Jamal D. Rahman

1 Juli 2015

Al-Qur’an, Penyair, dan Lembah

Filed under: Esai Agama,Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII telah berlangsung di Singapura, 29-30 Agustus 2014, mengambil tema “Menjejaki Akar Sejarah Kewibawaan dan Perkembangan Dunia Perpuisian Nusantara”. Tak kurang dari 15 makalah dibentangkan dalam forum yang dihadiri penyair, sarjana sastra, dan peminat sastra dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand itu. Terbit pula antologi puisi Lambaian Nusantara dari Kota Singa, disunting oleh Djamal Tukimin dan Ahmad Md Tahir. Selain pembacaan puisi, pertemuan tersebut mendiskusikan perkembangan sastra di setiap negara peserta dan tantangan yang dihadapinya serta tanggung jawab budaya yang mesti diberikannya, terutama bertolak dari akar sejarah sastra Nusantara, khususnya sastra Melayu.

Salah satu topik diskusi adalah “Kepenyairan dan Perpuisian Islam dengan Rujukan kepada Surat Asy-Syu’aro (Para Penyair) dalam Al-Qur’an”. Pemakalah pada sesi ini adalah Ustad Abdul Manaf Rahmat (Singapura), Prof. Dr. Bukhari Lubis (Malaysia), dan Prof. Dr. Abdul Hadi W.M. (Indonesia), dengan moderator Prof. Dr. Syed Khairudin Aljunied (Singapura). Topik ini tentu saja penting, mengingat Islam sebagai agama mayoritas di Nusantara pastilah memberikan dasar-dasar normatif, moral, dan spiritual bagi kebudayaan Nusantara itu sendiri, termasuk dunia sastranya. Meskipun topik tersebut sudah cukup sering didiskusikan, bagaimanapun selalu dibutuhkan penafsiran dan elaborasi terus-menerus untuk menemukan relevansinya dengan konteks kita hari ini.

Surat Asy-Syu’aro’ (Para Penyair) (QS, 26: 224-227) menegaskan kritik Al-Qur’an terhadap perilaku negatif para penyair. Menurut Al-Qur’an, para penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat, dan secara metaforis dikatakannya sebagai “mengembara di setiap lembah”. Dikatakan pula bahwa para penyair hanya mengatakan hal-hal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. Dengan kata lain, apa yang dikatakan penyair hanyalah omong kosong belaka. Tapi ayat terakhir menegaskan tentang penyair yang mendapat pengecualian, yaitu orang-orang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan membela diri bila dizalimi.

Dalam pembentangan (dan) makalahnya, Abdul Manaf dan Bukhari Lubis menekankan aspek moral penyair sebagaimana dituntut dalam ayat-ayat tersebut. Di samping melahirkan karya yang baik, seorang penyair harus pula memiliki moralitas dan integritas tinggi, agar tidak terjatuh ke dalam lembah immoral dan sejenisnya. Sementara itu, Abdul Hadi menggarisbawahi transformasi puisi dalam tradisi sastra Arab pra Islam ke puisi sufi dalam tradisi sastra Islam. Puisi yang semula berbicara tentang masalah-masalah “rendah” seperti cinta birahi dan pujian berlebihan terhadap kabilah ditransformasi ke tingkat yang “tinggi” menjadi cinta ilahi dan pujian terhadap nabi. Tentu saja, transformasi ini merupakan langkah kreatif kebudayaan Islam dalam menyikapi kritik keras Al-Qur’an terhadap penyair sebagaimana dinyatakan dalam surat Asy-Syu’aro’.

Pada hemat saya, kritik dan sikap keras Al-Qur’an terhadap penyair perlu bahkan harus dilihat dalam hubungannya dengan ayat-ayat lain yang juga berbicara tentang penyair dan puisi. Dengan demikian kita akan memahami sikap umum Al-Qur’an terhadap penyair dan puisi, memahami pula konteks dan dasar Al-Qur’an bersikap keras terhadap keduanya. Sudah tentu penting pula memahami konteks spesifik setiap ayat. Tetapi di sini cukuplah kita melihat seluruh ayat Al-Qur’an yang menyinggung penyair dan puisi.

Selain dalam surat Asy-Syu`aro’ (QS 26: 224-227), Al-Qur’an menyebut-nyebut penyair dalam empat ayat yang lain, yaitu QS 21: 5, 37: 36, 52: 30, dan 69: 41. Di samping itu, Al-Qur’an menyebut puisi (syi`r) dalam satu ayat, yaitu QS 36: 69. Berdasarkan isinya, seluruh ayat yang menyinggung penyair dan puisi ini dapat kita bagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama berisi serangan terhadap Al-Qur’an dan Nabi Muhammad (QS 21: 5, 37: 36, 52: 30). Kelompok kedua berisi bantahan terhadap para penyerang sekaligus pembelaan terhadap Al-Qur’an dan Nabi Muhammad (QS 69: 41 dan QS 36: 69), serta serangan balik terhadap penyerang sekaligus pembelaan terhadap penyair-penyair yang beriman (QS 26: 224-227).

Ayat-ayat kelompok pertama mengemukakan serangan para penentang dalam nada bertingkat-tingkat, mulai nada pejoratif, sarkastis, sampai pernyataan yang keterlaluan kasarnya. Dengan nada pejoratif mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an tak lain hanyalah kata-kata penyair, yang dengan demikian mereka menganggap Nabi Muhammad hanyalah penyair belaka, buka nabi dan rasul Tuhan. Mereka bahkan menantang Nabi Muhammad untuk membawa wahyu sebagaimana rasul-rasul terdahulu. Lalu, dengan sarkartis mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an hanya berisi mimpi-mimpi yang kacau (QS 21 [Al-Ambiyâ’]: 5). Kecuali itu, mereka juga mengejek Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa sang nabi adalah penyair yang ditunggu-tunggu untuk mendapatkan kehancuran (QS 52 [At-Thûr]: 30). Yang paling sarkastis adalah pernyataan mereka bahwa Nabi Muhammad adalah penyair gila (QS 37 [Ash-Shâffât]: 36).

Dengan demikian, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad bukan saja direndahkan, melainkan juga diserang dan diejek habis-habisan. Sudah jamak diketahui bahwa pada zaman itu puisi memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan Arab, khususnya Makkah, di mana festival puisi diadakan secara rutin. Tetapi anehnya Al-Qur’an diserang dan diejek dengan nada sangat merendahkan sebagai kata-kata penyair belaka, dan yang dianggap penyair itu tak lain adalah Nabi Muhammad ―sekali lagi, dengan nama merendahkan.

Penting dikemukakan bahwa seluruh ayat serangan kepada Nabi Muhammad ini turun di Makkah. Itu berarti, serangan sangat kasar ini merupakan satu dari serangkaian serangan mental, psikologis, fisik, dan jiwa terhadap Nabi Muhammad dalam periode Makkah, periode yang memang lebih berat dibanding periode Madinah.

Bagaimanakah Al-Qur’an merespon serangan sarkastis yang keterlaluan ini? Melihat Nabi Muhammad berada dalam tekanan berat di bawah berbagai ancaman dan serangan, Al-Qur’an membesarkan hatinya, menghiburnya, memberikan harapan dan optimisme kepadanya. Dalam situasi sangat berat itu, Tuhan mendampingi dan membela Nabi Muhammad dengan cara yang cenderung defensif. Misalnya, Tuhan membesarkan hati Nabi Muhammad dengan cara seperti ini (QS 73 [Al-Muzzammil]: 10-11): “Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Biarkanlah Aku menghadapi orang-orang yang mendustakan (Kebenaran), ialah mereka yang dalam kemewahan. Dan berilah mereka waktu buat sementara.”

Dalam kasus serangan kepenyairan ini, Al-Qur’an membela Nabi Muhammad tidak dengan cara sarkastis sebagaimana serangan para penentang, melainkan dengan memberikan klarifikasi dan membantah pandangan mereka secara wajar, yang dikemukakan dalam ayat-ayat kelompok kedua. QS 69 [Al-Hâqqah]: 41, misalnya, mengemukakan bahwa Al-Qur’an bukanlah kata-kata penyair, yang tentulah merupakan bantahan atas pandangan pejoratif para penyerang sebagaimana telah diuraikan. Dengan demikian, maka Nabi Muhammad bukanlah penyair, apalagi penyair gila sebagaimana mereka tuduhkan. Sementara itu, QS 36 [Yâsîn]: 69 mengatakan bahwa kepada Nabi Muhammad “Tuhan tidak mengajarkan puisi, dan puisi memang tidak layak baginya”. Di antara ayat-ayat kelompok kedua, surat Asy-Syu`aro’ (QS 26 [Asy-Syu`aro’]: 224-227) merupakan pernyataan paling keras, sekaligus merupakan ofensif terhadap para penyerang. Tapi bagaimanapun, pernyataan dalam ayat-ayat tersebut tidaklah sarkastis sebagaimana pernyataan para penyerang itu sendiri.

Dengan demikian, sikap keras Al-Qur’an terhadap para penyair, sebagaimana dikemukakan dalam surat Asy-Syu`aro’ (QS 26 [Asy-Syu`arô’]: 224-227), sesungguhnya dalam rangka menanggapi serangan sarkastis yang berlebihan dari para penentang Nabi Muhammad. Tanggapan Al-Qur’an memang keras dan pedas, tapi bagaimanapun tidaklah sarkastis sebagaimana serangan para penentang yang sangat kasar. Bila dibandingkan dengan serangan mereka, tanggapan Al-Qur’an dapat dikatakan halus, misalnya Al-Qur’an mengatakan bahwa para penyair itu “suka mengembara di setiap lembah”. Demikianlah maka Al-Qur’an membantah mereka seraya meluruskan berbagai pandangan keliru tentang Al-Qur’an dan Nabi Muhammad, tanpa meladeni sarkasme pernyataan-pernyataan para penentang dan penyerangnya.

Kiranya dapatlah difahami bahwa Al-Qur’an sesungguhnya sedang berpolemik dengan para penentangnya, tentang kedudukan penyair, moral mereka, dan puisi mereka yang nilainya sangat “rendah” dan tentu saja tak bisa diterima dari sudut pandang moral dan spiritual Islam. Al-Qur’an membela Nabi Muhammad dan dirinya sendiri dengan cara melawan para penentangnya yang menyerang Nabi Muhammad sebagai penyair gila dan lain sebagainya. Dalam konteks polemik Al-Qur’an dengan para penyerangnya yang bukan saja merendahkan melainkan juga mengejek Al-Qur’an dan Nabi Muhammad itulah, sikap negatif Al-Qur’an sangat keras terhadap penyair dan puisi. Jadi, jelas bahwa penyair yang menjadi sasaran kritik Al-Qur’an adalah penyair yang menyerang Al-Qur’an itu sendiri. Dalam konteks itu pulalah Al-Qur’an berkali-kali menantang para penyerangnya untuk menciptakan karya seindah dan seberhasil Al-Qur’an (a.l. QS [Al-Isrô’] 17: 88).

Pada dasarnya, Al-Qur’an sangat halus dan lembut. Hanya dalam merespon sikap keras yang keterlaluan Al-Qur’an bersikap keras pula. Al-Qur’an melancarkan serangan setelah ia diserang, sebagaimana ia memerintahkan perang setelah datang serangan perang. Serangan keras yang keterlaluan bagaimanapun tak bisa disikapi dengan halus dan lembut. Karena Al-Qur’an diserang sebagai berisi mimpi-mimpi yang kacau, dan Nabi Muhammad diserang dengan ejekan sebagai penyair gila, maka Al-Qur’an mempertahankan diri dengan cara menyerang balik, dan dengan tegas menarik garis dimarkasi antara dirinya dengan para penyair dan puisi.

Tapi bagaimanapun, sekali lagi, Al-Qur’an pada dasarnya sangat halus dan lembut. Juga dalam menyikapi puisi, dan dengan sendirinya dalam menyikapi penyair. Hal itu ditandai dengan ayat-ayat Al-Qur’an sendiri yang sangat puitis bahkan sejak wahyu pertama. Salam. []

“Catatan Kebudayaan” Horison, edisi Desember 2014.

1 Komentar »

  1. ijin kpo paste untuk utarakita.com

    Komentar oleh utarakita.com — 17 September 2015 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: