Jamal D. Rahman

14 Februari 2013

Hari ‘Asyuro, Hari yang Amat Kelam

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Hari ‘Asyuro adalah hari kesepuluh bulan Muharrom dalam penanggalan Hijriyah. Hari ‘Asyuro merupakan hari istimewa dalam Islam, di mana umat Islam dianjurkan berpuasa. Karena merupakan hari istimewa, Hari ‘Asyuro diperingati dengan berbagai cara di berbagai daerah di Indonesia. Juga di berbagai negara Islam. Di Jawa, Hari ‘Asyuro jadi Hari Suro, yang tentu saja menunjukkan bahwa kebudayaan Jawa menyerap tradisi ‘Asyuro dari khazanah Islam. Di Minangkabau, ‘Asyuro konon jadi kata surau karena dulu pada hari itu orang-orang berkumpul di surau-surau untuk memperingati Hari ‘Asyuro sebagai ajaran dan tradisi Islam.

Hari ‘Asyuro merupakan tradisi tua. Menurut beberapa Hadis riwayat Bukhori, Muslim, Abu Daud, dan lain-lain, Hari ‘Asyuro bermula dari tradisi para pengikut Nabi Musa khususnya di Makkah sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Para pengikut Nabi Musa memperingati Hari ‘Asyuro dengan berpuasa pada tanggal 10 Muharrom. Maksud peringatan itu adalah mengenang peristiwa Nabi Musa dan umatnya (Bani Israil) yang berhasil menyelamatkan diri —setelah membelah laut— dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Para pengikut Nabi Musa di Makkah pada zaman Nabi Muhammad percaya bahwa Nabi Musa dan Bani Israil selamat dari kejaran Fir’an itu pada tanggal 10 Muharrom.

Mengetahui bahwa para pengikut Nabi Musa berpuasa pada 10 Muharrom karena pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil, maka Nabi mengatakan, “Aku lebih berhak dibanding kalian untuk menghormati Nabi Musa.” Sudah tentu Nabi Muhammad menghormati Nabi Musa, mengakui kenabian dan kerasulannya. Karena itu, Nabi Muhammad memandang hari ketika Nabi Musa berhasil menyelamatkan diri dari kejaran Fir’aun sebagai hari yang penting. Maka, sebagaimana para pengikut Nabi Musa di Makkah, Nabi Muhammad pun melaksanakan puasa 10 Muharrom. Itulah yang kemudian dikenal sebagai puasa ‘Asyuro di kalangan umat Islam, sampai sekarang.

Ketika itu, belum ada perintah puasa Ramadan. Puasa Ramadan baru diperintahkan setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Di Madinah, rupanya para pengikut Nabi Musa juga punya tradisi yang sama dengan pengikut Nabi Musa di Makkah, yaitu memperingati 10 Muharrom dengan berpuasa. Di Madinah juga, Nabi Muhammad terus melaksanakan puasa ‘Asyuro. Hanya saja, situasi sosial-keagamaan khususnya hubungan umat Islam dan pengikut Nabi Musa tampaknya kian tegang, yang bibit-bibitnya sudah muncul sejak Nabi Muhammad masih di Makkah. Sementara itu, posisi umat Islam di Madinah secara sosial dan politik semakin kuat, sehingga muncul keperluan untuk menegaskan diri sebagai sebuah komunitas keagamaan yang baru.

Tekanan terhadap Nabi Muhammad dan umat Islam di Madinah selanjutnya mendorong Nabi Muhammaad untuk segera membedakan diri dari komunitas-komunitas kepercayaan yang ada dan tradisi mereka, guna menegaskan keberadaan umat Islam sebagai komunitas baru dengan ajaran-ajaran mereka yang baru pula. Maka, sambil terus mengikuti tradisi puasa 10 Muharrom, Nabi Muhammad berjanji untuk berpuasa dua hari pada bulan Muharrom, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharrom. Itulah sebabnya, dalam Islam dianjurkan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharrom. Di antara puasa dua hari itu, puasa 10 Muharrom dipandang lebih afdol dibanding puasa tanggal 9 Muharrom. Sebab, Nabi Muhammad melaksanakan puasa 10 Muharrom sejak beliau masih di Makkah, dan —sayangnya— tak sempat puasa 9 Muharrom karena beliau keburu wafat.

Meskipun hanya dianjurkan, puasa Muharrom atau ‘Asyuro merupakan puasa yang sangat afdol. Sedemikian afdol puasa Muharrom, sehingga Nabi Muhammad mengatakan bahwa puasa Muharrom atau puasa ‘Asyuro merupakan puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadan.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

(Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling afdol setelah Ramadlan adalah ialah puasa di bulan Muharram, dan shalat yang paling afdol sesudah shalat Fardlu adalah shalat malam.”) (Shahih Muslim, Hadis Nomor 1982; Sunan Abi Daud, Hadis Nomor 2074).

Seterusnya Al-Qur’an menyebutkan adanya 4 bulan yang suci (dalam kalender Hijriyah), yaitu dalam ayat berikut (QS 9: 36):

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ
مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُم ….

(Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, [yang ditetapkan] dalam ketentuan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam keempat bulan tersebut….[QS 9: 36]).

Menurut Rasulullah, keempat bulan suci itu adalah bulan Muharrom, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Rajab. Karena keempat bulan itu suci, maka kita harus menghormati bulan-bulan tersebut. Menghormati bulan Muharrom dilakukan dengan memperbanyak ibadah —antara lain puasa ‘Asyuro— dan tidak menzalimi diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, Al-Qur’an memperluas hari penting dalam bulan Muharrom, tidak terbatas pada tanggal 10 saja, melainkan pada seluruh hari pada bulan tersebut. Demikianlah maka seluruh hari pada Muharrom merupakan hari-hari yang penting. Bulan Muharrom adalah bulan yang suci.

Pada bulan Muharrom jugalah, konon Nabi Nuh menerima bencana banjir dan, juga atas petunjuk Allah SWT, berhasil menyelamatkan diri. Pada bulan Muharrom juga konon Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrut namun, atas kehendak Allah SWT, tidak hangus terbakar. Dan, pada bulan Muharrom pula Nabi Muhammad dikejar-kejar oleh orang-orang kafir Makkah untuk dibunuh, yang memaksa beliau bersembunyi di gua Tsur untuk menyelamatkan diri, dan selanjutnya hijrah secara diam-diam ke Madinah.

Melihat sejarah ‘Asyuro dan konteks historis bulan Muharrom, kiranya jelas bahwa bulan Muharrom adalah bulan penuh duka dan bahagia, bulan kesedihan dan kebahagiaan. Bulan duka, sebab pada bulan itulah Nabi Ibrahim dibakar oleh Namrut, Nabi Musa dikejar oleh tentara Fir’aun, Nabi Nuh mengalami bencana banjir, dan Nabi Muhammad diancam bunuh di Makkah. Bulan bahagia, sebab pada saat yang sama para utusan Allah itu diselamatkan dari bahaya yang mengancam jiwa mereka. Maka, menghormati bulan Muharrom —yang antara lain dilakukan dengan puasa, memperbanyak ibadah, dan tadabbur (renungan relijius)— bukan saja mengandung makna sebagai ungkapan prihatin atas perstiwa-peristiwa menyedihkan dalam sejarah para rasul, melainkan juga sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa—atas pertolongan Allah SWT— mereka terselamatkan dari marabahaya yang mengancam jiwa mereka.

Dan, hari ‘Asyuro belum selesai. Sebagai hari penuh duka, Hari ‘Asyuro masih akan mengalami klimaks dalam sejarah Islam sepeninggal Nabi Muhammad. Itulah tanggal 10 Muharrom 61 H (10 Oktober 680), ketika Husain bin ‘Ali dibunuh secara sadis dan kejam di padang Karbala, Irak sekarang. Cucu Rosulullah itu dibunuh oleh pasukan tentara Yazid, khalifah Dinasti Umayyah yang bermarkas di Damaskus. Kepala Husain dipenggal dan dikirimkan kepada Yazid di Damaskus. Selanjutnya Yazid menyerahkan kepala Husain kepada anak dan pengikutnya yang selamat dalam pembantaian di Karbala dan digiring ke Damaskus. Kepala Husain kemudian dikubur bersama jasadnya di Karbala. Itulah puncak kelam dari sejarah ‘Asyuro yang panjang.

Sejak itu, hari ‘Asyuro mengandung dimensi lain. Ia bukan lagi hari duka sekaligus hari bahagia, melainkan hari duka sepenuhnya. ‘Asyuro adalah hari yang kelam. Amat kelam. Maka, peringatan Hari ‘Asyuro sekarang mengandung dua maksud. Pertama, mengikuti sunnah Rasulullah, yaitu berpuasa, memperbanyak ibadah, mengadakan amal sosial, dll. Kedua, mengenang tragedi wafatnya Husain bin Ali. Hari ‘Asyuro adalah juga hari takziyah abadi kepada cucu Nabi Muhammad yang mati syahid di tangan pasukan tentara seorang khalifah yang sangat zalim. Wallâhu a`lam bisshawâb.[]

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: