Jamal D. Rahman

20 Juni 2016

Ramadan, Ketupat Masjid dan Kuda

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Mengenang puasa Ramadan pada masa kanak-kanak saya adalah mengenang bhancèt —sesuatu yang kini telah hilang dalam kebudayaan Madura. Bhancèt yang terkenang bagi saya adalah bhancèt kakek dari pihak ibu. Di masa kanak-kanak, saya memang tinggal bersama kakek, yang —saya ingat betul— sering mengelus ubun-ubun saya dengan tangannya yang lembut. Kampung kakek saya adalah Lembung Barat, kurang-lebih 14 km dari kota Sumenep, Madura, Jawa Timur. Inilah kampung halaman Bindara Saod, salah seorang sultan Sumenep di abad ke-18 yang terkenal. Sudah barang tentu kakek sering mengisahkan kehebatan Bindara Saod, dan dengan rasa bangga seringkali mengingatkan bahwa sultan itu berasal dari kampung halamannya. Saya sering diajak berziarah ke kuburan Nyai Izza, istri pertama Bindara Saod, di pemakaman desa yang sangat tua. Juga ke kuburan Kè Pekkè (Kiai Faqih), guru Bindara Saod, di kompleks yang sama. Saya terkesan dengan kisah-kisah kakek. Tapi kalau mengingat puasa Ramadan di masa-masa itu, yang terbayang di benak saya tetaplah bhancèt.

Bhancèt berdiri tegak di halaman rumah kakek. Berbentuk balok, terbuat dari batu bata, adukan tanah dan semin —ya, balok tembok. Tingginya 70 cm, seperut saya ketika itu. Lebar masing-masing sisi samping dan sisi atasnya 30 cm. Tepat di titik tengah atas balok itu tertancap balok besi setinggi 10 cm, dengan lebar sisi samping masing-masing 2 cm. Di permukaan balok tembok itu terdapat 2 garis membujur ke utara dan selatan tepat di sisi barat dan timur balok besi. Ada pula 2 garis cincin melingkari balok besi di tengahnya. Jarak titik sumbu balok besi dengan garis cincin pertama 9 cm; dengan garis cincin kedua 10 cm. Kakek melihatnya dari dekat setiap hari. Bhancèt memang harus dilihat dari dekat, pada ketika hari cerah, sebab hanya dengan demikian petunjuknya dapat terbaca.

Kalau kakek melihat bhancèt, saya tahu apa yang (ingin) diketahuinya: waktu. Bhancèt memberikan petunjuk waktu, dan bagi kakek terutama waktu shalat. Bila bayangan balok besi bergeser sedikit ke arah timur, kata kakek, berarti waktu shalat Duhur sudah tiba. Bila bayangan balok besi menyentuh garis cincin pertama, waktu Duhur hampir habis. Bila bayangan balok besi menyentuh garis cincin kedua, waktu Ashar sudah tiba. “Kalau bayangan sudah sampai sini,” kata kakek menunjuk garis cincin pertama, “dan kamu belum shalat Duhur, maka kamu tak boleh menundanya lagi.”

Sering juga, dari teras rumahnya kakek menyuruh saya memperhatikan bayangan balok besi di bhancèt itu, selalu pada siang hari ketika matahari terik tepat di atas ubun-ubun. Bayangan balok besi masih condong sedikit ke sisi barat 2 garis yang membujur ke utara dan selatan. Saya memperhatikan baik-baik bayangan itu bergerak pelan ke sisi timur. Bila bayangan tepat berada di 2 garis yang membujur, kakek menyuruh saya memberi aba-aba. Tepat ketika itu pula saya agak berteriak, “Pas!” Itu artinya, kakek sedang mencocokkan jam elektroniknya, dan itu berarti jam 12 tepat siang hari. Kata kakek, jika menggunakan jam elektronik itu, maka waktu Duhur adalah jam 12 lewat 5 menit. Begitu selalu, sepanjang waktu. Dan, dengan jam elektronik itulah kakek menentukan waktu shalat Magrib, Isya, dan Shubuh —entah bagaimana caranya.

Saya senang menyaksikan kakek hampir setiap hari melihat bhancèt. Rupanya, meskipun punya jam elektronik, kakek tetap menggunakan bhancèt selagi bisa menggunakannya sebagai petunjuk waktu. Jam elektronik hanya digunakan ketika bhancèt tak berfungsi, yaitu di malam hari. Saya tahu, bhancèt punya arti penting bagi kakek sepanjang masa.

Bagi saya, bhancèt punya arti khusus terutama di bulan Ramadan. Ketika kakek mulai mengajari saya puasa setengah hari, bhancèt itulah yang pertama kali saya lihat sepulang sekolah. Ini untuk mengetahui berapa lama lagi saya boleh berbuka. Kata kakek, saya boleh berbuka ketika bayangan balok besi tepat berada di dua garis yang melintang ke utara dan selatan. Bagi saya, itu artinya saya boleh makan sebelum waktu Duhur, walaupun jarak antara keduanya hanya sekitar 5 menit. Meskipun di teras rumah kakek ada jam elektronik, saya tak memperhatikannya. Saya tetap memperhatikan bhancèt. Begitulah setiap bulan Ramadan, bhancèt adalah pusat perhatian saya.

Ketika kakek mulai mengajari saya puasa sehari penuh, bhancèt kian menjadi pusat perhatian saya. Kali ini saya memperhatikannya mulai siang sampai sore. Saya berharap bayangan balok besi itu segera bergerak ke arah timur dan cepat menghilang. Sebab bila bayangan menghilang, itu berarti tak lama lagi saya akan berbuka. Tapi bayangan tersebut terasa bergerak lebih lambat dibanding biasanya. Pelan sekali. Padahal, jarak bayangan balok besi pada bidang bhancèt seakan bisa diukur dengan mudah. Waktu terasa begitu konkret, seakan bisa dijengkal dengan tangan saya yang kecil. Waktu seakan dihadirkan oleh matahari yang bersinar terang di langit biru yang bening. Kadang saya menjengkal jarak itu dengan tangan saya yang mungil, sambil berbisik sendiri, “Waktu buka tinggal setengah jengkal lagi.” Namun lama juga menunggu bayangan balok besi bergerak ke arah timur. Rasanya, agar bayangan balok besi segera menghilang, ingin saya dorong matahari ke arah barat.

Bila bayangan balok besi tak tampak lagi, saya merasa gembira. Itu artinya beberapa saat lagi kakek akan memberi tahu bahwa waktu buka sudah tiba —biasanya setelah dia melihat langit di barat berwarna kemerahan, itu cara dia mengetahui waktu buka. Bila demikian, kami menyantap berbagai masakan yang telah disiapkan nenek.

Sekarang, kakek sudah tak ada. Nenek juga sudah tak ada. Bhancèt di halaman rumahnya pun tak ada. Jam elektronik dan jam baterai telah menggantikan bhancèt. Waktu pun telah menggantikan waktu kakek. Sejak akhir tahun 1970-an, perlahan-lahan kepada kami diperkenalkan jam WIB —kami membacanya wib. Jam WIB kami ketahui terutama dari radio yang belakangan dimiliki kakek. Maka, ada masa ketika kami punya dua waktu, yaitu jham bhaktoh (‘jam waktu’) dan jham wib (‘jam WIB’). Yang pertama adalah waktu kakek yang kami warisi turun-temurun, yaitu waktu yang ditentukan dari bayangan balok besi di bhancèt; yang kedua adalah WIB, zona waktu untuk Indonesia bagian barat. Belakangan saya tahu, selisih waktu antara dua waktu itu: jham bhaktoh lebih cepat sekitar 25 menit dibanding jham wib. Maka, kalau kami membuat janji misalnya untuk bertemu jam 9, kami akan bertanya terlebih dahulu, itu jham bhaktoh atau jam wib.

Dulu, bhancèt bisa ditemukan di hampir setiap masjid di Madura, misalnya di Masjid Jami’ Sumenep atau di masjid Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk. Tapi sekarang, bhancèt tak ada lagi, ataun tak digunakan lagi. Generasi Madura sekarang telah menggunakan jham wib, sebuah unifikasi waktu yang memang lebih praktis. Dan itu tentu perlu. Perkembangan sains dan teknologi memungkinkan kita untuk mengetahui waktu dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Juga waktu shalat, buka puasa, dan lain sebagainya. Era bhancèt sudah berlalu. Bagaimanapun, saya tetap sedih setiap kali memandang halaman rumah kakek sekarang, tempat saya dulu sering memperhatikan bhancèt dengan bayangan waktu yang sangat konkret. Tempat saya menghadirkan matahari setiap kali ingin mengenali waktu. Tempat saya menjengkal waktu di bulan Ramadan.

Sudah hampir satu generasi WIB digunakan di Madura, khususnya di kalangan masyarakat desa. Mungkin generasi sekarang tak mengenal tradisi bhancèt. Jam elektronik atau jam baterai membuat waktu lebih konkret dibanding waktu yang dihadirkan bhancèt. Jarum jam menunjuk ke angka-angka yang jelas. Jam berapa, kurang atau lewat berapa menit dapat diketahui dengan pasti. Hanya saja, jika dulu waktu dihadirkan oleh matahari dan bayangannya, kini waktu dihadirkan oleh besi dan gerakannya.

Tapi bagaimanapun tetap ada bayang-bayang bhancèt pada jam apa pun di Madura sekarang, bahkan di mana pun di Indonesia. Dalam bhancèt, waktu bersifat relatif. Nisbi. Presisinya tak bisa diandalkan, dan karenanya tak perlu benar-benar diperhitungkan. Dalam kehidupan praktis sehari-hari, hal itu mewujud dalam waktu ba’da dzuhur awwal (sesudah duhur awal), ba’da dzuhur (sesudah duhur), ba’da ashr (sesudah asar), ba’da maghrib (sesudah magrib), dan ma’da ‘isya (sesudah isya’). Atau sar- asar maba (petang setelah asar) dan ben-aben lagghuh (pagi ketika matahari sepenggalahan). Semua waktu ini relatif, tanpa presisi waktu sebagaimana ditekankan dalam WIB. Waktu adalah kurang-lebih, kira-kira, sekitar. Tak perlu presisi.

Jam elektronik atau jam baterai memang telah lama menggantikan bhancèt. Sekarang jam elektronik atau jam baterai digunakan di semua rumah dan masjid di Madura. Namun, ia digunakan dengan mental bhancèt. Dengan kata lain, era bhancèt memang sudah berlalu, namun mental bhancèt tetap melekat pada waktu kita, bahkan ketika jam kita menekankan presisi waktu. Jarum jam tak lain hanya memutar bayang-bayang bhancèt pada angka-angka jam di tembok-tembok masjid atau rumah kita. Maka, meskipun kita sudah menggunakan jam elektronik yang menjamin presisi waktu, tetap saja tak ada konsep tepat waktu. Acara apa pun boleh molor, dan semua maklum. Waktu tetaplah kurang-lebih, kira-kira, sekitar. Untunglah hal ini tak hanya terjadi di Madura, melainkan di mana pun di Indonesia. Jadi, saya tak bisa menyalahkan bhancèt.

Tapi ada satu hal yang jelas pada jam elektronik atau jam baterai sekarang: waktu buka puasa! Ia tidak nisbi. Ia pasti. Barangkali buka puasalah satu-satunya aktivitas yang dilaksanakan tepat waktu.

Saya memandang halaman rumah kakek lagi. Tapi tak ada bhancèt lagi. Hanya bayang-bayang masa lalunya yang sepi. Juga bayang-bayang kakek melintas-lintas di halaman rumahnya sendiri. Seandainya pun bhancèt masih ada, saya tak akan menjengkalnya lagi. Toh waktu tetap nisbi. Sementara bayang-bayang masa kininya berputar pada jarum jam dinding di rumah saya sendiri.

Ketupat Masjid dan Kuda
Bila gema takbir bertalu-talu dari pengeras suara masjid desa, saya tahu pagi mulai rembang, dan lebaran telah tiba. Saya bangun lebih pagi dari biasanya. Segera mandi dan shalat Subuh. Sebelum berangkat ke masjid atau ke surau untuk shalat Id, saya pamit pada ayah dan ibu, mencium tangan mereka dengan khidmat. Orangtua biasanya berangkat belakangan. Saya merasa bahagia, meski tidak faham benar kenapa saya bahagia. Yang saya ingat, saya bahagia karena pada hari itu saya memakai pakaian baru. Juga karena sejak hari itu saya tak harus berpuasa lagi. Mungkin juga karena di sini, di rumah orangtua ini, saya tak harus mengkhatamkan Al-Qur’an lagi.

Selama tinggal bersama kakek, ketika saya berusia 9 atau 10 tahun dan sudah lancar baca Al-Qur’an, kakek bilang, “Kalau mau pulang, kamu harus khatam Al-Qur’an. Setelah khatam Al-Qur’an kamu boleh pulang.” Saya tahu, itu cara kakek mendorong saya rajin baca Al-Qur’an sampai tamat. Saya tak membantahnya. Bersama kawan-kawan toh saya terbiasa mengkhatamkan Al-Qur’an, saling berlomba, sendiri-sendiri atau bersama-sama. Tapi bagaimanapun, mengkhatamkan Al-Qur’an sebagai syarat boleh pulang ternyata merupakan tantangan yang berat. Terlalu sering membaca Al-Qur’an tentu menjenuhkan, dan tentu mengurangi waktu bermain. Lagipula, sudah tentu saya ingin sering pulang. Saya mencintai kedua orangtua saya yang sangat harmonis. Saya selalu rindu pada mereka. Kalau rindu saya menggebu, saya akan cepat-cepat mengkhatamkan Al-Qur’an. Maka, selama satu sampai dua tahun, saya mengkhatamkan Al-Qur’an rata-rata seminggu sekali. Jangan tanya apakah saya mengerti barang sedikit Al-Qur’an. Sama sekali tidak.

Lebih dari sekadar mengajar saya mengaji, kakek juga mengajarkan bahwa cinta dan rindu yang menggebu dapat mengalahkan tantangan yang berat.

Setiap kali kepada kakek saya bilang bahwa saya sudah khatam Al-Qur’an, kakek tahu maksud saya: saya minta pulang. Dia percaya saja, tanpa pernah mengecek benarkah saya telah khatam Al-Qur’an. Dia tak peduli apakah saya jujur atau bohong. Dengan cara itu kakek mengajari saya bahwa saya harus jujur pada diri sendiri. Kalau saya harus berlaku jujur, itu semata karena saya memang harus jujur, bukan karena takut pada kakek atau orang lain. Dia pun akan mengantar saya pulang, atau saya pulang sendiri naik sepeda sejauh 5 km menyusuri jalanan desa. Ya, beberapa hari sebelum lebaran saya pulang ke rumah orangtua di Lenteng Timur. Saya berpuasa beberapa hari terakhir bulan Ramadan dan berlebaran bersama orangtua dan tetangga dekat.

Di rumah, orangtua tak pernah menyuruh saya mengaji, sebab mereka pasti tahu bahwa kakek telah mengajari saya membaca Al-Qur’an dengan baik. Tampaknya bagi ayah-ibu, biarlah saya pulang sebagai liburan. Maka, bagi saya, pulang berarti bebas dari keharusan mengkhatamkan Al-Qur’an. Seperti hari itu, di hari-hari Idul Fitri itu.

Yang menyenangkan dari shalat Id di surau atau masjid di desa saya adalah ramah-tamah setelah shalat. Di kampung, tempat shalat Id bukan hanya masjid. Surau kecil pun, yang mungkin hanya bisa menampung 50-100 jamaah, jadi tempat shalat Id. Setelah bermaaf-maafan, jama’ah tidak langsung pulang. Kami duduk berderet memanjang ke samping, berhadap-hadapan dengan satu deretan yang lain. Satu deretan lagi beradu punggung dan berhadap-hadapan dengan deretan lain di depannya. Demikianlah kami duduk berderet memanjang, saling beradu punggung namun berhadap-hadapan dengan yang lain.

Lalu, beberapa anak muda akan datang membawa aneka masakan. Ya, ada suguhan makan bagi seluruh jamaah sehabis shalat Id. Bagi kami, tentu saja masakan hari itu sangat istimewa. Bermacam-macam pula lauk-pauknya: sop ayam, semor daging, mi goreng, telor goreng, telor rebus bumbu kacang, serundeng, sa’ cabbih, kowa koneng, dan je cabbih. Tentu saja nasi, ditempatkan di beberapa mangkok. Mangkok-mangkok nasi ditaruh di antara dua deretan jamaah yang duduk berhadap-hadapan. Di samping nasi, ditaruh berpiring-piring lauk-pauk, berderet sepanjang deretan jamaah. Kemudian piring dibagikan satu satu. Setelah semua masakan terhidang, beberapa kobokan disediakan. Kami pun mencuci tangan di kobokan itu, sebentar saja, sebab kobokan akan beredar ke jama’ah lain untuk cuci tangan bergantian. Dan, mulailah kami makan, mengambil sendiri masakan yang kami suka dan tersaji di depan kami. Nikmatnya makan bersama…. Indahnya lebaran di desa….

Bagi kami, lauk-pauk istimewa adalah daging ayam dan sapi, di samping kambing. Maka, sebagaimana juga di acara-acara besar, di hari lebaran daginglah lauk-pauk utama. Dimasak dalam beberapa jenis masakan. Tak ada ikan, sebab ikan adalah masakan sehari-hari. Tak istimewa lagi. Maklumlah, pulau Madura yang relatif kecil dikelilingi laut dengan ikan-ikanan yang cukup melimpah.

Yang menyiapkan masakan itu adalah istri kèajih, guru agama yang paling dihormati di lingkungan sebuah surau atau masjid. Tentu dia tidak menanggung sendirian seluruh biaya makan. Tetangga sekitar menyumbang masakan semampu dan seikhlas mereka, yang mereka antar sendiri dalam keadaan sudah matang ke rumah kèajih di pagi hari sebelum mereka berangkat ke surau atau masjid. Ada pula yang menyumbang makanan, minuman, dan buah-buahan. Semua sumbangan tetangga dikumpulkan di rumah kèajih, dan nanti sehabis shalat Id ibu-ibu sekitar surau akan membantu menyiapkan segalanya untuk makan bersama di surau.  

Dan, di hari raya Idul Fitri, tak ada ketupat. Yang ada adalah nasi. Nasi dan lauk daging-daginganlah menu utama kami di hari lebaran. Kami tak berharap menikmati ketupat di hari itu. Kalau kami menyaksikan di televisi orang-orang masak dan menyantap ketupat di hari lebaran, kami agak heran: makan ketupat kok di hari Idul Fitri. Kami lebih heran lagi kenapa ketupat jadi simbol Idul Fitri. Beberapa kartu ucapan selamat Idul Fitri bergambar ketupat. Agak aneh sebenarnya. Itu bukan berarti kami tak suka ketupat. Bukan. Nanti saya ceritakan kapan dan bagaimana kami menikmati ketupat.

Makan sudah usai. Beberapa orang sibuk mengangkat piring dan peralatan makan lainnya ke dapur kèajih. Sementara itu, beberapa orang lain mulai menghidangkan minuman, terutama kopi. Juga aneka kue lebaran. Semuanya dari dalem kèajih, ‘rumah kiai’. Sebagian kami masih duduk di sudut-sudut surau, memilih tempat yang paling nyaman untuk santai dan terus menjalin silaturahim. Sekarang kami boleh duduk tak teratur, di sudut mana saja di surau, sambil menikmati kopi dan kue lebaran sambil merokok. Ya, kebanyakan pria Madura merokok. Maklumlah, salah satu hasil utama pertanian kami adalah tembakau. Sementara, sebagian lain mulai pulang untuk silaturahim dengan saudara-saudara jauh.

Seminggu setelah lebaran, tibalah hari yang juga kami tunggu-tunggu: Lebaran Ketupat. Jika Idul Fitri jatuh pada hari Selasa, maka Lebaran Ketupat jatuh pada hari Selasa berikutnya. Untuk menyambut lebaran inilah kami menyiapkan masakan ketupat. Berbagai jenis ketupat disiapkan, mulai ukuran kecil, sedang, sampai besar. Bentuknya pun macam-macam. Di samping berbentuk yang umum dikenal, ada pula yang berbentuk masjid dan kuda. Lebaran ini sebenarnya merupakan lebaran bagi mereka yang puasa Syawal selama 6 hari, sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad. Tapi tak hanya mereka yang puasa Syawal yang merayakan Lebaran Ketupat. Semuanya merayakan hari itu, bahkan meskipun yang melaksanakan puasa Syawal hanya satu-dua orang. Pagi-pagi ketika hari sepenggalahan, dari surau dan masjid terdengar alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau lagu-lagu Islam —ah, sebenarnya lagu-lagu Arab. Kami tahu, itu ajakan agar kami datang ke surau untuk merayakan Lebaran Ketupat bersama-sama. Di surau, tak ada acara khusus. Hanya menikmati aneka masakan ketupat bersama-sama.

Sekarang, suasana Lebaran Ketupat sudah berubah. Orang tak lagi datang ke surau untuk bersama-sama menikmati aneka masakan ketupat dalam suasana keakraban yang guyub. Pada Lebaran Ketupat mereka kini berbondong-bondong datang ke tempat-tempat rekreasi. Setelah seminggu bersilaturahim dengan saudara-saudara dekat dan jauh, tampaknya mereka perlu hiburan. Maka, di tempat-tempat rekreasi, misalnya pantai Salopèng dan pantai Lombang di sisi utara Sumenep, pada Lebaran Ketupat disediakan aneka pertunjukan untuk menghibur mereka yang sudah kelelahan menjalin silaturahim dengan sanak-saudara. Pertunjukan dangdut dan tari-tarian merupakan hiburan favorit. Demikianlah Lebaran Ketupat kini telah jadi hari rekreasi.

Kalau engkau datang ke Salopèng atau Lombang pada Lebaran Ketupat, engkau akan tahu bahwa kami benar-benar haus hiburan di hari-hari lebaran. Tapi mungkin engkau akan kaget dan tak percaya bahwa Lebaran Ketupat adalah perayaan setelah 6 hari puasa Syawal yang sakral.

Saya teringat lagi pada kakek. Pada Lebaran Ketupat, kakek biasanya datang ke rumah. Saya pun menyambutnya dan mencium tangannya. Setelah beberapa hari pulang, saya mulai rindu pada kakek. Maka ketika dia mencium dan memeluk saya, saya merasa tenggelam di lautan kebahagiaan. Apalagi dia datang membawa oleh-oleh khusus untuk saya: ketupat berbentuk miniatur masjid dan kuda….

Ritus Sakral Tanah Asal
Saya tak pernah naik kuda. Tapi suatu kali saya naik kuda yang gagah, akan berangkat untuk suatu bepergian yang jauh. Dari atas kuda itu saya memandang kakek sebentar. Wajahnya berat, jauh lebih berat dari garis-garis wajahnya yang mulai keriput namun masih tampak gagah. Dia tak melambaikan tangan, hanya menatap saya dengan mata sendu. Saya akan berangkat, barangkali memang harus berangkat, entah ke mana. Barangkali mengembara. Ketika saya mulai berangkat, kakek memanggil-manggil saya. Tapi benar-benarkah kakek memanggil saya untuk kembali, mengurungkan keberangkatan ini? Dengan perasaan berat, saya terus berangkat. Terus memandang ke depan sambil sesekali menoleh ke belakang, memandang kakek yang menjauh dan masih memanggil-manggil saya.

Demikianlah, kata ibu, kakek suatu kali pernah bermimpi. Saya tak tahu apa arti mimpi kakek. Yang jelas, saya memang telah berangkat ke Jakarta untuk kuliah. Bukan naik kuda, tapi naik kereta Gaya Baru Malam dari Surabaya, pada bulan Ramadan yang terik. Gaya Baru Malam, itu artinya kereta ekonomi, yang kamar kecilnya bau pesing naudubillah.

Pada tahun pertama saya berlebaran di Jakarta. Tapi sejak tahun berikutnya, saya selalu mudik setiap lebaran. Biarpun harus berebut saat membeli tiket, saya tetap mudik. Biarpun untuk mendapatkan tiket harus antri sejak sehabis subuh, saya tetap mudik. Biarpun harus berjubel dan berdesak-desakan di semua moda transportasi, saya tetap mudik. Biarpun harus menghadapi kemacetan yang parah bahkan di jalan tol, saya tetap mudik. Walaupun kesal dan jengkel atas ketidakmampuan negara memberikan pelayanan yang baik bagi para pemudik, saya tetap mudik.

Kenapa saya harus mudik di hari lebaran? Dan apa arti mudik bagi saya?

Mudik adalah ritus budaya dalam siklus tahunan yang hampir semua aspeknya tak tergantikan dengan apa pun, dalam cara apa pun. Mudik hanya menemukan maknanya dalam pulang ke kampung halaman pada hari raya Idul Fitri. Orang bisa pulang kampung kapan saja, tapi dia tak akan sampai pada esensi mudik sebagai ritus budaya yang sakral. Orang bisa merayakan Idul Fitri di mana saja, tapi dia tidak akan menemukan dimensi-dimensi simbolik yang menghadirkan makna merayakan hari raya lebih dalam dibanding merayakan hari raya di saat mudik. Dalam mudik, orang menemukan makna pulang dalam keutuhan arti esensial dan simboliknya yang paling dalam. Menemukan juga makna merayakan hari raya yang paling mengesankan.

Sebagai bentuk pulang, mudik meminta kesiapan dua pihak, yaitu sang musafir dan kampung halaman. Sang musafir adalah perantau yang dengan berat hati telah meninggalkan sanak-keluarga di kampung halaman demi sebuah impian, tentu saja atas sokongan sanak-keluarga non jauh di sana. Adapun kampung halaman adalah ikatan dan ingatan primordial tempat sang musafir berasal, khususnya orangtua dan sanak-keluarga serta segenap kerabat dan handai-taulan. Dengan kesiapan dua pihak, hasrat sang musafir untuk mudik akan terpenuhi oleh kesiapannya sendiri yang mencakup sejumlah persyaratan mental, finansial, dan spiritual. Sekaligus digerakkan oleh daya panggil kampung halaman yang memang menunggu-nunggu kepulangan musafirnya.

Seorang perantau bisa menyiapkan diri untuk pulang kapan saja, tapi kampung halaman tak akan menyediakan atmosfir penerimaan dan penyambutan lebih hangat dibanding saat lebaran Idul Fitri. Kampung halaman memang selalu berharap perantaunya pulang setiap kali ada kesempatan, namun harapan terbesarnya adalah perantaunya mudik alias pulang kampung pada hari raya Idul Fitri. Hari-hari Idul Fitri adalah saat ketika kampung halaman memiliki kesiapan maksimal menyambut kepulangan para musafirnya.

Dan itu adalah analog budaya untuk kesalehan formal dan kesalehan sosial pada bulan Ramadan. Umat Islam memang bisa beribadah dan bersedekah sebanyak mungkin kapan saja di luar bulan Ramadan, tapi bulan Ramadan adalah waktu ketika tersedia atmosfir penerimaan paling baik atas semua bentuk kesalehan formal dan sosial. Itulah sebabnya memupuk berbagai bentuk kesalehan pada bulan Ramadan amat sangat dianjurkan. Tidaklah mengherankan kalau pada bulan suci umat Islam dengan tulus memperbanyak ibadah dan sedekah: mereka tak mau kehilangan momen yang sangat penting ini.

Sejalan dengan itu, maka hukum mudik secara budaya adalah sunnah muakkadah, amat sangat dianjurkan. Mudik lebih afdol dibanding sekadar pulang kampung. Bahkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial secara makro, dimana mudik mengandung makna sosial dan memberikan dampak misalnya bagi redistribusi ekonomi, hukum mudik bisa dinaikkan ke tingkat fardlu kifayah, kewajiban kolektif yang harus dilaksanakan setidaknya oleh sebagian anggota kelompok musafir dari suatu daerah.

Menjelang hari raya Idul Fitri, kita menyaksikan para musafir berbondong-bondong mudik. Mereka berjubel di terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara. Mereka memadati jalan raya, rel kereta, laut, dan udara. Mereka menikmati pulang kampung paling indah dalam seluruh pengalaman mereka pulang ke tempat asal mereka. Dalam arti itu, mudik sesungguhnya merupakan wisata rohani: usaha menemukan kembali ingatan primordial yang tersamar atau bahkan nyaris hilang dari dunia batin seorang perantau. Dengan demikian, kampung halaman adalah tempat wisata rohani yang sesungguhnya paling dirindukan.

Dalam arti itu pula, mudik mengandung sebentuk sakralitas di balik semrawut ritus budaya yang sepintas tampak profan itu. Sakralitas, kesucian, bagaimanapun akan tetap cemerlang meski tertimbun di balik transportasi yang tidak nyaman, semrawut, dan cenderung acak-acakan. Suasana hari raya Idul Fitri adalah atmosfir yang disediakan kampung halaman dalam memberikan dimensi sakral pada makna mudik. Sakralitas itulah kiranya yang membakar rindu para perantau pada kampung halaman, mendorong mereka untuk pulang. Demi dan atas nama sakralitas itulah orang bersedia berkorban dan merogoh kocek sedalam apa pun. Bahkan mereka bersedia mengambil jalan penuh risiko, bertarung melawan jalan sangat terjal dan berbahaya.

Karena mudik adalah sebuah ritus budaya yang sakral, sebuah wisata rohani, maka bagi para pemudik tak apa jalan sedikit semrawut dan macet. Tak apa mereka berjubel dan berdesak-desakan di berbagai moda transportasi umum. Tentu ada rasa kecewa dan jengkel atas ketidakmampuan negara menangani ritus tahunan ini dengan baik. Tapi rindu mereka pada kampung halaman bagaimanapun lebih besar tinimbang rasa kecewa. Sesakit-sakit hati menghadapi moda transportasi yang tak kunjung beres itu, tetaplah lebih sakit rasa rindu pada kampung halaman. Ya, para musafir itu adalah orang-orang yang terbakar oleh rindu-dendam pada tanah asal mereka.

Lebih dari itu, setelah hampir sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa, mereka adalah orang-orang yang sedang menyongsong kesucian mereka, fitrah mereka. Mereka akan menyambut kesucian bersama sanak-keluarga tercinta di kampung halaman yang sangat dirindukan. Rantau bagaimanapun adalah tempat yang asing. Dan kini mereka meninggalkan tempat yang asing itu, kembali ke tempat asal yang sangat intim. Betapa indah dan alangkah romantis mereka: kembali ke kampung halaman, kembali meraih fitrah, merayakan kesucian bersama orang-orang tercinta yang lama ditinggalkan.

Di jalanan yang macet parah, juga di jalan tol yang ternyata tidak bebas hambatan, wajah mereka tampak lesu dan kuyu. Tapi lihat: tidak seperti di tengah kemacetan di Jakarta, mereka tidak marah. Mereka bahkan saling bertegur sapa dengan hangat di tengah kemacetan. Bagi orang-orang yang terbakar rindu pada kampung halaman, yakni orang-orang yang tengah menjalani ritus rohani yang sakral ini, mudik adalah jalan melelahkan yang memberikan kebahagiaan rohani tak tepermanai.

Para musafir lata itu. Para pemudik itu. Saya adalah bagian dari mereka. Dan mudik, itulah sekadar rasa terima kasih bagi kampung halaman yang telah memberikan segalanya pada saya….

Kakek memanggil-manggil saya lagi. Berkemeja putih dan mengenakan sarung kotak-kotak cokelat kesukaannya. Berpeci hitam. Dia tersenyum. Kali ini berkalung bunga warna-warni yang sangat wangi. []

Dimuat dalam Lies Marcoes, Roland Gunawan, Mukti Ali el-Qum (editor), Kembal ke Jati Diri: Ramadhan dan Tradisi Pulang Kampung dalam Masyarakat Muslim Urban. Jakarta: Mizan dan Yayasan Rumah Kitab, Juli 2013.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: