Jamal D. Rahman

17 Juni 2017

Mengaji Syukur pada Ibnu Arobi

Filed under: Tidak terkategori — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Syukur adalah hak Allah SWT atas hamba-Nya. Maka bersyukur merupakan kewajiban manusia kepada Allah SWT. Menurut Ibnu Arobi (dalam karya monumentalnya, al-Futuhât al-Makkiyyah), ada tiga jenis syukur: syukr lafdhî (syukur verbal), syukr ‘amalî (syukur praktis), dan syukr ‘ilmî (kognitif). Ketika engkau mendaptkan suatu nikmat dan engkau mengucapkan “alhamdulillah”, itu adalah syukur verbal. Demikian juga ketika engkau melihat sesuatu yang begitu indah atau menakjubkan dan engkau mengucapkan “masyaallah” atau “subhanallah”, itu adalah syukur verbal. Syukur verbal merupakan bentuk syukur yang paling sederhana.

Di atasnya adalah syukur praktis, yakni syukur sebagai kerja. Dalam hal ini Ibnu Arobi mengacu pada A-Quran surat Saba’/34:13: “Bekerjalah wahai keluarga Daut sebagai (wujud) syukur”. Maka, karena engkau menerima karunia sehat, misalnya, engkau tidak menyia-nyiakan sehat itu, yaitu dengan rajin berbuat amal saleh, mengerjakan hal-hal positif dan produktif baik bagi diri sendiri, orang lain, kebudayaan, maupun bagi kehidupan yang lebih luas. Rajin beramal saleh merupakan wujud syukurmu atas nikmat sehat dan berbagai karunia Tuhan kepadamu. Sebaliknya, mengerjakan hal-hal negatif dan tidak produktif adalah menyia-nyiakan nikmat sehat dan nikmat-nikmat lainnya, yang dikaruniakan Allah SWT kepadamu.

Kecuali itu, kata Ibnu Arobi, membicarakan atau menyebut-nyebut nikmat (yang diperintahkan Al-Qur’an surat Ad-Dhuha/93:11) termasuk ke dalam syukur praktis ini. Penerima nikmat seringkali tak menyadari berbagai karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka ketika engkau menyebut-nyebut nikmat yang kauterima, sesungguhnya engkau sedang memantapkan diri sendiri bahwa engkau adalah penerima karunia Tuhan, dengan berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam sikap riyâ’ (pamer). Itulah salah satu bentuk syukur praktis. Berbahagialah engkau yang menyadari bahwa engkau adalah penerima berbagai karunia Tuhan.

Di antara tiga jenis syukur itu, syukr ‘ilmî merupakan syukur yang paling tinggi, yaitu kesadaran sepenuhnya bahwa Pemberi karunia apa pun tak lain adalah Allah SWT. Inilah syukur dalam arti yang sesungguhnya (haqqus ‘syukr), yang tentu saja merupakan pengakuan di dalam hati. Dalam kaitan ini, Ibnu Arobi mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. “Allah berkata kepada Musa, ‘Hai Musa, bersyukurlah dengan syukur dalam arti yang sebenarnya (haqqas ‘syukr).’ Nabi Musa menjawab, ‘Tuhanku, siapakah yang sanggup melakukan itu?’ Lalu Allah berfirman, ‘Wahai Musa, ketika kau melihat suatu nikmat sebagai dari-Ku, maka engkau telah bersyukur dalam arti sesungguhnya.’”

Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah SWT menjanjikan tambahan karunia bagi orang yang bersyukur (QS Ibrahim/14:7). Maka tak apa, bahkan baik saja, bahwa dengan bersyukur engkau mengharapkan tambahan karunia dari Allah SWT. Namun menurut Ibnu Arobi, apa yang penting dari ayat itu adalah konsekuensinya bagi hak Allah atas manusia. Karena Allah adalah syakûr (Maha Bersyukur), yakni senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada manusia, maka ayat itu lebih merupakan isyarat agar manusia memberikan tambahan bersyukurnya kepada Allah SWT. Karena Allah SWT senantiasa bersyukur kepadamu, maka adalah kewajibanmu untuk senantiasa menambah bentuk-bentuk syukurmu kepada Allah SWT.

Di atas semuanya, penting digarisbawahi bahwa bersyukur merupakan sifat Tuhan. Salah satu nama Tuhan adalah syakûr (Maha Bersyukur). Maka dengan bersyukur, seseorang sebenarnya sedang meniru laku ilahi. Bersyukur adalah akhlak Allah SWT. Nabi Muhammad memerintahkan ummatnya untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Maka dengan bersyukur, seseorang berusaha berakhlak  dengan salah satu akhlak Allah. Dikatakan dengan cara lain, dengan bersyukur, seseorang sebenarnya sedang merealisasikan, memproyeksikan, dan memanifestasikan salah satu sifat ilahiah di dalam dirinya. Berbahagialah orang yang senantiasa merealisasikan sifat-sifat ilahiah di dalam dirinya. Amin. Salam. []

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: