Jamal D. Rahman

16 Mei 2014

Putu Wijaya di Arena SBSB

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

SMP Negeri 2 Cimahi, Bandung, 26 Juni 2013. Di arena Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) ini Putu Wijaya baca cerpen. Dia naik ke panggung dipapah Mbak Dewi Pramowati, istri yang dengan setia mendampinginya. Di atas panggung, dia membacakan cerpen dengan duduk di atas kursi. Tak berjingkrak-jingkrak ke sana-ke mari lagi. Memegang mik hanya dengan tangan kanan. Sejak terserang pendarahan otak beberapa bulan sebelumnya, dia tak bisa menggerakkan tangan kiri. Tapi gelora semangatnya tetap terpancar dari pembacaan cerpennya ini. “Sebenarnya saya masih belum sehat. Tapi saya datang karena saya mencintai kalian,” dia berkata kepada para siswa, disambut tepuk tangan lama sekali.

Saya terharu. Jarum waktu di kepala saya berputar mundur.

Mas Putu —demikian saya biasa menyapanya— adalah salah seorang yang kami mintai masukan untuk program SBSB yang dicanangkan Horison sejak tahun 2000. SBSB adalah program membawa sastra ke tengah siswa di seluruh Indonesia. Kebanyakannya dilaksanakan di sekolah, di aula atau di halaman. Acara intinya adalah sastrawan/aktor membacakan karya sastra di hadapan siswa, lalu berdialog dengan mereka. Tujuannya, meningkatkan minat baca, menulis, dan apresiasi sastra di kalangan siswa. Itu sebabnya, kepada para siswa dibagikan sebuah buku berisi beberapa karya sastra sebagai materi acara, yang bisa mereka baca di rumah. Pada 5 tahun pertama kegiatan tersebut ditaja oleh The Ford Foundation. Dipandang sebagai kegiatan bagus, SBSB selanjutnya ditaja dan dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sampai sekarang.

Tentu saja Mas Putu memberikan masukan berharga. Di antaranya adalah pentingnya menyadari kegiatan tersebut sebagai seni pertunjukan. Maklum, di samping seorang sastrawan terkemuka, Mas Putu adalah juga seorang aktor dan sutradara teater yang andal. Pada mulanya kami redaksi Horison memang kurang menyadari bahwa SBSB merupakan pertunjukan, yang mestinya mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh aspek-aspek pentunjukan. Kami lebih menyadari bahwa SBSB adalah salah satu cara untuk lebih mendekatkan siswa dengan karya sastra dan sebaliknya, yang akan merangsang mereka untuk membaca dan menulis karya sastra itu sendiri. Mas Putu mengingatkan, jika SBSB tidak menarik sebagai pertunjukan, maka siswa akan menarik kesimpulan bahwa karya sastra tidak menarik. Sebaliknya, jika sebagai pertunjukan SBSB menarik, maka siswa pun akan tertarik pada karya sastra, dan akan membacanya.

Demikianlah maka dia menekankan agar aspek-aspek pemanggungan benar-benar diperhatikan, misalnya tata panggung, tata suara, pengisi acara, komunikasi dengan siswa (penonton), pilihan karya yang cocok dibacakan, dan lain sebagainya. Dia juga menekankan pentingnya mengetahui karakter siswa sebagai penonton, yang pastilah berbeda dengan khalayak sastra atau khalayak umum seperti dalam pertunjukan-pertunjukan sastra di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Apa yang penting dari Mas Putu bagi kami, sekali lagi, adalah kesadaran bahwa acara SBSB bagaimanapun merupakan pertunjukan. Tidak seluruh sastrawan hebat bisa tampil menarik dalam pertunjukan sastra, tapi bagaimanapun karya mereka harus dihadirkan ke tengah siswa. Kami pun mencari jalan keluar, yaitu menghadirkan aktor/aktris dalam acara. Di samping bertugas membacakan karya sastrawan yang sudah meninggal seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar, aktor/aktris bertugas juga membacakan karya sastrawan hebat namun tidak meyakinkan untuk tampil membacakan karyanya sendiri di depan hadirin.

Rupanya, jalan keluar ini penting bagi siswa dan guru, khususnya dalam memberikan pemahaman tentang tugas sastrawan dan pembaca karya sastra dalam pertunjukan sastra. Banyak siswa, bahkan guru, mengira sastrawan hebat pasti bisa membacakan karyanya dengan menarik dalam pertunjukan sastra. Padahal, sastrawan hebat tidak selalu (dan memang tidak harus) bisa membacakan karyanya dengan menarik di depan hadirin. Sastrawan hebat adalah satu hal dan pembaca karya sastra yang hebat dalam pertunjukan sastra adalah hal yang lain. Hal sederhana ini masih banyak disalahfahami di kalangan siswa. Mereka cenderung kecewa bila menyaksikan sastrawan hebat ternyata tampil tidak meyakinkan di atas panggung.

Karena berbagai keterbatasan, saran-saran Mas Putu tidak bisa kami penuhi dengan maksimal. Tata panggung, misalnya, tidak selalu digarap secara artistik sebagaimana layaknya panggung sebuah pertunjukan seni. Saya lihat Mas Putu maklum. Tapi tata suara, komunikasi dengan siswa, materi acara sebagai unsur-unsur penting pertunjukan, sangat kami perhatikan. Hasilnya adalah acara sastra yang bagi siswa tampak sangat menarik, sehingga acara bisa berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, bahkan kadang-kadang sampai jam 2.

Mas Putu sendiri tentu selalu tampil memukau. Seperti biasa, dia membacakan cerpennya tanpa memegang teks. Cerpen yang paling sering dibacakannya adalah “Kemerdekaan”. Ini kisah seorang juragan burung perkutut yang ingin memberikan hadiah pada perkutut peliharaannya, yang selama bertahun-tahun telah memberinya keindahan dan kebahagiaan. Hadiah itu adalah kemerdekaan. Ya, sang juragan ingin membebaskan perkututnya dari sangkar. Namun perkutut itu tidak mau mendapatkan hadiah tersebut. Sebab, katanya, bila dia merdeka, kucing yang sudah bertahun-tahun mengintainya akan menerkamnya. Lagi pula, selama ini dia sudah hidup enak tanpa harus mencari makan. Jika merdeka, dia akan mati kelaparan. “Jangan, jangan berikan saya kemerdekaan,” kata sang burung.

Juragan itu marah, mengatakan bahwa burung itu bodoh, dan memaksa perkutut keluar dari sangkar. Dia memukul-mukul sangkar agar perkutut terbang ke luar. Perkutut itu pun membentur-benturkan kepalanya ke sangkar, lalu jatuh terkulai. Di akhir cerita, dua ratus lima puluh juta burung keluar dari sangkar, termasuk perkutut yang terkulai tadi. Mereka berteriak bersama, “Inilah kemerdekaan yang kami rindukan. Bukan kemerdekaan sendiri-sendiri yang diberikan dengan gratis karena belas kasihan. Tapi kemerdekaan bersama-sama yang kami renggut dengan paksa lewat pertumpahan darah.” Burung-burung itu terbang tinggi, semakin tinggi. Tiba-tiba mereka berhenti, melihat ke bawah, dan berak bersama. Berak dua ratus lima puluh juta burung itu tepat mengenai kepala sang juragan tua.

Meskipun tanpa teks, dan bukannya hafal teks cerpennya pula, bahasa Mas Putu tetap rapi, gesit, lincah, menggelora, mempesona. Dia sendiri tampak gagah, penuh tenaga, dan bersemangat.

Panggung SBSB jelas berbeda dengan panggung-panggung pertunjukan biasa. Dalam panggung sastra apalagi monolog di pusat-pusat kesenian, segala properti panggung pastilah sangat mendukung pertunjukan. Panggung, misalnya, ditata seartistik mungkin. Ada musik, berbagai peralatan yang diperlukan, dan lain sebagainya. Sementara, panggung SBSB sangat sederhana, nyaris tanpa properti dan tata artistik apa pun. Bahkan panggung tampak sangat formal, apalagi bila acara dihadiri oleh pejabat baik pusat maupun daerah.

Bagaimana Mas Putu menghadapi situasi apa adanya ini? Tampil tanpa teks, tentu Mas Putu membacakan cerpennya dengan improvisasi tingkat tinggi. Dalam beberapa acara SBSB awal, Mas Putu tampil seperti biasa, yakni membacakan cerpen di atas panggung seperti dalam banyak pembacaan cerpen dan monolognya. Dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa, penampilan Mas Putu selalu memukau. Namun Mas Putu tampaknya melihat kemungkinan lain dalam situasi panggung apa adanya ini. Tampaknya, bagi Mas Putu panggung yang bersifat formal dan tanpa tata artistik apa pun tak bisa lagi jadi pusat pertunjukan. Maka dia merebut pusat pertunjukan dari panggung yang tersedia, ke dirinya sendiri. Dia seakan menjelmakan diri sebagai satu-satunya pusat pertunjukan, dan panggung bukan lagi bagian dari pertunjukannya. Panggung ditiadakannya. Dia menciptakan panggung sendiri.

Dalam acara-acara SBSB kemudian, Mas Putu menjadikan seluruh arena SBSB sebagai tempat dia bermain-main membacakan cerpen, di sisi mana pun di arena SBSB. Ya, dialah satu-satunya pusat pembacaan cerpennya, yang berhasil merebut perhatian seluruh penonton. Mas Putu meniadakan panggung yang tersedia. Yang ada adalah Mas Putu seorang diri. Karena kini dialah satu-satunya yang ada, maka dia bebas memilih tempat: di panggung, di tengah penonton, di sisi samping arena, di bagian belakang penonton, di tengah siswi, di tengah siswa. Ke mana pun Mas Putu pergi, penonton mengarahkan pandangan dan perhatian hanya kepadanya. Seluruh atmosfir arena SBSB tersedot oleh magnet yang dipancarkannya. Panggung benar-benar tak ada lagi. Yang ada hanya Putu Wijaya.

Yang tak kalah menarik, dia selalu melibatkan siswa (dan kadang-kadang guru bahkan kepala sekolah) dalam pertunjukannya. Mengajak mereka berdialog secara spontan, atau berteriak sebagaimana dituntut dalam cerita yang dibacakannya, mengajak siswa bersama-sama menirukan suara burung, atau mengajak seluruh siswa bersama-sama menyanyikan “Indonesia Pusaka” dengan khidmat, menutup pentunjukannya. Dengan cara itu, Putu Wijaya benar-benar menjadi pusat perhatian dan magnet penonton. Maka dia bebas mengajak siapa saja yang dimauinya menjadi bagian dari pertunjukannya. Dan Mas Putu bak tangan Midas: siapa pun yang diajaknya bermain atau ambil bagian dalam pertunjukannya, dia akan menjadi pusat perhatian pula.

Telah dikatakan bahwa kepada seluruh siswa dibagikan buku berisi karya sastra, khususnya karya sastra yang dibacakan di arena SBSB. Sebab, tujuan utama SBSB adalah mendorong minat baca. Diharapkan, siswa membaca buku itu setelah acara SBSB. Namun di arena SBSB, siswa dan hadirin cenderung memperhatikan puisi atau cerpen dalam buku ketika seorang sastrawan/aktor membacakannya. Tapi bila Mas Putu tampil, dengan sendirinya seluruh siswa akan menutup buku untuk hanya memperhatikan dan menonton penampilannya. Sebagai satu-satunya yang ada, Mas Putu membuat seluruh siswa menyimpan buku itu. Mereka tersedot ke dalam penampilannya yang kadang kocak, kadang tegang, kadang mengharukan.

Saya yakin, setelah pulang mereka akan membaca cerpen Mas Putu khususnya dalam buku itu. Demikianlah memang kami berharap: setelah menyaksikan pembacaan karya sastra, bertemu dan berdialog dengan para sastrawan, para siswa terdorong untuk membaca karya sastra, setidaknya buku yang kami sediakan. Tentu harapan kami lebih besar lagi.

Pada tanggal 3 Juli 2013, Horison dan Balai Pustaka memberikan Anugerah Balai Pustaka-Horison kepada 13 tokoh yang dipandang berjasa dalam bidang sastra dan budaya. Salah seorang penerimanya adalah Putu Wijaya untuk kategori sastrawan. Dia datang dalam acara penyerahan anugerah itu, dan dengan susah-payah harus naik ke lantai dua Gedung Samudera, Badan Bahasa, Jakarta, tempat acara berlangsung. Saat penyerahan anugerah, dia naik ke panggung, dipapah Mbak Dewi. Jelas kesehatannya belum pulih. Dia belum bisa menggerakkan tangan kirinya. Berdiri pun harus didampingi. Hadirin diam terharu menyaksikan sosok yang gagah namun kini seakan tak berdaya ini naik ke panggung. Sebelum menerima piagam anugerah, dia membacakan puisi “Aku” Chairil Anwar yang penuh semangat, mengekspresikan bahwa meskipun menderita stroke, hidupnya tetap menggelora dan bertenaga:

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Hadirin bertepuk tangan, menganggap pembacaan puisi selesai. Tapi tiba-tiba Mas Putu berkata, “Belum selesai.” Hadirin tertawa dan pelan-pelan berhenti bertepuk tangan. “Karena Rupiah mengalami devaluasi, maka saya mengatakan: Aku mau hidup sejuta tahun lagi.

Hadirin ger dan tepuk tangan membahana lama sekali.

Selamat ulang tahun, Mas Putu. []

Dimuat dalam Bertolak dari yang Ada: Kumpulan Esai untuk Putu Wijaya 70 Tahun (Jakarta: Pentas Grafika, 2014) dan Horison edisi Mei 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: