibayarkan, melainkan juga bersinggungan dengan arti atau makna sebuah impian dalam kehidupan mereka. Seandainyapun bisa diraih, apakah sebuah impian akan benar-benar menjadi sesuatu yang bermakna bagi mereka? Dalam arti itu maka impian, lebih dari sekadar menyangkut pertumbuhan sosial-ekonomi yang direncanakan, pada akhirnya menyentuh juga dimensi-dimensi eksistensial manusia dan psikososial suatu masyarakat. (more…)

18 Maret 2009

Chairil Anwar: Gelora Hidup, Gelora Cinta

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Tak ada penyair Indonesia lebih dikenal dibanding Chairil Anwar. Tak ada penyair Indonesia lebih banyak dikenang dibanding Chairil Anwar. Siapakah tak kenal penyair ini, si binatang jalang yang mati muda?

Sejak awal kepenyairannya, dia sudah berbicara tentang maut. Puisi pertamanya adalah “Nisan”, yang ditulis Chairil di tahun 1942 untuk neneknya yang tentulah sudah pergi mendahuluinya. Puisi itu mengemukakan duka yang dalam, yang meskipun menyiratkan kekaguman penyair pada keridlaanmu [nenek] menerima segala tiba, tetaplah duka maha tuan bertahta. Sikap sang nenek menerima maut dengan rida ini tampak memberikan kesan yang dalam bagi Chairil, kesan yang kelak muncul dalam puisi yang ditulisnya menjelang kematiannya sendiri. Dalam puisi “Nocturno”, yang ditulis Chairil 3 tahun sebelum kematiannya, dia ada menulis: … ingatan pada ajal yang menghantu/ dan demam yang nanti membikin kaku …. Maut bagaimanapun masih menggelayuti pikirannya. Dan nanti, sang penyair bahkan seakan meramalkan sendiri bahwa hidupnya akan singkat. (more…)

A. Mustofa Bisri, Seorang Ulama, Seorang Penyair

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

K.H.A. Mustofa Bisri. Seorang ulama. Seorang penyair. Maka dia memandang dunia dengan mata batin seorang ulama sekaligus mata batin seorang penyair. Pandangan-dunianya adalah pandangan-dunia seorang ulama sekaligus seorang penyair. Seorang ulama memandang dunia dari sudut-pandang agama; pandangan-dunianya merefleksikan kesadaran relijiusnya. Sementara, seorang penyair memandang dunia dari intuisi kepenyairannya; pandangan-dunianya merefleksikan bangunan intuitifnya. (more…)

24 Oktober 2008

Wahdatul Wujud di Indonesia Modern: Pantulan dari Cerpen-cerpen Danarto

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

    Bertentangan dengan asumsi-asumsi yang umumnya dianut tentang sikap keagamaan orang Jawa dan orang Indonesia non-Jawa, pesantren Jawa-lah yang merupakan pusat berkembangnya ortodoksi, sebaliknya doktrin-doktrin tasawuf spekulatif masih bertahan di pulau-pulau luar Jawa.
    (Martin van Bruinessen 1995: 164)

    Saya tidak bertemu dengan seorang pun santri yang menerima doktrin wahdah al-wujud atau teori yang berkaitan dengannya, yaitu dunia ini lebih merupakan emanasi daripada ciptaan Allah.
    (Mark R. Woodward 2004: 203)

    Ya, aku adalah Tuhan, sembahlah aku. Tetapi engkau juga Tuhan, dia juga, mereka juga, dan kusembahlah semuanya.
    (Danarto 1987: 30).

Islam Melayu-Nusantara adalah sejarah resistensi dan negosiasi terhadap faham wahdatul wujud. Faham tersebut memang merupakan isu kontroversial dalam sejarah intelektual Islam setidaknya sejak abad ke-13. Ia dikecam sekaligus dibela dalam serangkaian polemik panjang yang menegangkan namun mengasyikkan juga, dari Andalusia hingga Nusantara. Dengan demikian, sejarah resistensi dan negosiasi terhadap faham wahdatul wujud di dunia intelektual Melayu-Nusantara sesungguhnya merupakan kesinambungan dari polemik tentang tema tersebut dalam sejarah intelektual Islam secara umum. Ini sama sekali tidak mengherankan, karena hubungan intelektual dan spiritual dunia Melayu-Nusantara dengan pusat-pusat penting intelektual dan spiritual Islam baik di Afrika, Timur Tengah, Persia, maupun Asia Selatan berlangsung demikian intensif dan ekstensif terutama sejak abad ke-17. (more…)

23 Oktober 2008

Jalaluddin Rumi: Puncak Gunung Paling Tinggi Puisi Sufi

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Dia penyair sufi terbesar Persia. Dia salah seorang penyair terkemuka dunia. Dikenal dan berpengaruh di Barat dan Timur hingga kini, namanya terpahat kuat di hati dunia yang mencintai dunia tasawuf, spiritualitas, ketuhanan, cinta, dan puisi. Dia menarik perhatian dunia terutama karena wawasan tasawufnya yang begitu dalam, universal, dan tetap relevan, sebagaimana tercermin dalam perjalanan hidup dan karya-karyanya. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Barat dan Timur, termasuk Indonesia. Dia mengilhami kebudayaan dunia. Dia duta cinta sepanjang masa.
(more…)

20 September 2008

Puisi yang Tumbuh di Jembatan

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi-puisi dalam buku Angin pun Berbisik (Jakarta: Sp@asi dan Yayasan Mitra Netra, Januari 2008) ini lahir dari sebuah proses yang mengharukan. Ditulis oleh sebuah keluarga, Irwan Dwi Kustanto (suami/ayah), Siti Atmamiah (istri/ibu), dan Seffa Yurihana (anak), puisi-puisi itu adalah ekspresi, saksi, sekaligus dokumentasi pasang-surut cinta, rindu, cemburu, kesedihan, dan kebahagiaan dalam hubungan suami-istri dan ayah-ibu-anak. (more…)

Paus Merah Jambu Zen Hai: Puisi di Luar dan di Dalam Sistem Bahasa

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi-puisi Zen Hae adalah sebuah percobaan membangun struktur puisi di dalam dan di luar sistem bahasa. Disadari atau tidak oleh sang penyair, beberapa puisi Zen Hae (yang terhimpun dalam Paus Merah Jambui, Yogyakarta: Akar Indonesia, 2007) menyediakan sarana yang cukup memadai bagi pembaca untuk mendekatinya, tetapi sebagian puisinya yang lain hanya menyediakan sarana yang amat terbatas untuk mendekatinya. Dalam arti kata lain, sebagian puisinya sangat memudahkan saya memasuki inti puisi itu sendiri, sementara beberapa puisi lainnya menyulitkan saya untuk masuk ke dalam inti puisi. Memudahkan atau menyulitkan itu rupanya sangat tergantung pada apakah jalinan internal puisi berada di dalam atau di luar sistem bahasa. (more…)

20 Agustus 2008

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Dalam hubungannya dengan kepenyairan Zawawi, yang paling penting dari desa kelahirannya mungkin kekayaan alamnya —kekayaan alam di mata seorang penyair. Sudah barang tentu terdapat hubungan kompleks antara alam desa dengan kepenyairan Zawawi, yang tidak mungkin direduksi menjadi sekedar hubungan kausalitas linear. Tapi apa pun bentuk hubungan itu, desa Batangbatang pastilah memiliki arti penting bagi Zawawi. (more…)

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: