Jamal D. Rahman

25 Oktober 2008

Sastra, Pesantren, dan Radikalisme Islam

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Antara sastra Indonesia dan sosisiologi Islam Indonesia, di manakah posisi pesantren kini? Perhatian terhadap pesantren sebagai potensi atau bagian dari khazanah sastra Indonesia modern tampak meningkat belakangan ini. Pada saat yang sama, dalam sosiologi Islam Indonesia, pesantren seringkali dikaitkan dengan fenomena munculnya, bahkan menguatnya radikalisme Islam. Adakah hubungan antara sastra, pesantren, dan radikalisme Islam?

Salah satu khazanah pesantren yang sangat hidup hingga sekarang adalah sastra, khususnya puisi. Di pesantren, santri membaca atau menyanyikan puisi setiap hari. Tak ada hari tanpa santri membaca puisi, sendiri-sendiri atau bersama-sama. Mereka membaca atau menyanyikan puisi Abu Nuwas, Sayyida Ali r.a., Imam Syafi’i, al-Bushiri, prosa al-Barzanji, dan lain-lain. Mereka membaca doa-doa, yang hampir semuanya berbentuk puisi. Bahkan tauhid dan tata bahasa Arab pun mereka pelajari melalui puisi, sambil menyanyikannya pula.

Untuk beberapa mata pelajaran, yang sama sekali bukan pelajaran sastra, jam pelajaran seringkali diawali dengan bersama-sama menyanyikan puisi, dan ditutup dengan bersama-sama menyanyikan puisi pula. Maka, setiap santri membaca puisi lebih dari sekali setiap hari. Pagi membaca puisi Ibnu Malik, siang puisi Imam Syafi’i, sore puisi Abu Nuwas, malam doa-doa anonim yang sangat puitis.

Tentu saja, hubungan sastra dengan pesantren adalah hubungan sastra dengan Islam. Dan itu bisa ditarik jauh ke wahyu pertama. Kita tahu, wahyu pertama adalah perintah untuk membaca dan menulis. Adalah menarik bahwa perintah membaca disampaikan dalam bentuk kalimat perintah (iqra’, ‘bacalah’), sedangkan perintah menulis disampaikan dalam bentuk metafor, yaitu pena (qalam, ‘pena’). Yang tak kalah menarik adalah rima ayat demi ayat, yang terdengar merdu dan sangat musikal, sebagaimana juga terdapat dalam pantun kita misalnya.

Metafor dan rima merupakan dua unsur sangat penting dalam puisi. Maka, jika wahyu pertama menggunakan metafor dan rima, pesan wahyu itu jelas: hendaklah engkau membaca dan menulis dengan citarasa sastra yang tinggi! Dengan kata lain, wahyu pertama itu tidak hanya mengandung dua hal, yaitu perintah membaca dan menulis, melainkan juga perintah untuk menumbuhkan dan memanfaatkan citarasa (seni) sastra dalam membaca dan menulis itu sendiri. Dan, Al-Quran memberikan contoh bagaimana citarasa sastra memperindah dirinya di hampir sepanjang ayat-ayatnya. Inilah kiranya latar historis dan normatif tumbuhnya sastra di dunia Islam, yang kemudian ditransmisi ke Indonesia melalui pesantren.

Tidaklah mengherankan kalau belakangan ini istilah “sastra pesantren” kian sering digunakan. Istilah itu sendiri menunjuk pada setidaknya tiga pengertian: (1) sastra yang hidup di pesantren, seperti antara lain disebutkan di atas; (2) sastra yang ditulis oleh orang-orang (kiai, santri, alumni) pesantren; (3) sastra yang bertemakan pesantren, seperti Umi Kalsum Djamil Suherman, Geni Jora Abidah El-Khalieqy, dan Maria & Maryam Parahdiba. Dengan tiga pengertian itu, khazanah sastra pesantren mengalami perluasan dan pengayaan, baik dalam bentuk, isi, maupun lingkungan pergaulannya.

Dalam batas tertentu, mengakarnya sastra di lingkungan pesantren pastilah membawa serta watak dan citarasa sastra itu sendiri di dunia pesantren. Watak atau citarasa sastra adalah menyentuh sesuatu dengan hati terbuka. Sebagaimana seni pada umumnya, sastra membebaskan manusia dari kejumudan dan kecupetan perasaan. Ia menghidupkan biru api hati, perasaan, dan jiwa seseorang. Ia menghidupkan keriangan hati, memberikan kepuasan menyala-nyala pada perasaan untuk hal-hal yang sulit diungkapkan melalui bahasa formal atau diskursif. Di sisi lain, sastra mempertajam kepekaan hati dan perasaan dalam bersentuhan dengan hal-hal yang seringkali dipandang sebagai sesuatu yang biasa.

Semua suasana hati, jiwa, dan perasaan seperti itu merupakan prasyarat penting dalam menghayati agama. Dan, semua kondisi kejiwaan itu akan mengontrol kecenderungan destruktif, yang mungkin muncul dari amarah akibat perasaan tertekan, psikologi kekalahan dan ketakberdayaan menghadapi hal-hal yang sangat tak diinginkan. Radikalisme Islam tampaknya muncul dari psikologisme tak terkontrol seperti itu. Oleh karenanya, suasana hati, jiwa, dan perasaan yang turut dibangun oleh watak atau citarasa sastra, sejatinya dapat menekan radikalisme Islam.

Melihat sastra demikian mengakar di dunia pesantren, maka, jika benar radikalisme Islam Indonesia berhubungan dengan dunia pesantren, fenomena itu bagaimanapun merupakan deviasi belaka. Namun, jika citarasa sastra redup dari dunia pesantren, dan Islam secara makro terus-menerus diperlakukan secara tidak adil, bukan tidak mungkin dalam jangka panjang pesantren akan menjadi lahan bagi tumbuhnya radikalisme Islam.***

3 Komentar »

  1. saya senang dgn puisi ini,tugas saya terbantu terima kasih

    Komentar oleh boy hanafi — 22 September 2010 @ 05:00 | Balas

    • alhamdulillah. terima kasih, saudara boy.

      Komentar oleh jamaldrahman — 25 September 2010 @ 05:00 | Balas

  2. […] D. Rahman dalam weblog pribadinya berjudul “Sastra, Pesantren, dan Radikalisme Islam”, URL: https://jamaldrahman.wordpress.com/2008/10/25/sastra-pesantren-dan-radikalisme-islam/, diakses pada 30 November […]

    Ping balik oleh Perempuan Pesantren dan Sastra Islam | Srinthil.org — 10 Juni 2013 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: