Jamal D. Rahman

8 Februari 2016

Pesan Perdamaian dari Vietnam

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00
Istana Presiden Vietnam

Para penyair di tangga Istana Presiden Vietnam.

Oleh Jamal D. Rahman

Siang terasa sejuk ketika tujuh bus kami berhenti tepat di depan tangga Istana Presiden Vietnam. Karpet merah yang membentang pada tangga istana itu seakan menyambut kami dengan hangat. Sementara satu-dua orang dari kami menyempatkan diri berfoto di tangga dan teras istana, kami memasuki istana berwarna emas itu. Kami memasuki ruang pertemuan yang terletak di bagian paling depan gedung istana, di mana Presiden Vietnam Truong Tan Sang akan menerima kami peserta Festival Puisi Asia-Pasifik Kedua (The 2nd Asia-Pasific Poetry Festival). Sambil menunggu presiden, sebagian kami sempat berfoto-foto di dalam ruang pertemuan. Tak ada larangan memotret. Juga tak ada peringatan untuk menonaktifkan telpon genggam. Tak ada pula detektor keamanan. Tak ada pemeriksaan. Seakan tak ada protokoler. Juga tak tampak aparat keamanan berjaga-jaga.

Presiden Truong Tan Sang memasuki ruangan sepuluh menit setelah kami tiba. Tak ada penghormatan khusus menyambut kedatangan presiden, bahkan juga tak ada pemberitahuan bahwa presiden tengah memasuki ruangan. Tahu bahwa presiden Vietnam yang menjabat sejak tahun 2011 itu sudah berada di ruangan, kami pun duduk tertib. Tapi satu-dua orang dari kami maju untuk mengambil gambar. Tak ada peringatan untuk tak mengambil gambar. Semua mengukur ketertiban dan kepatutan sendiri-sendiri. Pertemuan dengan Presiden Truong Tan Sang di istana berarsitektur kolonial Prancis itu, 5 Maret 2015, terasa santai namun khidmat.

“Selamat datang di Vietnam,” Presiden Truong Tan Sang memulai pidatonya, setelah beberapa sambutan. Suaranya pelan, tenang, dan lembut, nyaris tanpa aksentuasi, namun terasa bertenaga. Semua hadirin diam menyimak pidato sang presiden dalam bahasa Vietnam yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu. “Saya sangat senang dengan kehadiran anda sekalian.”

Truong Tan Sang kemudian menggarisbawahi peranan penting puisi sebagai sentuhan budaya dalam pembangunan suatu bangsa. Dengan patung Ho Chi Manh di belakangnya, Truong Tan Sang mengutip presiden pertama Vietnam yang juga penyair itu. “Sentuhan budaya adalah jalan hidup kami,” katanya. Dan, katanya lagi, kebudayaan memiliki peranan penting dalam kehidupan, kemanusiaan, ketulusan, dan kepribadian suatu bangsa. Karena itu, dia menekankan pentingnya membangun persahabatan dan kerjasama budaya antarnegara, sebagaimana misalnya telah dilakukan para ilmuwan dari berbagai negara dengan Vietnam. “Beberapa ilmuwan dari negara anda telah datang ke Vietnam untuk membangun kerjasama dengan Vietnam,” katanya pula.

Presiden Truong Tan Sang memandang Festival ini sebagai pertemuan penting, bukan saja bagi puisi dan sastra, melainkan juga dan terutama bagi kemanusiaan. “Saya percaya pertemuan ini adalah nyanyian cinta untuk solidaritas, perdamaian, persahabatan, kebahagiaan, dan keberhasilan bersama, untuk menciptakan dunia yang indah dalam kehidupan kita.” Menurut presiden, Festival merupakan pertemuan yang akan meningkatkan saling pengertian antarnegara, khususnya antarnegara peserta Festival itu sendiri. “Maka, dengan seluruh penghargaan saya, saya mengucapkan selamat atas pertemuan ini. Anda semua adalah sahabat-sahabat terhormat kami.”

Usai pertemuan, presiden berfoto bersama seluruh peserta di tangga istana.

Pertemuan dengan Presiden Truong Tan Sang di Hanoi, ibukota Vietnam, itu adalah salah satu rangkaian acara Festival Puisi Asia-Pasifik Kedua, di Vietnam, 2-6 Maret 2015. Festival itu sendiri diikuti sekitar 300 peserta dari 43 negara dari 5 benua. Para peserta adalah penyair, kritikus sastra, dan penerjemah sastra Vietnam ke berbagai bahasa. Peserta dari Indonesia adalah Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, dan Didik Siswantono. Festival diselenggarakan oleh Asosiasi Penulis Vietnam (The Vietnam Writers Association), yang berpusat di Hanoi dan memiliki cabang di provinsi.

Di Hanoi, acara berlangsung di empat tempat, yaitu Istana Persahatan Budaya (The Palace of Cultural Friedship), Opera House, Kuil Sastra (Temple of Literature), dan desa Phu Thi. Yang terakhir ini adalah kampung halaman Cao Ba Quat (1809-1853), penyair besar Vietnam, tempat sang penyair disemayamkan dan kini menjadi tujuan wisata dan ziarah. Selain itu, acara berlangsung pula di dua provinsi, yaitu Quang Ninh dan Bac Ninh. Selain berisi sambutan, acara berisi pembacaan puisi, pementasan tari dan musik tradisional Vietnam.

Pesan perdamaian dan persahabatan disuarakan sejak hari pertama Festival. Dalam pidato pada seremoni pembukaan, yang berlangsung di Istana Persahatan Budaya (The Palace of Cultural Friedship), Hanoi, Senin, 2 Maret 2015, Ketua Asosiasi Penulis Vietnam Huu Thinh menegaskan keharusan puisi dan sastra ambil bagian dalam usaha mewujudkan perdamaian dunia. Dia mengajak semua kebudayaan duduk bersama untuk kebenaran dan cinta. “Mari kita bersama-sama,” seru Huu Thinh yang juga penyair itu. “Kita akan menyalakan api harapan sehingga setiap orang sadar bahwa pusat perhatian dunia sekarang bukan lagi pasar bebas, melainkan pembangunan yang melampaui semua bentuk kontrol, bukan sistem berpikir lama yang mengancam dan menggunakan senjata untuk memecahkan problem di seluruh dunia, melainkan perdamaian, dialog, dan kerjasama dalam semua aspek yang mungkin,” kata Huu Thinh yang juga ketua Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam.

Seruan perdamaian ini disuarakan di semua tempat acara. Di Bac Ninh, seruan perdamaian dikemukakan secara simbolis. Kami disambut oleh pagar ayu dan tarian tradisi dengan iringan musik tradisi pula. Kepada kami dibagikan burung-burung merpati, yang secara konvensional merupakan simbol perdamaian. Lalu kami berdiri di tangga gedung Pusat Kebudayaan Kinh Bac, tempat acara berlangsung. Di sini, sebelum kami masuk ke dalam gedung pertunjukan, kami melepaskan burung-burung merpati itu ke udara. Musik dan tepuk tangan membahana mengiringi burung-burung merpati terbang bebas di udara Bac Ninh yang cerah.

Vietnam memiliki apresiasi tinggi terhadap puisi dan sastra pada umumnya. Kami memang mengunjungi tempat-tempat wisata, antara lain Ha Long Bay yang menakjubkan dengan pulau-pulau batu yang indah dan gua raksasa bebatuan yang memukau, yang oleh Unesco diakui sebagai warisan dunia. Tapi yang lebih penting adalah kunjungan ke tempat-tempat wisata sastra di Vietnam. Yakni tempat-tempat yang menunjukkan bahwa puisi dan sastra menempati posisi penting di hati masyarakat Vietnam. Ada tiga tempat wisata sastra Vietnam yang kami kunjungi.

Pertama, Museum Sastra Vietnam. Seperti umumnya museum, di sini disimpan dan dipamerkan sejumlah buku penting karya sastra Vietnam, foto dan patung sastrawan Vietnam, sebagian lengkap dengan pena, mesin ketik, pakaian, dan topi kesukaan sang sastrawan. Ada pula semacam diorama sastra(wan) Vietnam dari zaman ke zaman bahkan sampai sekarang, yang menggambarkan perjuangan sastra dalam sejarah dan politik Vietnam. Sudah tentu ada patung Ho Chi Minh (1890-1969), penyair yang juga presiden pertama Vietnam (Utara) yang sangat dihormati, beberapa karyanya, biografi singkatnya, dan foto-foto perjuangannya. Ada juga foto-foto kerja sama di bidang sastra antara Vietnam dengan berbagai negara, lengkap dengan bendera masing-masing negara. Penting dicatat bahwa museum yang dikelola oleh Asosiasi Penulis Vietnam ini berupa bangunan 6 lantai yang semuanya berisi pameran kehidupan sastra dan sastrawan Vietnam.

Kedua, kampung Phu Thi, Gia Lam, Hanoi. Ini adalah kampung halaman Cao Ba Quat (1809-1853), penyair besar Vietnam, tempat sang penyair disemayamkan secara khusus dan kini menjadi tujuan wisata dan ziarah. Bejarak 19 km dari pusat kota Hanoi, area makam penyair Cao Ba Quat di desa Phu Thi seluas kira-kira 5 ribu meter persegi, di mana dia dimakamkan seorang diri. Kompleks itu berhalaman luas, dilengkapi dengan kolam dan taman. Ia berdekatan dengan pasar tradisional, jadi berada di pusat keramaian desa. Petikan puisi-puisi Cao Ba Quat dipahat pada beberapa batu berukuran 1,5 x 2 m, ditempatkan di beberapa sudut kompleks. Di pelataran makam Cao Ba Quat inilah salah satu acara Festival berlangsung, diawali dengan ziarah ke makam sang penyair yang terletak di dalam sebuah bangunan khusus.

Hari itu saya tidak memakai jaket. Udara dan angin desa yang sangat dingin pada acara di ruang terbuka itu memaksa saya menyelamatkan tubuh ke dalam bangunan di samping bangunan makam penyair Cao Ba Quat.

Ketiga, Kuil Sastra (The Temple of Literature). Ini merupakan area bangunan kuno, seluas 5,4 hektar. Dibangun pada tahun 1070, semula ia merupakan kuil yang didedikasikan untuk Kong Hu Cu, sekaligus merupakan universitas pertama di Vietnam. Kompleks sejumlah bangunan yang terdiri dari lima pelataran ini beberapa kali mengalami kerusakan dan restorasi. Kini, di samping merupakan warisan sejarah Vietnam dan tujuan wisata, ia merupakan simbol budaya intelektual Vietnam, sekaligus merupakan tempat kegiatan-kegiatan budaya, termasuk Festival Puisi Asia-Pasifik. Di samping pembacaan puisi, pentas musik dan tari tradisi, digelar pula upacara khusus, yaitu pelesapan puluhan balon berwarna merah. Di Kuil Sastra ini, foto seluruh peserta Festival dipajang mengelilingi kolam. Balon-balon dilepas ke udara dari sekeling kolam, dari sela foto-foto para peserta Festival, di bawah gerimis tipis-tipis.

Gerimis memang mengguyur kawasan Kuil Sastra sejak kami tiba. Tenda di pelataran tempat acara berlangsung tak mampu menaungi kami yang berjubel bersama para pengunjung lain yang membeludak. Kami pun menepi ke bangunan-bangunan di sekitar tenda, di mana toko-toko menjual berbagai souvenir. Namun demikian, hadirin tetap bertahan mengikuti acara. Seperti kami juga. Sampai balon-balon merah dilepas ke udara.

Penting pula dicatat bahwa Vietnam memberikan tempat khusus bagi penerjemah sastra Vietnam ke berbagai bahasa dunia. Mereka juga diundang menghadiri Festival Asia-Pasifik ini. Vietnam sedang menggencarkan promosi sastra Vietnam ke seluruh dunia terutama melalui penerjemahan sastra Vietnam itu sendiri ke berbagai bahasa dunia. Di samping itu, Vietnam giat memperkenalkan sastra Vietnam ke seluruh dunia. Itu sebabnya, bersamaan dengan Festival Puisi Asia-Pasifik ini berlangsung pula Konferensi Internasional Sastra Vietnam. Konferensi menampilkan pembicara dan akademisi sastra Vietnam dari berbagai negara. Peserta Festival Puisi Asia-Pasifik mendapat undangan resmi untuk mengikuti Konferensi tersebut, yang diselenggarakan di Army Hotel, Hanoi, tempat para peserta Festival menginap. Bahasa yang digunakan dalam konferensi adalah bahasa Vietnam. Peserta asing mengikutinya lewat bahasa Inggris melalui headphone yang disediakan panitia.

Tujuan konferensi itu sendiri memang memperkenalkan sastra Vietnam kepada dunia. “Kami tak mau hanya menjadi pasar yang menkonsumsi sastra dunia; kami harus menjadi patner pertukaran budaya,” kata Huu Thinh tentang Konferensi Internasional Sastra Vietnam itu. Secara metaforis, Huu Thinh mengatakan pula bahwa Konferensi tersebut ingin meraih dua hal sekaligus: “Membantu anda sampai di hutan, dan pada saat yang sama menemukan bayang-bayang pohon.”

Dan benar: saya merasa memasuki hutan sastra Vietnam, lalu perlahan-lahan mulai melihat bayang-bayang pohon di sana. []

“Catatan Kebudayaan” majalah Horison,edisi April 2015.  

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: