Jamal D. Rahman

2 April 2014

Diskriminasi, Puisi, Jembatan

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Appeal of Conscience Foundation (ACF), Amerika Serikat, akhirnya tetap memberikan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dan presiden menerimanya pula, 30 Mei 2013, waktu Amerika. Sebelumnya, banyak kalangan aktivis prodemokrasi, pluralisme, toleransi dan antidiskriminasi di Indonesia menyampaikan protes atas rencana pemberian penghargaan itu kepada presiden. Presiden SBY dinilai tidak layak menerima penghargaan tersebut, karena pemerintahan yang dipimpinnya gagal menjamin kehidupan yang benar-benar demokratis, menghargai pluralisme, dan bebas dari segala bentuk tindakan intoleran dan diskriminatif.

Beberapa fakta sosial kita belakangan ini memang memperlihatkan fenomena yang sangat menyedihkan lagi mencemaskan, yaitu kecenderungan meningkatnya diskriminasi. Yang sangat mencolok di antaranya adalah diskriminasi agama, seperti kasus-kasus perlakuan diskriminatif sekelompok masyarakat terhadap penganut Ahmadiyah dan Syi’ah (dari kalangan Islam) serta umat Nasrani. Yang lebih menyedihkan dan lebih mencemaskan adalah bahwa tindakan diskriminatif itu bersifat anarkistis, bahkan berbentuk kekerasan fisik, di samping tentu saja kekerasan mental dan psikologis. Yang lebih menyedihkan lagi adalah matinya hukum bahkan di hadapan diskriminasi bernuansa kekerasan itu.

Yang paling menyedihkan dari semuanya adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan (?) negara dalam menangani bentuk-bentuk diskriminasi. Juga ketidakmampuan atau ketidakmauan (?) negara dalam melindungi warganya dari segala bentuk diskriminasi bernuansa kekerasan dan bahkan kriminal. Alih-alih melindungi kelompok minoritas yang menjadi korban tindakan intoleran dan diskriminatif, dalam banyak kasus aparat negara tampak malah membiarkannya. Sudah tentu beberapa tindakan intoleran, diskkriminatif, dan apalagi kriminal tersebut sangat merugikan, bukan saja bagi para korban, melainkan juga bagi kita secara nasional. Di tengah usaha kita membangun kerukunan dan kebersamaan, semua itu jelas merusak keberadaan kita sebagai bangsa yang menghargai berbagai perbedaan di tubuh bangsa kita sendiri.

Bentuk-bentuk diskriminasi bernuansa kekerasan dan bahkan kriminal yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia belakangan ini merupakan pucuk gunung es dari lautan diskriminasi sosial, ekonomi, pendidikan, politik, gender, etnis, dan lain-lain. Diskriminasi mana tidak saja mewujud secara manifes, terbuka dan terang-terangan, melainkan juga mewujud secara laten, tersembunyi, dan diam-diam. Dapat dipastikan bahwa di balik bentuk-bentuk diskriminasi bernuansa kekerasan —yang tak lain merupakan wujud dari diskriminasi terbuka dan terang-terangan— melimpahlah bentuk-bentuk diskriminasi lunak, tersembunyi, dan laten dalam skala yang sangat luas. Misalnya, siapakah yang peduli pada fasilitas umum bagi penyandang cacat? Siapakah yang bersedia menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaum waria? Dapatkah orientasi seksual minoritas diterima secara wajar dalam kehidupan sosial kita? Jawaban atas semua pertanyaan ini dapat dipastikan negatif, dan itu merefleksikan kecenderungan atau bahkan sikap diskriminatif di dalam diri kita.

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin mengantarkan kita pada kesadaran akan adanya potensi atau kecenderungan diskriminatif dalam diri kita masing-masing. Jangan-jangan setiap kita memang mengidap kecenderungan mendiskriminasi seseorang atau sekelompok orang hanya karena dia atau mereka berbeda dengan kita dalam hal agama, etnis, kelas sosial, orientasi sosial, dan lain sebagainya. Kecenderungan diskriminatif itu tampak mengelompok secara sosial, dengan sasaran yang mengelompok pula secara sosial. Lebih jauh, sampai batas tertentu kencenderungan tersebut melembaga secara sosial, yang ironisnya kerapkali mendapatkan legitimasi dan dukungan negara yang seharusnya melindungi warganya dari berbagai bentuk diskriminasi dan tindakan intoleran.

Menyadari adanya kecenderungan intoleran dan diskriminatif di dalam diri kita masing-masing —yang pada gilirannya meningkat menjadi sikap intoleran dan diskriminatif secara komunal— kiranya mendesak kita untuk merenungkan nilai-nilai dasar yang kita anut: apakah sikap intoleran dan diskriminatif itu benar-benar sejalan dengan nilai-nilai dasar kita? Juga, jika tindakan intoleran dan diskriminatif menelan banyak korban sosial, apakah tindakan itu benar-benar merupakan manifestasi dari nilai-nilai dasar yang kita anut?

Fakta-fakta tentang diskriminasi bernuansa kekerasan kiranya menunjukkan bahwa kecenderungan diskriminatif di tengah masyarakat kita bagai bara dalam sekam, yang dapat berkobar oleh gesekan-gesekan sosial, apalagi bila disiram dengan bensin fanatisme dan intoleransi. Konflik komunal masih terjadi di banyak daerah, yang disulut oleh fanatisme dan intoleransi kelompok-kelompok sosial tertentu atas nama (faham) agama, etnis, dan lain sebagainya. Semua itu tentu saja memprihatinkan, sekaligus mengkhawatirkan. Menyadari fakta-fakta tersebut, kita bertanya di manakah bhineka tunggal ika?

Apa pun bentuk diskriminasi jelas tak dapat diterima, baik secara normatif, imperatif, maupun lebih-lebih dalam kerangka hidup bersama sebagai sebuah bangsa. Karenanya, fakta terjadinya diskriminasi terhadap warga negara, yang umumnya dialami kaum minoritas, menegaskan seriusnya tantangan kita yang mendesak untuk ditangani. Maka kita mendesak negara untuk selalu dan benar-benar hadir secara tegas dan adil di setiap kasus diskriminasi. Kita juga mendesak masyarakat untuk terus belajar menerima dan menghargai segala perbedaan. Sekiranya mesti terjadi tarik-menarik antarkelompok masyarakat akibat perbedaan orientasi nilai dan lain-lain, kiranya tarik-menarik itu dilakukan dengan simpati, empati, persuasi, dan menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan kerukunan. Lebih dari itu, semua pihak kiranya harus tunduk pada hukum.

Suara-suara yang mendesak ditegakkannya toleransi dan nondiskriminasi merupakan antitesa dari kecenderungan intoleran dan diskriminatif di tengah-tengah kita. Suara itu terdengar dari berbagai penjuru, termasuk dari puisi. Dalam berbagai cara dan corak, puisi telah lama memperdengarkan nyanyian kesetaraan, kebersamaan, dan semangat menghargai perbedaan. Tentang perbedaan agama dan faham agama, misalnya, penyair Abdul Hadi W.M. berdendang: … Muslim, Kristen, Hindu – aku tak peduli/ Syiah, Sunni, NU atau Muhammadiyah/ Kau manusia, karena itu pandang pula aku/ Sebagai manusia, baru lihat embel-embelnya//…// Hamzah Fansuri lewat mengukir syair/ Goethe riang mendendangkan lagu Hafiz/ Zaman beralih, Muslim jadi kafir/ Kafir jadi Muslim, dan aku menangis… (“Sajak-sajak Kelahiran”).

Adanya perbedaan agama, etnis, dan lain-lain seringkali menyilaukan kita, hingga kita lupa bahwa kita adalah manusia di tengah manusia lain. Maka menghargai perbedaan tak lain adalah menghargai manusia atas sesama manusia.

Maka kita tidak menafikan perbedaan, alih-alih bahkan merayakannya dalam batas yang wajar. Mencari persamaan-persamaan di antara berbagai perbedaan tentu perlu, sebab persamaan seringkali  menjadi faktor kohesi dan kerukunan sosial. Tetapi kita perlu menyadari dan menekankan keragaman sebagai sebuah keniscayaan budaya. Mengeliminasi keragaman dalam bentuk apa pun berarti mengingkari prinsip keniscayaan sejarah ini. Dan, yang lebih penting dalam hal ini adalah pandangan bahwa keragaman (diversity) meniscayakan perbedaan (difference) dan sebaliknya. Tak ada keragaman tanpa perbedaan. Demikian juga perbedaan mustahil tanpa keragaman. Dengan kata lain, perbedaanlah yang memungkinkan keragaman dan sebaliknya, sehingga kedua-duanya harus sama-sama dirayakan.

Yang juga perlu digarisbawahi tentang perbedaan dan keragaman ini adalah perbedaan horisontal, bukan perbedaan dan keragaman vertikal. Perbedaan dan keragaman tidak mengandung khirarki, sebab semua entitas budaya yang beragam dan berbeda-beda itu memiliki kedudukan setara secara sosial, budaya dan politik. Maka dalam konteks ini, kesetaraan (equality) budaya merupakan prinsip penting. Sebagaimana perbedaan dan keragaman merupakan keniscayaan, demikian juga kesetaraan merupakan keniscayaan. Keragaman, perbedaan, dan kesetaraan adalah kategori-kategori imperatif. Kesetaraan tidak mengandaikan kesamaan; kesetaraan justru mengandaikan perbedaan. Dirumuskan dengan cara lain, seluruh elemen budaya harus dipandang setara satu sama lain bukan karena kesamaan di antara berbagai elemen budaya itu sendiri, melainkan justru karena perbedaan di antara mereka.

Sejurus dengan logika itu, maka ikatan sosial-budaya memang dibangun atas dasar perbedaan, bukan kesamaan. Perbedaanlah yang menyatukan berbagai elemen budaya. Jika kesatuan merupakan “ideologi” sosial dan politik, sebagaimana diinginkan misalnya oleh negara-bangsa, maka kesatuan sosial dan politik diperjuangkan justru karena perbedaan yang memang niscaya dalam sebuah negara-bangsa. Dengan demikian, logika ini membalik pandangan lama bahwa berbagai kelompok budaya yang berbeda-beda bersatu karena ada cita-cita bersama yang menyatukan mereka. Dalam kasus Indonesia dan negara-negara bekas jajahan, kolonialisme dan nasionalisme dipandang telah menyatukan berbagai kelompok budaya untuk membangun negara bersama. Pandangan tersebut dianggap relevan hanya ketika kolonialisme masih bercokol dan nasionalisme lahir sebagai anak kandung kolonialisme itu sendiri. Ketika kolonialisme sudah hengkang, nasionalisme sesungguhnya telah kehilangan relevansinya. Namun demikian, sentimen kebangsaan bagaimanapun tetap perlu dipupuk demi menjamin kelangsungan negara-bangsa yang sudah berdiri. Pada tataran inilah nasionalisme memerlukan landasan baru, yaitu keragaman dan perbedaan yang memang hidup di tubuh bangsa itu sendiri.

Merayakan keragaman dan perbedaan tentu saja mensyaratkan pengakuan terhadap semua unsur budaya, khususnya pengakuan kelompok-kelompok budaya dominan terhadap kelompok-kelompok budaya minoritas. Tentu saja pengakuan terhadap semua unsur budaya mensyaratkan keterbukaan, toleransi, dan nondiskriminasi. Pada tataran sosial dan budaya, pengakuan itu mungkin menimbulkan gesekan dan bahkan ketegangan sosial, namun hal itu merupakan dinamika yang wajar dalam proses tawar-menawar sosial dan budaya sepanjang berlangsung secara damai. Pada gilirannya, pengakuan terhadap semua unsur budaya mengandaikan adanya perlindungan terhadap semua unsur kebudayaan, terutama perlindungan kelompok budaya dominan terhadap kelompok budaya minoritas.

Yang diperlukan di tengah itu semua adalah jembatan, yakni sejumlah jalan yang menghubungkan berbagai kelompok budaya yang berbeda-beda. Bukan jembatan fisik, melainkan jembatan dunia-dalam kelompok-kelompok budaya yang cenderung intoleran dan diskriminatif satu sama lain itu. Tak adanya jembatan dunia-dalam inilah yang ditangisi penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya “Jembatan”:

 

Maka aku pun pergi menatap pada wajah orang berjuta

Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap:
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa
kini ada sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?
Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada. Tapi siapakah yang mampu menjembatani
jurang di antara kita?

 

Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak
bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara
Gerimis tak mampu menguncupkan kibarannya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi:
padamu negeri
airmata kami.
[]

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: