Jamal D. Rahman

4 November 2009

Bahasa Membangun Generasi Muda, Atau Generasi Muda Membangun Bahasa? Bercermin pada Muhammad Yamin

Filed under: Makalah Seminar — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Tema lokakarya ini, “Bahasa dan Sastra Indonesia Membangun Generasi Muda yang Dinamis dan Kreatif”, merupakan tema yang sangat penting terutama sehubungan dengan Bulan Bahasa dan Sastra dan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2009. Tema itu jelaslah mengaitkan Bulan Bahasa dan Sastra dengan hari Sumpah Pemuda, dua hal yang sesungguhnya diilhami oleh sejarah yang sama, yaitu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tema itu penting setidaknya karena tiga alasan.

Pertama, mengaitkan bahasa dan sastra Indonesia dengan generasi muda menyadarkan kita kembali bukan saja atas peran bahasa dan sastra dalam sejarah awal kelahiran Indonesia, melainkan juga pada peran anak muda dalam mengukuhkan bahasa Indonesia dalam sejarah awal kelahiran tanah air kita. Agaknya sudah cukup lama bahasa dan sastra Indonesia cenderung dilihat sebagai fenomena kebudayaan secara umum tanpa mengaitkannya dengan peran dan kedudukan kaum muda dalam mengukuhkan bahasa dan sastra Indonesia itu sendiri. Sebaliknya, peran kaum muda khususnya dalam sejarah awal kelahiran Indonesia cenderung dilihat sebagai fenomena politik tanpa mengaitkannya dengan peran bahasa dan sastra. Bagaimanapun, sejarah bahasa dan sastra Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran penting anak-anak muda.

Kedua, tema itu mengandaikan peran dan tanggung jawab bahasa dan sastra Indonesia dalam membangun generasi muda yang dinamis dan kreatif. Di sini bahasa dan sastra diharapkan memainkan peran dan tanggung jawab yang sangat penting dan mungkin diambilnya, demi kepentingan masa depan baik bahasa dan sastra maupun generasi muda itu sendiri. Peran dan tanggung jawab tentu saja selalu baik pada dirinya sendiri. Maka harapan akan peran bahasa dan sastra Indonesia dalam membangun generasi muda merupakan tantangan bagi para ahli bahasa dan sastra(wan), tantangan mana menuntut kesungguhan untuk meyakinkan anak-anak muda akan fungsi dan keunggulan bahasa dan sastra Indonesia dalam kehidupan.

Ketiga, tema itu penting secara dialektis: ia menyadarkan kita bahwa rupanya kita telah membalik pengalaman sejarah kita yang gemilang —yaitu Sumpah Pemuda 1928— dengan memberikan supremasi pada bahasa dan sastra tinimbang pada generasi muda. Tema tersebut secara tersirat —bahka tersurat— memberikan tanggung jawab pada bahasa dan sastra Indonesia untuk membangun generasi muda yang dinamis dan kreatif. Pada saat yang sama, ia memposisikan generasi muda sebagai objek kebudayaan. Pengalaman sejarah kita menunjukkan bahwa generasi mudalah yang membangun bahasa dan sastra Indonesia. Dengan kata lain, dalam hubungan bahasa dan sastra Indonesia dengan generasi muda, generasi muda adalah subjek yang mengukuhkan dan selanjutnya membangun bahasa dan sastra Indonesia.

Dalam konteks itu semua, marilah kita melihat kembali sosok dan peran Muhammad Yamin sebagai anak muda, yang dengan cemerlang memperlihatkan pandangan visioner seorang anak muda tentang bahasa dan sastra bangsanya. Muhammad Yamin adalah tempat sangat baik, bahkan terbaik, untuk bercermin tentang bagaimana hubungan bahasa dan sastra di satu sisi dan generasi muda di sisi lain. Seperti akan ditunjukkan nanti, pandangan pemuda Yamin —yang mencerminkan pandangan generasi muda sezamannya— sangatlah maju. Misalnya, dia memandang bahasa bukan saja sebagai alat pemersatu sebuah bangsa, melainkan juga identitas bangsa itu sendiri.

Muhammad Yamin: Bintang di Batas Kemuliaan

Setiap bintang sekali bercaya
Sadarlah sudah badanku ini
Inginan sampai, karena mulia
….

Dia seorang sastrawan. Dan dia seorang nasionalis sejati. Kesadaran nasionalismenya tumbuh sejak muda, ketika dia belum lagi genap 17 tahun. Itu terlihat dari puisi “Tanah Air”, yang ditulisnya pada Juli 1920. Gagasan tentang tanah air itulah yang terus menjadi obsesi intelektualnya, dan kemudian diperjuangkannya tidak saja lewat lapangan sastra dan kebudayaan, melainkan juga lewat lapangan pergerakan dan politik. Muhammad Yamin, pemuda itu, akhirnya mengukuhkan dirinya sebagai sastrawan penting, dan di masa tuanya jadi negarawan yang tak lelah-lelah berusaha mewujudkan tanah air yang diidamkannya sejak muda.

Lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903, Muhammad Yamin mencintai sastra sejak muda. Dia menulis puisi, melalui mana dia tidak saja mengemukakan tanah air yang dicita-citakannya, melainkan juga mengekspresikan kecintaanya pada keindahan alam kampung halamannya. Puisi-puisinya berbicara juga tentang cinta, penggembala, dan cita-cita yang terasa jauh untuk digapai. Namun kebanyakan puisi awalnya melukiskan keindahan alam. Puisi-puisi awal Muhammad Yamin dihimpun dan dibicarakan oleh Armijn Pane dalam Sandjak-sandjak Muda Mr. Muhammad Yamin (1954).

Puisi-puisi Muhammad Yamin mula-mula diumumkan di majalah Jong Sumatra, majalah berbahasa Belanda yang diterbitkan oleh Jong Sumatranen Bond, sebuah perhimpunan pemuda Sumatera. Muhammad Yamin sendiri pernah memimpin perhimpunan itu, yang segera memperlihatkan bakatnya baik sebagai seorang pemikir maupun aktivis pergerakan. Dalam perhimpunan ini dia bersahabat dengan Muhammad Hatta, yang kelak bersama Soekarno menjadi proklamator kemerdekaan dan kemudian wakil presiden pertama Indonesia. Dan, melalui perhimpunan pemuda inilah Muhammad Yamin mula-mula memperjuangkan gagasannya terutama tentang kebangsaan. Pada perayaan ulang tahun ke-5 Jong Sumatranen Bond, misalnya, yang diadakan di Jakarta pada tahun 1923, Muhammad Yamin menyampaikan pidato bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa kebangsaan, bahasa yang menyatukan berbagai suku bangsa di kawasan Nusantara.

Minatnya pada sastra sangat tinggi, namun minat keilmuannya pun tak kalah tinggi, bahkan lebih tinggi lagi. Setelah belajar di kampung halamannya, pria keturunan kepala adat di Minangkabau ini mengenyam pendidikan HIS di Palembang, kemudian hijrah ke Yogyakarta di tahun 1925 untuk belajar di Algemene Middelbare School (AMS), mengambil bidang studi sejarah dan bahasa-bahasa Timur Jauh, termasuk bahasa Melayu, Jawa, dan Sanskerta. Seterusnya dia hijrah ke Jakarta untuk kuliah, mengambil studi hukum di Rechtshogeschool, sebuah pendidikan tinggi yang didirikan Belanda di tahun 1909 dan berkembang menjadi Universitas Indonesia di tahun 1950. Muhammad Yamin meraih gelar sarjana bidang hukum di tahun 1932. Gelar akademis resminya: Meester in de Rechten.

Tapi bagaimanapun Muhammad Yamin adalah seorang aktivis pergerakan. Sebagai aktivis Jong Sumatranen Bond dia mengikuti Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928) di Jakarta. Dia bahkan terpilih sebagai sekretaris Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda itu. Pengalaman Yamin sebagai aktivis pada masa mudanya ini memberinya bekal untuk terus terjun ke gelanggang pergerakan dan politik. Maka, untuk mencapai cita-cita politiknya, yaitu mewujudkan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara baru yang diperkokoh oleh bahasa Indonesia itu sendiri, Muhammad Yamin masuk partai politik Partindo dan Gerindo, sebelum akhirnya mendirikan Partindo (Partai Persatuan Indonesia) di tahun 1939.

Kemudian, ketika Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Muhammad Yamin terpilih sebagai salah seorang anggota badan tersebut. Dia pun ambil bagian dalam rapat-rapat penyempurnaan UUD 1945 yang dipimpin Prof. Dr. Soepomo. Pada tahun 1949, Muhammad Yamin diangkat sebagai penasihat Delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bunda di Belanda. Demikianlah Muhammad Yamin ambil bagian dalam masa-masa penting dan menentukan bagi Indonesia, sejak awal digagasnya Indonesia sebagai sebuah negara baru sampai persiapan-persiapan perangkat perundangannya dan diplomasi politik untuk penyerahan kedaulatan. Muhammad Yamin memupuk rasa kebangsaan, menggagas Indonesia sebagai sebuah bangsa dan tanah air, dan mengawalnya sampai nanti Indonesia benar-benar lahir sebagai sebuah negara.

Namun sejauh itu perjuangan Muhammad Yamin tidak selalu mulus. Dalam memperjuangkan kemerdekaan, dia pernah menentang kebijaksanaan pemerintah karena politik perundingan dengan Belanda. Lebih jauh dia dituduh terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946, yaitu peristiwa yang didakwa akan melakukan perebutan kekuasaan pemerintah RI. Dia pun diganjar hukuman 4 tahun penjara. Pada 17 Agustus 1948, dia memperoleh grasi dan dibebaskan.

Setelah Indonesia merdeka, Muhammad Yamin menduduki jabatan-jabatan penting. Dia pernah menjadi Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (30 Juli 1953—12 Agustus 1955), Menteri Negara (9 April 1957—10 Juli 1959), Menteri Sosial dan Kebudayaan (10 Juli 1959—18 Februari 1960), Menteri/Wakil Ketua Dewan Perancangan Nasional (18 Februari 1960—6 Maret 1962), Menteri Penerangan Merangkap Ketua Dewan Perencanaan Nasional (Depernas) (6 Maret 1962—13 Desember 1963). Dengan sederet jabatan itu, kiranya Muhammad Yamin telah mempersembahkan jasa-jasa terbaiknya bagi Indonesia merdeka, negara yang dulu diproklamasikannya dalam Sumpah Pemuda.

Atas jasa-jasanya dalam zaman pergerakan, zaman revolusi, hingga zaman merdeka, dia mendapatkan gelar Mahaputra dari pemerintah Republik Indonesia.

Di samping menulis puisi, Muhammad Yamin juga menulis drama dan sejumlah buku sejarah. Dramanya, Ken Arok dan Ken Dedes (1934), menunjukkan minatnya pada sejarah —dan dia adalah juga seorang sejarawan. Dia menulis beberapa buku sejarah, yaitu Sedjarah Peperangan Dipanegara (1945), Gadjah Mada (1948), dan Revolusi Amerika (1951), Tatanegara Majapahit, Naskah-naskah Persiapan Undang-undang Dasar (1959), Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951), dan Kebudayaan Asia Afrika (1955). Di samping itu, Yamin menerjemahkan beberapa karya sastra dunia, yaitu Menantikan Surat dari Raja (1928) dan Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga (1933) karya Rabindranath Tagore dan Julius Caesar (1951) karya William Shakespeare. Di tengah kesibukannya sebagai seorang aktivis pergerakan, Muhammad Yamin adalah seorang penulis produktif.

Istri Muhammad Yamin adalah Sitti Sundari Yamin Mertoadmojo, seorang puteri keturunan bangsawan Surakarta, Jawa Tengah, dinikahinya pada tahun 1937. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Dang Rahadian Sinayangsih Yamin, biasa dipanggil Dian. Dian menikahi Gusti Raden Ayu Retno Satuti, anak sulung Manggkunegoro VIII, sultan Surakarta, pada tahun 1969. Seorang anak keturunan bangsawan kembali ke istana bangsawan.

Adapun Muhammad Yamin, akan kembali ke istana yang lain. Setelah melewati jalan panjang yang terjal dan berliku, lelaki itu akhirnya tiba di batas akhir hayatnya. Muhammad Yamin sampai pada kata-katanya sendiri: setiap bintang sekali bercaya/ sadarlah sudah badanku ini/ inginan sampai, karena mulia (“Cita-cita”). Bintang sekali bercahaya, dan sang badan sadar bahwa keinginan sudah sampai di batas kemuliaan. Maka Muhammad Yamin pun tutup usia di Jakarta, 17 Oktober 1962. Puisinya yang berjudul “Permintaan” adalah semacam wasiat di mana dia minta dikuburkan:

Dimana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.

Dia ingin dikubur di daerah Bukit Barisan, bukit di Sumatera Barat yang disebutkan Yamin berulangkali dalam puisi-puisinya. Maka dia dikebumikan di Talawi, sebuah kota kecamatan yang terletak 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sebelas tahun setelah kepergiannya, tepatnya pada 6 November 1973, pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Prof. Mr. Muhammad Yamin, seorang sastrawan, sejarawan, dan pahlawan, adalah bintang yang sekali bercahaya, dan sadar bahwa keinginannya sudah sampai di batas kemuliaan.

Alam sebagai Sampiran
Sebagai seorang sastrawan, Muhammad Yamin berproses sedemikian rupa dalam menggali sumber-sumber karya kreatifnya sendiri. Maka menelisik proses kreatif Muhammad Yamin adalah menelisik akar-akar sastra yang sudah lama tertanam jauh dalam tradisi masyarakat Minangkabau dan Sumatera pada umumnya. Sebagai seseorang yang lahir di Sawahlonto, Minangkabau, Sumatera Barat, Muhammad Yamin tumbuh dalam lingkungan kebudayaan pantun dan syair. Di Minangkabau, Sumatera, dan kawasan Melayu pada umumnya, pantun dan syair merupakan tradisi yang hidup dan bahkan sangat mengakar di tengah masyarakat sejak berabad-abad lamanya. Pantun dan syair dibacakan dalam upacara-upacara adat, mengungkapkan perasaan, pikiran, dan kisah dari masa lalu yang jauh, yang langsung atau tidak pastilah memiliki relevansi untuk waktu ketika pantun dan syair itu dibacakan.

Tak pelak lagi Muhammah Yamin mewarisi dua bentuk puisi Melayu tersebut. Tetapi, sejauh itu dia tidaklah mewarisi kebudayaan itu secara harfiah. Puisi-puisinya adalah satu percobaan untuk, di satu sisi, merawat kebudayaan yang diwarisinya sekaligus, di sisi lain, menyumbangkan sesuatu yang baru, yang dapat dipandang sebagai memajukan satu-dua langkah warisan kebudayaan itu sendiri. Jika pantun terdiri dari 4 baris dengan 2 baris pertama sebagai sampiran dan 2 baris terakhir sebagai isi dengan pola rima abab, maka Muhammad Yamin jelas meninggalkan bentuk pantun tersebut. Demikian juga, jika syair adalah puisi 4 baris dengan pola rima aaaa, maka Muhammad Yamin juga meninggalkan bentuk syair. Puisi-puisinya tidak sepenuhnya berbentuk syair apalagi pantun dalam pengertian tradisional kebudayaan Melayu yang ketat.

Namun demikian, Muhammad Yamin tidak meninggalkan bentuk pantun maupun syair sepenuhnya. Apa yang diwarisinya dari bentuk puisi tradisional Melayu adalah jumlah kata dalam setiap larik, yaitu 4 kata, dengan rima abab atau aaaa yang tampaknya sengaja dibuat tidak konsisten sebagai bentuk pelanggaran terhadap rima dalam puisi tradisional Melayu. Muhammad Yamin tampak berusaha menjaga jumlah 4 kata pada setiap larik puisinya sedemikian ketatnya sebagai penerimaannya terhadap bentuk puisi tradisional Melayu, namun dia mengabaikan bentuk-bentuk lainnya, yaitu rima dan jumlah larik setiap bait.

Kesadaran untuk, di satu sisi, setia pada bentuk lama puisi tradisional Melayu dan, di sisi lain, melanggar bentuk lama puisi tradisional Melayu itu tampaknya sudah tumbuh sejak awal karir kepenyairannya. Puisi pertamanya, “Tanah Air”, terdiri dari 3 bait dan setiap bait terdiri dari 9 baris. Rima setiap larik dijaga sedemikian rupa, dengan sedikit variasi antara satu bait dan bait berikutnya, yaitu pola rima abccaaadd (bait 1 dan 2) dan abccdddcc (bait 3). Puisi ini jelas meninggalkan bentuk lama puisi tradisional Melayu. Namun kemelayuan dalam puisi itu tidak ditinggalkannya sama sekali. Sekali lagi, jumlah 4 kata pada setiap larik tetaplah mengingatkan kita pada bentuk puisi Melayu, baik pantun maupun syair.

Sehubungan dengan kemelayuan dalam puisinya, satu hal lagi yang patut diperhatikan. Ialah pelukisan romantik tentang alam. Hampir semua puisi Muhammad Yamin melukiskan keindahan alam, sebagaimana banyak ditemukan dalam syair Melayu. Dalam arti itu maka Muhammad Yamin mewarisi khazanah yang demikian mengakar dalam syair Melayu, yaitu pelukisan alam yang indah, seperti petikan Syair Bidasari berikut ini, yang mengisahkan puteri yang akan melahirkan anak dalam pengembaraan:

Setelah sampai turun ke pantai
Lengkap dengan kajang dan lantai

Bulan pun sedang empat belas hari,
Puteri beranak seorang diri,

Sepoi-sepoi angin bertiup,
Kepudang pungguk bernyanyi sayup,

Lemah lembut angin utara,
Dewasa itu puteri berputera.

Bandingkan syair tersebut dengan puisi Muhammad Yamin, “Permintaan”, berikut ini, misalnya:

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku

Setelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku

Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur

Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.

Pelukisan alam kerap juga digunakan dalam pantun, yang biasanya berfungsi sebagai sampiran atau ancangan dalam mengemukakan isi. Dalam pantun, pelukisan alam tidak bertujuan pada dirinya sendiri, tidak untuk berbicara tentang alam itu sendiri, melainkan sebagai persiapan bagi isi yang hendak dikemukakan. Sampai batas tertentu, pelukisan alam dalam puisi-puisi Muhammad Yamin dapat pula kita baca sebagai tidak bertujuan untuk melukiskan alam itu sendiri, melainkan sebagai ancangan bagi isi yang ingin dikemukakannya. Pelukisan alam itu sejajar dengan sampiran dalam pantun. Demikianlah puisi “Permintaan” di atas, misalnya, tidaklah pertama-tama bermaksud melukiskan keindahan Bukit Barisan di Sumatera Barat, kampung halaman Muhammad Yamin, melainkan lebih sebagai ancangan bagi isi yang ingin dikemukakan. Yaitu bahwa dia lahir dan tumbuh di kampung halaman yang pastilah dicintainya, dan dia ingin kelak dikubur di kampung halamannya itu.

Meskipun pelukisan alam merupakan suatu hal yang lazim dalam pantun dan syair Melayu, keganderungan Muhammad Yamin dalam melukiskan alam kiranya tak hanya diilhami oleh kebudayaan Melayu. Keganderungan itu pastilah didukung pula oleh lingkungan alam kampung halaman Muhammad Yamin sendiri. Minangkabau adalah satu daerah dengan pemandangan alam yang amat indah, dengan sejumlah danau, air terjun, lembah, bukit Barisan, pantai, laut, gunung Merapi dan gunung Singgalang. Keindahan alam ini pastilah mengilhami sang penyair dalam menulis puisi.

Mencintai dan mewarisi puisi dari kebudayaan Melayu, Muhammad Yamin tidaklah terpaku pada aras kebudayaannya sendiri. Dia adalah satu kasus ketika puisi Melayu sudah mencapai kematangan dan kemapanan, sehingga diperlukan penyegaran dan pembaruan —sekadar apa pun— agar puisi Melayu bergerak satu-dua langkah ke depan. Persentuhan kebudayaan Melayu dengan kebudayaan asing terus berlangsung, tetapi sejauh itu dapat dikatakan tak ada kemajuan berarti yang dicapai dunia perpuisian Melayu setelah sekitar 3 abad mengadopsi bentuk syair dari kebudayaan Arab dan Persia.

Maka, di tahun 1921 Muhammad Yamin menulis puisi soneta (seperti puisi “Permintaan”, “Cita-cita”, dan “Niat”), dengan tetap mempertahankan “jiwa” puisi Melayu. Kebanyakan puisi-puisi awalnya berbentuk soneta, yang bisa diduga kuat merupakan keuntungan yang dipetiknya dari pendidikan kolonial yang diterimanya. Membawa soneta ke dalam dunia perpuisian Melayu pastilah dilakukannya dengan kesadaran penuh. Sejak itu, soneta mulai dikenal dalam khazanah perpuisian Melayu-Indonesia, bahkan menjadi kecenderungan beberapa penyair ketika itu, seperti Sanusi Pane dan Muhammad Hatta. Dengan itu, bentuk puisi Melayu mulai diperkaya. Selain pantun dan syair, kini dikenal pula bentuk soneta.

Soneta adalah salah satu bentuk puisi di Eropa. Soneta (Inggris: sonnet; Itali: sonnetto) sendiri berarti nyanyian kecil. Berkembang sejak abad ke-13, soneta adalah puisi 14 baris dengan skema rima dan struktur khusus yang ketat. Tetapi dalam sejarah perkembangannya, konvensi tentang soneta itu sendiri tidak selalu sama. Soneta terdiri dari 4 bait, namun jumlah baris setiap bait berbeda-beda. Ada yang komposisi baris setiap baitnya 4433; ada yang 4442; ada yang 44 222. Rimanya pun berbeda-beda. Ada rima abab cdcd efef gg; ada pula rima abba abba cde cde; ada pula rima abab cdcd ef ef gg, dan lain sebagainya.

Proses kreatif Muhammad Yamin sebagai penyair adalah usaha setia sejauh mungkin pada akar tradisi kesusastraannya, sekaligus usaha mengimbuhkan sesuatu yang baru pada tradisi kesusastraannya sendiri. Dalam arti itu maka sang penyair tetap berdiri di aras masa silam kebudayaannya, namun membuka diri bagi kemungkinan-kemungkinan baru dari kebudayaan luar yang dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Dia adalah satu kasus seseorang yang berdiri di warisan masa silam kebudayaannya dengan visi jauh ke depan untuk memajukan kebudayaannya sendiri. Dan di atas semuanya, yang tak kalah penting dan berharga di balik percobaan Muhammad Yamin dalam menggali bentuk-bentuk puisi, adalah gagasan visionernya terutama tentang bahasa dan tanah air —gagasan yang menjiwai puisi dan obsesi intelektualnya.

Menggagas Indonesia dalam Puisi
Membaca puisi-puisi Muhammad Yamin adalah memutar jarum sejarah ke masa-masa awal ketika sebuah bangsa dan tanah air bernama Indonesia baru digagas. Di Hindia Belanda pada tahun 1920, gagasan tentang bangsa dan tanah air itu merupakan fajar baru kebudayaan dan politik sekaligus. Ia merupakan fajar baru kebudayaan, sebab gagasan tentang bangsa dan tanah air —sebentuk nasionalisme— itu perlahan-lahan hendak menjadi pemisah identitas budaya Melayu dengan budaya bangsa dan tanah air baru yang sedang digagas. Ia merupakan fajar baru politik, sebab gagasan tersebut jelaslah merupakan cita-cita politik untuk melahirkan sebuah bangsa dan tanah air bersama, sebuah negara modern yang bebas dari kolonialisme.

Puisi-puisi Muhammad Yamin adalah sejarah perkembangan pemikiran seorang anak muda berilian tentang tanah air yang diidamkannya. Dia belum genap 17 tahun ketika menulis puisi “Tanah Air”, tempat dia pertama-tama mengemukakan gagasannya tentang Sumatera sebagai tanah air dan tumpah darahnya. Apa gerangan konsep tentang tanah air dan tumpah darah yang dibayangkan Muhammad Yamin ketika anak muda itu menulis puisi “Tanah Air” di tahun 1920? Yang pasti, apa yang dibayangkannya tentang tanah air dan tumpah darah adalah Sumatera, Andalas. Ini sejalan dengan orientasi hampir semua organisasi anak-anak muda ketika itu yang memang bersifat kedaerahan.

Ada sekali dia menyebut: “Firdaus Melayu di atas dunia!/ Itulah tanah yang kusayangi/ Sumatera namanya, yang kujunjungi.” Larik-larik ini menunjukkan adanya ikatan batin penyair bukan saja dengan Sumatera sebagai suatu wilayah tempat tinggal, melainkan juga dengan Melayu sebagai suatu entitas kebudayaan yang agak abstrak dan lebih luas. Tapi bagaimanapun, Yamin muda tampaknya membayangkan wujud kebudayaan Melayu sebatas wilayah Sumatera. Dengan demikian, meskipun Yamin menyebut Melayu dalam puisinya itu, apa yang dibayangkannya tentang tanah air dan tumpah darah, ketika puisi “Tanah Air” ditulis, adalah sebatas wilayah Sumatera.

Tahun berikutnya, 1921, Yamin menulis puisi “Bahasa, Bangsa”. Meskipun di situ bangsa yang dibayangkan Muhammad Yamin masih sama dengan bangsa yang dibayangkannya dalam puisi “Tanah Air”, yakni Sumatera, namun puisi tersebut menunjukkan perkembangan penting pemikiran dan obsesi Yamin tentang rasa kebangsaan atau nasionalisme. Puisi itu bukan saja mengemukakan gagasan tentang suatu bangsa, lebih dari itu ia menegaskan pentingnya bahasa sebagai alat utama menegakkan bangsa itu sendiri. Kata Yamin, “Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri …// Besar budiman di tanah Melayu/ Berduka suka, sertakan rayu/ Perasaan serikat menjadi berpadu/ Dalam bahasanya, permai merdu//… di mana Sumatera, di situ bangsa/ di mana perca, di situ bahasa//….” Dengan demikian, puisi itu menegaskan suatu keyakinan atas bahasa Melayu sebagai alat utama pemersatu dan penegak sebuah bangsa baru yang sedang diimpikan.

Sudah jamak diketahui bahwa bahasa Melayu sejak berabad-abad sebelumnya merupakan bahasa komunikasi di kawasan Nusantara. Apa yang penting dari Muhammad Yamin adalah keyakinannya bahwa bahasa bukan saja alat komunikasi, melainkan juga sebagai identitas kebangsaan. “Tiada bahasa, bangsa pun hilang,” kata Yamin dalam puisinya. Keyakinan akan bahasa Melayu sebagai identitas kebangsaan ini memiliki arti penting, sebab meskipun pada ketika itu bahasa Melayu luas digunakan di kawasan Nusantara, ia bagaimanapun berada pada posisi “terancam” oleh karena kaum terpelajar lebih sering menggunakan bahasa Belanda dalam artikulasi mereka. Bahasa Belanda adalah lambang kemodernan dan kemajuan, sebaliknya bahasa Melayu adalah lambang kekolotan dan keterbelakangan.

Muhammad Yamin memegang teguh keyakinannya bahwa bahasa Melayu merupakan identias kebangsaan yang dibayangkannya. Sudah tentu dia percaya pula bahwa bahasa Melayu mampu menjadi alat artikulasi modern. Keyakinan ini sedemikian rupa bulatnya, hingga dia yakin pula bahwa bahasa Melayu akan menjadi alat pemersatu rasa kebangsaan, menjadi pendorong nasionalisme sebagai perasaan dan cita-cita bersama. Suatu keyakinan yang kelak menjadi kenyataan.

Sejauh itu rasa kedaerahan pada organisasi-organisasi pemuda, terutama Jong Java dan Jong Sumatranen Bond, masih kuat. Namun seiring dengan menguatnya gagasan tentang Indonesia, khususnya setelah Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studieclub di tahun 1924, rasa kedaerahan pada organisasi-organisasi pemuda itu kian menipis, digantikan oleh hasrat yang begitu bergairah untuk bersatu di bawah bendera “Indonesia”. Sejak itu mereka —termasuk pemuda Muhammad Yamin yang aktif di Jong Sumatranen Bond— mendefinisikan diri bukan saja sebagai pemuda Sumatera atau pemuda Jawa, melainkan juga pemuda Indonesia. Dengan demikian, keindonesiaan kini tumbuh sebagai kesadaran baru rasa kebangsaan kaum muda.

Sebagai pemuda yang aktif dalam pergerakan kaum muda, Muhammad Yamin ambil bagian dalam banyak aspek gerakan yang menggebu-gebu di kalangan para pemuda untuk mematangkan dan mewujudkan kesadaran baru rasa kebangsaan itu. Dalam Kongres Pemuda Indonesia I, misalnya, yang diadakan di Jakarta pada tahun 1926, Muhammad Yamin menyampaikan pidato mengenai kemungkinan bahasa dan sastra Indonesia di masa depan. Jika dahulu Yamin mengemukakan keyakinannya bahwa bahasa Melayu dapat membangkitkan kesadaran orang-orang Sumatera, kini dia melanjutkannya dengan mengatakan bahwa bahasa Indonesia —yang berasal dari bahasa Melayu— dapat pula berperan mendorong perkembangan cita-cita baru kesatuan Indonesia. Bahasa dari suatu kebudayaan yang tampak antara lain dari kesusastraannya akan memberikan sumbangan penting dalam mewujudkan cita-cita baru itu.

Cita-cita baru tentang Indonesia kian menggumpal dalam kesadaran kaum muda. Rumusan cita-cita itu pun kian jelas, mengarah pada semakin bulatnya gagasan persatuan Indonesia dalam hal tanah air, bangsa, dan bahasa. Guna lebih mengkonkretkan gagasan tersebut, Kongres Pemuda Indonesia II digelar di Jakarta, 27-28 Oktober 1928, dan Muhammad Yamin dipilih sebagai sekretaris. Menyambut Kongres itu, Muhammad Yamin menulis puisi panjang, Indonesia, Tumpah Darahku, yang ditulisnya pada 26 Oktober 1928. Dalam puisi 88 bait yang setiap baitnya berisi 7 baris ini, Yamin menanggalkan konsep tanah air dan tumpah darah yang bersifat kedaerahan sebagaimana dibayangkannya dahulu. Di situ dia mengemukakan gagasannya tentang Indonesia sebagai tanah air:

Lihatlah Indonesia bercaya terang
Alangkah bagusnya tiada terbilang
Dihiasi kelapa hijau cemerlang
Melambai-lambai tumbuh di pantai
Di kakinya berdesir gulung-gemulung
Ombak gelombang gunung-gemunung
Dituruti awan gantung-gemantung
….

Dan Sumpah Pemuda pun dikumandangkan pada 28 Oktober 1928. Sebuah proklamasi tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa —Indonesia.

Sehubungan dengan pandangan Muhammad Yamin tentang bahasa, yang dalam puisinya “Bahasa, Bangsa” (1921) dipandang sebagai identitas kebangsaan, dia kini lebih menekankan kedudukan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu rasa kebangsaan. Hal ini sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang memang menekankan persatuan (tanah air, bangsa, dan bahasa). Bahkan Sumpah Pemuda menegaskan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Muhammad Yamin sendiri mengawali puisinya Indonesia, Tumpah Darahku dengan pepatah bersatu kita teguh/ bercerai kita jatuh. Maka, bagi Yamin kini arti penting bahasa Indonesia bukan saja sebagai identitas kebangsaan, melainkan terutama sebagai alat pemersatu rasa kebangsaan. “Sebenarnya bahasa Indonesia sudah demikian lakunya, tetapi harganya yang tertinggi ialah seperti bahasa persatuan,” tulis Muhammad Yamin dalam “Penyusuli” (“Penutup”) Indonesia, Tumpah Darahku.

Sebagaimana gagasan tentang bangsa yang bersifat kedaerahan dahulu merupakan fajar baru kebudayaan dan politik, gagasan nasionalisme Indonesia pun merupakan cita-cira baru dalam lapangan kebudayaan dan politik. Indonesia dipandang sebagai kesatuan kebudayaan dan politik baru, yang memiliki identitas budaya sendiri (yang berbeda dengan identitas Melayu dan kedaerahan lainnya) dan cita-cita politiknya sendiri pula (yang merdeka dari penjajahan). Muhammad Yamin adalah sosok dengan dua sisi uang logam, yang di satu sisi berusaha mewujudkan cita-cita keindonesiaan dalam kebudayaan dan di sisi lain dalam politik.

Untuk memperjuangkan cita-citanya dalam lapangan politik, dia terjun ke gelanggang politik praktis, masuk partai dan bahkan mendirikan partai politik. Sementara itu, dalam lapangan kebudayaan, dia berulangkali menegaskan keyakinannya akan kedudukan penting bahasa Indonesia sebagai alat kebudayaan. Lebih dari itu, karena cita-cita keindonesiaan adalah juga identitas budaya baru yang berbeda dengan budaya (Melayu) lama yang diwarisinya, maka dia mencoba menyumbangkan sesuatu yang baru dalam bidang sastra, khususnya puisi. Yang sangat jelas di antararanya adalah bahwa dia merupakan salah seorang pelopor bentuk soneta dalam permulaan puisi Indonesia.

Kecuali itu, Muhammad Yamin melakukan percobaan lain dalam puisi Indonesia modern. Dalam “Pembuka” Indonesia, Tumpah Darahku (Bikittinggi-Jakarta: Nusantara, 1951), Muhammad Yamin menulis puisi prosais: puisi yang mencoba melepaskan diri dari bentuk pantun dan syair, baik rima maupun jumlah kata setiap lariknya, bahkan membebaskan diri dari ikatan larik. Kalaupun ada nuansa Melayu dalam “Pembuka” itu, yang terasa adalah penggambaran alam yang demikian romantik. Tetapi bagaimanapun, di situ Muhammad Yamin mencoba membebaskan diri dari ikatan-ikatan lama dalam puisi tradisional Melayu. “Pembuka” itu sendiri merupakan prolog atau pengantar memasuki puisi Indonesia, Tumpah Darahku. Ia bernada sendu, seakan seseorang yang lelah menunggu apa yang sejak lama dirindukannya. Ini kontras dengan puisi Indonesia, Tumpah Darahku yang bernada romantik, riang dan optimistis:

Tak tahu di hati nan sedih?

Lihatlah gelombang memecah di pantai! —Hari fajar hampirkan siang: bulan purnama raja masih mabuk bersenda gurau dengan bintang yang memagarinya, serta penuh dengan rasa yang rawan, dan kemalu-maluan akan cahaya syamsiar yang datang menyingsing di kakilangit. Embun pun mundam berahi. Entah hiba akan tempatnya di pangkuan bunga yang berwarna-warna, karena mesti bercerai dengan malam yang penuh kegaiban dan keindahan alam; entahlah pula karena takut dijujuri nuriah yang datang meminang dengan semena-menanya, sehingga lenyaplah badannya dalam ruangan angkasa, tempat angin sisapai-sapai bertiup sepoi-sepoi basah.

Ayuhai badan jiwa semangatku, alangkah ingin hatiku tiada berkira; di mukaku bernafas lautan yang lebar, dipayungi kabut di hari pagi. Jauh sebelah ke sana gulung-gemulung ombak berbaris, seolah-olah membawa rahsia yang besar dan tanda-mata dari kekasih yang kucintai. Beginilah lautan sejak semula, tiada putus-putusnya: sebentar tenang sebentar bergerak. Berapalah suka raya yang dilahirkannya, segenap waktu setiap masa; berapalah gundah-gelana yang disimpannya, seluruh ketika sepanjang dewasa. Lihatlah pula gelombang ini, datang menuju ke bawah kakiku, diiringi suara yang merdu bunyinya; tampaknya silau-silau sampai, karena fajar belumlah habis. Setiba di pantai berpecah-belah, disambut pasir sejuk dan jernih; entah ke mana gerangan perginya gelombang tadi tiada dapat kulihat lagi: hanyalah buih di kakiku tinggal di hati, buih kering tergambar di jantung. Di manakah rahsia yang dibawanya dan tanda-mata yang dijanjikan? Tiadalah sedih sesedih itu, pedih bercampur dengan pilu.

Membaca puisi-puisi Muhamad Yamin adalah menelusuri akar-akar nasionalisme Indonesia, dari bentuknya yang bersifat kedaerahan (Sumatera) hingga perkembangannya menjadi kebangsaan Indonesia. Sebagai penyair, Muhammad Yamin mengemukakan gagasan kebangsaannya lewat puisi. Lewat puisi pula dia mengemukakan keyakinannya tentang peran penting bahasa baik dalam lapangan politik maupun kebudayaan. Di tangan Muhammad Yamin, puisi mengekspresikan nasionalisme, dari bentuknya yang masih emberional hingga tumbuh sebagai nasionalisme yang matang: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa —Indonesia.

Penutup
Muhammad Yamin adalah cermin seorang anak muda yang memiliki keyakinan penuh akan kedudukan bahasa dalam kebudayaan. Dan bahasa itu adalah bahasa Indonesia. Patut diingat bahwa di tahun 1920-an di kawasan Nusantara, bahasa Melayu atau bahasa Indonesia lebih merupakan alat komunikasi umum tinimbang alat artikulasi kaum terpelajar. Alat artikulasi kaum terpelajar dan elite sosial lainnya adalah bahasa Belanda. Bahasa Melayu hanyalah bahasa kaum kebanyakan. Tapi dalam situasi seperti itu, Muhammad Yamin dan kaum muda lainnya mengukuhkan bahasa Melayu/ Indonesia sebagai identitas kebangsaan dan bahasa persatuan, dengan penuh rasa percaya diri pula.

Di samping itu, Muhammad Yamin muda menulis puisi, yang dari segi bentuk memperlihatkan penguasaanya yang sangat baik pada tradisi puisi Melayu (yaitu pantun dan syair), memperlihatkan juga wawasannya yang sangat baik pada bentuk-bentuk puisi lain seperti soneta dan kemudian puisi bebas. Dia mewarisi dengan sangat baiknya khazanah kebudayaannya sendiri —khususnya dalam bidang bahasa dan sastra— seraya membuka diri bagi bentuk-bentuk puisi lain dari khazanah kebudayaan dunia untuk memperkaya kebudayaannya sendiri. Dalam arti itu Muhammad Yamin adalah seorang anak muda yang mendapat pendidikan Barat (Belanda) dan tetap menjunjung tinggi kebudayaannya sendiri, dan merasa bangga pula.

Yang tak kalah penting, bahkan lebih penting lagi, adalah wawasan visionernya sebagai anak muda. Terutama pandangannya tentang tanah air Indonesia, yang antara lain dikemukakannya dalam puisi, jelaslah memperlihatkan visi seorang anak muda yang dinamis dan kreatif tentang nasionalisme sebagai fajar baru kebudayaan dan politik. Bahwa puisi Muhammad Yamin Indonesia, Tumpah Darahku ditulis 2 hari sebelum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dapatlah dikatakan bahwa gagasan tentang tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia dalam puisi sesungguhnya mendahului gagasan yang sama dalam Sumpah Pemuda. Dan itu jelaslah menunjukkan kreativitas seorang anak muda dalam membangun bahasa dan sastra bangsanya.

Membaca kembali Muhammad Yamin kita segera melihat pengalaman sejarah kita yang gemilang menyangkut hubungan bahasa dan sastra dengan generasi muda. Pengalaman sejarah yang gemilang itu membuktikan bahwa generasi mudalah yang pertama-tama membangun bahasa dan sastra Indonesia pada masa-masa awal kelahiran dan pembentukannya. Dalam konteks itu, generasi muda adalah subjek kebudayaan. Jika kini kita memposisikan generasi muda sebagai objek kebudayaan, seperti tersirat dari tema lokakarya ini, adakah itu tanda bahwa kita mengalami degradasi dalam berbagai bidang kebudayaan?***

Makalah Disampaikan pada Lokakarya Kebahasaan dan Kesastraan, dengan tema “Bahasa dan Sastra Indonesia Membangun Generasi Muda yang Dinamis dan Kreatif”. Diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis, 15 Oktober 2009

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: