Jamal D. Rahman

4 Oktober 2015

Raja Ali Haji, Oktober, dan Senja

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00
20140913_180028

Di kompleks makam Raja Ali Haji

Oleh Jamal D. Rahman

Kompleks makam keluarga Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat sore itu sunyi. Kemarau sepi. Waktu berhenti. Dan semua diam. Tenang. Khusyuk. Saya pun tenggelam di tengah suasana khidmat beraroma kemarau dengan nisan-nisan yang dibungkus kain kuning ini. Tapi berada di sini, di tengah lingkungan yang menyimpan sejarah politik dan budaya Melayu Riau-Lingga yang penuh guncangan di abad ke-19 ini, hati saya segera berubah jadi riuh. Riuh oleh kelebatan perang hebat melawan kolonialisme, perlawanan sengit yang digerakkan dari pulau kecil ini. Juga, dan terutama, riuh oleh sumbangan besar daerah ini pada kebudayaan Indonesia. Kerajaan Riau-Lingga (kini Provinsi Kepulauan Riau) adalah sejarah ditumpasnya kedaulatan politik kerajaan oleh kolonialisme, sekaligus sejarah tegaknya kebudayaan yang gemilang.

Untuk kesekian kalinya saya ziarah ke makam di kompleks pemakaman yang kini jadi cagar budaya ini, 22 September 2015. Makam utama adalah makam Raja Hamidah yang juga dikenal dengan Engku Puteri, terletak di dalam bangunan utama. Di dindingnya, terpampang secara permanen Gurindam Dua Belas karya monomental Raja Ali Haji. Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Riau-Lingga Mahmud Riayat Syah (dikenal juga dengan Sultan Mahmud III) yang berkuasa sejak tahun 1760 sampai wafat di tahun 1812. Sultan Mahmud sendiri dikuburkan di Lingga, pusat kerajaannya. Pulau Penyengat dihadiahkan Sultan Mahmud kepada Raja Hamidah sebagai mas kawin. Di pulau inilah Engku Hamidah dan beberapa kerabatnya tinggal sampai wafat. Di kompleks ini disemayamkan pula Raja Ali Haji (1809-1873), berdampingan dengan makam ayahnya, Raja Ahmad, yang adalah penasihat kerajaan. Raja Ali Haji sendiri adalah pujangga sekaligus penasihat kerajaan.

Meskipun berbeda generasi, Raja Hamidah dan Raja Ali Haji adalah dua sosok yang dapat mewakili tertumpasnya kedaulatan politik oleh kolonialisme di satu sisi, dan tegaknya kekuatan budaya di sisi lain. Dengan merangseknya kekuatan kolonial Belanda ke jantung Kerajaan Riau-Lingga, perlahan-lahan terlucutilah kedaulatan politik kerajaan itu. Raja Hamidah berusaha mati-matian mempertahankan kedaulatan kerajaan, terutama dengan menyelamatkan regelia sebagai simbol kerajaan itu sendiri. Tapi armada politik dan militer kolonial terlalu kuat untuk dilawan, hingga Kerajaan Riau-Lingga pun kian lemah dan akhirnya dibubarkan oleh Belanda.

Di tengah merosotnya kekuatan politik Kerajaan Riau-Lingga terutama sejak awal abad ke-19, Kerajaan Riau-Lingga memulai tradisi baru, dimana kegiatan intelektual mulai digalakkan. Kerajaan menyokong sepenuhnya kegiatan intelektual ini, antara lain dengan mengangkat Raja Ali Haji sebagai pujangga kerajaan. Dalam perkembangan selanjutnya, kerajaan terus menyokong kegiatan budaya ini sehingga terus berkembang. Hasilnya adalah karya-karya tulis berbahasa Melayu yang merupakan warisan budaya yang gemilang. Jadilah pulau Penyengat pusat intelektual Melayu-Riau di abad ke-19. Tokoh utamanya tak diragukan lagi adalah Raja Ali Haji, yang telah melahirkan sedikitnya 12 karya monumental di bidang sejarah, politik, agama, bahasa, dan sastra. Dengan kemajuan di bidang intelektual ini, kebudayaan Melayu tegak di tengah merosotnya kekuatan politik Kerajaan Riau-Lingga.

Ketika kita merayakan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra, sudah sepatutnya kita kenang juga Raja Ali Haji. Jasanya begitu besar terhadap bahasa dan sastra Melayu-Indonesia.

Berkaitan dengan bahasa dan sastra, dimana kita merayakan bulan Oktober ini sebagai Bulan Bahasa dan Sastra, setidaknya ada tiga hal yang penting dicatat.

Pertama, dia adalah penulis pertama kamus ensiklopedis bahasa Melayu ekabahasa. Judul kamus itu adalah Kitab Pengetahuan Bahasa, setebalnya 466 halaman, ukuran folio. Tidak seperti kamus yang kita kenal sekarang, karya Raja Ali Haji ini menguraikan lema secara panjang-lebar, bahkan kadang dengan sejumlah larik syair. Dalam arti itu ia menyerupai ensiklopedi. Dengan demikian, kita dapat pula menyimpulkan bahwa Raja Ali Haji adalah penulis eksiklopedi pertama dalam bahasa Melayu-Indonesia.

Kedua, dia adalah penulis pertama buku tata bahasa Melayu. Judul buku itu adalah Bustanul Katibin. Dalam menyusun tata bahasa, Raja Ali Haji mengadopsi tata bahasa Arab. Sayang, karena kolonialisme, tata bahasa yang kita gunakan sekarang mengacu pada bahasa-bahasa Barat, sehingga karya Raja Ali Haji ini tak relevan lagi bagi kita sekarang. Tapi bagaimanapun, dengan Kitab Pengetahuan Bahasa dan Bustanul Katibin cukuplah untuk mengatakan bahwa Raja Ali Haji adalah linguis bahasa Melayu-Indonesia pertama.

Ketiga, dia adalah peletak gurindam, bentuk puisi baru yang sejauh itu belum dikenal dalam khazanah sastra Melayu. Dalam arti itu, dia adalah pembaharu sastra Melayu. Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji sangat terkenal. Di Riau, Festival Gurindam diadakan setiap tahun. Penting pula dicatat bahwa dia adalah juga penulis produktif sejumlah syair, puisi tradisional Melayu itu, dengan setidaknya 5 judul buku, yang seluruhnya setebal 600-an halaman. Tak diragukan lagi bahwa dengan karya-karyanya ini Raja Ali Haji adalah penyair, dan dengan seluruh karya intelektualnya dia adalah pujangga dipujangga.

Dengan seluruh sumbangan intelektualnya yang besar khususnya di bidang bahasa dan sastra ini, Raja Ali Haji dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional di tahun 2004. Dan, ketika kita merayakan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra, sudah sepatutnya kita kenang juga pujangga kita ini. Jasanya begitu besar terhadap bahasa dan sastra Melayu-Indonesia.

Saya ziarah ke makam Raja Ali Haji sore itu dengan perasaan tersendiri. Sebab, pada pagi hingga siang harinya saya mengisi bengkel sastra untuk siswa setingkat SMA di Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Bengkel itu sendiri diselenggarakan oleh Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di antara materi bengkel adalah mendiskusikan syair dan gurindam Raja Ali Haji. Lalu saya mengajak peserta menulis gurindam (di samping bentuk-bentuk puisi yang lain). Menurut peserta, mereka sudah pernah menulis pantun, puisi, cerpen, dan lain-lain, namun belum pernah menulis gurindam. Jadi, itulah untuk pertama kalinya mereka menulis gurindam. Di pusara Raja Ali Haji, dengan suara lirih saya sampaikan bahwa zuriatnya barusan tadi menulis gurindam.

Senja turun kian rendah di kompleks pemakaman yang sepi itu. Siang kan segera usai. Saya harus segera pamit sebelum malam menyergap perahu yang akan menyeberangkan saya ke Tanjungpinang. []

“Catatan Kebudayaan” majalah Horison edisi Oktober 2015.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: