Jamal D. Rahman

14 Februari 2011

Menikmati Puisi di Taman Penyair

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Saya datang ke Iran dengan hati agak menggebu. Inilah negara pewaris dan penerus sastra Persia, dengan banyak penyair sufi yang telah diakui dunia sejak berabad lamanya. Inilah pula sebuah eksperimen negara Islam bermazhab Syi’ah, sejak Ayatullah Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah Reza Pahlevi di tahun 1979. Inilah pula negara yang oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, dituduh mengembangkan nuklir yang mengancam perdamaian dunia. Tapi saya datang ke negara itu dengan hati berbunga puisi.

Acara Kongres Pertama Penyair Iran dan Dunia (The First Congress of Iranian and World’s Poets), yang berlangsung antara 17-21 April 2010, sebenarnya festival penyair internasional sebagaimana lazim diselenggarakan di beberapa negara. Tapi di Iran, festival penyair ini menautkan puisi dengan masa lalu mereka yang bersifat spiritual, masa kini yang dinamis, dan masa depan umat manusia universal yang penuh tantangan. Kongres itu sendiri diikuti oleh 40-an penyair dari 30 negara, di antaranya Azerbaijan, Tajikistan, Uruguay, Cina, Russia, Bulgaria, Kalmykia, Filipina, Iraq, Tunisia, Bangladesh, India, Pakistan, Palestina, Turki, dan Yunani. Dari Indonesia hadir penyair Abdul Hadi W.M. dan saya. Acara baca puisi berlangsung di tiga kota, yaitu Tehran, Isfahan, dan Shiraz.

Acara dibuka langsung oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Sambutan demi sambutan menghiasi seremoni pembukaan di Vahdat Hall, Tehran, ini. Tapi tampak sambutan-sambutan itu tidaklah monotan: puisi bertaburan menghidupkan sambutan yang kerap disambut tepuk tangan hadirin. Sambutan Presiden Ahmadinejad sendiri lebih merupakan pidato tentang kedudukan puisi dalam kehidupan manusia, menunjukkan penguasaannya yang baik akan sejarah puisi Persia. “Dengan menautkan bahasa dengan Tuhan, kata-kata jadi efektif dan abadi,” kata Ahmadinejad dalam pidato tanpa teks itu. Di sela pidatonya, dia mengutip puisi penyair Persia seperti Hafiz (1315–1390), Sa’adi (1207-1291), Rumi (1207-1273), dan Umar Khayyam (1041-1112) dari catatan yang diambilnya dari saku-dalam jasnya.

Dalam pembukaan itu, beberapa penyair baca puisi. Di antaranya George Shakoor, penyair tersohor Lebanon. Pria 75 tahun itu membacakan puisinya (dalam bahasa Arab) dengan berapi-api, sebuah persembahan sekaligus pembelaan bagi Imam Husein, cucu Nabi Muhammad yang juga salah seorang imam Syi’ah Duabelas, gugur di Karbala dan merupakan sumber abadi roh perjuangan orang-orang Syi’ah. George Shakoor sendiri adalah seorang Kristen Ortodoks. “Saya memang orang Kristen, tapi saya menangis dan marah bahwa cucu Nabi (Muhammad) dibunuh dengan mengenaskan,” katanya usai pembacaan puisi. Jelaslah George Shakoor menekankan universalitas puisi dalam melihat dimensi manusia dalam sejarah mereka yang kelam.

Setelah acara pembukaan dan baca puisi, kami para penyair bersalaman dengan Presiden Ahmadinejad, tanpa protokoler. Tak pelak lagi kami agak berebut bersalaman dengan sang presiden yang mengikuti acara dari awal hingga akhir. “Indonesia!” katanya dengan mata berbinar setelah saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan memuji pidatonya. Presiden Ahmadinejat pun, yang selalu tersenyum dan tampak santai, dikerubung oleh para penyair dari berbagai negara. Setelah itu, kami berfoto bersama. Juga tanpa protokoler.

Acara Kongres selalu diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian lagu nasional Iran dari audio-visual, diikuti hadirin yang berdiri dengan khirdmat. Pada setiap acara selalu ditampilkan musik tradisional Iran. Di siang hari acara berlangsung antara jam 9 hingga jam 12. Di malam hari dari jam 20.00 sampai jam 23.00. Selain di Universitas Tehran, Universitas Isfahan, dan Universitas Shiraz, tiga universitas terkemuka di Iran, pembacaan puisi juga berlangsung di makam Hafiz dan Sa’adi di kota Shiraz.

Makam Hafiz. Inilah makam seluas 19 ribu meter persegi dengan hanya satu makam penyair pujaan orang-orang Iran: Khawaja Syamsuddin Muhammad Hafiz Syirazi (1315–1390). Dikenal dengan nama pena Hafiz. Makam Hafiz sendiri berupa pavilion kecil dan terbuka, dikelilingi bangunan tempat pengunjung bisa duduk minum teh sambil menikmati puisi sang penyair. Di bagian belakang terdapat toko buku yang menyediakan karya-karya Hafiz. Dengan latar makam Hafiz inilah beberapa penyair peserta Kongres membacakan puisi mereka. Alangkah romantis menikmati puisi di taman yang indah ini. Puisi para penyair dan lampu warna-warni serta bunga-bunga yang subur, dan terutama Hafiz sendiri, malam itu menghangatkan cuaca yang bagi saya terlalu dingin terutama menginjak jam 22.00 waktu Shiraz.

Salah seorang penyair yang baca puisi malam itu adalah Munis Mezyed, penyair Palestina yang kini tinggal di Romania. Dalam puisinya dia berbicara tentang cinta universal dan impian kemanusiaan yang terasa jauh sekaligus dekat. Sebagai penyair Palestina yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya, suaranya terasa pedih dan mengandung nada harap yang pekat. Dan, adakah pedih melebihi pedih Palestina? Kepada saya, atau melalui saya, Munir Mezyed menyampaikan terima kasih atas solidaritas Indonesia untuk tanah kelahirannya. Puisi penyair yang dicalonkan mendapat Nobel Sastra itu terasa menyayat:

Gaza!
aku akan mencintaimu dari jauh
dari jarak di mana bibir tak bisa jumpa
di mana suara langit lindap
menangga jiwa
laut tak lagi menggemuruh
dan gelombang tak lagi berbisik pada anak-anak batu ….

Dan makam Sa’adi tak kalah luas dibanding makam Hafiz. Bahkan tampaknya lebih luas. Taman itu adalah tempat yang tenteram dan menenteramkan. Aneka tanaman dan bunga-bungaan tertata rapi. Inilah malam terakhir pembacaan puisi —Abdul Hadi W.M. baca puisi di Universitas Isfahan sehari sebelumnya, dan saya baca puisi di Universitas Shiraz pagi harinya. Sa’adi, nama lengkapnya Abu-Muhammad Mushlihuddin Sa’adi bin Abdillah Shirazi (1184 – 1283/1291?), adalah penyair sufi yang harus meninggalkan kampung halamannya, Shiraz, setelah kota itu diinvasi oleh tentara Mongol. Sa’adi lalu mengembara antara lain ke Iraq, Makah, Madinah, Mesir, Jerusalem, dan Turki, hingga akhirnya pulang kembali ke kota kelahirannya. Dia sangat mencintai taman, dan karya-karyanya diilhami oleh taman. Buku puisinya yang terkenal berjudul Bostan (Taman) dan Gulistan (Taman Mawar).

Sudah tentu Sa’adi mendapat tempat istimewa di hati orang-orang Iran, bahkan di hati pekerja taman. Ketika saya berjalan melewati jalan sepanjang taman menuju toilet yang terletak di sudut kompleks makam, saya melihat seorang pria membacakan puisi dalam bahasa Persia. Kontan seorang pekerja taman melanjutkannya dan membacakan puisi itu bersama-sama. Kepada pria itu saya bertanya apakah puisi yang dibacakan tadi karya Sa’adi. Dia bilang ya. Bahkan seorang pekerja taman hafal puisi penyair pengembara ini.

Dengan latar makam penyair besar inilah, malam terakhir pembacaan puisi sekaligus penutupan Kongres Penyair berlangsung. Dengan demikian, Kongres itu seakan memberikan pesan: apa pun yang kita bicarakan tentang dan dalam puisi, ada baiknya di ujung jalan itu kita ingat Sa’adi. Dengan semangat spiritualitas yang tinggi, puisinya menyuarakan nilai-nilai universal kemanusiaan dan kehendak untuk mengubur kehancuran demi kehancuran. Tak perlu disebutkan lagi bahwa salah satu puisi Sa’adi yang terkenal dikutip sebagai hiasan di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. Terjemahan bebasnya:

Anak adam satu badan satu jiwa
Tercipta dari asal yang sama

Bila satu anggota terluka
Semua merasa terluka

Kau yang tak sedih atas luka manusia
Tak layak menyandang manusia.

Acara pembacaan puisi selalu dipadati penonton. Dan mereka mengikuti acara dengan semangat. Bahkan di Shiraz, kami para penyair pulang lebih dulu sementara para penonton masih mengikuti acara yang belum berakhir ketika jam menunjuk angka 00.00 waktu setempat. Meski acara belum berakhir, panitia meminta kami berangkat untuk makan malam —makan malam selalu dilakukan usai acara pada tengah malam. Kali ini kami dijamu di Jahan Nama, sebuah taman yang dibangun pada abad ke-12/13. Taman terbuka yang terawat rapi ini biasa dipakai untuk menjamu tamu negara.

Menyadari sepenuhnya kedudukan puisi dalam kebudayaan dan kehidupan umat manusia, Iran barangkali satu-satunya negara yang menjadikan puisi dan penyairnya sebagai media untuk mempromosikan pariwisatanya dan misi politik internasionalnya.***

4 Komentar »

  1. syair indah sang pecinta……mantap…..tapi nyari dmana bukunya???

    Komentar oleh Ilham Biggerz — 2 Desember 2011 @ 05:00 | Balas

  2. Esai yang mantab!

    Komentar oleh Sulaiman Djaya — 3 Maret 2012 @ 05:00 | Balas

  3. great… terima ksih untuk artikelnya. sangat informatif dan bermanfaat semoga jaya!

    Komentar oleh Lisdiana Saleem — 17 Maret 2012 @ 05:00 | Balas

  4. terima kasih cacatan budayanya… tapi sebelumnya saya juga sdah membaca di majalah horoson

    Komentar oleh Mas Pend — 22 Maret 2012 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: