Jamal D. Rahman

14 Februari 2011

Aksara yang Membingungkan

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Datanglah ke terminal mana saja di Indonesia. Hal pertama yang segera Anda temukan adalah tidak memadainya informasi tertulis menyangkut kebutuhan-kebutuhan primer yang diperlukan calon penumpang. Tidak ada informasi tertulis tentang kendaraan apa saja yang tersedia di terminal, rute mana saja yang dilayani, jam keberangkatan, jam kedatangan, dan tarif yang ditetapkan. Ini tidak berarti di terminal-terminal kita sama sekali tidak ada informasi tertulis. Di terminal kita tentu saja selalu ada informasi tertulis. Tetapi, calon penumpang yang hanya mengandalkan informasi tertulis yang tersedia di terminal dijamin bingung atau bahkan tersesat. Aksara di sana bagaimanapun membingungkan.

Calon penumpang dituntut untuk bertanya kepada petugas atau calon penumpang lain tentang beberapa hal untuk memenuhi kebutuhan primer mereka di terminal: kendaraan apa yang bisa dipilih, loket penjualan tiket, tarif perjalanan, jam keberangkatan, ruang tunggu, dll. Dengan kata lain, informasi tertulis yang tersedia tidak bisa diandalkan seratus persen. Meski ada informasi tertulis, calon penumpang masih harus mencari informasi lisan. Anehnya, informasi lisan kadangkala berbeda atau bahkan bertentangan dengan informasi tertulis. Lebih aneh lagi, informasi lisan kadangkala justru lebih bisa dipercaya dibanding informasi tertulis.

Datanglah juga ke stasiun kereta api di mana saja di Indonesia. Kita akan menemukan hal serupa.

Baiklah kita coba datang juga ke bandar udara mana saja di Indonesia. Kita akan menemukan hal serupa pula. Misalkan kita akan terbang dari Jakarta katakanlah ke Balikpapan, dan kita telah memiliki tiket satu maskapai penerbangan, kita tidak akan mendapatkan informasi tertulis tentang di terminal berapa kita akan naik pesawat. Perlu diketahui bahwa bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, terdiri dari 3 terminal domestik. Setiap terminal melayani penerbangan maskapai berbeda-beda. Maka, agar kita tidak salah masuk terminal di Bandara Soekarno-Hatta, kita harus mencari informasi lisan tentang terminal yang melayani maskapai penerbangan kita. Kita bisa bertanya kepada petugas bandara, calon penumpang, sopir bus bandara, atau supir taksi.

Sampai batas tertentu, kenyataan tersebut merefleksikan kegagapan keberaksaraan kita di tengah begitu mengakarnya kelisanan dalam kehidupan praktis sehari-hari. Kelisanan jelas tak mungkin dipertahankan dalam banyak aspek kehidupan praktis kita. Betapa repot dan alangkah boros menjelaskan semua hal secara lisan kepada banyak orang. Keberaksaraan mau tak mau harus dilembagakan dalam banyak aspek kehidupan praktis. Kesadaran tentang keharusan pelembagaan keberaksaraan ini tak perlu dipertegas lagi, sebab dalam hal ini kita telah memiliki kesadaran yang sama, yang antara lain dibuktikan dengan banyaknya gerakan dan usaha meningkatkan budaya-baca di berbagai daerah, baik dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Betapapun tidak memadai, tersedianya informasi tertulis di terminal bus, stasiun kereta api, bandar udara dan tempat-tempat umum lainnya adalah bukti lain bahwa keberaksaraan merupakan suatu keharusan dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Kegagapan keberaksaraan kita merupakan konsekuensi dari mengakarnya kelisanan bukan hanya dalam kehidupaan praktis sehari-hari, melainkan bahkan dalam kebudayaan kita secara umum. Pada dasarnya kelisanan (primer) merupakan ciri masyarakat komunal yang hangat dan intim —dan dalam arti itu tentu saja ia positif. Demikianlah misalnya di dalam bus, kereta api, kapal laut, atau pesawat udara kita mudah bertegur sapa dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal sebelumnya, bahkan ngobrol dengan hangat satu sama lain. Kelisanan ini jugalah kiranya yang melatari pribahasa kita yang terkenal, yaitu “malu bertanya sesat di jalan”. Ditafsirkan secara harfiah, jika Anda tidak mengenal jalan di suatu daerah, maka Anda harus bertanya (secara lisan) tentang jalan yang akan Anda lewati agar Anda tidak tersesat —dan ingat: tak tersedia informasi tertulis yang benar-benar memadai untuk Anda.

Karena kelisanan mengakar begitu kuat, maka keberaksaraan kita diam-diam bekerja dengan mind-set kelisanan. Kelisanan mengandaikan seseorang bisa bertanya langsung menyangkut keterangan atau informasi lisan yang baginya tidak jelas. Karena itu, orang tidak berpikir untuk memberikan keterangan atau informasi lisan sejelas dan selengkap mungkin, toh pendengar bisa langsung bertanya tentang hal-hal yang belum jelas menyangkut keterangan atau informasi lisan yang diterimanya. Orang tidak berpikir untuk memberikan keterangan atau informasi lisan sejelas mungkin, sebab dia bisa tahu apakah keterangan lisan yang diberikannya sampai di telinga penerima dengan benar atau keliru. Jika ternyata keterangan yang diberikannya sampai di telinga penerima dengan keliru, orang tersebut toh bisa langsung mengoreksinya.

Sebaliknya, keberaksaraan mengandaikan seseorang tidak memiliki kesempatan untuk bertanya atau mengkonfirmasi keterangan tertulis yang baginya tidak jelas. Setelah seseorang menuangkan sebuah gagasan dalam sebuah tulisan, pembacanya tidak mungkin meminta keterangan sang penulis secara langsung tentang hal-hal yang baginya meragukan dan tidak jelas dalam tulisan tersebut. Karena itu, keberaksaraan bekerja atas dasar kesadaran penuh bahwa keterangan atau informasi tertulis harus diberikan sejelas mungkin. Dalam keberaksaraan, kekaburan atau ketidakjelasan sebuah keterangan harus dihindari sejauh-jauhnya, antara lain dengan mengontrol secara cermat struktur kalimat dan bahkan argumen yang diajukan. Keterangan tertulis yang kabur hanya akan membingungkan pembaca.

Berbagai keterangan, petunjuk, dan informasi tertulis di terminal, stasiun kereta api, dan bahkan bandar udara kita merupakan produk dari keberaksaraan namun dengan maind-set kelisanan. Ia adalah paradoks atau bahkan kontradiksi antara keberaksaraan dan kelisanan. Berbagai keterangan itu dibuat tertulis (untuk dibaca), namun jauh dari kehendak untuk memberikan keterangan sejelas mungkin sebagaimana dituntut dalam keberaksaraan. Meskipun tertulis, ia tidak perlu jelas benar sebab toh calon penumpang diandaikan bisa bertanya (secara lisan) kepada petugas atau calon penumpang lain menyangkut keterangan tertulis yang baginya tidak jelas. Dan bukankah malu bertanya sesat di jalan? Dirumuskan dengan cara lain, berbagai keterangan, petunjuk, dan informasi dimaksud jadi tidak memadai, karena ia dibuat tidak atas dasar apa yang diandaikan oleh keberaksaraan, melainkan atas dasar apa yang diandaikan oleh kelisanan.

Ini mencakup juga tempat-tempat umum lain seperti jalan raya, sarana transportasi umum, objek pariwisata, museum, klinik, rumah sakit, termasuk tempat-tempat layanan masyarakat seperti kantor-kantor pemerintah, dan sebagainya, bahkan perpustakaan. Misalkan Anda akan membuat paspor, di kantor imigrasi Anda harus bertanya secara lisan mengenai prosedur pembuatan paspor kepada petugas. Misalkan Anda akan membayar pajak kendaraan, di kantor Samsat Anda pasti bertanya mengenai prosedur pembayaran pajak kendaraan Anda. Misalkan Anda membesuk keluarga yang tengah dirawat di rumah sakit, Anda masih harus bertanya kepada petugas rumah sakit di mana letak kamar Mawar atau Bugenfil tempat keluarga Anda dirawat. Ini memang negeri berkelisanan.

Inilah akar masalah kenapa kita selalu bingung setiap kali datang ke tempat-tempat layanan umum, meskipun di sana ada banyak informasi dan petunjuk tertulis. Bahwa budaya membaca kita rendah, kiranya tak perlu didiskusikan lagi. Beberapa waktu lalu Organisasi Pengembangan Kerjasama Ekonomi (OECD) mengumumkan survei mereka tentang budaya membaca. Salah satu temuannya: budaya membaca Indonesia terendah di antara 52 negara di kawasan Asia Timur. Rendahnya budaya membaca masyarakat Indonesia membuat kita tidak memiliki kultur keberaksaraan. Dan itu berakibat langsung pada kehidupan praktis sehari-hari kita.

Karena budaya baca kita rendah, maka kehidupan praktis kita lebih banyak bekerja atas dasar kelisanan. Akibat berikutnya adalah kita tidak sanggup memberikan dan, karenanya, tidak bisa mendapatkan pelayanan paling sederhana yang mudah, praktis, efisien, jelas, dan tidak membingungkan. Dengan kata lain, rendahnya budaya membaca di Indonesia berakibat langsung pada rendahnya kualitas layanan umum paling sederhana dalam banyak kehidupan praktis sehari-hari.[]

“Catatan Kebudayaan” majalah Horison, Oktober 2010.

2 Komentar »

  1. bagus bgd pak blognya…. isinya waaaaaaw..

    Komentar oleh sheiir — 23 Juni 2011 @ 05:00 | Balas

  2. esainya bagus pak……..

    Komentar oleh sheiir — 23 Juni 2011 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: