Jamal D. Rahman

2 Februari 2013

Sekali Lagi, tentang Kapur

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Ada bahasa Indonesia “asli” dalam Al-Qur’an. Yaitu kata kâfûr, artinya kapur, kapur barus, atau kamper. Itu terdapat dalam QS 76: 5: Dan [di sorga] orang-orang saleh akan minum, dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus]. Dari konteks ayat tersebut jelas bahwa kapur barus merupakan sesuatu yang mewah dan istimewa. Bagaimana dan kenapa Al-Qur’an menyerap kata yang berasal dari daerah kita itu? Di dalam tulisan Agung Yuswanto (“Kosakata Arab dalam Bahasa Indonesia”, Tempo, 15 Agustus, 2010) sempat menyebut kata kapur yang tercantum dalam Al-Quran. Tetapi saya ingin membahas sejarahnya lebih dalam lagi.

Sejak abad ke-4 M sampai abad ke-10 atau sesudahnya, kapur barus atau kamper merupakan barang komuditas di sebagian besar dunia, dari Cina sampai kawasan Laut Tengah (meliputi Indocina, Asia Tenggara, India, Persia, Timur Tengah, bahkan Afrika). Sumber tertua yang menyebutkan kamper adalah catatan seorang pedagang Cina awal abad ke-4 M, yang menelusuri jalur sutera. Di Barat, catatan tertua tentang kamper berasal dari tulisan seorang dokter Yunani yang tinggal di Mesopotamia, bernama Actius (502-578 M). Sementara itu, kronik Dinasti Liang (502-557) di Cina mengaitkan kamper dengan satu daerah yang nanti dikenal dengan Barus.

Asal-usul istilah kamper sendiri sulit dilacak. Para ahli berbeda pendapat soal ini. Namun yang paling masuk akal adalah kesimpulan Claude Guillot dkk. (2009), yang pernah melakukan penelitian arkeologis di Barus. Menurut mereka, istilah kapur atau kamper berasal dari “Asia Selatan atau Asia Tenggara, kemungkinan besar dari Asia Tenggara karena lebih dekat dari sumber-sumber produksinya.”

Ada tiga daerah utama penghasil kamper di Asia Tenggara, yaitu Sumatera, Semenanjung Melayu, dan Borneo. Daerah di Sumatera yang sering disebut-sebut dalam berbagai sumber tertulis sejak abad pertama Masehi adalah Barus, suatu daerah di pantai barat Sumatera, terletak antara Sibolga dan Singkel, yang sekarang masuk wilayah Sumatera Utara.

Tetapi, dalam sejarahnya yang panjang selama berabad-abad, barangkali Barus tidak hanya menunjuk pada daerah Barus yang kita kenal dewasa ini. Barangkali dulunya ia adalah satu daerah di sekitar Aceh atau daerah utara Sumatera. Yang pasti, Barus adalah satu daerah di bagian utara Sumatera, yang sangat terkenal di dunia sejak berabad-abad lalu sebagai penghasil kamper atau kapur. Sejak abad ke-6, orang Cina sudah menghubungkan kamper dengan Barus sebagai penghasil kamper itu sendiri. Tidak mengherankan kalau sampai sekarang kita mengenal istilah kapur barus, yang berarti kamper dari Barus.

Catatan tertua tentang Barus ditulis oleh Ptolomaeos, seorang filsuf Alexandria abad pertama M. Jika benar bahwa Barus yang disebut Ptolomaeos adalah daerah penghasil kapur atau kamper, bisa dipastikan bahwa kapur (dari) Barus sudah dikenal setidaknya sejak abad pertama M, bahkan di Afrika sana. Bahkan mungkin pada abad-abad sebelumnya. Diduga, kamper adalah salah satu bahan (kimia?) untuk memumikan jenazah para fir’aun di Mesir. Jika ini benar, kapur barus tentu saja merupakan barang yang sangat berharga.

Terutama dari tulisan para ilmuwan Arab (Muslim) abad ke-8-9 M, diketahui bahwa kapur digunakan juga untuk obat-obatan dan wewangian. Ibnu Sina, misalnya, menguraikan secara rinci tentang bagaimana kapur barus digunakan sebagai obat dan wewangian, lengkap dengan cara menyuling kapur barus itu sendiri (Claude Guillot dkk., 2000). Uraian para ilmuwan Muslim ini tentu saja menunjukkan arti penting dan kegunaan kapur barus, yang membuatnya jadi barang komoditas paling dicari di dunia pada masa itu.
Kapur barus inilah salah satu hal yang menarik para pedagang Cina, India, Parsi, Arab, Turki, dan Eropa datang ke Barus. Seiring dengan kemajuan sarana transportasi khususnya transportasi laut, setidaknya sejak abad ke-7 di sini sudah terbentuk komunitas Arab, juga Cina dan India, sebagai daerah-daerah yang dilalui jalur perdagangan internasional. Semuanya berburu kapur barus —di samping barang komoditas lain seperti emas dan lada— sebagai komoditas yang sangat mahal dan sangat dibutuhkan oleh pasar dunia.

Sampai di sini kiranya kita bisa mengerti: kapur barus merupakan barang mewah dan istimewa di dunia, termasuk di Arab, sebelum Al-Qur’an diturunkan pada abad ke-7. Tidaklah mengherankan kalau Al-Qur’an menggunakan istilah (kâfûr) tersebut untuk menggambarkan keistimewaan dan kemewahan minuman orang-orang saleh di sorga.

Sebagaimana disimpulkan Guillot, kata kapur berasal dari Asia Tenggara sebagai sumber penghasil kapur itu sendiri. Kemungkinan besar berasal dari Barus. Maka, kapur adalah bahasa Indonesia yang diwarisinya dari bahasa Melayu kuno atau “nenek-moyang”-nya yang lebih tua lagi. Tentu saja ini post factum, sebab Al-Qur’an diturunkan pada abad ke-7, sedangkan bahasa Indonesia baru lahir di awal abad ke-20. Tapi bagaimanapun, jika semua itu benar, maka inilah satu hal: bahasa kita turut memperkaya bahasa asing, bahkan bahasa Al-Qur’an. []

Dimuat di Tempo, 13-19 Juni 2011

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: