Jamal D. Rahman

19 September 2008

Menghidupkan Kembali Kepercayaan pada Hidup

Filed under: Esai Budaya — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Yang diperlukan Indonesia hari ini adalah kepercayaan pada hidup. Yaitu bahwa hidup sangatlah bermakna, berharga, dan karena itu selalu ada harapan di sana. Kepercayaan pada hidup dengan demikian adalah semangat untuk mengisi hidup itu sendiri dengan kesadaran penuh akan potensi diri pribadi di tengah makin tipisnya harapan akibat beban hidup yang kian berat. Kepercayaan ini kiranya perlu terus-menerus dibangkitkan bahkan dikobarkan, ketika situasi kita kini lebih banyak menguburkan harapan demi harapan hingga ke titik nadir yang amat menakutkan. Rasa putus asa pada sebagian masyarakat kita, yang antara lain ditandai dengan kasus bunuh diri akibat tekanan kemiskinan yang tak tertanggungkan, kiranya sudah sampai pada taraf yang amat mencemaskan. Mereka merasa, dalam lorong gelap yang seakan tanpa ujung, hidup hanyalah kesia-siaan. Dan, karena tak ada setitik pun cahaya di ujung jauh lorong gelap itu, maka mengakhiri hidup diambil sebagai pilihan pahit untuk memecahkan jalan buntu hidup yang terasa sia-sia.

Langkah ekstrem yang merefleksikan runtuhnya kepercayaan pada hidup ini patut kita renungkan dengan sungguh-sungguh hari ini. Sebab, berbagai langkah politik untuk meringankan hidup guna membangkitkan kepercayaan pada harapan di hari esok belum memberikan hasil yang bisa membatalkan anggapan bahwa hidup sia-sia belaka. Alih-alih, yang justru membentang di depan mata adalah kenyataan yang menyesakkan, yaitu tiadanya peluang dan kesempatan yang memungkinkan semua orang mengaktualisasikan diri secara memadai. Ketidaktersediaan peluang dan kesempatan ini, yang menunjukkan macetnya demokrasi sosial dan ekonomi kita, adalah faktor utama yang meruntuhkan kepercayaan pada hidup. Di samping itu, di banyak televisi kita, dengan mata telanjang kita menyaksikan kuis-kuis berhadiah yang dengan mudah memberikan hadiah ini-itu tanpa meminta keringat atau keahlian apa pun. Fenomena itu diam-diam menanamkan pandangan bahwa hidup memang tak memerlukan harapan, tak pula memerlukan etos dan kerja keras. Hidup hanya dan hanya keberuntungan belaka.

Lebih dari itu, di berbagai media pula hampir setiap hari kita menyaksikan para elit sosial kita melakukan berbagai penyimpangan moral dan sosial: main suap, sogok, korupsi, perempuan, dan lain-lain, dari bentuknya yang halus hingga yang kasar —dengan kadar penyimpangan yang sangat mencengangkan. Semua itu pastilah memupuk frustasi sosial akan hidup-bersama sebagai sebuah bangsa, bahkan sebagai sesama manusia. Beban hidup kaum kebanyakan yang begitu berat, bahkan kian berat, ternyata tak mendapatkan solidaritas dari kaum elit yang secara sosial, politik, dan ekonomi sesungguhnya disokong oleh kaum kebanyakan itu. Dengan penyimpangan kaum elit yang dewasa ini berlangsung massif dan struktural di mana-mana, kaum kebanyakan bahkan tak mendapatkan sekadar sensitivitas dari kaum elit itu sendiri. Jika kaum kebanyakan yang menjadi penyangga kaum elit tak mendapatkan sensitivitas dan solidaritas dari kaum elit, adalah wajar kalau kaum kebanyakan merasa disia-siakan atau bahkan merasa dikhianati.

Sensitivitas dan solidaritas kaum elit sesungguhnya merupakan salah satu benteng kaum kebanyakan dalam mempertahankan diri dari ancaman kehancuran harapan dan kepercayaan mereka pada hidup. Ketika benteng itu sudah tak ada lagi, mereka akan merasa benar-benar hidup di tengah reruntuhan dan kehancuran, terutama secara sosial.

Yang tak kalah merisaukan —atau bahkan lebih merisaukan lagi— adalah kenyataan bahwa keruntuhan harapan dan kepercayaan pada hidup ini menjangkiti pula “kelas menengah” kita, kelas terpelajar, atau tepatnya mereka yang relatif beruntung secara sosial. Mereka memiliki modal yang relatif baik —pendidian, sosial, dan budaya— namun mereka menemukan diri mereka sebagai tidak bisa mengaktualisasikan diri secara maksimal. Bukan karena hambatan di dalam diri mereka sendiri, melainkan karena kenyataan objektif di luar diri mereka yang bersumber dari kegagalan politik kita dalam membangun infrastruktur sosial dan ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, dengan kepercayaan pada hidup yang masih tersisa individu dituntut untuk kembali pada individu itu sendiri. Individu tak cukup lagi mempercayakan dirinya pada komitmen politik untuk hidup-bersama sebagai sebuah bangsa. Individu harus mempertahankan dan menyelamatkan dirinya sendiri dari kebangkrutan hidup. Dengan kata lain, dia harus menyelamatkan sendiri kepercayaannya pada hidup, tidak dengan mengharapkan tersedianya kenyataan objektif yang memungkinkan mereka mengaktualisasikan diri secara maksimal, melainkan dengan menggali sisi-sisi terdalam diri mereka sebagai manusia. Dia tidak bisa lagi melulu melihat ke dunia-luar dirinya, melainkan harus melihat ke dunia-dalam dirinya sendiri, dunia mana menyimpan energi luar biasa yang bisa memancarkan kekuatan dahsyat untuk menciptakan sendiri dunia objektif bagi aktualisasi dirinya secara maksimal.

Bagaimanapun, sukses hidup seseorang —apa pun definisi kita tentang sukses— pertama-tama ditentukan oleh dunia-dalam dirinya sendiri: motivasi, keyakinan, semangat, etos, roh, spirit, optimisme, dan sejenisnya. Apa pun dasarnya, sekular atau relijius, dunia-dalam pastilah merupakan modal utama seseorang dalam mengembangkan diri untuk meraih sukses hidup. Masalahnya adalah bahwa manusia bagaimanapun selalu berhadapan dengan dunia-luar dirinya, yang sayangnya tidak selalu kondusif bagi dunia-dalamnya. Dalam konteks itulah dunia-luar kerapkali menciutkan energi dunia-dalam seseorang, yang di ujung titik ektremnya bisa melahirkan rasa kecewa dan putus asa. Dalam arti kata lain, energi luar biasa yang terkandung di dalam dirinya tersembunyi di balik timbunan pengalaman yang tidak menguntungkan.

Maka menghidupkan terus-menerus api dunia-dalam ini tentulah amat penting dan mendesak hari ini, apalagi dalam situasi ketika dunia-luar justru cenderung memadamkannya. Inilah api energi yang tetap hidup dalam diri seseorang, namun seringkali tidak disadarinya. Api inilah sesungguhnya yang akan membakar semangat untuk mengatasi dan memecahkan sendiri setiap masalah yang dihadapi. Api itu adalah energi kreatif dan produktif, yang bisa mengukur kemampuannya sendiri, dan karena itu akan mencari energi-energi lain untuk bersinergi memecahkan masalah yang tak mungkin ditanggung dan dipecahkan sendiri.

Dalam kaitan itu, usaha menghidupkan terus-menerus dunia-dalam kita yang mungkin redup di balik timbunan kenyataan yang kita alami kiranya amat perlu dan mendesak dewasa ini. Usaha mana mencoba menunjukkan potensi dan daya kreatif kita sebagai manusia dalam situasi sesulit apa pun, menunjukkan juga bahwa memecahkan masalah ditentukan terutama oleh dunia-dalam dan daya kreatif manusia itu sendiri. Ini adalah jalan keluar yang coba ditawarkan untuk menghadapi situasi yang lebih banyak memadamkan dunia-dalam kita, yaitu situasi yang mematikan kepercayaan pada hidup. Dengan demikian, dilihat dari konteks Indonesia hari ini, dimana hidup terasa kian berat dan kesulitan terasa tak mungkin dipecahkan, usaha ini tentulah amat relevan guna memastikan kembali pentingnya kepercayaan pada hidup. Yaitu keyakinan untuk memecahkan sendiri masalah yang kita hadapi dengan memaksimalkan daya kreatif dan produktif yang kita miliki.

Di sini kita berjumpa dengan pembalikan paradigma: dari pandangan bahwa sukses ditentukan oleh situasi objektif di luar diri manusia ke pandangan bahwa sukses ditentukan justru oleh dunia-dalam manusia itu sendiri. Seseorang mencapai sukses bukan terutama karena struktur sosial dan budaya lingkungannya, melainkan pertama-tama karena struktur batin dan kerohaniannya yang menyala-nyala. Paradigma pertama hanya akan menciptakan ketergantungan; paradigma kedua niscaya akan membangun kemandirian.

Usaha ke arah itu kiranya akan memberikan kita inspirasi dan spirit, bahwa —dalam kata-kata penyair Chairil Anwar yang terkenal— sekali hidup/ sudah itu mati, dan aku mau hidup seribu tahun lagi. Yakni, karena kita hanya hidup sekali, maka hidup kita harus berarti. Hanya setelah hidup kita berarti, kita boleh mati. Dengan hidup yang berarti itulah kita akan hidup abadi. Inspirasi dan spirit seperti itu amat kita butuhkan hari ini, guna mengukuhkan kepercayaan kita pada hidup atas dasar daya kreatif dan produktif kita sendiri sebagai karunia Tuhan yang tak ternilai.

Tetapi perlu ditegaskan, bahwa menghidupkan kembali kepercayaan pada hidup atas dasar potensi diri pribadi ini di satu sisi merupakan pilihan budaya, namun di sisi lain merupakan sikap politik. Merupakan pilihan budaya, karena ia memang prasyarat demi mempertahankan hidup dalam situasi apa pun. Di samping itu, ia adalah juga sikap politik sebagai respon atas kegagalan politik kita dalam menyediakan infrastruktur, peluang, dan kesempatan bagi aktualisasi warganegara secara memadai, kegagalan mana bersumber dari macetnya demokrasi ekonomi dan sosial kita. Dalam konteks itu, maka pilihan budaya ini adalah jalan keluar sekaligus kritik keras terhadap kegagalan politik kita dalam melayani kebutuhan minimal warganegara. Salam.***

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: