Jamal D. Rahman

4 Februari 2010

Raja Ali Haji: Paduka Kakanda Dibawa Bertahta

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores qalam (pena) jadi tersarung. —Raja Ali Haji dalam Bustanul Katibin.

Dia adalah Zaman dan Nama dari Melayu-Riau abad ke-19 (dengan Z dan N besar).

Sebagai seorang pujangga, dia adalah pintu abadi sejarah politik dan kebudayaan Melayu, khususnya Melayu Johor-Riau-Lingga-Pahang, lebih khusus lagi Riau-Lingga. Siapa pun yang akan memasuki sejarah politik dan kebudayaan Melayu Riau-Lingga, dia akan melewati pintu itu, langsung atau tidak. Dari sanalah dia bisa memasuki rumah besar sejarah Melayu Riau-Lingga dan mengenal lekak-liku-likat kehidupan politik dan kebudayaannya yang gemilang sekaligus penuh guncangan. Tokoh itu, Raja Ali Haji namanya. Pulau Penyengat tempat lahirnya. Pulau itu juga tempat kuburnya.

Raja Ali Haji adalah sosok intelektual serbabisa. Dia menulis buku politik, sejarah, agama, hukum, bahasa, dan sastra. Tentu juga dia mengajar. Raja Ali Haji menandai babak baru sejarah kebudayaan Melayu. Dia penulis pertama puisi bergaya gurindam. Penulis pertama tatabahasa Melayu. Penulis pertama kamus ekabahasa Melayu. Mungkin penulis pertama biografi Nabi Muhammad berbentuk syair dalam bahasa Melayu. Sudah tentu arti penting kedudukan Raja Ali Haji sebagai pujangga tidak hanya terletak pada fakta bahwa dia adalah penulis pertama beberapa bidang tersebut, melainkan pada keutuhan karya-karyanya yang pastilah memberikan sumbangan besar pada kebudayaan Melayu secara luas. Dan yang tak kalah penting, dia adalah sumber inspirasi tak habis-habis bagi generasi demi generasi kemudian.

Lahir di Pulau Penyengat, 1809 (ada yang menyebut 1808), Raja Ali Haji tumbuh dari dan dalam keluarga terpandang. Dia mewarisi darah kebangsawanan Melayu dari kakeknya, Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Melayu Johor-Riau-Lingga-Pahang Raja Haji Asy-Syahid Fi Sabilillah. Yang Dipertuan Muda (Yamtuan) adalah jabatan semacam perdana menteri, yang dalam banyak hal lebih memainkan peran tinimbang sultan Melayu. Sang kakek mendapat gelar Asy-Syahid Fi Sabilillah, sebab dia gugur dalam pertempuran melawan Belanda di tahun 1784, dimana dia bertindak sebagai panglima perang.

Tetapi tampaknya Raja Ali Haji lebih mewarisi darah ayahnya sebagai seorang ilmuwan. Ayahnya, Raja Ahmad bin Raja Haji Fi Sabilillah, adalah seorang ilmuwan yang menulis sedikitnya 4 judul buku (satu di antaranya bersama Raja Ali Haji). Sebagai seorang ilmuwan, Raja Ahmad dipercaya menjadi penasihat kerajaan, khususnya pada masa pemerintahan kakak kandungnya, Yang Dipertuan Muda Riau VI Raja Ja’far bin Raja Haji Fi Sabilillah. Adapun ibu Raja Ali Haji, ialah Hamidah binti Panglima Malik, puteri dari Selangor.

Di tahun 1822 Raja Ali Haji mengikuti rombongan Kesultanan Riau yang dipimpin ayahnya ke Batavia. Rombongan itu adalah utusan resmi Yang Dipertuan Muda Riau VI Raja Ja’far. Misinya, bertemu dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A. Baron van der Capellan di Batavia untuk membahas dampak suksesi Sultan Mahmud di Riau dan pengangkatan Sultan Husin di Singapura. Inilah untuk pertama kalinya Raja Ali Haji menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sudah tentu pada kesempatan itu dia bertemu dengan beberapa penguasa kolonial, di antaranya ialah Christian van Anggelbeek, seorang penerjemah yang menguasai beberapa bahasa.

Bagi Raja Ali Haji, tentu saja banyak hal berkesan dari perjalanan selama 3 bulan itu. Suka-dukanya. Manis-pahitnya. Di antara yang sangat berkesan bagi anak berusia 13 tahun tersebut adalah pada ketika itu, atas undangan pemerintah Belanda, bersama rombongan dia sempat menonton apa yang disebutnya “wayang Holanda” atau “wayang komidi”. Ialah pentas kesenian di sebuah gedung pertunjukan yang, tulis Raja Ali Haji dalam Tuhfatun Nafis, “sifat rumahnya itu lekuk ke dalam tanah”. Ya, gedung itu adalah Schouwburg, gedung kesenian di zaman kolonial yang kini dikenal dengan Gedung Kesenian Jakarta (Yunus 2002: 68).

Di tahun 1826, Raja Ali Haji sekali lagi mengikuti perjalanan ayahnya. Kali ini ke Semarang, Jawa Tengah sekarang, dengan misi dagang untuk menghimpun dana perjalanan haji ke tanah suci. Dalam perjalanan ini, Raja Ali Haji jatuh sakit, terserang “penyakit hawar, muntah berak hampir tiada harap akan hidupnya,” tulis Raja Ali Haji. Hawar adalah sejenis penyakit menular. Penyakit yang menyerang anak 17 tahun itu rupanya sangat serius, sebab sang ayah sempat memesan keranda sebagai persiapan kalau-kalau ajal datang menjemput. Sang ayah akan membawa pulang ke Riau jenazah sang anak, jika benar ajal menjemput. Tapi di Semarang, bau ajal rupanya hanya mendekat. Maka Raja Ali Haji bisa mencatat dengan cukup rinci kisah perjalanannya, termasuk tempat-tempat yang disinggahinya, seperti Jepara dan Juana.

Sebagaimana telah diniatkan, Raja Ahmad, ayah Raja Ali Haji itu, berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan haji di tahun 1828. Raja Ali Haji ikut serta dalam perjalanan ini. Setelah melaksanakan ibadah haji inilah sesungguhnya nama Haji dilekatkan di bagian belakang nama anak yang semula hanya bernama Raja Ali itu. Tentu saja, di sini Raja Ali Haji tidak hanya melaksanakan ibadah haji. Pastilah dia menggunakan kesempatan itu untuk memperdalam ilmu, khususnya ilmu agama, bahasa, dan sastra Arab. Di abad ke-19, Makkah dan Madinah bukan saja pusat spiritual Islam, melainkan juga pusat intelektual Islam paling penting di dunia. Dan, dunia Melayu adalah satu bagian penting dari koneksi dan jaringan intelektual para ulama secara internasional, yang berpusat di Timur Tengah.

Ditempa oleh perjalanan dan pengalaman hidup yang kaya, Raja Ali Haji tumbuh menjadi pribadi yang matang, baik secara mental maupun intelektual. Bahwa dia turut mengadakan perjalanan ke pulau-pulau sekitar Riau dalam misi menumpas para pembajak laut di tahun 1930-an, pastilah itu menempa kepribadiannya juga. Selanjutnya dia menjadi guru agama yang sangat dihormati di Penyengat, pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga. Sebagai guru, otoritas intelektual dan spiritual Raja Ali Haji jelaslah sangat tinggi. Dia adalah pengikut tarekat Naqsyabandiyah dan penasehat Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Tidaklah mengherankan kalau sang pujangga memberikan banyak nasehat baik kepada para raja maupun para petinggi kerajaan lainnya, sebagaimana dapat dibaca dari karya-karyanya.

Sebagai pengarang, Raja Ali Haji melahirkan sedikitnya 12 judul buku. Sebagian besarnya berupa syair. Mewarisi khazanah kebudayaan Melayu dan tradisi intelektual Islam, terutama dalam bidang bahasa, sastra, dan agama, Raja Ali Haji telah mewariskan banyak hal pada generasi sesudahnya.

Karya-karya Raja Ali Haji

No. Judul, Tahun Tulis, Tahun Terbit

1. Gurindam Dua Belas, 1847, 1853

2. Bustanul Katibin (Taman Para Penulis), 1857, 1857

3. Muqaddimah fi Intidzam Wadzaifil Muluk (Pengantar Tata Aturan Tugas-tugas Raja), 1857, 1887

4. Tsamarat al-Muhimmah (Buah Tugas-tugas Kenegaraan), 1857, 1886

5. Kitab Pengetahuan Bahasa, 1869, 1927

6. Silsilah Melayu dan Bugis, 1865, 1911

7. Tuhfatun Nafis (Hadiah Tak Ternilai), 1865, 1932

8. Syair Hukum Nikah/ Syair Suluh Pegawai, 1866, 1889

9. Syair Siti Sianah, 1866, 1923

10.  Syair Sultan Abdul Muluk, ?, 1867

11.  Syair Sinar Gemala Mestika Alam, ?, 1893

12.  Syair Hukum Faraidh, ?, 1993

Diolah dari beberapa sumber.

Raja Ali Haji wafat di tahun 1873, tanpa informasi memadai tentang kehidupannya. Tapi yang pasti, sang pujangga dikubur di kampung halamannya. Dan, dia seakan menulis tentang dirinya sendiri ketika menulis puisi (dalam Ikat-ikatan Dua Belas Biji) ini:

Kepada seorang fakir maulana,

Diam di Penyengat di Kota Lama,

Sebab perbuatan terlalu kena,

Patut dijadikan zaman dan nama.

Raja Ali Haji telah memberikan sumbangan penting pada kebudayaan Melayu-Indonesia. Dalam arti itu dia telah melakukan sesuatu yang kena dan tepat bagi kebudayaan Melayu-Indonesia itu sendiri. Kenalah pula sang pujangga dikukuhkan sebagai pahlawan nasional di tahun 2004. Atas semuanya itu, sang pujangga patut dijadikan “Zaman” dan “Nama” (dengan Z dan N besar). Ya, dia adalah Zaman dan Nama itu sendiri, Zaman dan Nama dari kebudayaan Melayu-Riau abad ke-19 yang nyaris redup —dan dia membuatnya bersinar abadi.

Sebatang Pohon Keluarga Pengarang

Raja Ali Haji. Jangan salah, Bapak. Raja di sini bukanlah  gelar raja sebagaimana lazim dipahami, yaitu penguasa tertinggi sebuah dinasti atau kerajaan. Bukan. Raja di sini “sekedar” nama biasa, dan digunakan pada hampir semua anggota keluarga besar Raja Ali Haji sang pujangga, laki atau perempuan. Tapi kita tidak hanya berjumpa dengan banyak Raja dalam pohon keluarga cendekia ini. Kita juga berjumpa dengan banyak Ali dan banyak Haji. Maka, bersiap-siaplah untuk bingung!

Dia seorang tokoh Melayu abad ke-19 yang sangat penting. Sudah tentu dia menghayati roh kebudayaan Melayu dengan baik, sama dengan baiknya dia menghayati agama Islam yang dianutnya. Sudah tentu pula dia menguasai kebudayaan Melayu dengan baik, sama dengan baiknya dia menguasai ilmu-ilmu Islam sebagai sumber isi karya-karyanya. Itulah sebabnya, Raja Ali Haji, pujangga kita itu, mewarisi kebudayaan Melayu dengan penuh percaya diri, dan dengan penuh percaya diri pula dia mencoba menyumbangkan sesuatu pada kebudayaan Melayu itu sendiri.

Sumbangan utamanya tentu saja karya tulisnya. Dengan 12 judul karya tulisnya, yang meliputi topik sejarah, politik, agama, hukum, biografi, bahasa, dan sastra, jelaslah bahwa dia seorang pujangga yang mumpuni. Dari karya-karyanya, menjadi jelas pula bagaimana dia mewarisi dan menghayati kebudayaannya sebagai seorang pujangga: ya ulama, ya sastrawan, ya sejarawan, ya penasihat kerajaan. Dari mana datangnya pujangga kita ini? Lingkungan macam apa yang membuatnya begitu produktif sebagai seorang pengarang?

Salah satu sumber penting kreativitas Raja Ali Haji adalah tradisi keilmuan Islam, sumber sangat penting kebudayaan Melayu. Sebagai seorang ulama dan pengikut tarekat Naqsyabandiyah, tentu saja sang pujangga sangat akrab dengan tradisi tersebut. Di sini pastilah dia bertemu dengan tradisi syi’ir dan nadzam. Kata syi’ir inilah yang diserap ke dalam bahasa Melayu-Indonesia menjadi syair. Secara bahasa, syi’ir dan nadzam berarti sama, yaitu puisi. Yakni bentuk puisi Arab tradisional dengan rima, suku kata dalam jumlah tertentu dan pola-pola yang ketat.

Tetapi, keduanya biasanya dibedakan: syi’ir adalah puisi “murni” sebagai ungkapan perasaan atau dimensi-dimensi emotif dan imajinatif seorang penyair; nadzam adalah puisi sebagai medium mengemukakan aspek-aspek diskursif pemikiran dalam tradisi keilmuan Islam. Dalam arti kata lain, nadzam adalah rumusan tentang disiplin ilmu-ilmu Islam dalam pola-pola syi’ir. Demikianlah maka, di samping diungkapkan dalam bentuk prosa, tradisi ilmu-ilmu Islam seperti aqidah, fiqih, akhlak, tasawuf, tatabahasa (sharaf ‘morfologi’, nahwu ‘sintaksis’), biografi dan lain sebagainya diungkapkan dalam pola-pola syair tertentu. Dalam itu itu, puisi adalah medium melalui mana ilmu-ilmu Islam ditransmisikan dari satu ke lain tempat, dari satu ke lain generasi.

Itulah kiranya latar intelektual Raja Ali Haji, yang mengilhaminya untuk menulis aspek-aspek ilmu fiqih, akhlak, tasawuf, dan biografi Nabi Muhammad dalam bentuk syair (puisi). Tidaklah mengherankan kalau Raja Ali Haji menulis hampir semua tema yang digelutinya dalam bentuk syair, termasuk nasihat-nasihat sosial, politik, sejarah, dan keagamaannya. Tetapi bentuk syair yang dipilihnya jelaslah syair dalam tradisi sastra Melayu, yaitu puisi 4 baris dengan rima aaaa dan setiap larik terdiri dari 4 kata. Bukan syi’ir dalam pengertian bentuk puisi Arab tradisional yang ketat.

Tradisi keilmuan (Arab) Islam jugalah kiranya yang menjadi rujukan utama ketika sang pujangga menyusun buku Bustanul Katibin (Taman Para Penulis), buku pertama tentang tatabahasa Melayu. Ini adalah usaha Raja Ali Haji dalam standarisasi dan pembakuan bahasa Melayu melalui sistem tatabahasa yang sejauh itu belum disusun para ahli bahasa. Dalam menyusun tatabahasa Melayu itu, sang pujangga menerapkan prinsip-prinsip tata bahasa Arab dalam bahasa Melayu. Ini menunjukkan sang pujangga menguasai tatabahasa Arab, satu alat penting dalam tradisi keilmuan Islam yang kemudian dimanfaatkan Raja Ali Haji untuk memajukan bahasa Melayu.

Raja Ali Haji menyusun buku Bustanul Katibin atas permintaan Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali bin Raja Ja’far, saudara sepupu Raja Ali Haji sendiri. Sejak itulah Raja Ali Haji mulai produktif menulis. Beberapa tahun sebelumnya, Raja Ali bin Raja Ja’far mengangkat Raja Ali Haji menjadi penasihatnya untuk masalah pemerintahan dan keagamaan. Tentu saja hal itu merupakan pengakuan dan kepercayaan sang yang dipertuan muda atas otoritas intelektual Raja Ali Haji sekaligus sokongan atas aktivitas keilmuannya.

Perlu disebutkan pula peranan pejabat kolonial Belanda, khususnya Hermaan von de Wall sebagai asisten residen Belanda di Tanjungpinang. Dengan pejabat Belanda inilah Raja Ali Haji bekerja sama menyusun buku, di antaranya Kitab Pengetahuan Bahasa, buku pertama kamus ensiklopedik bahasa Melayu ekabahasa. Hubungan Raja Ali Haji dan von de Wall akhirnya lebih dari sekadar hubungan kerja. Hubungan itu menjadi persahabatan yang sangat akrab sehingga kepada von de Wall sang pujangga mengemukakan juga masalah-masalah yang sangat pribadi, seperti penyakit yang dideritanya dan lemah syahwat yang menderanya. Hubungan akrab itu membuat Raja Ali Haji leluasa mendiskusikan masalah-masalah yang ditulisnya, misalnya sejumlah entri untuk Kitab Pengetahuan Bahasa.

Berikut ini ilustrasi lain kedekatan sang pujangga dengan von de Wall. Selasa, 6 Juli 1858, Raja Ali Haji berniat berkunjung menemui Hermann von de Wall, pejabat pemerintahan Belanda di Tanjungpinang, Pulau Bintan, Riau. Tapi sang pujangga mengurungkan niatnya, dan berkirim surat kepada von de Wall bahwa hari itu dia tidak bisa datang ke Tanjungpinang. Apa pasal? Rupanya hari itu Raja Ali Haji pergi berburu burung ke pulau Los, sebuah pulau kecil tak berpenghuni di Teluk Bintan. “… ini hari kita pergi menembak burung di pulau Los, mencobakan senapang yang dihadiahkan sahabat kita kepada kita …,” tulis Raja Ali Haji dalam suratnya (Putten & Al Azhar 2007: 51). Beberapa hari sebelumnya, Hermaan von de Wall memang mengirimkan sebuah senapang (atau senapan) burung kepada Raja Ali Haji.

Sang pujangga tampaknya suka berburu atau menembak burung. Dia barangkali memesan senapang itu kepada van de Wall. Sebab, dalam surat sebelumnya kepada von de Wall, Raja Ali Haji bertanya berapa harga senapang yang harus dibayarkannya. Belakangan jadi jelas bahwa senapang itu merupakan hadiah untuk sang pujangga. Maklumlah, ketika itu Raja Ali Haji dan Hermann von de Wall sedang bekerja sama untuk proyek penyusunan buku.

Tetapi, sejauh itu Raja Ali Haji tetaplah tidak begitu disukai oleh residen Belanda. Dia tetap dipandang sebagai berbahaya bagi kelanggengan kolonialisme Belanda khususnya di kawasan Riau.

Dalam pada itu, berlatar kebudayaan Melayu dan keilmuan Islam, Raja Ali Haji tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar. Dia memang lahir dari keluarga bangsawan. Tapi bagaimanapun, untuk sebagian, kehormatan pohon keluarganya ditopang juga oleh tradisi keilmuan keluarga dengan sejumlah penulis pada banyak cabang dan ranting pohon keluarga itu sendiri. Tradisi menulis dalam pohon keluarga asal Bugis itu tampaknya dirintis oleh ayah Raja Ali Haji, Raja Ahmad bin Raja Haji Asy-Syahid Fi Sabilillah. Dia menulis sejumlah buku, termasuk Tuhfatun Nafis yang tak sempat dirampungkannya, dan kelak dirampungkan oleh Raja Ali Haji. Karya-karya lain Raja Ahmad adalah Syair Ungku Puteri, Syair Perang Johor, dan Syair Raksi.

Demikian selanjutnya pohon keluarga itu adalah pohon keluarga pengarang atau sastrawan, dan kiranya menjadi lingkungan intelektual dan lingkup pengaruh terdekat Raja Ali Haji. Raja Daud, saudara seayah Raja Ali Haji, menulis Syair Perang Banjarmasin. Raja Saleha, saudara kandungnya, ditengarai menulis Syair Abdul Muluk bersama Raja Ali Haji sendiri. Selanjutnya, Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali, saudara sepupu Raja Ali Haji itu, juga seorang penulis. Cucu Yang Dipertuan Muda Riau VIII ini adalah juga pengarang terkenal. Ali Kelana namanya, menulis 4 judul buku. Yang Dipertuan Muda Riau IX Raja Haji Abdullah, juga saudara sepupu Raja Ali Haji, menulis setidaknya 4 kitab syair.

Anak-anak Raja Ali Haji pun adalah para pengarang. Yaitu Raja Hasan (Syair Burung), Raja Safiah (Syair Kumbang Mengindera), dan Raja Kalzum  (Syair Saudagar Bodoh). Tambahan lagi, empat cucu Raja Ali Haji adalah juga pengarang banyak buku. Mereka adalah Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah Sulaiman, Raja Haji Muhammad Thahir, Raja Abdullah (Abu Muhammad Adnan), dan Raja Haji Ahmad (Haji Ahmad Taib).  Dua orang cicit Raja Ali Haji pun, ialah Raja Haji Muhammad Said dan Raja Jumaat, adalah juga pengarang beberapa judul buku.

Begitulah beberapa Raja, beberapa Ali, dan beberapa Haji menjadi lingkungan intelektual Raja Ali Haji dalam bagan kebudayaan Melayu. Bingung dengan Raja-Raja, Ali-Ali dan Haji-Haji itu? Tak usah bingung, Bapak. Toh kita tak harus menghafalnya, bukan?

Puisi sebagai Bahasa Ilmu

Sebenarnya agak mengejutkan bahwa karya pertamanya adalah Gurindam Dua Belas (1847). Mengejutkan, karena itulah karya pertama seorang pengarang Melayu tanpa pernah ada contoh sebelumnya dalam sejarah kebudayaan Melayu. Inilah untuk pertama kalinya jenis puisi gurindam diperkenalkan, oleh seorang pengarang dalam karya pertamanya pula. Dan, Raja Ali Haji sadar sepenuhnya bahwa sang pujangga sedang memperkenalkan bentuk puisi baru dalam khazanah sastra Melayu.

Itulah sebabnya sang pujangga memberikan definisi yang jelas tentang gurindam, bentuk puisi baru yang berbeda dari pantun atau syair yang sudah lama dikenal. Dia menulis semacam kredo tentang bentuk baru puisi yang diperkenalkannya dalam khazanah kebudayaan Melayu. “Adapun gurindam itu,” kata Raja Ali Haji, “yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan syarat dan sajak yang kedua itu seperti jawab.” Dirumuskan dalam bahasa hari ini, gurindam adalah puisi yang setidaknya terdiri dari dua larik, masing-masing berima akhir, dan antara larik pertama dan larik kedua berhubungan erat sebagai satu kesatuan kalimat utuh. Larik pertama itulah yang disebut Raja Ali Haji sebagai syarat; larik kedua sebagai jawab. Raja Ali Haji menyebutnya “gurindam cara Melayu”.

Hal itu punya arti penting. Ialah bahwa Raja Ali Haji pastilah mengenal dengan baik tradisi pantun dan syair yang sudah lama mengakar dalam kebudayaan Melayu, dan sadar sepenuhnya bahwa dia sedang memperkenalkan bentuk puisi baru. Seorang pengarang bagaimanapun tidak akan bisa memperkenalkan bentuk baru tanpa mengenal dengan baik bentuk-bentuk sastra yang sudah ada dalam tradisi dan kebudayaannya. Karena Raja Ali Haji akan memperkenalkan gurindam sebagai bentuk puisi baru, maka pertama-tama dia perlu memberikan definisi yang jelas tentang bentuk puisi baru tersebut. Sebagaimana terbukti lewat karya-karyanya yang kemudian, Raja Ali Haji jelas bukan saja mengenal, melainkan menguasai dengan baik tradisi sastra Melayu, khususnya pantun dan lebih-lebih syair.

Penguasaannya yang baik terhadap pantun dan syair tampak teruma dari apa yang disebutnya ikat-ikatan. Puisi itu tidak bisa disebut pantun karena dua baris pertamanya bukanlah sampiran; tidak pula bisa disebut syair karena rima akhirnya abab; tak pula bisa disebut gurindam karena hubungan antardua lariknya bukanlah hubungan syarat dan jawab. Dengan demikian, ikat-ikatan merupakan percobaan seorang penyair dalam karya kreatifnya, dengan cara memadukan atau melebur bentuk pantun —terutama pantun berkait— dengan syair, menjadi suatu bentuk puisi baru. Raja Ali Haji jelas menyadarinya, dan karena itu dia menyebutnya ikat-ikatan. Percobaan dan kesadaran ini hanya mungkin tumbuh dari penguasaan yang baik atas pantun dan syair sekaligus.

Melakukan percobaan dalam bentuk baru puisi Melayu, Raja Ali Haji menjalankan tugasnya sebagai seorang penyair. Ialah menyegarkan bentuk puisi yang sejauh itu amat mapan dalam pantun dan syair. Tetapi seorang penyair pada akhirnya dihadapkan pada pilihan-pilihan bentuk puisi yang dipandangnya paling strategis untuk menyampaikan gagasan-gagasannya bagi sebanyak mungkin orang. Apalagi Raja Ali Haji adalah juga seorang guru agama dan penasihat kerajaan, yang tentulah berkepentingan untuk berbicara pada khalayak ramai. Dalam konteks itulah pada akhirnya sang pujangga memilih syair Melayu konvensional sebagai media utama dalam mengemukakan gagasan-gagasannya. Di samping syairlah bentuk puisi yang paling dikuasainya, adalah syair juga bentuk puisi yang sangat akrab dengan alam pikiran masyarakat Melayu.

Banyak puisi Raja Ali Haji merupakan puisi nasihat, baik kepada raja, petinggi kerajaan, maupun masyarakat umum. Dilihat dari kacamata hari ini puisi-puisi itu barangkali akan terasa menggurui, tetapi bagaimanapun puisi-puisi tersebut hanya harus dilihat dari konteks zaman ketika Raja Ali Haji menulisnya di satu sisi, dilihat juga dari relevansi moral dan sosialnya hingga hari ini di sisi lain. Dalam arti itu puisi-puisi Raja Ali Haji mengandung nasihat moral-sosial-politik yang tetap aktual dan relevan, misalnya “Syair Nasihat” yang merupakan nasihat politik agar petinggi negara memperhatikan nasib kaum papa.

Adalah menarik juga bahwa di tangan Raja Ali Haji puisi (syair) tidak saja merupakan media mengemukakan sejarah. Tidak pula sekadar merupakan media  mengekspresikan sisi-sisi emotif manusia sebagaimana umumnya puisi. Lebih dari itu, syair-syair Raja Ali Haji adalah media mengemukakan ilmu, khususnya ilmu-ilmu agama Islam. Demikianlah di tangan Raja Ali Haji ilmu yang sejatinya diuraikan secara diskursif (dalam prosa) kini dikemukakan dalam puisi. Dengan kata lain, di samping merupakan bahasa emotif, moral, dan sejarah, syair kini juga merupakan bahasa ilmu. Bisa dipastikan ini diilhami oleh nadzam dalam tradisi keilmuan Islam.

Di samping sejarah Melayu dan nasihat-nasihat moral-sosial-politik-agama, tema yang menonjol dalam syair-syair Raja Ali Haji adalah ilmu fiqih. Tentu saja ini berkaitan dengan, sekaligus menjelaskan mata pelajaran yang diajarkannya sebagai seorang guru agama. Syair-syair Raja Ali Haji di bidang ilmu fiqih meliputi antara lain ketentuan-ketentuan wudu, shalat, zakat, puasa, hukum waris dan hukum nikah. Uraian sang pujangga tentang ilmu fiqih dalam syair sangat rinci, yang segera memperlihatkan bahwa ini bukan sekadar usaha “puitisasi” ilmu fiqih itu sendiri, melainkan juga sebagai buku ajar seorang guru agama bagi murid-muridnya. Menjelaskan waktu shalat shubuh, misalnya, sang pujangga menulis syair berikut ini (Abu Hassan Sham 1993: 386):

Berkekalan waktu fajar nan datang

Di atas langit sudah terbentang

Makan sahur sudahlah pantang

Orang ke masjid banyaklah datang

Waktu subuh itulah awalnya

Berkekalan sampai siang harinya

Yaitu terbit matahari siangnya

Demikianlah tuan segala waktunya.

Yang tak kalah menarik dalam menjelaskan ilmu fiqih lewat syair adalah digunakannya fiksi. Meskipun berbicara tentang fiqih, syair Raja Ali Haji menggunakan fiksi dan imajinasi. Syair-syair panjang Raja Ali Haji bagaimanapun merupakan syair naratif: ada tokoh, latar, dan alur (jalan cerita). Pun syair-syair ilmu. Syair Siti Sianah, misalnya, tempat sang pujangga menguraikan ketentuan-ketentuan fiqih terutama yang berhubungan dengan kaum perempuan, menceritakan sosok Siti Sianah, baik sebagai seorang istri maupun sebagai tokoh agama. Dia adalah wanita ahli agama, tempat orang-orang bertanya tentang ilmu agama itu sendiri. Terutama melalui tokoh inilah sang pujangga menyampaikan pelajaran tentang ilmu fiqih (dan akhlak).

Raja Ali Haji jelas mempertimbangan penokohan, latar, dan alur, bahkan lengkap dengan suasana romantisnya. Dikisahkan, ibu-ibu berdiskusi tentang ilmu agama dalam sebuah kelompok pengajian yang dalam syair itu disebut zawiyah, semacam majelis ta’lim sekarang. Diskusi mereka tampaknya buntu, sehingga mereka sepakat mengundang Siti Sianah untuk mengisi pengajian dan berdiskusi bersama mereka. Nah, Raja Ali Haji melukiskan sebuah adegan romantis antara Siti Sianah dan suaminya, Muhammad Zahid, sebelum wanita itu berangkat ke pengajian (Abu Hassan Sham 1993: 373):

Marilah tuan sila adinda

Berganti pakaian barang yang ada

Mematut pakaian biar kakanda

Kerana menghadap paduka bonda

Keduanya sama masuk bilik

Membuka peti kulit yang molek

Keluarlah pakaian yang pelik-pelik

Suaminya mematut sambil menilik

Sianah nan cantik bukan kepalang

Putih bersih gilang-gemilang

Durjanya subur cahaya cemerlang

Lengan berpontoh tangan bergelang

Berkain tenung Palembang di bawah

Berpending emas intan bertatah

Berbaju sutera putih yang metah

Rupanya manis terlalu petah

Bertudung kasa benang emas putih

Cahaya mukanya sangatlah bersih

Bibirnya manis lidahnya fasih

Suaminya memandang bertambah kasih

….

Siti Sianah pun berangkat naik kereta (mobil), didampingi suami dan empat perempuan. “Berjalan mereka menyusur kota,” tulis Raja Ali Haji dalam satu larik syairnya. Setiba di zawiyah, Siti Sianah dijamu, dan sebentar kemudian pengajian dimulai. Kisah selanjutnya adalah pengajian dan tanya-jawab antara ibu-ibu dan Siti Sianah, terutama tentang fiqih dan akhlak yang berhubungan dengan wanita —ingat, semuanya dalam bentuk syair. Menjelang pengajian selesai, sang suami datang untuk menjemput Siti Sianah. “Paduka kakanda dibawa bertakhta,” tulis Raja Ali Haji melukiskan kedatangan suami itu. Dan, tulis sang pujangga pula, dia datang “berkuda putih semberani”. Siti Sianah pun pulang diantar oleh beberapa orang peserta pengajian. Setelah para pengantar pulang, Siti Sianah berdua saja dengan suaminya. Pada episode ini Raja Ali Haji lagi-lagi mengisahkan suasana romantis suami-istri itu (Abu Hassan Sham 1993: 401-402):

Tatkala Sianah menghambur kalam

Mulutnya manis bermadu zamzam

Muhammad Zahid hatinya geram

Diciumnya pipi melepaskan dendam

Cium dibalas oleh Siti

Dipeluknya leher memuaskan hati

Keduanya sama bijak mengerti

Kasih dan sayang sudah sebati

Ketika duduk berkata-kata

Dibawanya beradu adinda serta

Siti Sianah mengerna denta

Kesukaan kakanda diturut semata

Keduanya sama masuk kelambu

Akan memuaskan nafsu dan kalbu

Beberapa pula madah dan cumbu

Cinta mahabbah berpuluh ribu

….

Dilihat dari berbagai sudut, Raja Ali Haji adalah seorang pujangga dalam arti sesungguhnya. Sebagai penyair dia percaya sepenuhnya pada kekuatan kata-kata, sebagaimana tercermin dari kata-katanya dalam pengantar Bustanul Katibin yang dikutip di awal tulisan ini. Dia bahkan tidak saja melakukan percobaan kreatif lewat gurindam dan ikat-ikatan serta syair sebagai bahasa ilmu, melainkan juga merintis penyusunan tatabahasa Melayu dan kamus ensiklopedis ekabahasa Melayu. Maka, tak syak lagi Raja Ali Haji adalah, untuk meminjam kata-katanya sendiri, paduka kakanda dibawa bertahta.***

Pondok Cabe, 28 Januari 2010

3 Komentar »

  1. terima kasihtulisan yang bagus dan lengkap…. saya jadi tahu apa dan siapa raja ali haji….

    Komentar oleh musthofa — 9 Februari 2010 @ 05:00 | Balas

  2. Alhamdulillah, tulisan Anda memperkaya bahan tulisan saya “RAH: Bukan Hanya Yang Pertama” untuk mengenangnya sebagai pahlawan nasional. Saya bersyukur kenal dan bergaul dengan cicitnya Hasan Junus -alm. Sejak mahasiswa mulai akrab mengenal RAH, maka skripsi saya yang saya nilai asal jadi) RAH dan AKM Pada Kesustraan Pra Indonesia. Syukron. salam

    Komentar oleh Syafruddin Saleh Sai Gerg — 22 Oktober 2013 @ 05:00 | Balas

  3. Raja Ali Haji? 2 bulan lalu saya ziarah ke makam beliau. Tulisan menarik.

    Komentar oleh Humari — 9 Desember 2013 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: