Jamal D. Rahman

3 Februari 2010

Gintamini, Korban Getir Globalisasi Ekonomi

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Di hadapan kekuatan global, suatu komunitas lokal tidak saja dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka didorong untuk berjuang guna meraih berbagai impian, yang sebagiannya dirangsang oleh godaan dunia global itu sendiri. Lebih dari itu, mereka juga dihadapkan pada berbagai dilema, sebagiannya ialah antara merawat tradisi atau mengorbankannya demi meraih impian, antara menjaga nilai-nilai luhur atau mengabaikannya, dan antara menjaga manusia dan kemanusiaan atau terpaksa melecehkannya. Pendeknya, antara meraih impian dan ongkos mahal yang mesti dibayarkan untuk meraih impian itu sendiri. Dilema tersebut demikian sulit, sebab ia bukan saja pilihan-pilihan yang mesti diambil guna mengejar ketertinggalan dengan ongkos yang mungkin sedia dibayarkan, melainkan juga bersinggungan dengan arti atau makna sebuah impian dalam kehidupan mereka. Seandainyapun bisa diraih, apakah sebuah impian akan benar-benar menjadi sesuatu yang bermakna bagi mereka? Dalam arti itu maka impian, lebih dari sekadar menyangkut pertumbuhan sosial-ekonomi yang direncanakan, pada akhirnya menyentuh juga dimensi-dimensi eksistensial manusia dan psikososial suatu masyarakat.

Di hadapan kekuatan global, suatu komunitas lokal juga dihadapkan pada berbagai goncangan, sebagiannya ialah goncangan sosial, ekonomi, politik, dan nilai-nilai. Goncangan mana mengganggu dan bahkan mengguncang ketenteraman sosial yang sejauh itu terjaga, bahkan meretakkan keutuhan sosial yang sejauh itu terawat. Goncangan mana dapat menimbulkan perubahan-perubahan radikal baik pada tataran individu maupun kolektif. Di zaman modernisasi, goncangan itu merupakan konsekuensi dan anak kandung dari ide kemajuan (the idea of progress), suatu doktrin ekonomi-politik modernisasi yang diterima oleh banyak Negara Berkembang. Dan di zaman globalisasi sesudahnya, di samping masih dibayang-bayangi oleh impian dan ide kemajuan, goncangan itu ditimbulkan terutama oleh nilai-nilai “asing” dan kekuatan multinasional —terutama kekuatan ekonomi— yang mendesakkan diri secara massif dan ekstensif ke lingkungan masyarakat lokal di mana-mana, yang dimungkinkan oleh teknologi komunikasi dan informasi serta konsensus global yang diterima oleh banyak negara.

Bagi kita di Indonesia, semua itu masih merupakan masalah serius hingga hari ini, ketika kita akan mengakhiri dekade pertama abad ke-21. Di hadapan berbagai masalah aktual dan krusial yang menuntut perhatian dan kesungguhan kita untuk menanganinya, seperti masalah korupsi yang begitu akut di sekujur tubuh negara kita, menyadari terus-menerus adanya ketegangan dan goncangan yang ditimbulkan oleh persinggungan kekuatan global dan dunia lokal kita —persinggungan yang tak mungkin dielakkan lagi— tetaplah penting dan relevan. Masalah Freeport di Papua, yang telah menelan banyak korban dan menimbulkan konflik vertikal dan horisontal dalam jangka waktu yang cukup lama, adalah satu peringatan bahwa dampak persinggungan dunia global dan dunia lokal di sekitar kita sama sekali tak boleh diabaikan. Lebih dari itu, makin kuatnya desakan kekuatan global ke tengah-tengah masyarakat kita, masyarakat kita yang sebagian besarnya merupakan komunitas etnis yang hidup dengan sistem dan nilai-nilai tradisi lokal mereka, meminta kita untuk terus menyadari kemungkinan timbulnya ketegangan-ketegangan baru.

Salah satu aspek penting dari semua itu adalah menyelami dimensi manusia di tengah goncangan sejarah yang dihadapinya di simpang jalan kebudayaan dan kehidupannya sendiri. Pada dirinya sendiri manusia selalu merupakan makhluk yang kompleks, antara kehendak untuk menentukan sendiri arah kehidupannya di satu pihak dan keterbatasan-keterbatasannya sendiri di pihak lain, antara kemampuan untuk mengatasi sendiri masalah-masalah mereka di satu sisi dan hambatan-hambatan objektif yang mereka hadapi di sisi lain. Pada titik itu manusia mungkin berhasil mengatasi masalah dan dilema yang dihadapinya dan mencapai apa yang diimpikannya dengan ongkos serendah mungkin. Tapi mungkin juga justru pada titik itulah manusia mengalami kehancuran dengan ongkos yang tak tertanggungkan. Manusia memang kerap terombang-ambing antara keberhasilan dan kegagalan, antara kemajuan dan kehancuran. Tapi bagaimanapun, nilai akhir perjuangan manusia mengatasi masalah mereka di simpang jalan kebudayaan dan kehidupan tidak melulu terletak pada apa yang dapat dipandang sebagai keberhasilan dan atau kemajuan, melainkan juga pada nilai-nilai luhur yang secara universal dijunjung tinggi.

Dimensi manusia dalam tarik-ulur kekuatan global dan lokal itu terpancar dalam banyak produk kebudayaan, yang tetap memiliki gema penting di tengah suara gemuruh tema-tema utama dunia global dewasa ini. Isu hak asasi manusia, feminisme, krisis lingkungan, korupsi, pemerintahan yang bersih, krisis nuklir, terorisme dan lain-lain telah mewarnai wacana intelektual kaum terpelajar sebagai tema-tema mendesak sejak sekitar 20 tahun terakhir. Di tengah gemuruh suara-suara itu, masalah dimensi manusia dalam ketegangan yang timbul dari persinggungan kekuatan global dengan dunia lokal tampak undur ke belakang. Tetapi, mengingat ongkos kemanusiaan yang mungkin timbul dari ketegangan itu bisa jadi tak tertanggungkan, maka gema masalah itu tetap perlu diperdengarkan dan diperdengarkan lagi, lewat banyak produk kebudayaan. Inilah suara sayup di tengah suara riuh isu-isu mutakhir dunia global.

Suara sayup itu terdengar antara lain lewat karya sastra. Tak perlu dikatakan lebih jauh bahwa karya sastra mengekspresikan dan menyuarakan dimensi-dimensi manusia dalam jalan simpang kebudayaan dan kehidupan mereka. Apa yang lebih penting adalah bahwa dalam karya sastra, manusia —yang pada dirinya sendiri merupakan makhluk kompleks itu— sejatinya merupakan pertimbangan pertama dan utama dalam percaturan kehidupan mereka yang penuh ketegangan, sehingga manusia diselami lewat dimensi-dimensinya yang rumit dan sublim. Manusia adalah makhluk berharga, sama berharganya dengan kehidupan mereka, tetapi makhluk berharga itu justru seringkali dicampakkan atau bahkan mencampakkan diri. Karya sastra mencoba menyelami manusia dan kemanusiaan dari sisinya yang paling jernih hingga sisinya yang paling gelap —kejujurannya dan kemunafikannya, ketulusannya dan keculasannya, kebaikannya dan kejahatannya, dan seterusnya.

Gintamini: Pergulatan Sebuah Masyarakat Lokal
Janji Gintamini adalah usaha menyelami manusia di tengah simpang jalan tradisi lokal yang terdesak oleh kekuatan ekonomi global. Novel karya Pudarno Binchin, sastrawan Brunei Darussalam, itu tetap relevan hingga sekarang dan nanti, bahkan akan kian relevan khususnya ketika ideologi neoliberalisme merambah ke berbagai belahan dunia dan perlawanan global masyarakat madani tak kuasa membendungnya —juga di sini di kawasan Nusantara. Di samping itu, seiring dengan menguatnya tuntutan akan pasar-bebas dan perdagangan-bebas, kekuatan ekonomi global sejatinya adalah juga suatu peringatan akan bangkitnya kesadaran lokal sebagai respon terhadap ekonomi global itu sendiri. Dirumuskan dalam cara lain, kewaspadaan suatu komunitas lokal terhadap kekuatan ekonomi global yang dipandang akan menghancurkan kekayaan dan nilai-nilai tradisional mereka justru bisa bangkit akibat masuknya kekuatan ekonomi global ke tengah-tengah mereka —dan itu bisa menimbulkan ketegangan dan konflik serius.

Janji Gintamini, pemenang lomba menulis novel dalam rangka perayaan 25 tahun tahta sultan Brunei Darussalam di tahun 1997, adalah kasus imajinatif tentang suatu komunitas lokal yang —dengan kekuatan tradisi lokal mereka— mencoba mempertahankan diri sekuat tenaga menghadapi perusahaan multinasional yang mengancam kekayaan dan nilai-nilai tradisional mereka. Ancaman itu demikian serius, tidak saja karena perusahaan multinasional langsung atau tidak membawa serta nilai-nilai yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat lokal. Lebih dari itu, ia juga menuntut keahlian teknis cukup tinggi yang sejauh itu belum mungkin disediakan oleh komunitas lokal tersebut, sehingga tenaga ahli harus didatangkan dari luar dan mau tak mau harus bersinggungan dengan anggota komunitas. Persinggungan itu sendiri cenderung disikapi dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran, sebab ia dipandang sebagai bagian dari persinggungan besar dunia global dengan dunia lokal, dua dunia dengan kekuatan masing-masing yang sama sekali tidak seimbang.

Semua itu pada akhirnya sampai pada suatu pertanyaan: jika sebuah perusahaan multinasional memiliki suatu proyek di tengah suatu komunitas lokal, siapakah yang akan paling diuntungkan oleh proyek itu? Si perusahaan multinasional, masyarakat lokal, ataukah negara secara nasional? Dikemukakan secara negatif, di antara tiga faktor itu, siapakah yang akan paling dirugikan? Jawaban Janji Gintamini kiranya cukup jelas: jika perusahaan itu mendatangkan keuntungan, maka yang akan paling meraup keuntungan adalah si perusahaan multinasional; sebaliknya, jika perusahaan itu mendatangkan kerugian, maka yang akan paling menderita kerugian adalah komunitas lokal. Di samping itu, pesan umum Janji Gintamini kiranya cukup jelas juga: jika sebuah proyek perusahaan multinasional di suatu komunitas lokal dijalankan dengan mengabaikan manusia dan dimensi-dimensi sosialnya yang kompleks, kerugian paling berat akan diderita oleh komunitas lokal itu sendiri.

Sementara itu, seperti akan ditunjukkan nanti, sebuah masyarakat lokal memiliki dinamikanya sendiri untuk memberikan relevansi baru atas tradisi dan nilai-nilai tradisional mereka. Sebuah tradisi dan komunitas pendukungnya tidaklah statis, tidak pula stagnan. Seiring dengan perkembangan tingkat kognitif suatu masyarakat, yang digerakkan terutama oleh kemajuan pendidikan anggota masyarakat itu sendiri, tradisi diwariskan dari generasi ke generasi dengan arti dan spirit yang berkembang di balik bentuk-bentuknya yang tetap. Dengan perkembangan arti dan spirit sebuah tradisi itulah suatu komunitas lokal terus membangun kehidupan-bersama di kalangan mereka untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang mereka warisi dari generasi ke generasi. Dengan demikian, penafsiran baru atas sebuah tradisi —penafsiran yang lebih bisa memenuhi selera intelektual kaum terpelajar— adalah usaha memberikan relevansi baru atas tradisi itu sendiri bagi kehidupan dan masalah yang dihadapi oleh suatu masyarakat. Janji Gintamini merefleksikan pernafsiran baru atas tradisi sebuah masyarakat lokal di tengah gejolak sosial akibat persinggungan antara kekuatan global dengan dunia lokal mereka.

Memberikan penafsiran dan relevansi baru atas tradisi itu selanjutnya menentukan respon suatu komunitas lokal atas desakan ekonomi global ke tengah mereka. Ia mengukuhkan suatu kepercayaan baru terhadap tradisi dan sistem kepercayaan lokal mereka sebagai kekuatan untuk tidak saja mempertahankan diri dari ancaman ekonomi global, melainkan juga untuk menantang dan melawannya. Suatu komunitas lokal bagaimanapun memiliki kekuatannya sendiri, yang dengan satu dan lain cara dapat dilipatgandakan sedemikian rupa menjadi tembok kokoh yang bisa menyelamatkan mereka dari penghisapan berbagai sumberdaya mereka oleh kekuatan ekonomi global. Bahkan dari balik tembok kokoh itu, serangan balik terhadap kekuatan ekonomi global yang mendapat dukungan negara sekalipun dapat dilancarkan. Tetapi, usaha manusia menyelamatkan diri dan komunitasnya dari ancaman dunia global kerapkali memang tragis. Gintamini adalah kisah getir anak manusia di hadapan kekuatan ekonomi global yang merangsek masuk ke kampung halamannya.

Adalah Kampong Desa Gubuk, sebuah kampung tempat suatu masyarakat hidup bertani dengan tradisi dan nilai-nilai tradisional mereka yang terwariskan secara turun-temurun. Kampong itu miskin, dan jelas terbelakang dilihat dari kemajuan dunia modern. Secara umum desa tersebut bercorak kemelayuan, tanpa elaborasi lebih jauh apa itu kemelayuan karena pada hemat saya pengarang memang tidak bermaksud mendiskusikan masalah tersebut. Di situ cukup dikatakan, “Kemelayuan tersebut dilihat penuh kesederhanaan iaitu kurang teliti tetapi penuh rapi dengan upacara dan semangat. Segala citarasa kemelayuannya padat memenuhi ruang suasana.” (h. 53). Dengan demikian, kemelayuan di sini memberaikan konsep Melayu yang cenderung dibekukan, sekaligus merelatifkan tendensi esensialis dalam operasionalisasi konsep Melayu, dan dengan cara itu konsep kemelayuan mengakomodasi aspek-aspek yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan Melayu namun dalam struktur kognitif kebudayaan Melayu itu sendiri cenderung dianggap sebagai sesuatu yang asing, sebagai “sang lain”. Yaitu sistem kepercayaan lokal dengan ritus tradisionalnya sebagai sumber nilai dan norma yang dianut oleh komunitas lokal itu sendiri. Relativisme budaya ini tampaknya sengaja diambil untuk menegaskan latar cerita yang dapat kita bayangkan suatu daerah di Brunei Darussalam, asal penulisnya, namun dapat pula kita bayangkan suatu daerah di kawasan serumpun.

Kampong itu tengah mengalami perubahan, terutama ditandai oleh kian longgarnya masyarakat memegang norma-norma luhur mereka. Pesta joget merebak di seantero desa, tempat norma-norma tradisional kerap diterabas khususnya oleh anak-anak muda. Sementara itu, warga desa sudah lama lalai melaksanakan upacara Temarok, sebuah ritus tradisional di kampung tersebut yang —dalam sistem kepercayaan mereka— bertujuan melindungi warga kampung dari berbagai malapetaka. Adalah Gintamini, seorang gadis kampung itu, merasa amat prihatin atas fenomena yang tengah berlangsung di kampungnya dan mengkritik keras kepemimpinan desa sebagai tidak mampu mengatasi kemerosotan desa. Menanggapi itu, warga kampung sepakat untuk mendaulat Gintamini mengucapkan janji dalam upacara Temarok. Gintamini menerima permintaan tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ia didaulat mengucapkan janji melalui ritus tradisional yang sakral, yang berlangsung selama dua malam berturut-turut.

Dengan itu, secara moral dan sosial kedudukan Gintamini lebih dihormati dibanding kepala kampung. Bagi masyarakat Kampong Desa Gubuk, mengucapkan janji dalam ritus Temarok adalah sumpah suci untuk menjalankan tugas kebajikan, seperti menjamin keselamatan dan keamanan kampung, membantu orang yang kesusahan, mengatasi berbagai marabahaya atas masyarakat. Pendeknya, sumpah untuk melindungi masyarakat Kampong Desa Gubuk dari berbagai hal yang mengancam ketenteraman mereka. Ini adalah tugas suci, mulia, dan abadi (semua kutipan diindonesiakan):

    “Aku katakan begini kepadamu: seribu lembing akan hujan dari langit, kau akan mengarungi seratus satu macam tantangan hidup antara dugaan dan kesalahan. Kau tidak boleh bersikap cuai atau lalai. Hukumannya bagaikan seperiuk sebelanga malapetaka akan ditimpakan atas kita semua. Karena itulah orang yang terpilih untuk melakukan tugas ini memang orang yang istimewa seperti kau. Kau mesti ingat akan dirimu demi keselamatan kita semua. Jangan sampai janji ini menghadapi kegagalan, Gintamini. Bayangkan janji ini sebagai sebuah anak sungai yang tidak bermuara; tugasmu ini mesti hidup selama-lamanya.” (h. 165)

Sebagai seorang terpelajar yang mendapat pendidikan hingga luar negeri, Gintamini menerima sumpah dalam ritus Temarok secara simbolik. Baginya, ritus Temarok dan sumpah seseorang yang terpilih untuk itu bukanlah lambang kekolotan, melainkan cara yang masuk akal dari suatu masyarakat lokal untuk melindungi mereka dan merawat nilai-nilai yang mereka junjung tinggi. “Janji ini cumalah sebuah perlambang untuk Desa Gubuk, “ kata Gintamini. “Aku di sini adalah lambang kesucian dan keadilan budaya kami. Aku mesti mengerjakan sesuatu tugas untuk mencapai kedua-dua nilai ini untuk Desa Gubuk.” (h. 168). Tugas itu abadi, namun tidak berarti Gintamini akan memikul tanggung jawab tersebut sepanjang hayatnya. Tugas itu pada hakekatnya adalah tugas-bersama warga Desa Gubuk, sehingga tanggungjawab menjalankannya berada di pundak semua warga desa. Merumuskan penafsirannya atas sumpah Temarok, Gintamini berkata pula, “Sesudah aku selesai menjalankan tugasku, aku akan bebas menjadi manusia biasa tetapi perjuanganku itu mesti diteruskan oleh masyarakat kampung ini seluruhnya. Sebenarrnya, tanggungjawab tersebut tidak terletak di atas diriku seorang saja. Seluruh penduduk Desa Gubuk memikulnya. Aku cumalah lambang atas tanggungjawab tersebut. Ini adalah tanggungjawab bersama.” (h. 168).

Dengan demikian, meskipun Temarok merupakan ritus dalam sistem kepercayaan tradisional masyarakat Kampong Desa Gubuk, ia tetap relevan untuk konteks dan masalah yang mereka hadapi. Gintamini melihat relevansi itu, atau tepatnya memberikan relevansi baru atas kedudukan Temarok dan sumpah di dalamnya, untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan kata lain, sumpah dalam ritus Temarok berikut pandangan Gintamini tentang relevansi ritus tersebut bagi masyarakat Kampong Desa Gubuk adalah dunia simbolik masyarakat Kampong Desa Gubuk itu sendiri melalui mana mereka berusaha menjaga nilai-nilai dan kohesi sosial yang mereka junjung tingi. Merumuskan tugasnya sebagai seorang yang telah bersumpah dalam ritus sakral Temarok, Gintamini berkata lagi,

    Apabila masyarakat ini menghadapi krisis sosial, itu berarti bahwa kami sedang berada di sebelah ruang matahari mati dan akan menghadapi kehancuran. Karena itu, kami perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan aktivitas sosial kami untuk kembali ke ruang matahari hidup. Kami perlu membersihkan kembali nilai-nilai sosial ke arah kesucian dan keadilan. Itulah tugasku. (h. 171).

Ke tengah kampung inilah ekonomi global merangsek melalui sebuah perusahaan multinasional. Tuan Johari, orang Inggeris yang mualaf dan kini beristrikan seorang Melayu, adalah pemilik sebuah perusahaan multinasional yang mengajukan rencana proyek pertanian di Kampong Desa Gubuk. Proyek ini akan menghasilkan produk pertanian untuk diekspor ke berbagai negara. Proyek itu nanti akan mempekerjakan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri, di samping tenaga-tenaga lokal sebagaimana disyaratkan undang-undang negara. Tuan Johari telah mengantongi surat izin dari pemerintah pusat. Dan, studi kelayakan sudah dilakukan. Proyek serupa milik Tuan Johari telah berlangsung di Kampong Padang Juram, desa tetangga Kampong Desa Gubuk. Untuk membujuk warga Kampong Desa Gubuk agar menerima proyek tersebut, pihak Tuan Johari berusaha meyakinkan mereka dengan berbagai cara. Sebagaimana doktrin umum (modernisasi) ekonomi global untuk meyakinkan negara berkembang, dikatakan bahwa proyek itu adalah jalan untuk mencapai kemajuan. Dikatakan pula, proyek tersebut dapat digunakan untuk mendidik penduduk kampung dalam menggunakan teknologi pertanian sehingga intensifikasi pertanian desa dapat dijalankan.

Bagaimanakah tanggapan warga Kampong Desa Gubuk? Pertama-tama, proyek itu sendiri pastilah merupakan persinggungan kompleks berbagai kepentingan, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok kepentingan. Yaitu, Tuan Johari (perusahaan multinasional, kekuatan ekonomi global), negara, dan Kampong Desa Gubuk. Tuan Johari jelas berkepentingan untuk melakukan ekspansi usahanya hingga ke pelosok-pelosok desa untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin dan, lebih jauh, menguasai berbagai sumberdaya ekonomi desa; negara berkepentingan untuk meningkatkan ekonomi nasional dengan membuka kran investasi; Kampong Desa Gubuk berkepentingan untuk memajukan desa dengan memanfaatkan dan meningkatkan secara maksimal berbagai sumberdaya lokal. Proyek Tuan Johari di Kampong Desa Gubuk adalah tarik-menarik dan pertarungan antara tiga kelompok kepentingan itu. Tetapi, pertarungan-yang-sesungguhnya tentu saja berlangsung antara Tuan Johari dan warga Kampong Desa Gubuk.

Maka, tanggapan warga Kampong Desa Gubuk terhadap rencana proyek Tuan Johari adalah pertarungan-yang-sesungguhnya antara kekuatan raksana ekonomi global di satu pihak dan kekuatan lokal yang serba terbatas di pihak lain. Pertarungan itu kian kompleks, sebab Tuan Johari menggunakan orang-orang setempat untuk menjalankan proyeknya, yang tentu diharapkan mampu meyakinkan warga desa untuk menerima proyek tersebut. Tetapi, adalah Gintamini yang bersikukuh menolak proyek Tuan Johari dengan keras. Perempuan yang telah mengucapkan sumpah di bawah ritus Temarok itu melihat bahaya serius yang mengancam desa jika proyek tersebut diterima. Dengan tingkat kognitifnya yang memadai —sekali lagi, dia tamatan universitas di luar negeri dalam bidang studi pembangunan— ditambah dengan ritus Temarok yang dijalankannya, Gintamini seakan memiliki mata batin yang tajam sekaligus kekuatan batin yang kokoh untuk menyelamatkan warga Kampong Desa Gubuk dari bahaya serius masuknya perusahaan multinasional ke kampung itu. Juga untuk melawan Tuan Johari dengan tegas. “Tuan Johari hanya coba-coba merancang itu dan ini atas nama kemajuan untuk kekayaannya sendiri. Dia memang sudah cukup kaya!” kata Gintamini dengan geram.

Menurut Gintamini, kebutuhan mendesak Kampong Desa Gubuk adalah pendidikan di bidang pertanian. Sejauh ini, warga desa bertani hanya dengan cara-cara tradisional yang sama sekali tidak intensif. Itulah kelak yang akan melindungi warga desa dari berbagai penghisapan dan perbudakan. Dan lagi, untuk menjalankan proyek seperti diajukan Tuan Johari diperlukan penelitian yang seksama dan jujur. Bagi Gintamini, Kampong Desa Gubuk terlalu berarti untuk dijadikan tempat proyek yang tidak dibutuhkan warga desa itu sendiri. “Kau tidak tahu apa arti Desa Gubuk untuk kami. Desa Gubuk segala-galanya cukup untuk kami sebagai sebuah masyarakat,” kata Gintamini. “Aku ingin bertanya,” katanya pula, “apa sumbangan Tuan Johari kepada rakyat setempat di sini? Apa yang kaukatakan sebagai peluang itu adalah bukan sekadar mendapat pekerjaan, mendapat rumah besar atau mobil mewah. Kemajuan atau pembangunan lebih dari itu. Kami tidak mau hidup dalam dunia ilusi.” (h. 195).

Penolakan terhadap proyek Tuan Johari itu tentu saja menimbulkan goncangan. Ketegangan horisontal antarwarga kampung —yang sebagian mendapat keuntungan dari rencana proyek Tuan Johari— sampai batas tertentu tak terhindarkan. Goncangan itu semakin kompleks, karena ketegangan horisontal tidak saja beroperasi secara terbuka, melainkan juga secara diam-diam. Lebih dari itu, ketegangan diwarnai pula oleh berbagai teror, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Di tingkat lokal, penolakan itu dipandang menghambat usaha memajukan desa; di tingkat nasional, penolakan itu dipandang sebagai pembangkangan warga terhadap pemerintah (yang telah mengeluarkan izin bagi perusahaan Tuan Johari); di tingkat global, penolakan itu dipandang sebagai bentuk terselubung dari proteksionisme negara terhadap ekonomi domestik. Tapi bagaimanapun Gintamini adalah simbol semua usaha menyelamatkan warga desa dari berbagai ancaman, dalam konteks proyek Tuan Johari ialah terutama ancaman penghisapan dan ketidakadilan.

Di tengah ketegangan horisontal dan vertikal itu, sesuatu yang mencekam terjadi: di pagi hari, di tengah ladang, Gintamini ditemukan tewas dengan dua lubang pada lehernya mengucurkan darah yang sudah kering.
Kisah selanjutnya adalah terkuaknya berbagai keculasan, tipu-muslihat, dan berbagai praktek busuk di balik proyek Tuan Johari. Tetapi yang lebih penting adalah kesetiaan warga desa untuk memegang teguh sumpah Gintamini: menjaga kesucian dan keadilan bagi warga Kampong Desa Gubuk.

Gintamini: Mewaspadai Ancaman Ekonomi Global
Ditulis oleh seorang novelis Brunei Darussalam, novel ini merupakan respon, pandangan, sikap, sekaligus antisipasi menghadapi ancaman ekonomi global terhadap komunitas-komunitas lokal di Nusantara. Bahwa latar cerita adalah Melayu, jelaslah kisah tersebut mengekspresikan kecemasan akan buruknya dampak ekonomi global bagi komunitas-komunitas lokal di Melayu-Nusantara akibat belum siapnya infrastruktur ekonomi nasional menghadapi ekonomi global itu sendiri di satu sisi, dan kekuatan nyaris tak terbatas ekonomi global untuk melakukan apa saja demi memuluskan proyek mereka di sisi lain. Kampong Desa Gubuk memang hanya kampung imajinatif, tetapi ia menggambarkan dengan baik kampung-kampung kita di berbagai pelosok, dengan tradisi dan kearifan lokal mereka, yang cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung, akan merasakan dampak buruk masuknya ekonomi global ke tengah mereka. Apalagi tanpa kesiapan memadai untuk menghadapi ekonomi global itu sendiri.

Kampong Desa Gubuk adalah kasus dimana komunitas lokal harus berhadapan sendiri —bahkan secara langsung— dengan kekuatan ekonomi global yang sampai ke kampung mereka melalui sebuah perusahaan multinasional. Kasus itu terjadi ketika kran liberalisasi ekonomi belum dibuka selebar sekarang di tahun 2010, tetapi dampaknya secara moral dan sosial sudah sedemikian rupa buruknya. Belum jelas perusahaan multinasional akan menjadi faktor yang benar-benar mendorong kemajuan desa, namun rencana itu sudah mengganggu ketenangan masyarakat desa. Konflik horisontal pecah di desa, yang berpuncak dengan terbunuhnya Gintamini. Ditambah lagi dengan praktek-praktek busuk di balik rencana proyek, antara lain ialah manipulasi data hasil studi kelayakan oleh Pusat Kajian milik Tuan Johari demi memuluskan proyek.

Ironisnya lagi, pertarungan antara kekuatan lokal (Kampong Desa Gubuk) dan kekuatan (ekonomi dan politik) global merupakan pertarungan yang tidak seimbang. Sebagai sebuah desa miskin, Kampong Desa Gubuk jelas memiliki sumberdaya yang sangat terbatas, sama terbatasnya akses desa ke berbagai sumberdaya yang diperlukan. Sebaliknya, Tuan Johari sebagai wakil kekuatan ekonomi global memiliki sumberdaya yang nyaris tanpa batas, sama tak terbatasnya akses mereka ke berbagai kekuatan ekonomi dan politik yang akan menjamin mulusnya proyek-proyeknya sendiri. Karenanya, pertarungan tersebut secara keseluruhan merupakan pertarungan yang tidak adil, sehingga proyek itu hanya akan menjadi praktek dehumanisasi masyarakat desa dalam berbagai bentuknya. Dirumuskan dengan kalimat lain, tanpa ketulusan dan kejujuran untuk memajukan desa (yang terlihat dari berbagai praktek culas dan manipulatif di balik proyek), sebuah proyek multinasional di desa hanya akan melahirkan praktek perbudakan dalam bentuknya yang modern.

Dalam kasus Kampong Desa Gubuk, warga desa harus menghadapi sendiri ancaman yang mereka hadapi, dan memecahkan sendiri masalah yang timbul akibat masuknya ekonomi global ke tengah mereka, antara lain ialah konflik horisontal. Di satu sisi mereka harus mengatasi konflik horisontal yang sampai batas tertentu telah mengguncang ketenteraman desa; di sisi lain mereka harus menghadapi tekanan ekonomi global dengan janji-janji eskatologis sekularnya yang sepintas memang menggiurkan. Di tengah goncangan itu, negara dapat dikatakan absen bahkan ketika situasi sangat genting. Dalam hal ini negara hanya berperan membuka pintu bagi masuknya modal asing, yakni ekonomi global itu, tanpa melakukan apa-apa dalam mengatasi ekses-ekses sosialnya bagi masyarakat lokal. Dalam arti itu maka negara absen pada dua tingkat. Pertama, ia absen dalam membangun kesiapan desa menerima proyek perusahaan multinasional. Kedua, ia absen dalam mengatasi ekses-ekses sosial bagi masyarakat lokal. Dengan demikian, negara hanya hadir bagi kepentingan ekonomi global, lalu absen bagi warganya sendiri bahkan ketika mereka harus berjibaku menyelamatkan diri dengan segala daya yang serba terbatas.

Dalam arti itu, negara terjebak ke dalam “darwinisme sosial”: mengandaikan bahwa masyarakat lokal secara alamiah niscaya akan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan perubahan akibat masuknya ekonomi global, sekaligus mematangkan diri di dalamnya, yang pada titik puncaknya nanti akan dicapai struktur sosial yang paling kuat, survival of the fittest. Dan tepat di jantung “darwinisme sosial” itulah terletak persoalan mendasar yang terpancar dari kasus Kampong Desa Gubuk. Yaitu terabaikannya dimensi-dimensi manusia dalam usaha memajukan (ekonomi) desa. Pembangunan ekonomi desa bagaimanapun bukanlah proses alam, dimana gerak evolusinya menuntut seleksi keras secara alamiah sehingga pemusnahan sebagian alam yang lemah dipandang sebagai sesuatu yang semestinya bagi kelangsungan-hidup alam yang paling kuat. Pembangunan ekonomi desa selalu melekat pada manusia, yang sedari awal lahir dalam struktur sosial-ekonomi yang tidak adil, apalagi dalam skala global. “Darwinisme sosial” hanya akan melanggengkan ketidakadilan sosial secara global, sehingga ia membiarkan manusia terjerembab dalam ketidakadilan yang abadi.

Kasus Kampong Desa Gubuk mencoba memperdengarkan dan memperdengarkan lagi dimensi-dimensi manusia dalam pembangunan desa. Gintamini di satu sisi adalah seorang tradisionalis dan bahkan konservatif, dalam arti sosok yang percaya pada kemampuan desa —dengan segala keterbatasannya— untuk mengusahakan sendiri kemajuan yang mereka inginkan. Tetapi yang lebih penting baginya adalah menyelamatkan warga desa dari kemungkinan penghisapan berbagai sumberdaya desa oleh kekuatan asing dalam cara tiada ampun. Sebab, yang akan terjadi pada puncaknya nanti adalah pembudakan warga desa itu sendiri. Ialah dehumanisasi terselubung atau bahkan terang-terangan. Dehumanisasi itu sangat mungkin terjadi, terutama karena pertarungan-yang-sesungguhnya antara kekuatan global dan kekuatan lokal merupakan pertarungan yang sama sekali tidak seimbang, sama sekali tidak adil. Tetapi di sisi lain Gintamini adalah seorang yang berpikir modern, dalam arti bahwa kemajuan desa baginya merupakan sesuatu yang semestinya, tetapi usaha ke arah itu hanya boleh dilakukan dengan menjaga sebaik mungkin manusia dan kemanusiaan serta dimensi-dimensinya yang kompleks. Di hadapan bahaya dehumanisasi desa itulah Gintamini dengan tegas berkata, “Desa Gubuk segala-galanya cukup untuk kami sebagai sebuah masyarakat.” Dengan kata lain, tinimbang harus menanggung dehumanisasi, Gintamini lebih memilih kampung halamannya dengan berbagai sumberdaya lokalnya sendiri tanpa dukungan ekonomi global.

Maka alangkah tragis bahwa Gintamini akhirnya tewas di tengah gejolak desa yang sedang menolak proyek pertanian Tuan Johari. Sebagaimana banyak kasus kematian tiba-tiba seorang aktivis tidak jelas benar sebabnya, demikian juga kematian tiba-tiba Gintamini tidak eksplisit sebabnya. Tetapi ada sejumlah isyarat bahwa dia tewas oleh konspirasi tangan-tangan Tuan Johari, yang mungkin beroperasi atas sepengetahuan dan persetujuannya. Lebih dari sekadar tragis, kematian Gintamini adalah juga ironis: dia menentang dehumanisasi yang mungkin ditimbulkan oleh ekonomi global di tingkat lokal, alih-alih dia sendiri menjadi korban langsung dari dehumanisasi dalam gejolak desa ketika ekonomi global belum lagi beroperasi di desa itu. Kematian Gintamini adalah lambang ketidakberdayaan sebuah komunitas lokal dalam mengatasi masalah mereka berikut gejolak dan konflik horisontal akibat tekanan ekonomi global.

Tetapi, kematian Gintamini bukanlah lonceng kematian perlawanan terhadap ancaman ekonomi global. Kematian Gintamini justru membangkitkan kesadaran baru di kalangan masyarakat bahwa ekonomi global benar-benar merupakan kekuatan yang mematikan, bahkan dalam pengertian harfiah. Kematian Gintamini merupakan titik balik dari mana timbul kesadaran baru tentang pentingnya humanisasi di tengah arus globalisasi yang tak bisa ditampik. Warga Kampong Desa Gubuk bersumpah untuk melanjutkan janji Gintamini, yaitu sumpah untuk menjaga keadilan dan kesucian warga desa, yang tak boleh dikorbankan atas nama dan oleh kekuatan apa pun. Juga atas nama modernisasi, pembangunan, kemajuan, kesejahteraan, liberalisasi atau globalisasi ekonomi.

Kesadaran baru itu tidak hanya muncul dari para pendukung Gintamini, melainkan juga dari “lawan-lawan politik lokal”-nya. Hajah Almah misalnya. Dia adalah seorang yang semula tampak begitu yakin dan berusaha meyakinkan warga desa bahwa proyek pertanian Tuan Johari akan memberikan manfaat bagi warga Kampong Desa Gubuk. Tak pelak lagi, orang kepercayaan Tuan Johari itu menggunakan berbagai cara untuk memuluskan proyek tersebut. Di samping memanipulasi data studi kelayakan, dia juga menggunakan wartawan untuk membentuk opini publik tentang pentingnya proyek tersebut bagi Kampong Desa Gubuk. Tetapi, kalau dia menjadi orang kepercayaan Tuan Johari, itu lebih karena dia memiliki hubungan istimewa dengan Tuan Johari. Malik, yang sejauh ini diakui sebagai anak angkat Tuan Johari dan tentu mendapat berbagai keistimewaan darinya, sebenarnya adalah “anak gelap” hubungan intim Tuan Johari dengan Hajah Almah.

Belakangan, perempuan Melayu yang kemudian dinikahi Herman itu terombang-ambing oleh perasaannya sendiri. Ialah antara merasa meraih “kemajuan” di satu sisi dan merasa diperbudak oleh Tuan Johari di sisi lain; antara merasa memperjuangkan kemajuan Kampong Desa Gubuk di satu sisi dan menjerumuskan mereka di sisi lain. “Kini aku mengerti,” akhirnya dia berkata pada dirinya sendiri. “Aku merasa kesal kepada diriku sendiri. Aku harus minta maaf kepada penduduk Kampong Desa Gubuk, kepada ketua kampung, kepada Hamzah, kepada Irwan, kepada Pak Salam, kepada Hayati dan lebih-lebih lagi kepada arwah Gintamini. Mereka telah terkorbankan karena rancangan dan cita-cita Tuan Johari. Aku amat menyesali diri sendiri.”

Yang juga penting diperhatikan dalam kasus Kampong Desa Gubuk adalah sosok Tuan Johari. Sepanjang kisah, dia sendiri tak pernah hadir secara fisik. Dia hanya hadir melalui orang-orang kepercayaannya. Dalam sebuah rapat desa dimana dia seharusnya hadir untuk menjelaskan kepada warga desa tentang rencana proyek pertaniannya, dia mengutus Hajah Almah. Namun demikian, ketidakhadirannya tidaklah mengurangi dampak serius dari rencana proyek pertaniannya. Dalam arti itu, Tuan Johari adalah kekuatan impersonal: sosok yang tidak konkret, tidak tersentuh, namun gejala-gejalanya dan berbagai dampak yang ditimbulkannya sedemikian konkret. Tuan Johari merupakan personifikasi dari cara kerja kekuatan ekonomi global atau globalisasi ekonomi di tingkal lokal (dan nasional). Ia acapkali tidak konkret, tidak tersentuh, namun dampaknya bagi masyarakat begitu konkret, baik secara sosial maupun ekonomi. Sebagaimana kekuatan Tuan Johari bekerja lewat tangan-tangan kepercayaannya di tingkat lokal, kekuatan ekonomi global seringkali bekerja melalui tangan-tangan nasional dan lokal yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Ialah kepentingan yang sempit sifatnya.

Kampong Desa Gubuk adalah kasus dimana manusia timbul-tenggelam antara harapan dan ketidakberdayaannya sendiri, antara sumberdaya lokal dan kekuatan global yang mengerikan, antara kehendak untuk menyelamatkan diri namun justru jadi korban yang getir dari perjuangannya sendiri. Namun Kampong Desa Gubuk adalah juga lambang bangkitnya matahari baru, yaitu kesadaran untuk menjaga keadilan dan kemanusiaan di tengah lingkaran buruk globalisasi ekonomi yang kian tak terbendung. Kesadaran untuk melawan berbagai ancaman yang mungkin timbul dari ketidakadilan ekonomi secara global. Sudah tentu kesadaran itu akan menghadapi batu sandungan bahkan dari dalam, sebab ekonomi global beroperasi lewat tangan-tangan lokalnya — yang pastilah memiliki kepentingannya sendiri, ialah kepentingan yang cenderung sempit. Tapi Gintamini menunjukkan, batu sandungan itu hanya akan melipatgandakan kesadaran bahwa perlawanan abadi terhadap ketidakadilan global memang mesti terus dilancarkan.

Ditulis di tahun 1997, novel Janji Gintamini memiliki relevansi aktual untuk kita di Indonesia hari ini. Jika ditarik ke masa kini di awal tahun 2010 dan di sini di Indonesia, Kampong Desa Gubuk adalah pertanian kita, usaha kecil dan menengah kita di hadapan liberasasi ekonomi yang dahsyat, yang jadi begitu konkret lewat pasar dan perdagangan bebas. Gintamini akhirnya tewas secara mengenaskan, dan kampung itu kini berada di ujung tombak kematian pula. Masalah kampung itu bukan lagi bagaimana modernisasi desa mesti dijalankan, melainkan bahwa lonceng kematian kini berdentang begitu mengerikan. Kampong Desa Gubuk bagaimanapun adalah pertanian kita, kampung kita, usaha kecil dan menengah kita. Jika Kampong Desa Gubuk adalah kampung kita, maka kampung itu berada di wilayah negara yang kini —apa boleh buat— terperangkap dalam kesepakatan perdagangan bebas dengan negara-negara maju. Dalam konteks itu, kita memerlukan spirit dan sumpah Gintamini, demi keadilan global yang kita harapkan.***

Pondok Cabe, 2 Januri 2010

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: