Jamal D. Rahman

9 Maret 2016

Moral Islam tentang Gerhana

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Islam hadir menyikapi pandangan masyarakat tentang banyak hal. Di antaranya pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana matahari dan bulan. Dalam konteks itu, Islam menepis mitos dan pandangan primitif abad ke-7 tentang gerhana, sekaligus menekankan dimensi relijius, spiritual, dan sosial pada gerhana itu sendiri sebagai missi kenabian Nabi Muhammad.

Masyarakat Arab pra-Islam memandang gerhana sebagai sesuatu yang menakutkan. Gerhana adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi, baik dari kematian maupun kelahiran. Gerhana adalah sumber bencana dan malapetaka. Dalam perspektif sekarang, kita dapat mengatakan bahwa pandangan tersebut bersifat primitif.

Pandangan primitif itu masih hidup saat Islam datang. Ketika putra Nabi Muhammad, Ibrahim, meninggal, yang bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari, mereka mengatakan bahwa gerhana itu terjadi karena kepergian putra Nabi Muhammad. Dalam konteks itulah Nabi Muhammad bersabda: “Matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya mengalami gerhana bukan karena atau sebab bagi kematian atau kelahiran seseorang.” Selanjutnya Nabi Muhammad menganjurkan untuk melaksanakan shalat, bertasbih, berzikir, bertahlil, bersedekah, dan memerdekakan budak. Dengan pernyataan dan anjuran Nabi tersebut, Islam jelas menepis segi mitis dan primitif dari pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana.

Dari laporan berbagai Hadis, Nabi Muhammad tampaknya beberapa kali melaksanakan shalat gerhana. Karenanya, laporan tentang bagaimana Nabi melaksanakan shalat gerhana matahari berbeda-beda. Ada yang menyebutkan Nabi Muhammad shalat gerhana dengan dua ruku’ dalam satu rakaat; ada yang menyebutkan dengan satu ruku’ dalam satu rakaat. Bahkan ada yang menyebutkan empat, enam, dan delapan ruku’ dalam satu rakaat. Ada yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad membaca bacaan dalam shalat gerhana dengan nyaring; ada yang menyebutkan tidak nyaring. Tapi, setahu saya, semua hadis menyebutkan bahwa shalat gerhana dua rakaat.

Perbedaan (laporan) Hadis ini menimbulkan perbedaan tata-cara shalat gerhana di antara mazhab-mazhab fiqih. Di Indonesia, pada umumnya umat Islam menganut mazhab Syafi’i: dua ruku’ dalam satu rakaat, dan bacaan tidak dibaca nyaring.

Yang penting digarisbawahi adalah moral Islam dalam menyikapi gerhana. Dengan menepis segi mitis dan primitif dari pandangan Arab pra-Islam tentang gerhana, Islam menekankan dimensi relijius dan spiritual. Gerhana tak lain adalah tanda kebesaran Tuhan, bukan sesuatu yang menakutkan apalagi menimbulkan malapetaka. Ia adalah fenomena alam “biasa”, yang mestinya membangkitkan kesadaran relijius dan spiritual seseorang. Ia mestinya mengingatkan manusia pada kemahaagungan Tuhan: Robbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilan, ‘Tuhan kami, tak sia-sia Kauciptakan [gerhana] ini’.

Pandangan itu sebenarnya mengandung konsekuensi keilmuan, yakni keharusan memahami fenomena alam secara empiris untuk memperoleh pemahaman sebaik mungkin tentang fenomena alam itu sendiri. Semakin baik pemahaman kita tentang alam akan semakin baik pula penghayatan relijius dan spiritual kita tentang gerhana. Dalam kaitan itu, penelitian-penelitian astronomi mestinya digalakkan di Dunia Islam sebagaimana pernah dicapai para ilmuwan Muslim di abad ke-8 dan seterusnya, yang sayangnya mengalami kemandegan seiring dengan kemunduran Islam dalam berbagai aspeknya. Perkembangan sains jelas sangat membantu kita dalam memahami dan menghayati gerhana sebagai tanda keagungan Tuhan.

Yang tak kalah penting, Nabi Muhammad juga menganjurkan umat Islam untuk bersedekah dan memerdekakan budak saat terjadi gerhana. Inilah dimensi sosial dan kemanusiaan gerhana. Konsekuensi dari kesadaran relijius dan spiritual yang dibangkitkan oleh gerhana adalah munculnya kesadaran sosial dan semangat kemanusiaan. Kesadaran spiritual pada akhirnya  harus memancarkan solidaritas sosial, sekecil apa pun. Persis seperti pengalaman isro’-mi’roj Nabi Muhammad: setelah mencapai puncak pengalaman spiritual, Nabi Muhammad kembali ke bumi untuk menjalankan tanggungjawab sosial-relijiusnya secara konkret.

Sejauh ini tampaknya umat Islam lebih fokus pada segi relijius dan spiritual gerhana. Menyambut gerhana matahari total (GMT), Rabu (9-3-2016), misalnya, anjuran shalat gerhana beredar cukup luas. Dan shalat gerhana pun dilaksanakan di mana-mana. Tetapi sementara itu nyaris tak terdengar umat Islam sibuk mendistribusikan sedekah atau melakukan kegiatan sosial membantu orang-orang yang kurang beruntung.

Dalam arti itu, umat Islam baru menekankan segi relijius dan spiritual gerhana, tetapi masih mengabaikan segi sosial gerhana itu sendiri sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad. Salam. []

1 Komentar »

  1. luar biasa…sangat mencerahkan

    Komentar oleh ali — 9 Maret 2016 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: