Jamal D. Rahman

14 Februari 2013

Baiti Masjidi

Filed under: Esai Agama — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Rumah pertama-tama tentu saja merupakan tempat tinggal. Yakni tempat orang berlindung dari panas dan hujan untuk bisa beristirahat dari kerja rutin sehari-hari. Tempat seseorang bercengkerama bersama keluarga, membangun dan menemukan kehangatan kehidupan keluarga dalam sebagian besar waktu mereka. Rumah adalah tempat seseorang pergi dan kembali lagi ke haribaan keintiman keluarga, atau keintiman dirinya sendiri. Rumah adalah tempat seseorang kembali pada dirinya sendiri. Dalam arti itu rumah bukan sekadar house, melainkan juga home. Rumah bukan sekadar memberikan kenyamanan jasmani, melainkan juga kenyamanan rohani.

Bagi sebagian orang, rumah adalah juga tempat bekerja. Ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat modern di perkotaan, melainkan juga bagi masyarakat tradisional di pedesaan. Para pengrajin barang-barang kerajinan tradisional mengerjakan produk kerajinan mereka di rumah. Misalnya, para pengrajin kerajinan timba, tikar, atau rotan dalam skala relatif kecil, yang dalam perkembangan modern kerajinan itu dikembangkan menjadi industri rumahan (home industry). Sementara itu, bagi sebagian masyarakat modern di perkotaan, rumah menjadi tempat kerja bagi kegiatan-kegiatan produktif mereka, seperti bisnis dan kegiatan tulis-menulis.

Bagi umat Islam, rumah memiliki fungsi lain yang sangat penting. Rumah bukan sekadar tempat tinggal dan tempat kerja. Yang lebih penting lagi, dalam Islam rumah merupakan tempat seorang Muslim bersujud. Di rumahlah seorang Muslim bertama-tama menjalankan shalat, mengagungkan Allah SWT dan berserah diri secara total dalam sujud kepada-Nya. Bagi sebuah keluarga Muslim, bisa dipastikan rumah mereka digunakan sebagai tempat shalat 5 kali sehari. Jika bukan oleh suami, mungkin istri; jika bukan istri mungkin anak-anak atau anggota keluarga yang lain. Yang pasti, tiada rumah seorang Muslim yang tidak digunakan untuk shalat sama sekali dalam sehari. Dalam konteks itulah, rumah seorang Muslim sebenarnya merupakan masjid, tempat bersujud sanak-keluarga.

Sayangnya, ketika kita membangun, merenovasi, atau berpikir tentang rumah, kita jarang atau bahkan tidak pernah menyadari bahwa rumah kita adalah tempat kita bersujud. Kita sekadar berpikir rumah sebagai tempat tinggal (dan mungkin tempat kerja). Kita lupa bahwa kita akan sering bersujud di rumah kita. Memang, kita dianjurkan untuk shalat (jama’ah) di masjid. Tapi bagaimanapun, dengan berbagai alasan, sebagian besar kita lebih sering shalat di rumah dibanding di masjid. Maka, ketika kita melupakan fungsi rumah sebagai tempat kita bersujud, sesungguhnya kita telah mereduksi fungsi rumah kita yang sangat penting.

Menyadari bahwa rumah merupakan tempat kita bersujud kiranya penting, bahkan sangat penting. Dengan menyadari hal tersebut, kita akan menyadari pula konsekuensi-konsekuensinya. Karena rumah kita adalah masjid, tempat kita bersujud, maka kita akan membangun nuansa dan suasana masjid di dalam rumah kita. Masjid adalah tempat suci. Karenanya kita akan menjaga kesucian rumah kita, misalnya dengan membaca Al-Quran di dalam rumah kita. Sebaliknya, hal-hal negatif seperti kekerasan rumah tangga, misalnya, akan kita hindari sejauh-jauhnya, sebab ia akan mengotori kesucian rumah kita.

Karena rumah adalah masjid, tempat kita bersujud, ada baiknya kita populerkan semboyan baiti masjidi, ‘rumahku adalah masjidku’. Semboyan itu kiranya akan menyadarkan kita untuk menjaga kesucian rumah kita dari hal-hal kotor, negatif, dan tidak baik. Bagaimana mungkin kita melakukan hal-hal kotor di dalam rumah yang tak lain merupakan tempat kita bersujud kepada Allah SWT? Rumah adalah tempat kita membangun dan memupuk kerohanian kita, tempat kita menghidupkan hal-hal yang bersifat spiritual dan keilahian.

Kita sudah kenal ungkapan yang sangat populer sehubungan dengan rumah, yaitu baiti jannati, ‘rumahku adalah sorgaku’. Ungkapan tersebut memberikan konotasi ideal tentang suasana rumah, yang betapapun sederhananya ia tetaplah sorga. Yakni suasana yang nyaman baik lahir maupun batin. Sorga di situ kurang-lebih sama dengan home. Sementara itu, baiti masjidi terasa lebih memiliki daya dorong dan lebih operasional untuk membangun kenyamanan baik lahir maupun batin, baik jasmani maupun rohani. Juga, dan terutama, dalam menjaga kesucian rumah berikut dimensi-dimensi relijius dan spiritualnya.

Ini tidak berarti kita akan menjadikan rumah sebagai masjid sebagaimana lazim kita pahami, yaitu terutama tempat umat Islam melaksanakan shalat Jum’at. Tidak. Baiti masjidi semata untuk mendorong kita dalam membangun dimensi-dimensi kesucian masjid di rumah kita, ialah kebaikan, kesalehan, dan keilahian. Karena rumah kita adalah tempat kita bersujud kepada Allah SWT, maka rumah tidak hanya mengandung dimensi-dimensi profan sebagai tempat tinggal dan tempat kerja. Lebih dari itu, rumah kita adalah tempat yang suci, yang harus kita jaga kesuciannya dari segala hal yang kotor sekecil apa pun —sebab, baiti masjidi. Salam. Wallahu a’lamu bisshawab.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: