Jamal D. Rahman

8 Februari 2016

Puisi, Do’a, dan Sepeda

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

 

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi dan do’a memiliki hubungan khusus, lebih dari hubungan puisi dengan segi-segi kehidupan lain. Do’a tentu saja merupakan laku relijius dalam tradisi keagamaan apa pun, yang dengannya seseorang menjalin hubungan khusus dengan Tuhan. Demikianlah maka hubungan puisi dengan do’a adalah hubungan puisi dengan aspek sangat dalam dari tradisi relijius dan spiritual. Dan hubungan puisi dengan tradisi relijius dalam agama pada akhirnya adalah hubungan puisi dengan kitab suci, firman Tuhan yang merupakan sumber ajaran agama itu sendiri. Maka di ujung terjauh hubungan puisi dengan kitab suci adalah hubungan puisi dengan Tuhan, dan hubungan puisi dengan Tuhan adalah puisi sebagai do’a.

(more…)

Merindukan Imajinasi Indonesia

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kenapa tak ada lagi imajinasi Indonesia dalam puisi kita dewasa ini? Pertanyaan ini tidak bermaksud menutup mata terhadap adanya imajinasi tentang Indonesia dalam puisi. Sudah tentu ada banyak imajinasi Indonesia dalam puisi kita, sebab imajinasi merupakan salah satu alat penting puisi. Yang kita maksud di sini adalah imajinasi tentang Indonesia yang kita impikan. Yakni imajinasi yang bukan saja merekam atau merespon realitas dan fenomena aktual yang pada umumnya negatif, melainkan imajinasi yang memproyeksikan Indonesia yang diidamkan, Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang bagai bunga mekar berseri-seri.

(more…)

Pesan Perdamaian dari Vietnam

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00
Istana Presiden Vietnam

Para penyair di tangga Istana Presiden Vietnam.

Oleh Jamal D. Rahman

Siang terasa sejuk ketika tujuh bus kami berhenti tepat di depan tangga Istana Presiden Vietnam. Karpet merah yang membentang pada tangga istana itu seakan menyambut kami dengan hangat. Sementara satu-dua orang dari kami menyempatkan diri berfoto di tangga dan teras istana, kami memasuki istana berwarna emas itu. Kami memasuki ruang pertemuan yang terletak di bagian paling depan gedung istana, di mana Presiden Vietnam Truong Tan Sang akan menerima kami peserta Festival Puisi Asia-Pasifik Kedua (The 2nd Asia-Pasific Poetry Festival). Sambil menunggu presiden, sebagian kami sempat berfoto-foto di dalam ruang pertemuan. Tak ada larangan memotret. Juga tak ada peringatan untuk menonaktifkan telpon genggam. Tak ada pula detektor keamanan. Tak ada pemeriksaan. Seakan tak ada protokoler. Juga tak tampak aparat keamanan berjaga-jaga.

(more…)

4 Oktober 2015

Raja Ali Haji, Oktober, dan Senja

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00
20140913_180028

Di kompleks makam Raja Ali Haji

Oleh Jamal D. Rahman

Kompleks makam keluarga Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat sore itu sunyi. Kemarau sepi. Waktu berhenti. Dan semua diam. Tenang. Khusyuk. Saya pun tenggelam di tengah suasana khidmat beraroma kemarau dengan nisan-nisan yang dibungkus kain kuning ini. Tapi berada di sini, di tengah lingkungan yang menyimpan sejarah politik dan budaya Melayu Riau-Lingga yang penuh guncangan di abad ke-19 ini, hati saya segera berubah jadi riuh. Riuh oleh kelebatan perang hebat melawan kolonialisme, perlawanan sengit yang digerakkan dari pulau kecil ini. Juga, dan terutama, riuh oleh sumbangan besar daerah ini pada kebudayaan Indonesia. Kerajaan Riau-Lingga (kini Provinsi Kepulauan Riau) adalah sejarah ditumpasnya kedaulatan politik kerajaan oleh kolonialisme, sekaligus sejarah tegaknya kebudayaan yang gemilang.

(more…)

1 Juli 2015

Al-Qur’an, Penyair, dan Lembah

Filed under: Esai Agama,Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII telah berlangsung di Singapura, 29-30 Agustus 2014, mengambil tema “Menjejaki Akar Sejarah Kewibawaan dan Perkembangan Dunia Perpuisian Nusantara”. Tak kurang dari 15 makalah dibentangkan dalam forum yang dihadiri penyair, sarjana sastra, dan peminat sastra dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand itu. Terbit pula antologi puisi Lambaian Nusantara dari Kota Singa, disunting oleh Djamal Tukimin dan Ahmad Md Tahir. Selain pembacaan puisi, pertemuan tersebut mendiskusikan perkembangan sastra di setiap negara peserta dan tantangan yang dihadapinya serta tanggung jawab budaya yang mesti diberikannya, terutama bertolak dari akar sejarah sastra Nusantara, khususnya sastra Melayu. (more…)

16 Mei 2014

Putu Wijaya di Arena SBSB

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

SMP Negeri 2 Cimahi, Bandung, 26 Juni 2013. Di arena Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) ini Putu Wijaya baca cerpen. Dia naik ke panggung dipapah Mbak Dewi Pramowati, istri yang dengan setia mendampinginya. Di atas panggung, dia membacakan cerpen dengan duduk di atas kursi. Tak berjingkrak-jingkrak ke sana-ke mari lagi. Memegang mik hanya dengan tangan kanan. Sejak terserang pendarahan otak beberapa bulan sebelumnya, dia tak bisa menggerakkan tangan kiri. Tapi gelora semangatnya tetap terpancar dari pembacaan cerpennya ini. “Sebenarnya saya masih belum sehat. Tapi saya datang karena saya mencintai kalian,” dia berkata kepada para siswa, disambut tepuk tangan lama sekali. (more…)

Sastra Kawasan

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Produksi sastra Indonesia akhir-akhir ini tampak relatif tinggi. Hal itu antara lain ditandai dengan maraknya publikasi karya sastra baik di media cetak, dunia maya (internet), dan bahkan dalam penerbitan buku di berbagai daerah, baik oleh penerbit komersial maupun lebih-lebih oleh penerbit non-komersial. Sudah tentu ini merupakan gejala menggembirakan, betapapun kita masih mengharapkan tingginya produksi sastra dibarengi dengan tingginya mutu sastra itu sendiri. Bagaimanapun, produksi sastra yang relatif tinggi patut kita sambut, misalnya dengan mengubah arah pandangan kita terhadap sastra Indonesia. Produksi sastra kita tampak kian menyebar, sehingga perlulah arah pandangan kita terhadap sastra Indonesia menyebar pula secara terencana. (more…)

Asap, Pantun, dan Pokok Lada

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Begitu turun dari pesawat di Bandar Udara Internasional Minangkabau akhir Februari 2014, saya agak heran melihat lingkungan sekitar bandara dipenuhi kabut. Di Sumatera Barat, khususnya daerah Bukittinggi dan danau Maninjau, kabut memang merupakan pemandangan biasa, yang tentu saja memberikan kesejukan dan keindahan. Tapi tidak di bandara ini. Bagaimana mungkin kawasan berudara panas ini dipenuhi kabut? Lagi pula, bandara hanya berjarak 23 km dari Padang, ibu kota provinsi di pinggiran pantai yang tentu berudara panas. (more…)

2 April 2014

Diskriminasi, Puisi, Jembatan

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Appeal of Conscience Foundation (ACF), Amerika Serikat, akhirnya tetap memberikan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dan presiden menerimanya pula, 30 Mei 2013, waktu Amerika. Sebelumnya, banyak kalangan aktivis prodemokrasi, pluralisme, toleransi dan antidiskriminasi di Indonesia menyampaikan protes atas rencana pemberian penghargaan itu kepada presiden. Presiden SBY dinilai tidak layak menerima penghargaan tersebut, karena pemerintahan yang dipimpinnya gagal menjamin kehidupan yang benar-benar demokratis, menghargai pluralisme, dan bebas dari segala bentuk tindakan intoleran dan diskriminatif. (more…)

Sejarah di Hadapan Sastra

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Beberapa waktu lalu terbit buku Hari Terakhir Kartosoewirjo (Jakarta: Fadlin Zon Library, 2012), disusun oleh Fadli Zon. Buku tersebut berisi 81 foto eksklusif dan orisinal hari-hari terakhir Kartosoewirjo, sejak menjelang diekskusi, ketika diekskusi, hingga imam Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) itu dikuburkan. Tak pelak lagi buku tersebut merupakan sumber informasi paling mutakhir dan akurat tentang Kartosoewirjo, yang dieksekusi mati pada 12 September 1962, terutama menyangkut hari-hari terakhir sang imam. Ia menggambarkan, mengoreksi, memastikan hal-hal keliru dan meragukan tentang eksekusi Kartosoewirjo. Tak diragukan lagi bahwa buku 94 halaman itu merupakan sumber sejarah yang sangat penting. (more…)

14 Februari 2013

Puisi, Setelah Kebebasan …

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Berthold Damshäuser mengajukan pemikiran menarik seputar puisi Indonesia mutakhir. Dalam tulisannya di Jurnal Sajak, nomor 2, 2011, dia mengatakan bahwa kebanyakan puisi Indonesia mutakhir merupakan prosa, atau paling sedikit mengandung unsur prosa yang kental. Sedikit sekali puisi yang mengeksplorasi keindahan rima, metrum, dan larik secara teratur lagi ketat, yang secara teknis dapat disebut sajak. Meskipun banyak puisi Indonesia mutakhir berlarik(-larik), namun secara sintaksis ternyata berbentuk prosa. Itu sebabnya, dengan nada masygul dosen bahasa dan sastra Indonesia pada Universitas Bonn, Jerman, itu, mengatakan bahwa, sebagaimana tersurat dari judul tulisannya, dia “merindukan puisi yang bukan prosa: merindukan sajak”. (more…)

2 Februari 2013

Puisi Esai: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Denny JA memperkenalkan apa yang disebutnya “puisi esai”, dengan menerbitkan buku puisi Atas Nama Cinta (2012). Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden membicarakan puisi Denny, dalam buku itu juga. Sebagai ilmuwan sosial, esais, dan kolumnis, Denny merasa medium-medium “lama” (esai, kolom, karya ilmiah) tidak memadai lagi untuk mengungkapkan gagasan, perhatian dan kepeduliannya atas fenomena dan fakta sosial. Sementara itu, puisi yang umum dipahami orang pun tidak memuaskannya pula, sebab puisi sulit dipahami atau diapresiasi oleh khalayak luas. Tapi bagaimanapun puisi dipandangnya sebagai bentuk karya yang bisa menyentuh dan menggugah perasaan orang. Atas dasar itu, Denny mencari medium baru yang pas untuk mengemukakan gagasan-gagasannya. Bagi Denny, puisi esai adalah medium baru yang dipandangnya tepat untuk itu.

(more…)

14 Februari 2011

Menikmati Puisi di Taman Penyair

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Saya datang ke Iran dengan hati agak menggebu. Inilah negara pewaris dan penerus sastra Persia, dengan banyak penyair sufi yang telah diakui dunia sejak berabad lamanya. Inilah pula sebuah eksperimen negara Islam bermazhab Syi’ah, sejak Ayatullah Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah Reza Pahlevi di tahun 1979. Inilah pula negara yang oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, dituduh mengembangkan nuklir yang mengancam perdamaian dunia. Tapi saya datang ke negara itu dengan hati berbunga puisi. (more…)

25 Oktober 2008

Sastra, Pesantren, dan Radikalisme Islam

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Antara sastra Indonesia dan sosisiologi Islam Indonesia, di manakah posisi pesantren kini? Perhatian terhadap pesantren sebagai potensi atau bagian dari khazanah sastra Indonesia modern tampak meningkat belakangan ini. Pada saat yang sama, dalam sosiologi Islam Indonesia, pesantren seringkali dikaitkan dengan fenomena munculnya, bahkan menguatnya radikalisme Islam. Adakah hubungan antara sastra, pesantren, dan radikalisme Islam? (more…)

12 Agustus 2008

Polisi Tidur

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Polisi memberikan sumbangan penting pada bahasa Indonesia. Polisi telah turut memperkaya bahasa nasional kita, dan sumbangan polisi terhadap pengayaan bahasa kita tampaknya terus meningkat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan tahun 1990, baru ada 8 istilah berkaitan dengan polisi. Dalam KBBI terbitan tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 12 buah, yaitu polisi ekonomi, polisi hukum, polisi keagamaan, polisi lalu lintas, polisi militer, polisi moral, polisi negara, polisi pamongraja, polisi perairan (laut), polisi rahasia, polisi susila, dan polisi tidur. Istilah-istilah ini jelas memperkaya bahasa Indonesia. (more…)

Melayu, Puisi, Mantra

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Usaha merevitalisasi kebudayaan Melayu akhir-akhir ini berlangsung cukup marak terutama di Riau. Berbagai kegiatan berkaitan dengan usaha menghidupkan atau menyemarakkan kembali kebudayaan Melayu kerap dilakukan, mulai penerbitan buku, festival, seminar, sampai pemberian penghargaan kepada individu-individu yang memainkan peran tertentu dalam memajukan kebudayaan Melayu. Semua itu jelas menunjukkan adanya kesadaran generasi Melayu kini akan kebesaran kebudayaan mereka dan pentingnya menjaga kesinambungan kebudayaan Melayu itu sendiri kini dan esok, bahkan juga memajukannya sampai pada tingkat yang membanggakan seperti telah dicapai kebudayaan Melayu di masa silam. (more…)

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: