Jamal D. Rahman

1 Februari 2013

Puisi-puisi Arahmaiani: Setelah Lari Sejauh Impian dan Kekecewaan

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

Pengantar Jamal D. Rahman

Dalam mangkuk teh hijau
tak ada bayang-bayang apa pun

(Puisi “Upacara Minum Teh”)

Dalam kerangka kerja keseniannya yang secara kreatif seringkali mencoba menerobos batas-batas konvensi, dan secara lantang menyuarakan sejumlah pesan sosial-politik di banyak tempat dan kesempatan, di manakah puisi Arahmaiani (Iani) mengambil tempat?

Arahmaiani adalah seorang seniman yang melibatkan diri dalam isu-isu aktual baik pada tingkat lokal, nasional, maupun global. Dia merespon sejumlah isu yang dipandangnya berdampak serius secara moral, sosial, politik, atau bahkan ”sekadar” tabu dan kebekuan-kebekuan norma yang menurutnya tidak masuk akal. Ekstremisme, radikalisme, kekerasan, ketidakadilan gender, ketidakadilan politik dan ekonomi global, dan stigmatisasi Barat terhadap Islam adalah sebagian isu-isu penting yang kerap disuarakannya. Dan, suara Arahmaiani bukanlah suara sayup nun jauh dari pusat bara isu-isu tersebut, melainkan suara yang terdengar menyeruak dari pusat api isu yang sedang berkobar dan membakar.

Sudah tentu Indonesia adalah tempat pertama isu-isu yang menarik kepedulian dan keprihatinan sang seniman bergumul. Isu-isu lokal dan nasional kerap muncul di banyak titik di Indonesia, antara lain kekerasan militer dan kekerasan rasial, di samping kekerasan struktural, psikologis, dan gender. Lebih dari itu, kekuatan-kekuatan global pun langsung atau tidak bermuara ke Indonesia, bahkan berdampak langsung pada negara yang besar namun lemah ini. Di sini, sang seniman sadar bahwa dia berada di titik simpang dan paradoks kehidupan masyarakatnya sendiri, sadar pula bahwa masyarakatnya berada tepat di mulut singa imperislisme global yang sedang menganga. Di tingkat nasional, paradoks itu adalah bahwa Indonesia mendaku sebagai bangsa yang berkebudayaan adiluhung, lembut, hangat, dan relijius, namun pada saat yang sama melakukan banyak tindakan kekerasan terhadap bangsanya sendiri. Sementara itu, kekuatan global yang imperialistik dan penuh ketidakadilan siap menerkam pula. Dalam konteks itulah, suara Iani adalah suara untuk bangsanya sendiri dan untuk dunia global sekaligus.

Pada dasarnya Arahmaiani adalah seorang pelukis. Tapi pada bentangan isu-isu kemanusiaan, ekonomi, dan politik yang menarik kepedulian dan keprihatinannya, alangkah terbatasnya kanvas, beratus atau bahkan beribu sekalipun. Alangkah terbatas pula khalayak yang mungkin dijangkaunya dengan sapuan kuas sewarna apa pun. Kanvas bagaimanapun membingkai banyak hal. Bagi Iani, seluas-luas kanvas takkan mampu menampung seluruh kepedulian dan keprihatinannya; sehebat-hebat sapuan kuas takkan sanggup mengemukakan gelegak perasaan dan pikirannya; sedalam-dalam warna takkan bisa mengekspresikan obsesi kemanusiaannya yang terus menggelora. Maka dia memanfaatkan berbagai peralatan yang mungkin digunakannya, mulai seni instalasi, seni suara, seni visual, seni performans, bahasa, ruang terbuka, ruang tertutup, sampai tubuhnya sendiri. Dengan kesadaran itu dia membentangkan kanvas keseniannya seluas kehidupan yang tak terbatas: kanvas adalah kehidupan itu sendiri.

Namun demikian, pilihan itu bukan saja strategi untuk memecahkan keterbatasan teknis dalam mengemukakan berbagai gagasan tentang isu-isu besar yang menjadi kepedulian dan keprihatinan seorang seniman. Lebih dari itu, di satu sisi ia merupakan pilihan budaya, di sisi lain merupakan sikap politik. Dalam arti tertentu, sebagai pilihan budaya ia merupakan percobaan kreatif seorang seniman dalam kerja keseniannya, yang barangkali dapat membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi dunia kesenian agar dunia kesenian itu sendiri tidak jumud dan mampat. Namun bagi Iani, pilihan itu jelas lebih merupakan “sikap politik”, ialah sebentuk pembebasan diri dari keharusan tunduk pada berbagai tekanan mainstream dunia kesenian —khususnya seni rupa— yang seringkali menuntut ini-itu dalam satu sistem yang amat mapan, dan karenanya tak selalu mudah untuk ditampik.

Sudah tentu sikap politik itu berisiko. Berdiri di luar mainstream dunia kesenian bisa menjadikan seorang seniman terasing dari dunia dan pusat-pusat pergaulan kesenian itu sendiri. Ia akan jauh dari akomodasi dan pengakuan dari lembaga-lembaga resmi penentu arah mainstream, baik di sini di Indonesia maupun di dunia internasional —dengan segala konsekuensi moral dan finansialnya. Tetapi, sebagai seniman yang secara sadar mengambil dan memilih jalan keseniannya sendiri, Iani bukannya merasa terasing. Alih-alih ia memang mengasingkan diri dari mainstream dunia kesenian. Dia secara sadar memang mengambil jalan lain. Dan, dengan jalan itu sang seniman bebas menentukan bentuk dan arah kerja keseniannya sendiri, yang dalam pertimbangannya lebih efektif untuk merespon isu-isu aktual yang menjadi perhatiannya.

Tetapi, dengan mengambil jalan keseniannya sendiri, perempuan kelahiran Bandung, 1961, ini tidak sedang berperang melawan mainstream kesenian. Iani hanya membebaskan diri darinya, seraya menawarkan alternatif bentuk kesenian. Pada puncak seluruh kerja keseniannya, titik utama perhatiannya adalah isu, kepedulian, keprihatinan, dan obsesinya sendiri yang berpusat pada manusia dan kemanusiaan, ekonomi dan politik global, yang dipandangnya menghadapi guncangan moral dan nilai-nilai yang dia yakini. Dalam arti itu, kesenian Iani tidak untuk kesenian itu sendiri. Kesenian tidak bertujuan pada dirinya sendiri, melainkan untuk manusia dan kemanusiaan serta keadilan global yang diharapkan.

Dalam pada itu, Arahmaiani bagaimanapun adalah juga seorang penyair. Menulis puisi sejak awal tahun 1980-an, sang seniman percaya pada kekuatan bahasa sebagai alat ekspresi. “Bahasa selalu mengesankan bagiku,” katanya. Tidak mengherankan kalau dia menggunakan beberapa teks (puisi) pada karya-karya keseniannya. Pada seri lukisan “Dua Beringin” (2008), misalnya, sang penyair menyertakan teks puitis, ditulis dalam aksara Arab Jawi (Arab Melayu). Lukisan itu sendiri menampilkan figur-figur pria dan wanita setengah badan, kadang sendiri kadang berpasangan. Teks ditulis dalam kanvas bergambar figur pria dan wanita, salah satunya tampak sebagai bayangan. Terasa ada komunikasi antara keduanya, barangkali komunikasi yang intim namun diam. Dengan warna monokrom abu-abu yang kuat, lukisan-lukisan tersebut mengesankan citra introspektif dan kontemplatif yang dalam.

Ditulis dalam aksara Arab Jawi (Arab Melayu), teks itu memberikan aksentuasi tersendiri. Untuk sebagian, hal tersebut tentu saja ditentukan oleh wawasan, asumsi, dan tendensi seseorang atau sekelompok orang. Bagi banyak kaum muslim barangkali ia membangkitkan asosiasi pada teks suci (Al-Quran), dengan asosiasi-asosiasi turunannya: kesucian, kemurnian, keagungan, kesakralan, relijiusitas, spiritualitas, dan seterusnya. Maka lihatlah figur-figur itu, pria dan perempuan, merunduk, diam, tenang, mungkin bertafakur dengan khusyuk. Tapi bagi kebudayaan Barat, terutama dengan stigmatisasi mereka terhadap Islam akhir-akhir ini, teks beraksara Arab itu mungkin malah membangkitkan asosiasi pada terorisme. Dan di hadapan terorisme yang terus mengancam, figur-figur tak berdosa itu merunduk lemas dengan tubuh amat muram.

Sebagai perupa dan seniman performans, Iani memang berlaga di arena permainan asosiasi aksara Arab Jawi ini dalam beberapa karyanya. Di satu sisi, setidaknya sampai batas atau dalam kasus tertentu, dia mendemistifikasi (anggapan kaum muslim tentang) kesakralan aksara Arab, atau mendesakralisasikannya. Aksara Arab —apalagi Arab Jawi atau Arab Melayu— tidak dengan sendirinya suci hanya karena Al-Quran menggunakannya. Di sisi lain, terutama ketika audiens yang disasar karyanya adalah dunia Barat, Iani mengikuti cara pandang Barat dalam stigmatisasi mereka terhadap Islam sebagai cara sang seniman melancarkan kritik atau bahkan protes. Jika aksara Arab (Islam) adalah ikon terorisme, maka bagi Iani ikon itu bisa dinisbahkan juga pada perusahaan-perusahaan multinasional. Demikianlah dalam salah satu karyanya Iani menuliskan nama-nama perusahaan multinasional dalam aksara Arab. Bukankah secara ekonomi, sosial, politik, bahkan lingkungan, ekspansi global perusahaan multinasional adalah terorisme terutama bagi dunia ketiga?

Tapi dalam seri lukisan “Dua Beringin”, Iani tidak melulu mengekspresikan dirinya sebagai perupa. Dia tidak hanya berlaga di arena permainan asosiasi aksara Arab melalui piranti visual —dengan figur-figur diam yang kesepian dan sapuan warna yang terasa dalam sekaligus kelam. Benar bahwa teks beraksasra Arab Jawi dalam lukisan itu secara visual memberikan aksentuasi tersendiri dan membangkitkan asosiasi-asosiasi tertentu. Tapi lebih dari itu, dalam “Dua Beringin”, sekali lagi, Iani juga tampil sebagai seorang penyair, yang mempertaruhkan kekuatan ekspresinya pada bahasa. Jadilah “Dua Beringin” hasil kerja seorang seniman yang dalam dirinya menyatu kesadaran kreatif seorang perupa sekaligus seorang penyair. Dengan demikian, teks beraksara Arab Jawi dalam seri lukisan “Dua Beringin” haruslah juga dibaca sebagai karya seorang penyair, puisi yang merupakan unsur penting dalam seri lukisan itu sendiri. Dengan demikian, seseorang akan terselamatkan dari asosiasi keliru yang mungkin dibangkitkan oleh stigmatisasi Barat terhadap Islam.

Berikut ini beberapa teks (puisi) dimaksud:

Ia datang menyelinap dan menyergap
Aku disandera di balik hatinya
(“Dua Beringin#2”)

Nyatanya aku takut
Ia takkan pernah datang lagi
(“Dua Beringin#3”)

Siang malam panas hujan
Pohon beringin tegak berdiri
Hingga tumbang nanti
(“Dua Beringin#4”)

Dua beringin terkurung dalam sepi
Dua gajah terkungkung dalam sunyi
Adalah kau dan aku
(“Dua Beringin#5”)

Di sudut paling sepi aku berdiri
Menanti ia menyerahkan sekeping hati
(“Dua Beringin#6”)

Puisi-puisi di atas berbicara tentang kesepian, penantian, harapan, kerinduan, keintiman, dan cinta. Ada juga kemuraman di sana, seperti juga ada kedalaman. Ditempatkan pada bagian bidang lukisan figur pria dan perempuan, Iani jelas tidak saja menghubungkan aksentuasi dan asosiasi aksara Arab Jawi itu dengan figur-figur dan sapuan warna abu-abu yang lembut dan tenang. Lebih dari itu, dia menghubungkan pula makna puisi itu sendiri dengan konfigurasi figur dan warna sebagai satu kesatuan struktur. Di sini, aksara Arab Jawi memiliki fungsi penting, ialah menghadirkan makna sekaligus menyamarkannya, atau bahkan menyembunyikannya untuk sementara. Dengan cara itu, Iani sekali lagi berlaga dalam arena permainan asosiasi aksara Arab Jawi, dengan menyertakan makna puisi sebagai bagian dari permainan itu sendiri. Pada titik inilah Arahmaiani tampil sebagai penyair: makna puisi dalam lukisannya memiliki kedudukan penting.

Seri lukisan “Dua Beringin” dapat menjelaskan posisi puisi sebagai salah satu karya kreatif Arahmaiani dalam kerangka umum kerja keseniannya. Pertama, puisi jelas merupakan bagian penting dari keutuhan kerja kesenian, kepedulian, keprihatinan, dan obsesi Iani menyangkut isu-isu yang menarik minat dan perhatiannya. Bahkan puisi tak bisa dipisahkan dari kerangka kerja keseniannya, persis seperti kedudukan puisi dalam seri lukisan “Dua Beringin” tadi.

Kedua, dan ini lebih penting, dilihat dari kerangka besar kerja kesenian Iani, “Dua Beringin” tampak sebagai jeda dari banyak karyanya: ia bukanlah suara lantang dari pusat api isu-isu aktual yang sedang berkobar dan membakar, melainkan sebuah momen kontemplatif yang khidmat dan khusyuk. Ini semacam celah tempat seseorang kembali pada dirinya sendiri yang paling intim. Sebuah jeda dari kerja besar yang seringkali begitu gemuruh dan kadang musykil. Saat untuk menghela nafas setelah lari sejauh impian, harapan, dan mungkin kekecewaan. Mungkin dengan itu seseorang terselamatkan dari kecewa dan putus asa. Mungkin juga dengan itu dia menggali energi agar suara untuk isu-isu aktual yang menuntut kepedulian selalu tersedia. Agar suara senantiasa bertenaga.

Demikianlah dalam Tunjukkan Hatimu Padaku, buku puisi kedua Arahmaiani ini. Di antara isu-isu sosial-politik yang menjadi perhatiannya, tetap tersedia jeda untuk duduk tenang tanpa suara gemuruh, tanpa suara lantang. Itulah saat ketika, untuk mengutip puisi Arahmaiani, dalam mangkuk teh hijau/ tak ada bayang-bayang apa pun/ …. Itulah saat ketika dalam upacara yang sopan/ kutaruh hatiku/ di atas cawan.***

Tulisan ini adalah prolog pada buku puisi Arahmaiani, Tunjukkan Hatimu Padaku. Magelang: Langgeng Art Foundation, Juni 2010.

Iklan

1 Komentar »

  1. Having read this I thought it was really informative.

    I appreciate you taking the time and energy to put this information together.

    I once again find myself personally spending a significant amount of time
    both reading and leaving comments. But so what, it was still worth it!

    Suka

    Komentar oleh chatroulette video chatting — 12 Februari 2013 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: