Jamal D. Rahman

18 Mei 2016

Berthold Damshäuser: Wisata Intelektual Seorang Indonesianis

Filed under: Pengantar Buku — Jamal D. Rahman @ 05:00

cover buku ini itu berthold okeOleh Jamal D. Rahman

“Ada banyak kesungguhan dalam main-main, dan banyak main-main dalam kesungguhan.”

―Berthold Damshäuser

Di tahun 2011, seusai mengikuti acara Jakarta-Berlin Arts Festival yang diprakarsai penyair Jerman Martin Jankowski di Berlin, kami melakukan perjalanan darat selama 8 jam dari Berlin ke Bonn, Jerman. Kami berempat: Berthold Damshäuser, Mbak Dian Apsari (istrinya), Joni Ariadinata, dan saya sendiri. Saya dan Joni harus ke Bonn untuk diskusi sastra di Universitas Bonn, tempat Berthold mengajar. Mengendarai mobil Volkswagen hitamnya yang nyaman, Berthold Damshäuser menyetir mobilnya di musim panas itu. Mbak Dian di depan; saya dan Joni di belakang. Perlu diketahui bahwa di Jerman, mobil setir kiri semua. Bagi saya (dan pasti bagi Joni Ariadinata juga), ini merupakan satu kehormatan sekaligus kebahagiaan. Bayangkan: kami melakukan perjalanan bersama indonesianis Jerman di kampung halamannya sendiri, ditemani istrinya pula, Dian Apsari, yang ramah dan sangat hangat, bahkan menyediakan kopi untuk perjalanan kami. Ini pasti perjalanan yang sangat mengesankan.

Kami berangkat jam 9 pagi dari Berlin, ketika cuaca agak gerimis. Demikianlah kami akan menyusuri desa demi desa, sawah demi sawah, hutan demi hutan, kota demi kota. Perjalanan kami akan menempuh jarak sepanjang 651 km, selama 6 jam 7 menit. Ada route lain yang lebih dekat sebenarnya, yaitu 596 km yang bisa ditempuh dalam 5 jam 44 menit. Jadi, selisih jarak antara route pertama dan route kedua adalah 65 km, sedangkan selisih waktu tempuh adalah 23 menit. Selisih yang lumayan sebenarnya. Tapi bukannya memilih route yang lebih dekat, Berthold justru memilih route yang lebih jauh. Pilihan ini karena Weimar.

Weimar?

Nanti saya ceritakan.

Di dashboard mobil Volkswagen itu ada layar kecil. Saya tahu itu navigator perjalanan, menunjukkan jalan yang mesti dilalui menuju tempat yang dituju. Dua hari sebelumnya di Berlin, saya ikut Berthold naik mobilnya ini. Di situ dia menulis alamat yang dituju. Monitor segera menunjukkan jalan yang mesti dilalui untuk menuju alamat tersebut. Setiap kali mau berangkat ke suatu tujuan di Berlin, Berthold menggunakannya. Tampaknya, Pak Trum ―sapaan akrab saya untuk Berthold― sangat percaya pada mesin navigasi itu. Sebenarnya saya agak heran, sebab ketika itu di Indonesia tak ada pengendara mobil memakai mesin navigasi, tapi toh semuanya berjalan baik-baik saja. Joni Ariadinata mudik dari Yogyakarta ke Majalengka, Jawa Barat, juga tidak pakai mesin navigasi, toh sampai juga di Majalengka.

“Kenapa Pak Trum pakai mesin navigasi?” tanya saya pada Berthold.

“Karena saya orang Jerman.” Berthold menjawab sekenanya sambil tertawa. “Orang Jerman takut kesasar.” Dia tertawa lagi.

Saya dan Joni tersenyum juga.

“Kalau orang Indonesia, tak perlu pakai mesin navigasi,” kata Berthold lagi.

“Betul, Pak Trum. Orang Indonesia tidak takut kesasar,” Joni menjawab cepat, dan tertawa.

Mbak Dian dan Berthold pun tertawa.

Setelah perjalanan kurang-lebih 3 jam, kami tiba di kota Weimar. Kami berhenti di kota itu untuk istirahat dan makan siang.

Setelah makan siang di sebuah restoran, Berthold mengajak kami jalan-jalan di kota Weimar. Pertama-tama dia membawa kami ke taman kota yang sangat luas, tepatnya ruang terbuka hijau dengan rumput yang menghampar dan pohon-pohon besar yang rimbun. Kami menyusuri taman yang sepi dan bersih itu. Kami berjalan kaki ke tengah taman lewat jalan yang berbelok-belok di hamparan rumput, di antara pepohonan. Sekali-sekali kami duduk di kursi yang tersedia di tengah taman, menikmati taman yang indah ini. “Sebagai taman, ini terlalu luas,” bisik saya pada diri sendiri. “Sebagai alam, ini terlalu rapi.” Dalam imajinasi saya, alam selalu berbelukar, seperti hutan di Indonesia. Tapi bagaimanapun, di sini saya merasa tidak sedang berada di tengah kota, melainkan di tengah alam yang sangat rapi dan terawat.

“Lihat itu,” kata Berthold tiba-tiba, menunjuk ke sebuah rumah bercat putih dan beratap warna hitam di tengah taman. Rumah itu berukuran sekitar 10 m x 10 meter, dengan rumput hijau menghampar di sekitarnya, dikelilingi bunga warna-warni pula. Hanya satu bangunan, tak ada bangunan lain. Tampak eksotik dan asri sekali.

“Itu rumah Goethe,” lanjut Berthold.

Waw. Saya terkesima. Joni Ariadinata tercengang.

Johann Wolfgang von Goethe, pujangga terbesar Jerman. Bersama Agus R. Sarjono, Berthold telah menerjemahkan puisi-puisi Goethe, Satu dan Segalanya (2007). Tentu saya sangat menikmati karya itu.

“Jadi, Goethe dulu tinggal di rumah ini, di taman yang sangat luas ini? Sendirian?” tanya saya.

“Tidak. Itu bukan rumah tempat tinggal Goethe,” jawab Berthold.

Oh. Saya sedikit kecewa.

“Rumah itu dibangun di sini sebagai tempat pameran yang menunjukkan kedekatan Goethe dengan alam.”

“Apakah rumah tempat tinggal Goethe di Weimar masih ada?”

“Ada. Rumah itu sekarang jadi museum.”

Saya tak memintanya pergi ke rumah tempat tinggal Goethe itu, ke museum itu. Bagaimanapun saya seorang tamu. Bagi orang pesantren seperti saya, tamu adalah mayat. Dia hanya harus menurut pada tuan rumahnya. Lagipula, perjalanan kami masih panjang. Sementara hari makin sore. Kami harus segera berangkat menuju Bonn.

Kami naik mobil lagi. Berangkat lagi. Di depan kami jalan bercabang. Untuk menuju Bonn, rambu lalu-lintas menunjuk ke arah kiri. Tapi Berthold malah belok kanan. Sementara, mesin navigasi di dashboard mati. Saya kira dia lupa menyalakan mesin navigasi kepercayaannya.

“Pak Trum salah. Seharusnya belok kiri,“ kata Joni.

“Tenang. Saya orang Jerman.”

“Iya, Pak Trum salah,” kata saya, memperkuat Joni. “Tadi ada rambu jalan, ke Bonn belok kiri,”

“Tenang. Saya orang Jerman.”

Saya dan Joni pasrah. Joni yang tadi duduk tegak, kini menyandarkan badannya. Mbak Dian hanya tersenyum. Saya pun tersenyum.

“Ayo kita turun,” kata Berthold setelah parkir di suatu tempat, yang tampaknya pusat kota.

Kami turun. Dalam hati saya bertanya-tanya ke mana gerangan kami akan dibawa. Adakah ke rumah tempat tinggal Goethe yang kini jadi museum itu? Atau, jangan-jangan Berthold hanya mau ke toilet.

Tapi tidak. Dia membawa kami ke sebuah gedung besar yang berhalaman luas. Gedung berarsitektur klasik itu tampak megah dan gagah, berdiri di tengah kota. Dari kejauhan, tampak patung dua sosok yang berdiri berdampingan di tengah-tengah halaman luas itu, masing-masing mengenakan jas panjang. Yang satu memandang lurus ke depan; yang satu lagi memandang agak ke arah kiri-atas. Tinggi patung berwarna hitam kecoklatan itu kira-kira 15 meter.

“Ini adalah gedung Teater Nasional Jerman,” kata Berthold. Dia kemudian menjelaskan kisah gedung ini dengan serius. Gedung ini merupakan ikon kota Weimar sebagai salah satu pusat kebudayaan Jerman yang penting. Di sini berbagai teater dan musik dunia dipentaskan. Kota ini sendiri memiliki banyak tokoh kaliber dunia, misalnya Richard Strauss (komponis) dan Friedrich Nietzsche (filsuf). Richard Strauss pernah membuat komposisi berdasarkan karya besar Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. Tokoh penting lainnya yang lebih awal adalah dua pujangga besar: Goethe dan Friedrich Schiller. Patung dua tokoh inilah yang berdiri di tengah halaman gedung Teater Nasional Jerman di kota  tadi. Goethe memandang lurus ke depan; Schiller memandang agak ke arah kiri-atas.

Kami berfoto di bawah patung Goethe dan Schiller itu.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Bonn. Di dalam mobil, Berthold meminta Mbak Dian untuk memutar musik, tentu saja musik klasik Eropa terutama komposisi-komposisi Beethoven. Kami menikmati komposisi-komposisi komponis yang hidup di akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 itu, komposisi yang tidak asing. “Beethoven lahir di Bonn,” kata Berthold, seraya menjelaskan bahwa rumah Beethoven di Bonn dijadikan museum. Tentu dia menyarankan kami untuk mengunjungi museum Beethoven itu.

Setelah beberapa komposisi Beethoven, Berthold meminta Mbak Dian untuk memutar musik Indonesia. Saya bertanya-tanya musik Indonesia apa yang tersedia di mobilnya ini. “Pilih musik yang paling Indonesia,” kata Berthold. Mbak Dian faham: yang diputarnya adalah musik dangdut. Kami pun tertawa bersama, dan berjoget kecil. Langit yang semula mendung tiba-tiba tersibak, matahari bercahaya. Ini fakta. Dangdut memang ajaib.

Kami tiba di Bonn sebelum senja selesai. Dari teras apartemen Berthold Damshäuser di lantai 7, kami masih sempat menikmati awan kemerahan di langit barat, ketika matahari bergerak perlahan ke balik senja yang fana.

***

Perjalanan dari Berlin ke Bonn bersama Berthold Damshäuser memperlihatkan satu segi sosok indonesianis ini. Yaitu bahwa dia bukan saja teman diskusi yang asyik terutama tentang sastra Indonesia dan sastra Jerman, melainkan juga pemandu wisata yang menyenangkan. Meskipun perjalanan kami bukanlah perjalanan wisata, dan dia sama sekali tidak bermaksud menjadi pemandu wisata, kenyataannya adalah bahwa dia menjadi pemandu wisata yang tentu sangat bermanfaat bagi kami, bagi saya dan Joni. Kadang-kadang dia nakal, seringkali menggunakan ironi, berguyon, dan memberikan kejutan yang menyenangkan. Tapi dia juga sangat serius, misalnya saat menjelaskan kota Weimar sebagai salah satu pusat kebudayaan Jerman. Gaya-gaya Berthold  Damshäuser dalam perjalanan kami itulah yang kita temukan dalam buku kumpulan esainya ini.

Buku kumpulan esai memang ibarat buku petunjuk wisata. Buku petunjuk wisata memberikan informasi tentang tujuan-tujuan wisata, yaitu informasi yang dalam pertimbangan pembuatnya penting diketahui pelancong, sekaligus menjadi daya tarik bagi mereka. Demikianlah maka buku kumpulan esai Berthold Damshäuser ini adalah buku petunjuk wisata Indonesia. Sebuah buku petunjuk wisata intelektual. Pertama-tama sudah tentu ia memilih(kan) tujuan-tujuan wisata intelektual yang penting dan menarik, tidak saja tujuan-tujuan wisata yang populer, melainkan juga tujuan wisata yang belum dikunjungi banyak orang.

Tapi buku ini bukan buku petunjuk wisata biasa. Buku petunjuk wisata akan dipandang memadai sekiranya ia memberikan informasi dasar tentang suatu tujuan wisata. Biasanya dingin, formal, dan serius. Berbeda dengan itu, di samping memilih tujuan-tujuan wisata tertentu, buku kumpulan esai Berthold Damshäuser ini tidak selalu memberikan informasi dasar tentang suatu tujuan wisata. Tapi bagaimanapun ia menyajikan segi menarik dari tujuan-tujuan wisata yang dipilih(kan)nya. Ia menggelitik pelancong untuk melihat masalah dalam hampir semua tujuan wisata yang disajikannya. Yang lebih penting lagi, ia menemani pelancong intelektualnya dengan hangat, kadang serius, kadang bercanda, dan seringkali nakal juga. Maka ia bisa membuat anda merenung, tersenyum, geleng-geleng kepala, atau gemas. Dalam arti itu Berthold Damshäuser adalah pemandu wisata intelektual yang asyik, penuh kejutan, dan menggemaskan.

Untuk menjadi pemandu wisata profesional tentu diperlukan wawasan bahkan keahlian, sesuai bidang-bidang tertentu: sejarah, binatang, alam, dan lain-lain. Sebagai indonesianis, Berthold Damshäuser jelas memiliki keahlian khususnya di bidang sastra-budaya, sebagaimana sebagiannya tercermin dari buku ini. Esai-esainya yang mengemukakan kesan dan hubungan pribadinya dengan Ramadhan KH, Hamid Jabbar, Trisno Sumardjo, Sapardi Djoko Damono, dan majalah Horison, menunjukkan kedekatan Berthold dengan sastra Indonesia yang merupakan bidang keahliannya, dan dengan sendirinya menunjukkan kedekatannya dengan bahasa dan budaya Indonesia. Maka ketika bertindak sebagai pemandu wisata intelektual, dia tahu persis segi-segi mana yang penting dan menarik dari tujuan wisata yang disajikannya. Dia memilih dan menentukan secara selektif segi-segi tertentu dari suatu tujuan wisata intelektual untuk disajikan kepada pelancongnya, atau bahkan menciptakan tujuan wisata “baru”.

Yang lebih penting, meskipun dia seorang ahli, dia tidak memposisikan pelancongnya sebagai cawan kosong yang siap diisi dengan berbagai informasi secara pasif, melainkan sebagai cawan yang siap untuk secara aktif menerima informasi menarik yang menggelitik, menggoda, membuatnya tersenyum, dan kadang membuatnya geregetan. Dengan kata lain, ia tak hanya memberikan informasi, melainkan juga merangsang sekaligus memancing perasaan dan pikiran pelancongnya, membuat informasi yang disajikannya terasa hidup dan menyala. Ia sadar bahwa memancing perasaan dan pikiran pelancong intelektualnya tak kalah menarik, bahkan bisa lebih menarik dibanding sekadar secara dingin memberikan informasi dasar tentang tujuan wisata itu sendiri.

Tentu saja semua itu menggambarkan satu corak intelektual Berthold Damshäuser sendiri, yaitu bagaimana dia melihat masalah yang merupakan lokus perhatiannya sebagai seorang indonesianis. Lokus perhatian Berthold dalam buku ini adalah tiga rumpun besar, yaitu bahasa, sastra, dan budaya. Dalam konteks ini, dua hal cukup jelas. Pertama, yang terutama dipikirkannya adalah segi-segi problematis dari tiga rumpun besar itu. Segi-segi problematis itu jarang (bahkan jarang sekali) dipikirkan dan didiskusikan, namun jelas sangat menarik. Bagi pelancong intelektual tentu saja hal itu merupakan masalah yang menantang. Kedua, yang juga dipikirkannya adalah bagaimana cara menyajikan segi-segi problematis dari tiga rumpun itu. Yakni apakah dalam menyajikan segi-segi problematis itu ia akan menggunakan gaya serius, deskriptif, argumentatif, ironi, dan lain sebagainya. Bagi Berthold jelas bahwa cara-menyajikan sama pentingnya dengan apa yang disajikan itu sendiri. Cara-menyajikan bisa sama menariknya dengan apa yang disajikan, bahkan bisa lebih menarik.

Segi-segi problematis tiga rumpun yang menjadi perhatian Berthold tentu saja merupakan isu atau pokok-soal yang didiskusikannya. Tentang bahasa, dia mengemukakan keganjilan-keganjilan bahasa Indonesia, di antaranya adalah bahasa Pancasila ―yaitu bahasa dalam sila-sila Pancasila― yang secara semantik ambigu, kabur, bahkan membingungkan. Tentang sastra, dia antara lain “mempermasalahkan” kecenderungan puisi Indonesia mutakhir yang kebanyakannya bercorak prosa, sehingga dia merindukan sajak. Tentang budaya, dia antara lain mengemukakan, jika di Indonesia ada toleransi seperti toleransi agama, dapatkah ateisme ditoleransi di negara Pancasila ini? Dia juga mengemukakan bahwa mempromosikan Indonesia ke mancanegara melulu lewat kesenian tradisi ―seperti sering dilakukan dalam pertukaran budaya atau diplomasi budaya― sama halnya dengan membangun persepsi internasional bahwa Indonesia adalah negara aliterat bahkan primitif. Menurut Berthold, yang diperlukan adalah mempromosikan Indonesia sebagai negara yang literat dan berkebudayaan aksara modern, dengan menerjemahkan karya-karya intelektualnya, khususnya karya sastra, ke dalam berbagai bahasa dunia. Semua isu tersebut jelas merupakan problem yang menantang secara intelektual.

Berkaitan dengan bagaimana cara Berthold menyajikan isu yang didiskusikannya, ada kalanya esainya deksriptif, ada kalanya argumentatif. Esainya deskriptif misalnya ketika menyajikan eksposisi tentang hubungan historis kebudayaan Melayu dengan kebudayaan Jerman di abad ke-18 ―yang dapat dijadikan landasan bagi proposal pengembangan kebudayaan Melayu kini dan esok; esainya argumentatif misalnya ketika mendiskusikan Trisno Sumardjo sebagai Bapak Penerjemahan Sastra. Dalam konteks ini, Berthold menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya dalam mendiskusikan pokok-soal yang diajukannya. Inilah satu segi sosok Berthold Damshäuser.

Tapi kebanyakan esai Berthold dalam buku ini menggunakan ironi yang dibingkai dalam kisah fiktif atau fiksional, yang merupakan gaya esainya yang sangat khas. Terutama dalam esai-esainya tentang bahasa, dia menggunakan kisah-kisah fiktif atau fiksional yang mendiskusikan berbagai masalah kebahasaan, dimana perbenturan gagasan dan emosi berlangsung antara dosen dan para mahasiswanya. Dengan kisah-kisah tersebut Berthold sepintas tampak main-main, guyon, bahkan tak serius. Memang, di situ Berthold tidak mengajukan kesimpulan dengan berbagai argumentasi. Tapi bagaimanapun dia mendiskusikan beberapa hal problematis yang serius.

Dan tak ada diskusi yang tuntas. Yang ada adalah pokok-soal yang dibiarkan menggantung, pokok-soal yang di tangan pembacanya hendaklah menggumpal menjadi tanda tanya yang terus minta dijawab. Tentang bahasa Pancasila, misalnya, tak ada kesimpulan apakah bahasa sila-sila itu salah secara sintaksis sehingga ambigu bahkan membingungkan secara semantik. Ia hanya mendiskusikan bagaimana ambiguitas semantik bahasa sila-sila itu dan kenapa ia ambigu. Dengan cara itu, Berthold mengaktifkan pembaca untuk terlibat dalam isu yang sedang didiskusikan, bahkan mungkin dengan melakukan diskusi lanjutan sendiri. Berthold bahkan tampaknya memang bukan terutama ingin mengajukan suatu pikiran atau suatu sikap, melainkan mengajak pembaca untuk juga memikirkan apa yang sedang dipikirkannya, dan membiarkan mereka mengambil kesimpulan atau sikap sendiri.

Yang tak kalah penting adalah kisah-kisah fiktif atau fiksional diskusi di kelas kuliah. Sosok dosen (tokoh “saya”) ditampilkan sebagai sok pintar namun seringkali kewalahan menghadapi pertanyaan dan pendapat mahasiswanya. Pembaca esai mungkin lebih menfokuskan diri pada isu atau pokok-soal yang sedang didiskusikan. Juga pada pandangan atau sikap pribadi penulisnya tentang isu yang dibicarakannya. Tapi pembaca esai Berthold dapat juga menikmati suasana yang dinarasikannya, karakter tokoh-tokohnya, perbantahan antarpeserta diskusi (terutama antara dosen di satu pihak dan para mahasiswa di pihak lain), ketegangan dan emosi yang muncul dalam diskusi, ending yang mengejutkan, dan sebagainya. Di sini tampak sekali sejumlah ironi yang membuat pembaca tersenyum, mengangguk-angguk, geleng-geleng kepala, atau merasa gemas dan geregetan.

Dalam hal ini, Berthold mungkin tampak main-main dan tak memiliki kesungguhan. Tapi justru dengan cara itu dia tak hanya mengaktifkan pembaca untuk terlibat dalam diskusi fiksional sebagai aktivitas intelektual, melainkan juga mengaktifkan mereka untuk menikmati suasana diskusi itu sendiri sebagai aktivitas emosional. Dengan kisah-kisah yang dinarasikannya, Berthold mengaktifkan segi intelektual pembaca, pada saat yang sama mengaktifkan segi emotif mereka. Yang pertama muncul dari isu-isu problematis yang menjadi perhatiannya; yang kedua muncul dari kesadarannya atas cara-cara menyajikan isu itu sendiri. Demikianlah maka di satu sisi pembaca memahami masalah yang sedang didiskusikan, di sisi lain mereka merasakan ada yang aneh, lucu, atau menggemaskan dari masalah yang sedang didiskusikan tersebut. Maka, meskipun Berthold main-main, namun main-mainnya tidak jatuh ke dalam omong kosong. Dia main-main tanpa terjatuh ke dalam nonsense. Inilah segi lain sosok Berthold Damshäuser.

Dapatlah dikatakan bahwa dalam sebagian besar esainya dalam buku ini, Berthold sesungguhnya menggunakan disiplin sastra. Sebagai bentuk karya tulis, esai berada di titik tegang antara karya ilmiah dan karya sastra. Karya ilmiah menekankan objektivitas; karya sastra menekankan subjektivitas. Karya ilmiah menekankan segi-segi kognitif terutama dengan data dan fakta serta analisis rasional terhadap keduanya; karya sastra menekankan segi-segi emotif terutama dengan imajinasi dan fiksi serta elaborasi kreatif atas keduanya. Demikianlah maka kebanyakan esai Berthold bersifat subjektif dalam arti mencerminkan corak individual penulisnya; bersifat emotif dalam arti menghidupkan perasaan di dalam esai itu sendiri, yang pasti berdampak pada suasana emosional pembaca; juga bersifat fiksional dimana ada fakta di balik fiksi yang disajikannya.

Tidak mengherankan kalau buku kumpulan esai ini diakhiri dengan sebuah cerpen, yang notabene merupakan karya sastra, bukan esai. Itu juga sebentuk kenakalan: kok ada cerpen dalam buku kumpulan esai. Sebagai karya sastra, cerpen tersebut mengesankan dan meyakinkan. Tapi yang penting, cerpen Berthold itu menunjukkan bahwa dia memang memiliki disiplin sastra. Tentu saja dia memiliki disiplin sastra, sebab dia adalah indonesianis ―dengan disiplin bahasa dan sastra Indonesia― yang juga penerjemah karya sastra. Berthold Damshäuser produktif menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Jerman dan sebaliknya. Karya monumentalnya dalam bahasa Indonesia adalah Seri Puisi Jerman, yaitu 8 buku puisi karya 8 penyair besar Jerman, yang diterjemahkannya (bersama Agus R. Sarjono) selama 10 tahun. Di antara karya pentingnya dalam bahasa Jerman adalah Sprachfeuer (Api Bahasa, 2015), antologi puisi berisi karya 28 penyair Indonesia, sejak penyair tahun 1930-an sampai penyair terkini. Tentu saja, menerjemahkan bukan sekadar alih bahasa. Dari karya sastra yang diterjemahkannya, seorang penerjemah pada dasarnya secara kreatif melahirkan karya sastra baru.

Kalau segi pertama sosok Berthold Damshäuser demikian serius dan sungguh-sungguh, segi kedua sosok Berthold Damshäuser demikian santai, jenaka, bahkan terkesan main-main ―yang secara umum dapat dikatakan sebagai kenakalan, katakanlah kenakalan kreatif. Bagi banyak penulis, tidak mudah menampilkan segi kenakalan kreatif dalam karya tulis mereka. Kebanyakan penulis hanya mampu menampilkan keseriusan dan kesungguh-sungguhan mereka. Tak mampu menampilkan keseriusan dalam ketidakseriusan. Berthold Damshäuser dengan memikat berhasil menampilkan keseriusan dan kenakalan kreatif dalam esai-esainya. Dengan kenakalan kreatif itu, esai-esainya memberikan suatu keasyikan tersendiri tanpa kehilangan keseriusannya.

Demikianlah melalui buku ini Berthold membawa pelancong intelektualnya ke tujuan-tujuan wisata yang problematis sebagai isu bahasa, sastra, dan budaya Indonesia. Isu-isu problematis itu sendiri merupakan hal menarik bagi para pelancong intelektual, khususnya pelancong yang bergerak di bidang bahasa, sastra, dan budaya Indonesia. Isu-isu itu lebih menarik lagi karena disajikan dengan cara yang juga menarik, dengan ironi, dengan suasana yang kadang menegangkan, juga dengan cara jenaka dan main-main namun serius. Juga dengan fiksi dan imajinasi. Dan, sebagaimana dikatakan Berthold Damshäuser sendiri, “Ada banyak fiksi pada tiap fakta, dan banyak fakta pada tiap fiksi; ada banyak argumentasi dalam obrolan, dan banyak obrolan dalam argumentasi; ada banyak kesungguhan dalam main-main, dan banyak main-main dalam kesungguhan.” Salam. []

Tulisan ini merupakan penutup buku kumpulan esai Berthold Damshäuser, Ini dan Itu Indonesia: Pandangan Seorang Jerman (Jakarta: Komodo Books, 2016).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: