Jamal D. Rahman

2 Februari 2013

Ikan Tempe

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Kata ikan sering mendenging di benak saya. Setiap kali datang ke daerah pesisir di mana pun di Indonesia, saya selalu membayangkan ikan di daerah tersebut. Bukan tentang keragaman jenisnya atau keindahannya dan lain sebagainya, melainkan tentang kedudukan budayanya sebagai masakan. Soalnya, kawan saya yang sangat menyukai masakan ikan, merasa heran kenapa di banyak daerah pesisir di Indonesia masakan ikan kurang dianggap istimewa. Orang setempat merasa lebih menghormati tamu dengan menyuguhinya masakan daging (terutama ayam, kambing, dan sapi) tinimbang masakan ikan. Mereka tampak kurang percaya diri untuk menyuguhkan masakan ikan. Bahkan meskipun konon masakan ikan yang istimewa dulu merupakan santapan raja-raja, masakan ikan tetap dianggap masakan kelas dua.

Saya pun mendapat kesan yang sama. Lalu kami menduga-duga sebabnya. Barangkali, bagi orang pesisir masakan ikan merupakan santapan sehari-hari, sehingga bagi mereka sama sekali tidak istimewa lagi. Dan, karena persediaan ikan melimpah, harganya mungkin lebih murah dibanding harga daging. Menyuguhkan masakan ikan berarti menyuguhkan masakan murah. Tapi bagaimanapun, tetaplah mengherankan bahwa fenomena atau kecenderungan ini terjadi di Indonesia sebagai negara kelautan.

Maka ikan kian mendenging di benak saya.

Lalu saya mencoba menoleh ke masa silam. Ikan merupakan kesukaan orang Nusantara, khususnya Melayu, sejak berabad-abad lalu. Tapi dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan, yang merupakan semacam laporan kepada majikan kolonial Inggris di abad ke-19, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menyebut masakan ikan justru sebagai “makanan yang busuk2”. Abdullah menulis, “…, tetapi yang sahaya lihat dalam pasar itu kebanyakan perkara makanan yang busuk2, seperti pekasam dan tempoyak dan ikan asin dan siput asin dan kerang asin dan jering dan petai dan banyak2 jenis sambal2 belacan dan ikan dan segala karangan di laut dan pucuk2 kayu. Maka tiadalah sahaya lihat makanan yang mulia, seperti daging, dan minyak sapi dan telur, mentega dan susu.”

Uraian negatif terhadap masakan ikan dikemukakan Abdullah Munsyi dalam beberapa bagian karyanya. Tentu saja hal itu menunjukkan seriusnya pandangan negatif terhadap masakan ikan. Jadi, pandangan yang merendahkan masakan ikan dan memuliakan daging merupakan pandangan kolonial. Tampaknya pandangan inilah yang diam-diam menjangkit di sebagian masyarakat pesisir kita hingga hari ini.

Maka ikan bukan saja mendenging, tapi kini mendengung di benak saya. Apalagi, saya tahu dalam bahasa Madura ada kata jhukok ajam/ jhukok embhik/ jhukok sapèh; dalam bahasa Jawa ada iwak pitik; iwak wedus, dan iwak sapi/ kebo. Semuanya berarti ikan ayam, ikan kambing, ikan sapi/ kerbau. Kenapa ayam, kambing, dan sapi disebut ikan? Mustahillah orang Madura dan Jawa tidak bisa membedakan ikan dengan daging. Tapi baiklah, kata jhukok (Madura) dan iwak (Jawa) kita anggap kata yang punya makna ganda, yakni (1) hewan yang hidup dalam air, (2) daging, dan kerap diluaskan menjadi (3) lauk.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ikan juga punya makna ganda, yakni (1) hewan yang hidup dalam air dan (2) lauk. Ikan dalam pengertian lauk, menurut KBBI, merupakan ragam percakapan. KBBI memberi contoh kalimat: makan nasi ikannya tempe. Ternyata KBBI melangkah lebih jauh, bukan hanya ayam, bahkan tempe pun dinobatkan sebagai ikan juga. Hayo siapa suka ikan tempe?

Dalam konteks apa yang saya kemukakan di atas, ikan yang punya makna ganda merupakan hal penting. Berbeda dengan kata bermakna ganda lain yang bersifat arbitrer, seperti bisa yang berarti (1) dapat dan (2) racun, kegandaan makna ikan tampaknya tidak arbitrer. Untuk sebagian, makna ikan berkaitan dengan kedudukan budayanya. Ikan biasanya dimakan dengan atau bersama nasi. Ketika dimakan dengan nasi, ikan menjadi lauk. Menurut KBBI lagi, lauk adalah (1) daging, ikan, dsb (selain sayur) yg dimakan sbg teman nasi; (2) daging atau ikan. Jadi, tempe menjadi ikan ketika ia dimakan sebagai teman nasi. Anehnya, dalam KBBI, ikan berarti lauk (di samping hewan yang hidup dalam air); sedangkan daging tidak. Maka ada ikan tempe, tapi tidak ada daging tempe.

Apa yang penting dari penggunaan kata ikan itu adalah: dalam bahasa, kita lebih memberikan supremasi pada masakan ikan ketimbang pada masakan daging. Kita menyebut semua jenis lauk (kecuali sayuran) dengan ikan; dan tidak menyebutnya daging. Sampai batas tertentu, hal itu merefleksikan sifat kelautan kita sebagai bangsa bahari. Jika dalam kehidupan konkret kita cenderung menganggap masakan ikan sebagai makanan kelas dua, yang sebagiannya merupakan warisan kolonial, kita toh tetap menganggap ikan sebagai makanan kelas satu dalam bahasa. Dengan demikian, paling tidak dalam kasus ikan, bahasa “menyelamatkan” sifat kelautan yang kian susut dalam banyak aspek kehidupan kita.

Nah, kali ini ikan menyanyi riang dalam benak saya. []

Iklan

1 Komentar »

  1. Verdaderamente este artículo es interesante. Aunque
    tendría que admitir que algún otro post diferente no me pareció tan bueno,
    lo de esta vez me ha interesado mucho.
    Saludos

    Suka

    Komentar oleh ideasdeinternet.sosblogs.com — 13 Februari 2013 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: