Jamal D. Rahman

2 Februari 2013

Empat Salam

Filed under: Esai Bahasa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pada Mei 2011 saya ke Bali, untuk acara sastra yang diikuti sekitar 700 orang. Ini kesekian kalinya saya ke Bali untuk acara serupa. Ada hal khusus setiap kali saya akan ke Bali untuk mengisi acara di depan khalayak. Yaitu, diam-diam saya berlatih sendiri mengucapkan om swastiastu, agar lancar melafalkannya di depan hadirin.

Ketika pada tahun 2002 untuk pertama kalinya mengisi acara di depan hadirin di Bali, saya tidak mengucapkan salam itu. Saya hanya mengucapkan assalamu’alaikum, selamat pagi, dan salam sejahtera untuk kita semua. Mendengar semua pengisi acara ketika itu —terutama tokoh-tokoh yang memberikan sambutan— mengucapkan salam om swastiastu, saya merasa bersalah. Saya merasa kurang menghormati hadirin, sebab saya tidak menggunakan salam dalam tradisi setempat. Setelah itulah, saya belajar dan berlatih melafalkannya, terutama untuk keperluan mengucapkan salam di depan khalayak di Bali.

Bagi saya ketika itu, jauh lebih mudah melafalkan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh tinimbang om swastiastu. Kalau dipikir-pikir, ini aneh juga, sebab bagi lidah Indonesia, yang terakhir mestinya lebih mudah dibanding yang pertama. Tapi saya tak memikirkannya.

Di Jakarta atau di tempat-tempat lain selain Bali, sebagaimana banyak orang, biasanya saya mengucapkan salam pembuka sebanyak 3 kali. Yaitu (1) assalamu’alaikum, (2), selamat pagi atau siang atau malam, dan (3) salam sejahtera untuk kita semua. Terutama dalam acara seremonial di Indonesia, seringkali tak kurang dari 4 orang memberi sambutan, mulai tuan rumah, ketua panitia, pejabat setempat, sampai pejabat pusat. Bayangkan berapa salam pembuka diucapkan. Tapi tak apa, toh substansinya adalah doa, yakni memohon keselamatan dan kesejahteraan. Tentu kita harus banyak berdoa, sebab konon kita bangsa yang relijius. Nah, di Bali, saya menambah satu lagi ucapan salam, yaitu om swastiastu tadi. Jadi, sebagaimana hampir semua pengisi acara di sana, saya mengucapkan salam sebanyak 4 kali. Wow.

Untuk sebagian, orang menyampaikan empat salam itu atas dasar latar belakang budayanya. Orang berlatar budaya Islam merasa lebih mudah —mungkin juga merasa lebih afdol— mengucapkan assalamu’alaikum; orang berlatar budaya Hindu merasa lebih mudah mengucapkan om swastiastu; orang berlatar budaya “nasionalis” atau “sekular” akan mengucapkan selamat pagi, siang, sore, atau malam —dan menganggapnya bercitarasa “nasional”. Konon pula orang yang memandang agama sebagai wilayah pribadi yang tak perlu ditonjolkan kepada publik akan menggunakan selamat pagi, siang, sore, dan malam.

Tetapi untuk sebagian yang lain, bahkan mungkin sebagian besarnya, orang menggunakan empat salam tadi dengan mempertimbangkan khalayak-andaiannya. Demikianlah bahasa, baik lisan maupun tulis, seringkali digunakan dalam hubungannya dengan pendengar atau pembacanya. Apakah orang akan menyebut lawan bicara atau pembacanya dengan kamu, kau, Saudara, Anda, atau Bapak/ Ibu sangat tergantung pada apa yang diandaikannya tentang lawan bicara atau pembacanya itu. Bahasa memang tak bisa lepas dari penggunanya, namun seringkali tak bisa lepas pula dari khalayak-andaian yang disasarnya.

Keempat bentuk salam tadi tentu memiliki khalayak-andaiannya masing-masing. Di masjid, orang hanya mengucapkan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh —tanpa selamat pagi, tanpa salam sejahtera untuk kita semua. Sebab, dia membayangkan khalayak-andaiannya seluruhnya umat Islam. Khalayak-andaian keempat salam tadi tampaknya memang berkaitan dengan agama: assalamu’alaikum untuk umat Islam; salam sejahtera untuk umat Nasrani; om swastiastu untuk umat Hindu; selamat pagi untuk pemeluk agama lain atau kalangan “sekular”, “nasionalis”, atau “netral”.

Masalahnya, kenapa khalayak-andaian salam mesti dikotak-kotakkan atas dasar agama? Memang benar bahwa assalamu’alaikum sering digunakan oleh umat Islam dan om swastiastu oleh umat Hindu. Tapi bagaimanapun, keduanya adalah bahasa Indonesia. Keduanya tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan) alias Online.

Maka, 4 salam tadi sesungguhnya merupakan keragaman salam dalam bahasa Indonesia. Oleh karenanya, kita boleh menggunakan satu; boleh dua; boleh tiga; boleh keempatnya sekaligus. Penggunaan satu, dua, tiga, atau keempatnya sekaligus sejatinya bukan karena khalayak-andaian yang terkotak-kotak atas dasar agama tadi, melainkan atas dasar pertimbangan lain. Misalnya, latar belakang pengguna, pertimbangan waktu, atau sebagai apresiasi terhadap keragaman bahasa kita. Sekali salam diucapkan atau ditulis, maka sasarannya adalah seluruh khalayak atau pembaca, apa pun agamanya.

Bahasa Indonesia adalah pemersatu. Maka, sejatinya ia menyatukan masyarakat, bukan mengkotak-kotakkannya. []

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: