Jamal D. Rahman

8 Februari 2016

Puisi, Do’a, dan Sepeda

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

 

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi dan do’a memiliki hubungan khusus, lebih dari hubungan puisi dengan segi-segi kehidupan lain. Do’a tentu saja merupakan laku relijius dalam tradisi keagamaan apa pun, yang dengannya seseorang menjalin hubungan khusus dengan Tuhan. Demikianlah maka hubungan puisi dengan do’a adalah hubungan puisi dengan aspek sangat dalam dari tradisi relijius dan spiritual. Dan hubungan puisi dengan tradisi relijius dalam agama pada akhirnya adalah hubungan puisi dengan kitab suci, firman Tuhan yang merupakan sumber ajaran agama itu sendiri. Maka di ujung terjauh hubungan puisi dengan kitab suci adalah hubungan puisi dengan Tuhan, dan hubungan puisi dengan Tuhan adalah puisi sebagai do’a.

Dalam banyak bagian, kitab suci sangat puitis ―sekiranya tak dapat dikatakan bahwa kitab suci itu sendiri merupakan Puisi, meskipun dengan P besar. Tuhan sendiri adalah Wujud yang Indah dan mencintai keindahan. Karena itu, Tuhan menyukai bahkan mencintai puisi. Tidaklah mengherankan kalau banyak do’a yang diciptakan para guru rohani begitu puitis, sebab ia dipersembahkan kepada Dia yang mencintai puisi. Tuhan menyeru manusia untuk berdo’a kepada-Nya, dan tentulah Dia senang pula mendengar do’a-do’a yang puitis. Dalam keasyikan dengan do’a yang puitis, yakni dalam bahasa puisi, inilah manusia melakukan hubungan sangat mesra dengan Tuhan sebagai ekspresi relijius mereka. Demikianlah maka puisi do’a merupakan ekspresi relijius yang dengannya manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan lewat bahasa yang indah. Dan komunikasi itu dilakukan lewat puisi karena Tuhan mencintai puisi. Di sinilah antara lain terletak kekhususan hubungan puisi dengan do’a.

Ini berbeda dengan banyak kasus dimana penyair menulis puisi bukan ditujukan kepada seseorang atau sekelompok orang yang mencintai puisi, melainkan justru kepada seseorang atau sekelompok orang yang tidak mencintai puisi. Banyak penyair menjalankan semacam absurditas ini. Seorang penyair tahu bahwa kekasihnya tidak mencintai puisi, toh dia menulis puisi cinta untuknya. Tapi bagaimanapun, puisinya tetaplah memiliki arti sebagai ekspresi estetis dan lain sebagainya. Penyair lain menulis puisi kritik sosial-politik untuk pemerintah yang tidak mencintai puisi, dan bisa dipastikan tidak menyukai kritik yang dikemukakan dalam puisi itu sendiri pula. Toh si penyair tetap menuliskan kritiknya dalam puisi ―barangkali sambil membayangkan kelompok sosial lain yang mencintai puisi, atau setidaknya menyukai apa yang dikemukakan dalam puisinya. Tapi bagaimanapun, puisi itu tetaplah memiliki arti penting, baik secara budaya, moral, maupun sosial. Nah, kalau puisi yang ditujukan kepada orang yang tidak menyukai puisi saja memiliki arti, apatah lagi puisi yang ditujukan kepada Dia yang memang mencintai puisi.

Puisi do’a adalah persembahan seorang pecinta puisi kepada Tuhan yang juga Pecinta puisi. Melalui puisi do’a, seorang pecinta puisi mengadukan dan memohon apa saja kepada Pecinta Sejati puisi. Dalam bara api cinta terhadap puisi itulah mereka berjumpa. Sebagai ekspresi relijius, puisi do’a pasti selalu relevan bagi Tuhan. Pintu kemurahan Tuhan selalu terbuka bagi pengaduan dan permohonan apa pun.

Tentu saja, puisi pertama-tama memberikan dimensi estetis dan emotif pada berbagai segi kehidupan yang dikandung dalam puisi itu sendiri. Tapi segi terdalam dari aspek estetis dan emotif pada akhirnya adalah dimensi relijius dan spiritual sebagai dimensi rohaniah manusia. Seorang penyair menulis puisi secara maksimal tentang apa saja yang menarik perhatiannya, termasuk renungan atau pengalaman relijius dan spiritualnya. Sementara itu, seorang mistikus menuangkan renungan relijius dan spiritualnya dalam berbagai cara, termasuk puisi sebagaimana dilakukan para penyair sufi. Apa pun cara yang dipilih seorang mistikus agung untuk menuangkan renungan relijius dan spiritualnya dapat dikatakan niscaya puitis, sebab ia memancarkan cahaya kerohanian. Tarian-berputar Rumi, misalnya, adalah ekspresi relijius yang sangat puitis. Pada titik ini, baik penyair maupun mistikus sama-sama bekerja dengan segenap tenaga rohaniahnya, intuisinya, dan imajinasi kreatifnya. Dalam arti itulah, baik pengalaman penyair dalam menulis puisi maupun pengalaman rohani mistikus bersifat emotif sekaligus spiritual, dalam ukuran masing-masing.

Karena do’a merupakan permohonan, seringkali muncul godaan untuk mengetahui rahasia kapan atau berapa lama Tuhan mengabulkan sebuah do’a. Kita lupa, orangtua tidak selalu langsung mengabulkan permintaan anaknya, bukan karena sang orangtua tidak mau mengabulkannya melainkan karena dia menikmati cara-cara kreatif anak dalam mengekspresikan keinginannya. Kemaren sang anak merengek minta sepeda. Hari ini, di buku gambarnya, dia melukis sepeda lalu menunjukkannya kepada sang orangtua. Sang orangtua menerimanya dengan bangga. Esok si anak melukis sepeda lagi lalu menunjukkan kepada orangtuanya dengan rasa girang seakan dia menunjukkan sebuah penemuan baru. Si anak pun bahagia bahwa orangtuanya bangga dengan kreativitas-kreativitasnya.

Dalam pada itu, kita lupa pula, bahwa kita pernah segera memenuhi permintaan seorang pengemis hanya agar dia segera pergi. Adakah orang mau do’anya dikabulkan dengan cara seperti ini?

Puisi do’a adalah ekspresi keintiman dan kehangatan manusia dengan Tuhannya saat mereka bersama-sama menikmati puisi. Tentu ada harapan do’anya dikabulkan. Tapi bagaimanapun, cukuplah sekiranya dia dan Tuhannya bersama-sama menikmati puisi do’a yang dia senandungkan di taman rohaninya yang sakral. []

“Catatan Kebudayaan” majalah Horison, edisi Maret 2015.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: