Jamal D. Rahman

16 Mei 2014

Sastra Kawasan

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Produksi sastra Indonesia akhir-akhir ini tampak relatif tinggi. Hal itu antara lain ditandai dengan maraknya publikasi karya sastra baik di media cetak, dunia maya (internet), dan bahkan dalam penerbitan buku di berbagai daerah, baik oleh penerbit komersial maupun lebih-lebih oleh penerbit non-komersial. Sudah tentu ini merupakan gejala menggembirakan, betapapun kita masih mengharapkan tingginya produksi sastra dibarengi dengan tingginya mutu sastra itu sendiri. Bagaimanapun, produksi sastra yang relatif tinggi patut kita sambut, misalnya dengan mengubah arah pandangan kita terhadap sastra Indonesia. Produksi sastra kita tampak kian menyebar, sehingga perlulah arah pandangan kita terhadap sastra Indonesia menyebar pula secara terencana.

Untuk sebagian, maraknya produksi sastra ini merupakan berkah dari era keterbukaan dan demokrasi kita. Di era reformasi, semua orang bebas bersuara, juga lewat karya sastra. Berbeda dengan era sebelumnya, publikasi sastra di era reformasi bisa dilakukan secara bebas. Sejurus dengan itu, produksi sastra tentu juga didukung atau bahkan dimotori oleh komunitas-komunitas sastra, yang juga bebas tumbuh dan bergerak. Di samping secara rutin mengadakan kegiatan-kegiatan sastra, komunitas sastra mengusahakan penerbitan karya sastra secara terbatas, baik secara insidental maupun berkala.

Penting pula dicatat maraknya dunia maya, yang —betapapun bagi saya masih merupakan belantara— turut menggairahkan kehidupan sastra. Dunia maya memungkinkan produksi sastra terpublikasi dengan mudah dan cepat, sehingga relatif mudah diakses pembaca. Tapi yang lebih penting, dunia maya telah meretas isolasi daerah dalam komunikasi sastra. Dulu, komunikasi sastra merupakan masalah, yang menimbulkan isolasi daerah-daerah tertentu dalam kehidupan sastra kita. Sekarang, dunia internet telah memungkinkan semua daerah sastra saling berkomunikasi satu sama lain. Tentu saja semua itu menggairahkan kehidupan sastra, dan dengan sendirinya meningkatkan produksi sastra.

Sampai batas tertentu, gairah produksi sastra ini menandai babak baru sastra kita, yaitu terjadinya demokratisasi dan redistribusi peta sastra kita dewasa ini. Jika sebelumnya produksi sastra relatif terbatas di kawasan tertentu, khususnya kota-kota besar di Jawa dan Sumatera, belakangan produksi sastra muncul di daerah-daerah lain seperti Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Madura, Ternate, dll. Juga di kota-kota relatif kecil seperti Tasikmalaya, Tanjungpinang, Batam, Kota Baru, dan Solo. Produksi sastra ini bahkan muncul pula di luar negeri, seperti Mesir dan Hongkong.

Semua itu mengantarkan kita pada pentingnya kita memperhatikan apa yang ingin saya sebut regionalisasi sastra, yaitu gejala kegairahan dan kebangkitan sastra Indonesia di suatu daerah atau kawasan, yang secara keseluruhan menghasilkan fenomena sastra kawasan. Telah berlangsung konsolidasi kawasan dan kedaerahan dalam kehidupan sastra kita, sehingga regionalisasi sastra dan sastra kawasan merupakan fenomena penting sastra kita dewasa ini. Pada hemat saya, fenomena sastra kawasan ditandai oleh lima hal.

Pertama, adanya forum-forum sastra kawasan, yakni forum sastra yang diikuti oleh sastrawan dan peminat sastra di suatu kawasan, baik yang dilaksanakan secara insidental maupun rutin. Batasan daerah biasanya longgar. Ada yang berdasarkan provinsi, pulau, atau beberapa kota. Misalnya, Arus Sastra Kalimantan Selatan, Temu Penyair Jawa Barat, Temu Penyair Jawa Timur, dll. Forum-forum sastra kawasan ini mengkonsolidasi hubungan dan jaringan antara sastrawan, kritikus, dan peminat sastra di suatu daerah, yang secara bersama-sama menggairahkan kehidupan sastra di daerah itu sendiri.

Kedua, terbitnya bunga rampai karya sastrawan asal daerah tertentu, baik puisi maupun cerpen. Misalnya, antologi puisi penyair Aceh, Tasikmalaya, Cianjur, Medan, Ternate, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jakarta; antologi cerpen Jawa Tengah, Riau, Yogyakarta, dll. Perlu disebutkan pula bunga rampai karya sastra mahasiswa atau alumni suatu perguruan tinggi. Sebagian bunga rampai tersebut terbit dalam rangka forum sastra kawasan. Buku-buku bunga rampai sastra kawasan ini tentu saja merupakan dokumentasi karya sastra Indonesia di suatu daerah, yang mesti didorong ke arah dokumentasi yang lebih luas. Dengan berbagai bunga rampai ini, tentu saja sedikit-banyak kita dapat melihat dinamika dan perkembangan sastra Indonesia di berbagai kawasan, persamaan dan perbedaan corak umumnya, dan lain sebagainya.

Ketiga, kritik sastra, yaitu pembicaraan tentang karya sastra dari daerah atau kawasan tertentu. Meskipun masih sangat terbatas, banyak antologi sastra kawasan didiskusikan, baik lewat forum sastra atau forum diskusi, pengantar bunga rampai, atau artikel di media massa. Dengan demikian, meskipun bunga rampai karya sastra kawasan lebih merupakan usaha untuk “menampilkan” karya sastra(wan) dari suatu kawasan, namun di situ tampak ada usaha untuk juga melihat fenomena apa yang terjadi dalam sastra di kawasan tersebut, apa yang telah dicapai, dan bagaimana corak karya sastra di kawasan itu sendiri. Sebagian dari kritik sastra kawasan itu bahkan terbit sebagai buku. Di antaranya ialah Contemporary Indonesian Language Poetry from West Jawa (2008) karya Ian Campbell dan Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjunganpinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A Manan (2010) yang ditulis bersama oleh Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Abdul Malik, Al Azhar, dan Raja Malik Hafrizal. Buku pertama mendiskusikan puisi penyair Jawa Barat pasca-Soeharto; buku kedua mendikusikan sastrawan-sastrawan asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Keempat, terbitnya leksikon sastra berdasarkan daerah atau kawasan tertentu. Yaitu buku yang berisi nama-nama sastrawan dari suatu daerah, mencakup biografi, karya, kiprah, prestasi, dan lain sebagainya. Setidaknya sudah terbit Leksikon Sastra Jakarta, Leksikon Sastra Riau, dan Leksikon Sastra Kalimantan Selatan. Terbitnya leksikon-leksikon ini tentu memantapkan fenomena sastra di suatu daerah. Di samping mendokumentasikan sesiapa yang telah berkiprah di dunia sastra, leksikon semacam ini tentu sangat penting dalam melihat perkembangan dan sejarah sastra Indonesia di suatu daerah atau kawasan.

Kelima, penghargaan bagi seseorang yang dianggap berjasa atau mencapai prestasi tertentu di tingkat daerah. Di antaranya adalah penghargaan Sagang (Riau), penghargaan gubernur Jawa Timur dan Jawa Barat. Tak perlu dibicarakan lagi arti penting penghargaan semacam ini bagi kemajuan sastra Indonesia di suatu daerah, dan akhirnya sumbangan daerah pada sastra Indonesia secara nasional.

Kelima hal itu tentu bukan fenomena yang sama sekali baru. Namun sebagai gejala kehidupan sastra, kelimanya tampak kian kuat dalam kehidupan sastra kita belakangan ini. Dan kita harus mendorong gejala positif tersebut. Sekali lagi, pada hemat saya regionaliasi sastra dan sastra kawasan merupakan gejala penting dewasa ini, dan akan kian penting di masa depan. Demokratisasi dan redistribusi daerah sastra kian tak terhindarkan, sehingga —dirancang atau tidak— akan terjadi semacam penguatan konsolidasi kedaerahan dan kawasan dalam kehidupan sastra kita. Maka itu, gejala regionalisasi sastra ini menuntut perhatian kita pula, khususnya kritikus, peneliti, dan pengamat sastra.

Sayangnya, maraknya produksi sastra itu tidak diimbangi dengan produksi kritik sastra. Meskipun ada juga kritik sastra kawasan sebagaimana telah disebutkan, bagaimanapun hal itu jauh dari sebanding dengan relatif tingginya produksi sastra. Ini isu lama memang. Produksi sastra tumbuh subur, sementara kritik sastra sangat terbatas, kecuali di lingkungan akademis yang relatif terbatas pula. Kritik akademis pun cenderung berorientasi pada kepentingan akademik tinimbang kepentingan kehidupan sastra secara umum. Itu bagus, tapi tentu dunia akademik sejatinya berorientasi juga pada kehidupan sastra secara umum dan menimbang dengan sungguh-sungguh fenomena sastra yang tengah berlangsung.

Maraknya kehidupan sastra secara nasional jelas telah menyulitkan peneliti, pengamat, dan kritikus sastra untuk mengikuti seluruh gejalanya secara seksama. Dalam pada itu, munculnya gejala sastra kawasan tentu menuntut perhatian sepatutnya. Sebab, kehidupan sastra di berbagai kawasan sangat mungkin memiliki gejala dan warna khasnya masing-masing, yang berbeda satu sama lain dalam berbagai aspeknya, khususnya corak dan kecenderungan karya sastra dari masing-masing daerah itu sendiri.

Di tengah begitu maraknya produksi sastra, secara ekstrem dapat dikatakan bahwa dunia kritik sastra merupakan lahan kosong yang mendesak untuk diisi. Sudah waktunya para sarjana dan pengamat sastra terjun beramai-ramai ke dunia kritik ini. Kalau regionalisasi sastra dan sastra kawasan merupakan fenomena penting sastra kita, maka kita membutuhkan pengamat, kritikus, dan peneliti sastra kawasan. Dengan kata lain, sastra kawasan menuntut perhatian khusus, yang secara akademik dapat dijadikan spesialisasi atau fokus kerja keilmuan. Salam. []

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: