Jamal D. Rahman

23 Agustus 2015

Shalatmu, Istana Rohanimu

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Shalat adalah istana rohanimu yang suci dan megah. Di situlah engkau istirahat sejenak dari semua kesibukan duniawimu. Maka ke sanalah engkau kembali setelah perjalananmu yang melelahkan, dan di situlah engkau bisa menjumpai Tuhan dengan mesra, menemui Rosulullah, dan menemukan dirimu sendiri. Setiap kali engkau kembali ke istana rohanimu, engkau memperbaharui diri, engkau terlahir kembali.

Kini engkau akan memasuki istana rohanimu yang suci. Karena istana rohanimu suci, maka engkau pun telah berwudu, membersihkan diri dari lumut-mulut kotor di dalam dirimu. Kini engkau berdiri di depan pintu gerbang istana itu. Engkau berdiri, sebagai ekspresi seluruh kesungguhanmu, penghormatanmu, dan terutama kesadaranmu pada istana suci dan megah itu. Engkau tegak, menyatukan konsentrasi dan seluruh energi batinmu sebab kini engkau berada tepat di depan pintu gerbang rohanimu. Engkau akan menemui dirimu sendiri yang paling sejati.

Engkau menghadap ka’bah, tetapi sesungguhnya engkau menghadap hatimu sendiri. Engkau tak meninggalkan laku fisik dalam menghadap ka’bah, sebab engkau harus menyatukan tindakan fisik dengan tindakan spiritual. Engkau memang harus selalu menyatukan laku jasmani dan laku rohanimu. Engkau adalah makluk jasmani dan rohani, dan engkau tak boleh memisahkannya. Maka engkau tak bisa shalat hanya dengan hatimu belaka. Engkau harus shalat dengan segenap jasmani dan rohanimu. Demikianlah engkau menghadap ka’bah secara fisik, pada saat yang sama engkau menghadap hatimu sendiri secara rohani. Dan, menghadap hatimu sendiri adalah menghadap ke singgasana paling istimewa dalam istana rohanimu.

Di situlah Tuhan bersinggasana, didampingi nabi yang paling dimuliakan-Nya. Dan itulah yang membuat istana rohanimu begitu megah dan mewah. Tapi hanya mata batinmu yang mampu melihat kemegahan istana rohanimu. Maka bukalah mata batinmu, bukalah mati hatimu, dan lihatlah istanamu yang begitu megah itu. Dunia batinmu begitu kagum pada kemegahan dan kemewahan istana itu. Sedemikian megah dan mewah, sehingga engkau pun bertakbir, mengagungkan nama Tuhan. Allahu akbar. Seakan engkau bergumam, “Maha Besar Tuhan yang bersemayam dalam singgasana rohaniku; Maha Besar Tuhan yang telah membangun istana megah ini untukku.”

Takbir adalah kunci pintu gerbang istana rohanimu. Sekali engkau membuka gerbang istana dengan kunci itu, gerbang istana rohanimu pun terbuka. Lalu engkau memasukinya dengan hati paling khusyuk. Maka kini engkau berada di ruang tunggu istana itu. Di sini engkau merasa bahagia dan takjub tak alang-kepalang, sebab kini engkau telah berada di dalam istanamu yang agung. Rasa bahagia dan takjubmu membubung, meninggi, memuncak. Engkau pun ber-mi’raj. Hanya selangkah setelah memasuki istana, engkau tenggelam di lautan pesona. Interior istana rohanimu lebih menakjubkan lagi dan penuh pesona. Dalam keadaan tenggelam di lautan pesona itulah, engkau memuji Tuhan: segala puji hanya milik Allah. Kabîron walhamdu lillâhi katsîron wa subhanallâhi bukrotan wa ashîla. ‘Maha Besar Allah. Segala puji milik Allah. Dan Mahasuci Allah, siang maupun malam.’

Engkau tak kuasa menahan pesona istana rohanimu. Engkau benar-benar hanyut dalam gelombang keagungan batinmu sendiri, yang dibangun oleh kemegahan dan kemewahn istana rohanimu juga. Engkau tenggelam. Engkau karam. Pada titik itulah engkau menyadari bahwa di dalam istana rohanimu, dengan segala interiornya yang mempesona itu, Tuhan sedang menunggumu. Tenggelam di lautan pesona dan keindahan rohanimu, yang kausadari tak lain adalah kehadiran Tuhan. Kini engkau berada di dalam istana rohanimu, akan bermuka-muka dengan Tuhanmu yang tak putus-putus merindukan dan mencintaimu. Maka engkau pun berikrar pada dirimu sendiri: ‘Aku hadapkan wajahku pada Dia yang menciptakan langit dan bumi…..’ Innî wajjahtu wajhiya lilladzî fatharos samâwâti wal ardha hanîfan musliman wamâ ana minal musyrikîn.

Engkau membaca ayat-ayat suci di hadapan Tuhan yang kini bersinggasana di istana rohanimu, di mana jarak antara engkau dan Tuhan hanya satu inci. Suaramu yang lirih terdengar begitu merdu. Dan Tuhan pasti mendengar suaramu. Ah, alangkah romantis suasana itu.

Setelah melewati runga tunggu, engkau maju mendekat ke singgasana Tuhan dalam istana rohanimu itu, selangkah selangkah. Membaca alfatihah, dibuka dengan basmalah. Sekali lagi, dengan perasaan yang kian dalam, engkau memuji Tuhan, Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Dan kini engkau tiba tepat di hadapan Tuhan, bermuka-muka dengan-Nya. Hanya dengan-Nya. Sementara, engkau seorang diri. Istana rohanimu sunyi. Inilah keindahan rohani tak tepermanai, kebahagiaan tak terurai. Pesona segala pesona. Untuk keindahan dan kebahagiaan inilah kautinggalkan sejenak pekerjaanmu, sawah-ladangmu, daganganmu, meja kantormu, meja sekolahmu, komputermu, telpon genggammu…. Tepat saat engkau bermuka-muka dengan Tuhan, setelah berikrar pada diri sendiri, juga setelah memuji untuk kesekian kali, kau berikrar langsung pada Tuhan: “Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami mohon pertolongan” (Iyyâka na`budu wa iyyâka nasta`în).

Ucapanmu itu adalah manifesto rohani. Pada titik ini, engkau tak lagi menyebut dirimu sendiri dengan aku, melainkan dengan kami. Di hadapan Tuhan, engkau melebur bahkan menghancurkan ke-aku-an dan egomu. Engkau merendah: bukan hanya engkau seorang diri yang menyembah Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Di luar istana rohanimu, orang-orang dan alam semesta pun menyembah Tuhan juga.

Dilihat dari dirimu sendiri, dengan cara itu engkau mewakili seluruh anasirmu sendiri, partikel-partikelmu sendiri, anggota tubuhmu sendiri. Engkau menghadap Tuhan dengan totalitas eksistensialmu. Demikian pula saat engkau berdoa kepada Tuhan, menyampaikan proposal petunjuk ke jalan lurus. Petunjuk ke jalan lurus itu bukan untukmu seorang diri, melainkan untuk kami. Engkau tak ingin selamat sendirian. Selamat bersama-sama. Keselamatan bagi semua. Itulah yang kauinginkan.

Setelah puji-pujian dan doa, apa yang kaulakukan selanjutnya? Membacakan beberapa ayat suci. Engkau memilih ayat dari surat apa pun dalam kitab suci. Barangkali ayat-ayat yang sangat puitis, misalnya salah satu surat dalam Juz ‘Amma. Terbayangkah olehmu bahwa engkau kini membacakan ayat-ayat suci yang puitis itu di hadapan Pemiliknya sendiri? Engkau membaca ayat-ayat suci di hadapan Tuhan yang kini bersinggasana di istana rohanimu, di mana jarak antara engkau dan Tuhan hanya satu inci. Suaramu yang lirih terdengar begitu merdu. Dan Tuhan pasti mendengar suaramu. Ah, alangkah romantis suasana itu.

Setelah menyampaikan doa, engkau ruku’, membungkuk, memberi hormat dengan cara merendahkan tubuhmu. Dan sekali lagi engkau bertasbih, memuji keagungan Tuhan. Tapi ruku’ baru transisi antara berdiri dan sujud. Setelah berdiri kembali, í’tidâl, engkau merendahkan tubuhmu serendah-rendahnya. Bahkan engkau meletakkan kepalamu di tempat paling rendah: engkau mencium tanah. Kini engkau menyerupai binatang berkaki empat. Dengan cara itu, engkau merendah serendah-rendahnya. Dan di saat engkau merendah serendah-rendahnya itulah, engkau mengakui bahwa Tuhan Maha Tinggi: Subhâna robbiyal a’lâ wa bihamdih. Tak cukup sekali engkau merendahkan dirimu ke titik paling rendah, melainkan dua kali dalam satu raka’at. Dengan cara itu, telah kau hancurkan bibit-bibit kesombongan dalam dirimu.

Demikianlah engkau telah berdiri, membungkuk, dan bersujud kepada Tuhanmu. Kini tiba waktumu untuk duduk sebagai bagian akhir dari aktivitasmu di istana rohani itu. Adakah kau lihat, siapakah gerangan di hadapanmu kini, selain Allah Swt? Dialah Nabi Muhammad SAW. Ya, Nabi Muhammad bertahta di dalam istana rohanimu, menyaksikan seluruh aktivitasmu sedari tadi. Setelah semua puji-pujian dan penghormatan kepada Allah Swt, kini tiba waktumu untuk bermuka-muka dengan sang nabi dan menyapanya. Dan engkau pun menyapa, Assalamu‘alaika ayyuhannabi, ‘Salam bagimu wahai Nabi.’

Adakah kau dengar nabi kontan menjawab salammu? Sang nabi menjawab salammu, tapi barangkali tak kau sadari bahwa nabi menjawab salam lewat mulutmu sendiri: Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahisshalihin, ‘Salam bagi kita pula, juga bagi hamba-hamba Allah yang soleh.’

Begitulah, masuk ke dalam istana rohanimu adalah mi’raj, perjalanan rohani berjumpa dengan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Setelah berdialog dengan Tuhan dan Nabi Muhammad, engkau pun bersyahadat: memberikan kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Engkau memberikan kesaksian itu di hadapan Allah sendiri, di hadapan Nabi Muhammad sendiri, di istana rohanimu. Lebih jauh engkau menghubungkan diri dengan Nabi Muhammad dan keluarganya. Lalu dengan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkau menyampaikan shalawat dan salam untuk mereka semua. Lihatlah engkau mengaitkan diri dengan mata rantai hamba-hamba terbaik Allah hingga leluhur rohani yang paling dicintai-Nya, yaitu Nabi Ibrahim. Maka engkau pun menjadi bagian dari mata rantai relijius yang begitu ilahi ini.

Akhirnya engkau akan menyudahi perjalanan rohanimu, akan mengakhiri aktivitas di dalam istana rohanimu. Engkau mengucapkan Assalamu’alaikum wa rohamtullahi wa barokatuh, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Engkau menebarkan kedamaian, kasih, dan karunia ke kanan-kirimu. Ya, engkaulah kini duta kedamaian, perdamaian, kasih, dan karunia bagi siapa pun di luar istana rohanimu. Engkaulah kini duta rahmatan lil ‘alamin. []

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: