Jamal D. Rahman

2 April 2014

Sejarah di Hadapan Sastra

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Beberapa waktu lalu terbit buku Hari Terakhir Kartosoewirjo (Jakarta: Fadlin Zon Library, 2012), disusun oleh Fadli Zon. Buku tersebut berisi 81 foto eksklusif dan orisinal hari-hari terakhir Kartosoewirjo, sejak menjelang diekskusi, ketika diekskusi, hingga imam Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) itu dikuburkan. Tak pelak lagi buku tersebut merupakan sumber informasi paling mutakhir dan akurat tentang Kartosoewirjo, yang dieksekusi mati pada 12 September 1962, terutama menyangkut hari-hari terakhir sang imam. Ia menggambarkan, mengoreksi, memastikan hal-hal keliru dan meragukan tentang eksekusi Kartosoewirjo. Tak diragukan lagi bahwa buku 94 halaman itu merupakan sumber sejarah yang sangat penting.

Setahun sebelumnya, terbit novel berjudul Kartosoewirjo: Pahlawan atau Teroris? karya Damien Dematra (Jakarta: Gramedia, 2011). Sebagaimana bisa diduga dari judulnya, novel ini mengisahkan riwayat hidup Kartosoewirjo dan perjuangannya, hingga dia dieksekusi. Meskipun judulnya menjanjikan jawaban atas pertanyaan apakah Kartosoewirjo pahlawan atau teroris, namun novel 447 halaman itu membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri. Ia tidak mengemukakan jawaban dengan argumen apa pun. Maklum, ia adalah novel yang, sebagai karya sastra, tidak berpretensi untuk mengemukakan satu kesimpulan tertutup atas pertanyaan atau ini atau itu.

Sebagai karya sastra yang bersumberkan sejarah, sudah tentu novel Kartosoewirjo direkonstruksi berdasarkan sumber-sumber sejarah —yang ada hingga saat novel itu ditulis—seputar riwayat hidup Kartosoewirjo, meskipun sumber-sumber tersebut tak disebutkan dalam novel. Ia didasarkan pada kenyataan atas dasar bukti-bukti faktual yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun dengan terbitnya buku Hari Terakhir Kartosoewirjo, kita tahu bahwa regu penembak eksekusi sang imam bukan enam, melainkan 12 orang; bukan memegang pistol, melainkan senapan; mata Kartosoewirjo bukan ditutup dengan kain hitam, melainkan dengan kain putih (atau warna terang lainnya); di pulau tempat Kartosoewirjo dieksekusi, dia tidak sempat —dalam deskripsi novel Kartosoewirjo— “menatap langit terbuka berwarna kemerahan yang baru merekah” sebab matanya ditutup sejak di dalam kapal dan turun dari kapal itu di pulau Ubi, Kepulauan Seribu, dengan mata tertutup.

Buku Hari Terakhir Kartosoewirjo merupakan sumber informasi paling mutakhir, yang memberikan informasi baru sekaligus mengoreksi informasi-informasi keliru sebelumnya sekitar sejarah hari terakhir Kartosoewirjo. Dalam pada itu, novel Kartosoewirjo: Pahlawan atau Teroris? jelas ditulis sebelum buku Hari Terakhir Kartosoewirjo terbit. Karenanya, kekeliruan dalam novel Kartosoewirjo sangat mungkin bukan atas dasar imajinasi, melainkan atas dasar sumber-sumber informasi yang juga keliru. Paling jauh yang dapat dikatakan adalah, jika fakta keliru yang dikemuakan novel tersebut merupakan imajinasi penulisnya tanpa bukti faktual apa pun, maka imajinasi itu jelas tidak sesuai dengan fakta —sejarawan modern mungkin menyebutnya memalsukan fakta sejarah. Sementara itu, jika fakta tersebut berdasarkan sumber sejarah tertentu, maka novel tersebut tidak keliru sendirian.

Kita tidak akan mendiskusikan kekeliruan fakta sejarah yang dikemukakan oleh sebuah novel sejarah. Poin kita di sini adalah bahwa dua karya tersebut merupakan satu kasus tentang hubungan sastra dan sejarah di Indonesia. Yaitu tentang kedekatan sastra dan sejarah, batas dan pretensinya masing-masing, serta ketegangan antara keduanya. Dan itu segera akan membawa kita pada kasus atau contoh-contoh lain sekitar hubungan sastra dan sejarah dalam rentang masa yang sangat panjang, dari zaman klasik sampai zaman modern.

Sastra dan sejarah memiliki hubungan dekat namun jauh, jauh namun dekat. Paradoks ini tak terhindarkan, karena di satu sisi sejarah kerapkali menjadi sumber sastra, dan sastra merupakan salah satu sumber sejarah, terutama ketika sastra dahulu merupakan sumber tertulis utama —karena minimnya sumber-sumber lain— dalam merekonstruksi sejarah. Dalam konteks itulah hubungan sastra dan sejarah amat dekatnya. Namun di sisi lain, sastra tetaplah sastra dan sejarah tetaplah sejarah. Yang satu berbasiskan fiksi, imajinasi, atau khayalan; yang lain berbasiskan fakta atau kenyataan. Yang satu bekerja dengan tendensi subjektif; yang lain bekerja dengan tendensi objektif. Karena itu, hubungan sastra dengan sejarah mengalami ketegangan abadi antara fiksi dan fakta, antara cerita dan berita, antara khayalan dan kenyataan, antara tendensi subjektif dan tendensi objektif. Ketegangan abadi antara fiksionalitas sastra di satu pihak dan faktualitas sejarah di lain pihak membuat jarak antara sastra dan sejarah amat jauhnya.

Namun demikian, di tengah ketegangan abadi itu, sastra dan sejarah tak pernah benar-benar terpisah. Banyak karya sastra kita hingga sekarang lahir bersumberkan sejarah, atau sejarah ditulis dalam bentuk karya sastra. Dalam arti itu hubungan sastra dengan sejarah adalah hubungan bentuk dengan isi. Sastra adalah bentuk, sedangkan sejarah merupakan isi.  Sudah tentu hubungan bentuk dengan isi dalam sastra tidaklah sederhana. Dalam perspektif sejarah, tetaplah problematis melihat aspek-aspek faktual sejarah yang direkonstruksi dalam karya sastra, karena fakta dan fiksi di dalamnya pastilah baur. Antara lain itulah sebabnya, betapapun berisi sejarah, karya sastra modern tidak dipandang sebagai sumber sejarah yang penting, bahkan bukan sumber sejarah sama sekali betapapun ia merekam fakta sejarah. Tapi bagaimanapun, hal itu tidaklah membatalkan pandangan bahwa sastra dan sejarah tidak bisa benar-benar dipisahkan.

Sastra dan sejarah: begitu banyak karya sastra kita berkaitan dengan sejarah, dengan satu dan lain cara, dan itu menunjukkan juga kompleksitas hubungan keduanya. Dilihat dari perkembangan karya sastra Indonesia modern, hubungan sastra dan sejarah dapat kita kelompokkan menjadi 3 kategori. Pertama, karya sastra yang merekonstruksi sejarah berdasarkan sumber-sumber terpercaya lagi bisa dipertanggungjawabkan. Di sini, sastra sejarah mencapai titik temu, yaitu bahwa keduanya adalah naratif, dengan tokoh utama dan sejumlah tokoh lain baik protagonis maupun antagonis, latar waktu dan tempat, dan seterusnya. Meskipun karya sastra pada dasarnya subjektif, novel sejarah dalam kategori ini sedikit-banyak bertendensi objektif, dalam arti sejauh mungkin berdasarkan fakta sehingga naratif dan detail kisah novel itu sendiri benar-benar faktual. Novel Kartosoewirjo: Pahlawan atau Teroris? termasuk dalam kategori ini. Juga novel-novel biografis yang lain.

Kedua, karya sastra yang merekam sekaligus merespon suatu peristiwa sejarah. Dalam batas tertentu, karya sastra tersebut merupakan bagian dari peristiwa sejarah itu sendiri. Contohnya adalah puisi Tirani dan Benteng Taufiq Ismail, yang merekam demonstrasi mahasiswa 1966 menentang Presiden Soekarno, termasuk meninggalnya Arief Rahman Hakim, mahasiswa yang ditembak mati syahid di depan istana. Puisi tersebut tidak hanya merekam peristiwa sejarah sebagaimana lazimnya catatan atau laporan sejarah, melainkan juga merupakan respon subjektif penyairnya atas peristiwa sejarah itu sendiri. Dalam arti itu, Tirani dan Benteng merupakan bagian dari sejarah demonstrasi mahasiswa 1966. Contoh lainnya adalah puisi-puisi Muhammad Yamin dan penyair segenerasinya yang menyuarakan fajar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20.

Ketiga, karya sastra yang menafsirkan dan atau mempertanyakan sejarah (masa lalu) demi melihat relevansinya dengan masa kini dan masa depan. Bisa juga ia menyuarakan aspek-aspek sejarah yang  —sengaja atau tidak— sejauh ini tidak disuarakan. Karya sastra dalam kategori ini menekankan moral sejarah sebagai pilihan aktual yang relevan bagi suatu masyarakat, yakni khalayak sasaran dan khalayak andaian karya sastra itu sendiri. Tetralogi Pramoedya Ananta Toer adalah contoh karya sastra dalam kategori ini.

Kiranya semua itu menunjukkan bahwa sastra dan sejarah memiliki hubungan penting. Sudah tentu sejarah merupakan sumber karya sastra dari waktu ke waktu, dari satu ke lain peristiwa sejarah. Dalam pada itu, kalaupun karya sastra tidak bisa dijadikan sumber sejarah, ia toh merefleksikan suatu sikap terhadap sejarah. Karya sastra yang berkaitan dengan sejarah —merekonstruksi, merekam, merespon, menyuarakan, atau menafsirkan— pada dasarnya menyikapi sejarah itu sendiri. Dan menyikapi sejarah, bukankah itu juga merupakan hal penting bagi sejarah? Dengan demikian, arti penting karya sastra dalam hubungannya dengan sejarah modern tidak terletak pada bukti-bukti faktual yang dikemukakannya, melainkan terutama pada bagaimana sebuah episode sejarah disikapi di dalam dan oleh karya sastra. Salam. []

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: