Jamal D. Rahman

16 Mei 2014

Asap, Pantun, dan Pokok Lada

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Begitu turun dari pesawat di Bandar Udara Internasional Minangkabau akhir Februari 2014, saya agak heran melihat lingkungan sekitar bandara dipenuhi kabut. Di Sumatera Barat, khususnya daerah Bukittinggi dan danau Maninjau, kabut memang merupakan pemandangan biasa, yang tentu saja memberikan kesejukan dan keindahan. Tapi tidak di bandara ini. Bagaimana mungkin kawasan berudara panas ini dipenuhi kabut? Lagi pula, bandara hanya berjarak 23 km dari Padang, ibu kota provinsi di pinggiran pantai yang tentu berudara panas.

“Bukan, ini bukan kabut,” kata sopir taksi yang mengantarkan saya ke Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Tanah Datar, 64 km ke arah utara. “Ini asap dari Riau.”

Saya segera faham. Sudah berhari-hari masalah asap Riau menjadi isu hangat di berbagai media massa. Begini rupanya pemandangan asap dalam jarak 300 km dari Pekanbaru. Bagaimana pula situasi di daerah Pekanbaru sendiri. Sopir tersebut mengatakan bahwa asap hari itu sudah berkurang dibanding hari-hari sebelumnya. Tapi segera terbetik kabar bahwa penerbangan Jakarta-Padang petang itu juga dibatalkan karena asap di bandara Minangkabau kian tebal sehingga membahayakan pendaratan pesawat.

Saya datang ke Rumah Puisi untuk peluncuran dan diskusi buku puisi Taufiq Ismail dalam dua bahasa, Indonesia dan Arab. Judul buku itu, Debu di Atas Debu/ Turâb Fawqat Turâb. Hadir juga Prof. Dr. Nabilah Lubis, penerjemah puisi Taufiq ke dalam bahasa Arab. Acara berlangsung di dua tempat, yaitu di Perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang dan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi. Dalam diskusi di Sumatera Thawalib, tampil pula Cumhur Cil, Redaktur Senior Mata Air, majalah kebudayaan Turki yang terbit di Indonesia. Cumhur sedang menerjemahkan puisi Taufiq Ismail ke dalam bahasa Turki. Untuk acara itu, kami menginap di Rumah Puisi.

Pemandangan yang selalu saya nikmati di Rumah Puisi adalah Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Rumah Puisi terletak di kaki dua gunung itu: Singgalang di barat daya; Marapi di sebelah utara. Bila cuaca cerah, dua gunung itu tampak sangat indah dan menakjubkan. Tapi selama tiga hari tinggal di Rumah Puisi, kami tak bisa menikmati keindahan alam sekitar yang sungguh mempesona. Kedua gunung selalu diselimuti kabut.

“Itu bukan kabut, tapi asap,” kata Edin Hadzalic, Direktur Rumah Budaya Fadli Zon. Pria asal Bosnia Herzegovina itu berharap hujan turun agar asap segera buyar. “Kalau hujan turun, asap akan sirna dan gunung akan kelihatan.” Rumah Budaya Fadli Zon dan Rumah Puisi Taufiq Ismail bersampingan dalam satu area.

Agak kecewa juga saya tidak bisa menikmati keindahan Singgalang dan Marapi. Apatah lagi, dua gunung itu tertutup oleh asap yang merupakan ulah manusia, bukan oleh kabut sebagai fenomena alam yang memberikan kesejukan.  

Tapi akhirnya saya malu bahwa saya sedikit kecewa. Dampak asap —akibat pembakaran lahan di daerah Riau— jauh lebih serius daripada sekadar menutupi Singgalang dan Marapi. Lebih-lebih bagi saudara-saudara kita di Riau. Dampak asap terus meninggkat hingga pekan ketiga Maret 2014: bandara Pekanbaru sempat ditutup, sekolah dan kantor bahkan sempat diliburkan. Tak terhitung jumlah warga Riau yang terserang infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) akibat menghirup asap setiap hari. Di mana-mana orang harus memakai masker. Asap merupakan bencara luar biasa dalam waktu cukup lama. Maka saya tak patut kecewa hanya karena tidak menikmati keindahan Singgalang dan Marapi sebab tertutup asap.

Sementara itu, usaha pemerintah dalam menangani bencara dahsyat ini sangat lamban. Bahkan dalam membantu para korban. Kita pun kecewa. Tentu saja kita mendesak pemerintah untuk menangani bencana ini dengan serius, membantu para korban, dan menindak pihak yang bersalah dengan tegas. Yang tak kalah penting, kita juga mendesak pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan terulangnya bencana ini di masa-masa yang akan datang.

Di atas semuanya, bencana asap yang merupakan akibat pembakaran lahan di Riau —yang selalu berulang nyaris setiap tahun— merupakan fenomena kasat mata yang menunjukkan pergeseran hubungan manusia dengan alam dalam kebudayaan kita. Yakni perubahan tentang bagaimana manusia memandang dan menyikapi alam. Sudahlah pasti perubahan itu bersinggungan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain. Tapi bagaimanapun hal itu menyentuh dasar kebudayaan yang sangat dalam, bahkan mungkin yang paling dalam. Maka, perlulah kita melihat fenomena tersebut dari sudut kebudayaan.

Pandangan sangat tua tentang hubungan manusia dan alam, khususnya dalam kebudayaan Melayu, dapat kita lihat pada pantun. Kita tahu, pantun selalu terdiri dari  sampiran dan isi. Yang menarik dan relevan dengan pembicaraan kita, dalam pantun sampiran hampir selalu merupakan gambaran atau berbicara tentang alam. Misalnya pantun berikut, karya Hj. Syamsinar, pencipta pantun yang cekatan dari Kepulauan Riau:

Pokok lada pokok pepaya
Ditanam orang sama sejajar
Kalau ada orang berjaya
Baiknya kita ikut belajar.

Apa pun isi, pesan, atau tema yang disampaikan pantun, sampiran seringkali berbicara tentang alam. Isi pantun boleh nasihat agama atau pelipur lara, namun sampiran tetaplah tentang alam. Pantun boleh berbicara tentang cinta atau bahkan sekadar pantun jenaka, namun sampiran nyaris tidak bisa tidak tetaplah tentang alam. Pantun boleh menasihati orang untuk belajar pada orang berjaya, namun sampiran tetaplah tentang pokok lada. Dengan demikian, alam merupakan pusat “kesadaran” sampiran dalam pantun.

Sementara itu, isi pantun pastilah berkaitan dengan manusia. Ia tidak lain tidak bukan berbicara tentang hidup-mati manusia, pandangan, nilai, norma, akhlak, nasihat, dan lain sebagainya. Pendek kata, isi selalu mengemukakan suatu gagasan tentang manusia dan ditujukan kepada manusia itu sendiri. Dirumuskan dengan cara lain, manusia merupakan pusat “kesadaran” isi pantun.

Demikianlah sampiran dan isi dalam pantun mengemukakan pandangan dan sikap bahwa hubungan antara alam dan manusia bersifat organis. Keduanya merupakan dua sisi dari satu keping uang logam. Manusia merupakan bagian dari alam dan sebaliknya. Maka apa pun yang dibicarakan dalam pantun (yang pastilah berkaitan dengan manusia), ia harus dibicarakan lewat alam. Dalam membicarakan masalah apa saja, alam tak boleh dilewatkan apalagi diabaikan apatah lagi dilupakan. Begitulah secara halus pantun sesungguhnya hampir selalu mengingatkan manusia pada alam. Sebab, manusia sangat tergantung pada alam.

Lebih dari itu, karena dalam pantun sampiran selalu lebih awal daripada isi, maka pesan pantun kiranya cukup jelas: berbicara tentang apa pun sebaiknya dilakukan setelah mengingat alam. Manusia harus memikirkan nasib sesama manusia, namun dalam memikirkan nasib manusia dia haruslah ingat pada alam terlebih dahulu. Manusia perlu memberikan nasihat, namun memberikan nasihat sebaiknya dilakukan setelah dia ingat dan mengingatkan orang pada alam. Spirit pantun adalah: hanya lewat alam dan setelah mengingat alam, manusia boleh berbicara tentang manusia, untuk manusia.

Dengan demikian, pantun sesungguhnya mengandung pandangan-dunia tentang keharusan manusia menghormati alam. Pantun menempatkan alam sebagai pusat dunia yang sama pentingnya dengan manusia. Ia menjunjung tinggi alam, memberikan tempat terhormat pada alam, dan dengan cara itu ia menjunjung tinggi manusia. Pantun menjaga dan merawat kelestarian alam, dan dengan cara itu ia merawat kemanusiaan. Maka menghormati kemanusiaan adalah menghormati alam. Sebaliknya, merusak alam adalah merusak kemanusiaan.

Kita mewarisi tradisi pantun dalam berbagai bentuk dan cara. Pantun diajarkan, dibacakan, dilombakan, dinyanyikan, diciptakan, dan lain sebagainya. Tetapi kasus asap Riau menunjukkan bahwa kita memang mewarisi pantun namun kita mengabaikan spirit pantun itu sendiri. Dengan halus pantun telah memberikan dasar kebudayaan tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi dan memperlakukan alam. Tetapi rupanya kita mewarisi pantun baru pada kulit luarnya saja, tidak sampai ke kedalaman sumsumnya yang paling murni. Kehidupan modern dengan nafsu ekonomis dan pragmatisnya telah mengubah pandangan-dunia dan nilai-nilai yang selama berabad-abad ditanamkan lewat pantun. (Sebagian) kita tidak lagi memberikan tempat terhormat pada alam, dan lupa bahwa merusak alam adalah merusak kemanusiaan; mengorbankan alam adalah mengorbankan manusia —dengan ongkos yang tak tertanggungkan. Pada akhirnya, mengorbankan alam dan manusia adalah mengorbankan pantun itu sendiri.

Untuk sebagian, lambannya pemerintah menangani asap Riau “hanyalah” konsekuensi logis dari cara pemegang kendali pemerintah mewarisi pantun. Ini sama sekali tidak bermaksud memberikan pembenaran atas kelambanan tersebut. Sudah tentu ada banyak kerumitan teknis dalam menangani kasus asap Riau. Tapi bagaimanapun semua fakta itu —asap yang diakibatkan oleh pembakaran lahan dan cara-cara penanganannya yang lamban— sejatinya mendorong kita bersama untuk merenungkan kembali tentang seberapa jauh kita mewarisi pantun sebagai tradisi sastra kita, termasuk pemerintah. Juga, seberapa jauh kita mampu menghadapi tantangan dalam mewarisi dan mewariskan nilai-nilai di hadapan desakan nafsu ekonomi dan politik kita.

Pada akhirnya, bukan asap menutupi Singgalang dan Marapi benar yang membuat saya sedih, melainkan keterbatasan kita dalam mewarisi tradisi pantun, yang ternyata berdampak serius pada kehidupan konkret kita. Salam. []

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: