Jamal D. Rahman

19 Juni 2017

Mudiklah, Wahai Jiwa yang Tenteram

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

MudikOleh Jamal D. Rahman

Mudiklah, wahai jiwa yang tenteram. Mudiklah ke kampung halamanmu yang telah lama kautinggalkan. Hari-hari ini kampung halamanmu memanggil-manggilmu, membangunkan jiwa dan rohmu untuk pulang barang sebentar, sekadar mereguk udara dan meneguk air tempat asalmu —yang barangkali sudah lama terlupa. Jiwa dan rohmu pasti mendengar panggilan gaib itu. Itu sebabnya hatimu bergetar setiap kali melihat teman atau tetanggamu mempersiapkan sesuatu untuk pulang, guna merayakan kemenangan di kampung halaman.

(more…)

Iklan

20 Juni 2016

Ramadan, Ketupat Masjid dan Kuda

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Mengenang puasa Ramadan pada masa kanak-kanak saya adalah mengenang bhancèt —sesuatu yang kini telah hilang dalam kebudayaan Madura. Bhancèt yang terkenang bagi saya adalah bhancèt kakek dari pihak ibu. Di masa kanak-kanak, saya memang tinggal bersama kakek, yang —saya ingat betul— sering mengelus ubun-ubun saya dengan tangannya yang lembut. Kampung kakek saya adalah Lembung Barat, kurang-lebih 14 km dari kota Sumenep, Madura, Jawa Timur. Inilah kampung halaman Bindara Saod, salah seorang sultan Sumenep di abad ke-18 yang terkenal. Sudah barang tentu kakek sering mengisahkan kehebatan Bindara Saod, dan dengan rasa bangga seringkali mengingatkan bahwa sultan itu berasal dari kampung halamannya. Saya sering diajak berziarah ke kuburan Nyai Izza, istri pertama Bindara Saod, di pemakaman desa yang sangat tua. Juga ke kuburan Kè Pekkè (Kiai Faqih), guru Bindara Saod, di kompleks yang sama. Saya terkesan dengan kisah-kisah kakek. Tapi kalau mengingat puasa Ramadan di masa-masa itu, yang terbayang di benak saya tetaplah bhancèt.

Bhancèt berdiri tegak di halaman rumah kakek. Berbentuk balok, terbuat dari batu bata, adukan tanah dan semin —ya, balok tembok. Tingginya 70 cm, seperut saya ketika itu. Lebar masing-masing sisi samping dan sisi atasnya 30 cm. Tepat di titik tengah atas balok itu tertancap balok besi setinggi 10 cm, dengan lebar sisi samping masing-masing 2 cm. Di permukaan balok tembok itu terdapat 2 garis membujur ke utara dan selatan tepat di sisi barat dan timur balok besi. Ada pula 2 garis cincin melingkari balok besi di tengahnya. Jarak titik sumbu balok besi dengan garis cincin pertama 9 cm; dengan garis cincin kedua 10 cm. Kakek melihatnya dari dekat setiap hari. Bhancèt memang harus dilihat dari dekat, pada ketika hari cerah, sebab hanya dengan demikian petunjuknya dapat terbaca. (more…)

14 Juni 2016

Secangkir Kopi Seorang Musafir

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

1

Minum kopi kini merupakan gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah-kota. Di mana-mana orang minum kopi, di rumah, di kafe, di pelbagai pertemuan, di berbagai perhelatan. Mereka menjadikannya sebagai minuman penting baik sebagai kesukaan pribadi maupun alat penghangat pergaulan. Dalam sepuluh tahun terakhir, kopi menemukan momentum yang mengandung banyak segi: ekonomi, sosial, dan budaya. Barangkali kopi kini juga mengekspresikan dimensi eksistensial seseorang: aku minum kopi maka aku ada. (more…)

14 Februari 2011

Aksara yang Membingungkan

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Datanglah ke terminal mana saja di Indonesia. Hal pertama yang segera Anda temukan adalah tidak memadainya informasi tertulis menyangkut kebutuhan-kebutuhan primer yang diperlukan calon penumpang. Tidak ada informasi tertulis tentang kendaraan apa saja yang tersedia di terminal, rute mana saja yang dilayani, jam keberangkatan, jam kedatangan, dan tarif yang ditetapkan. Ini tidak berarti di terminal-terminal kita sama sekali tidak ada informasi tertulis. Di terminal kita tentu saja selalu ada informasi tertulis. Tetapi, calon penumpang yang hanya mengandalkan informasi tertulis yang tersedia di terminal dijamin bingung atau bahkan tersesat. Aksara di sana bagaimanapun membingungkan. (more…)

25 Oktober 2008

Ramadhan dalam Imajinasi Nabi

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Keagungan bulan Ramadhan seringkali digambarkan dengan imajinasi yang luar biasa. Saya begitu terpukau dengan imajinasi Nabi Muhammad melukiskan keunggulan bulan Ramadhan dalam banyak hadis. Imajinasi Nabi Muhammad terasa segar, kaya, dan hidup. Sebuah hadis mendeskripsikan suasana sorga pada awal bulan Ramadhan, lengkap dengan detail alam sorga, pakaian, makanan, tempat tidur, dan pasangan bermata jelita yang disediakan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Berikut hadis dimaksud (saya kutip dari kitab Durrotunnashihin karya Al-Khubiri): (more…)

20 September 2008

Syekh Nawawi, Maafkan Kami …

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Memandang ke arah depan dari lantai 8 hotel itu, saya tiba-tiba terdiam. Di hadapan saya kini terbentang pemakaman kuno yang sudah lama terngiang-ngiang di telinga hati saya. Di pemakaman itu dikuburkan keluarga Rasulullah SAW, antara lain Siti Khadidah (istri), Qasim bin Muhammad (anak), Abdul Muthalib (kakek), Abu Thalib (paman), dan para sahabatnya. Inilah Ma’la, pemakaman keluarga besar Bani Hasyim, trah keluarga Rasulullah, yang kemudian dijadikan pemakaman umum. Terletak sekitar 1 km utara kota Makkah, Saudi Arabia, Jannatul Ma’la —nama lengkapnya— menyeret saya ke masa silam yang jauh. (more…)

19 September 2008

Menghidupkan Kembali Kepercayaan pada Hidup

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Yang diperlukan Indonesia hari ini adalah kepercayaan pada hidup. Yaitu bahwa hidup sangatlah bermakna, berharga, dan karena itu selalu ada harapan di sana. Kepercayaan pada hidup dengan demikian adalah semangat untuk mengisi hidup itu sendiri dengan kesadaran penuh akan potensi diri pribadi di tengah makin tipisnya harapan akibat beban hidup yang kian berat. Kepercayaan ini kiranya perlu terus-menerus dibangkitkan bahkan dikobarkan, ketika situasi kita kini lebih banyak menguburkan harapan demi harapan hingga ke titik nadir yang amat menakutkan. Rasa putus asa pada sebagian masyarakat kita, yang antara lain ditandai dengan kasus bunuh diri akibat tekanan kemiskinan yang tak tertanggungkan, kiranya sudah sampai pada taraf yang amat mencemaskan. Mereka merasa, dalam lorong gelap yang seakan tanpa ujung, hidup hanyalah kesia-siaan. Dan, karena tak ada setitik pun cahaya di ujung jauh lorong gelap itu, maka mengakhiri hidup diambil sebagai pilihan pahit untuk memecahkan jalan buntu hidup yang terasa sia-sia. (more…)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: