Jamal D. Rahman

26 Oktober 2008

Penelitian Ilmu Budaya dan Hermeneutika Paul Ricoeur

Filed under: Senggang — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Sudah lama para ilmuwan mendiskusikan metode dan proses penelitian ilmiah. Diskusi itu meliputi antara lain aspek epistemologi, ontologi, dan aksiologi, baik dalam bidang kajian ilmu alam maupun budaya, berikut metodologi penelitian dengan segala problematikanya. Diskusi mereka bermuara pada pencarian kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipandang sahih (secara epistemologis dan ontologis), dan dalam batas tertentu dapat diterima secara moral dan etik (aksiologis). Persoalan epistemologis muncul ketika disadari bahwa sumber-sumber pengetahuan ternyata sangat ditentukan oleh asumsi dasar tentang kebenaran dan pengetahuan itu sendiri, misalnya antara asumsi dasar idealisme, empirisisme, dan behaviorisme —yang memiliki asumsi dasarnya masing-masing. Dari sini persoalan pengetahuan beranjak ke aras ontologis, yaitu apa sesungguhnya hakekat pengetahuan dan kebenaran.
Dalam konteks ilmu budaya, ontologi kebudayaan mengandaikan adanya tiga lapis kebudayaan, yaitu ideofakt, sosiofakt, dan artefakt. Ideofakt adalah ide dan nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat, yang kemudian dikonkretkan secara sosial menjadi konvensi dan tradisi bersama sebagai sosiofakt, dan selanjutnya dimaterialisasikan dalam artefakt sebagai produk material kebudayaan. Sementara itu, ada 7 elemen kebudayaan yang masing-masing mengandung ideofakt, sosiofakt, dan artifakt tersebut. Yaitu, bahasa, religi, seni, pengetahuan, teknologi, kekerabatan, dan pencarian nafkah. Semuanya itu dapat digambarkan secara lebih jelas sebagai lingkaran konsentris, dimana ideofakt merupakan sisi terdalam dari sosiofakt dan artefakt.

Jika kebudayaan selalu dikaitkan dengan manusia atau masyarakat, pertanyaan yang dapat diajukan di sini adalah apakah kebudayaan suatu masyarakat dapat mengalami kemajuan. Jika jawaban atas pertanyaan ini positif, atas dasar apa sebuah kebudayaan dapat dipandang maju sementara kebudayaan lainnya dipandang tidak maju atau terbelakang? Ataukah kebudayaan suatu masyarakat hanya mengalami perubahan, tanpa tolok ukur yang jelas tentang apakah perubahan itu dengan sendirinya berarti kemajuan atau kemunduran? Inilah problem ontologi kebudayaan. Dan, jawaban atas pertanyaan ini untuk sebagian akan ditentukan oleh asumsi dasar pendekatan atau cara-pandang yang kita gunakan. Jika kita menggunakan fenomenologi misalnya, maka jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat tergantung pada pandangan masyarakat pemilik atau pencipta suatu kebudayaan: apa dan bagaimana mereka menghayati perubahan kebudayaan mereka sendiri, apakah bagi mereka perubahan itu merupakan kemajuan atau bukan? Dengan sendirinya, jawaban atas pertanyaan tersebut akan ditentukan pula oleh dunia nilai dan dunia ide (ideofakt) mereka sendiri.

Bagaimanapun, secara umum proses penelitian ilmiah pastilah mengikuti prosedur tertentu. Walter Wallace (“An Overview of Elements in the Scientific Process”) menjelaskan proses tersebut sebagai langkah-langkah lingkaran penelitian yang terdiri dari 5 komponen dasar, yaitu observasi, generalisasi empiris, teori, hipotesis, dan penerimaan atau penolakan terhadap hipotesis. Langkah atau transformasi dari satu tahap (komponen dasar) ke tahap berikutnya, dikontrol atau diuji oleh metode dasar tertentu, sebelum penelitian melangkah ke tahap berikutnya. Dalam transformasi dari satu tahap ke tahap berikutnya dalam lingkaran penelitian itu, yang terus dikontrol oleh metode-metode dasar tertentu, sangat mungkin peneliti menyadari atau menemukan kesalahan dari kesimpulan atau generalisasi sementara yang diambilnya. Dengan kontrol atau pengujian yang terus dilakukan, peneliti akan sampai pada kesimpulan —apakah hipotesisnya diterima atau ditolak— yang sahih dan meyakinkan. Dalam proses semua itu, kata Wallace, semua potensialitas peneliti sangat membantu kerja penelitiannya, termasuk ilham, imajinasi, dan intuisi keilmuannya.

Jika lingkaran penelitian Wallace diikuti secara kaku, maka proses penelitian tersebut hanya akan cocok untuk penelitian ilmu alam. Hanya dengan memahaminya secara longgar atau fleksibel, proses itu dapat diterapkan juga pada proses penelitian ilmu budaya, tentu dengan penyesuaian seperlunya sesuai karakter dan sifat setiap ilmu. Untuk penelitian sejarah dan filsafat misalnya, hipotesis bisa ditiadakan. Penelitian sejarah dan filsafat tidak bertolak dari hipotesis tertentu, karena hipotesis mengandaikan sebuah “penemuan” bahkan sebelum penelitian dilakukan. Sementara, penelitian sejarah dan filsafat justru berusaha “menemukan sesuatu”, bukan “membuktikan sesuatu”. Bedanya, yang pertama antara lain lewat wawancara, artefak atau naskah tertulis; yang kedua lewat refleksi kritis. Tapi bagaimanapun, jika dipahami secara longgar lingkaran penelitian ilmiah sebagaimana dirumuskan Wallace memberikan gambaran umum tentang bagaimana proses penelitian ilmiah mesti dijalankan.

Meskipun demikian, lingkaran penelitian ilmiah Wallace tetap menyisakan problem untuk diterapkan pada ilmu budaya, misalnya sastra dan filsafat. Masalahnya adalah, penelitian ilmu budaya lebih banyak —kalau bukan selalu— bekerja dengan menafsirkan objek. Penelitian ilmu budaya tidak bekerja dengan mengobservasi sebuah objek lalu menarik kesimpulan umum dari hasil observasi tersebut serta mengujinya dengan cara tertentu, melainkan dengan mencari makna di balik sebuah objek melalui metode penafsiran tertentu, atau melalui refleksi filosofis dalam filsafat. Mencari makna adalah menafsirkan, melalui mana sebuah objek membuka diri pada seorang peneliti yang mengarahkan segenap kesadarannya pada objek itu sendiri. Oleh karenanya, hermeneutika sebagai ilmu tafsir kiranya lebih relevan untuk dijadikan dasar dalam melakukan penelitian ilmiah ilmu budaya.

Dalam konteks itulah hermeneutika amat perlu dipertimbangkan sebagai salah satu metode penelitian ilmu budaya. Salah seorang tokoh hermeneutika yang sangat berpengaruh dalam teori interpretasi modern tentu saja adalah Paul Ricoeur. Membangun struktur pemikirannya dari filsafat, fenomenologi, linguistik, psikoanalisa, dan lain-lain, proyek hermeneutika filsuf Prancis ini bermuara pada otonomi semantik teks atau wacana yang dibakukan dalam tulisan. Dalam pandangan Ricoeur, wacana adalah bahasa ketika menjalankan fungsi komunikatifnya, yakni ketika bahasa digunakan untuk berkomunikasi, dan karenanya ia mengandaikan adanya interlokutor (pendengar atau pembaca). Sementara itu, teks adalah inskripsi bahasa lisan (ujaran) dalam bentuk tulisan, yang dengan caranya yang unik juga menjalankan fungsi komunikasi (dengan pembaca).

Di sini Ricoeur secara mendasar membedakan aspek epistemologis ujaran dengan aspek epistemologis tulisan. Tindak-ujaran adalah peristiwa melalui mana sebuah makna atau pesan disampaikan kepada pendengar, sehingga makna atau pesan tindak-ujaran bersifat diakronik dan historis, terikat pada konteks aktual ketika dan di mana tindak-ujaran itu dilakukan. Secara lebih khusus, makna tindak-ujaran sangat terikat pada pengujarnya. Dengan demikian, subjek ujaran adalah pengujar itu sendiri. Seterusnya, kalau ujaran sedemikian rupa menghubungkan dirinya dengan peristiwa, dan karenanya ia selalu bersifat diakronik dan historis, tulisan atau teks justru memutus hubungan ini, dan pada saat yang sama menghilangkan subjek sebagai seseorang yang bisa ditunjuk langsung sebagaimana dalam ujaran. Subjek dalam teks merujuk pada dirinya sendiri (self-referential) melalui hubungan kompleks internal dan struktural teks itu sendiri. Dalam konteks itulah maka teks selalu bersifat sinkronik dan tidak terikat pada satu konteks historis tertentu. Sementara ujaran dan historisitasnya menghilang, tulisan membakukan ujaran itu sendiri minus historisitasnya.

Dengan asumsi epistemologis ini, maka teks mengalami distansiasi yang memungkinkan objektivikasi dalam ilmu budaya. Distansiasi di satu sisi mengasingkan teks baik secara kultural maupun eksistensial: terlepas dari penulisnya berikut konteks historis dan kulturalnya, teks adalah sesuatu yang terasing, tiada yang memiliki, tiada otoritas yang berhak untuk mengklaimnya, sehingga ia adalah sesuatu yang mengalami alienasi eksistensial. Namun di sisi lain distansiasi membuat sebuah teks jadi produktif: ia membuka diri secara tak terbatas bagi kemungkinan-kemungkinan produksi makna. Pada titik ini, distansiasi kultural dan produktif sebuah teks mengandaikan apropriasi, sebuah konsep tentang aktualisasi makna yang terkandung dalam teks yang terasing itu, yaitu tindakan untuk menjadikan sesuatu yang terasing menjadi “milik sendiri”. Dengan kata lain, apropriasi adalah konsep yang menjelaskan kemungkinan produksi makna sebuah teks (wacana) secara tak terbatas sebagai konsekuensi epistemologis dari otonomi semantik teks (wacana) itu sendiri.

Karena wacana di satu sisi adalah peristiwa dan di sisi lain adalah juga makna, maka selalu terjadi dialektika peristiwa dan makna dalam wacana. Sebuah wacana merupakan peristiwa, karena wacana diwujudkan dalam ruang dan waktu, dihubungkan dengan subjek (yaitu pembicara dalam ujaran atau kata ganti orang yang dapat ditunjuk oleh serangkaian penunjuk yang kompleks dalam struktur internal teks), dan dihubungkan pula dengan interlokutor yang memungkinkan berlangsungnya dialog. Dengan demikian, semua wacana sesungguhnya direalisasikan sebagai peristiwa, dan karena wacana adalah peristiwa maka ia mengartikulasikan makna. Apa yang penting di sini adalah bahwa sebuah peristiwa merupakan dimensi historis wacana, sedangkan makna adalah dimensi non-historis wacana. Ricoeur lalu menekankan bahwa wacana sebagai makna (yang non-historis) akan melampaui wacana sebagai peristiwa (yang historis). Hal ini merupakan salah satu konsekuensi dari distansiasi wacana, dimana perkataan (saying) dipisahkan dari apa yang dikatakan (said).

Dalam usahanya menjelaskan bagaimana proses pemahaman terhadap teks mesti dijalankan, Ricoeur mencoba memperbaharui konsep Dilthey tentang penjelasan (explanation) dan pemahaman (understanding). Menurut Dilthey, penjelasan adalah cara atau metode kerja ilmu alam untuk menyingkap hukum-hukum alam yang pasti, kausalistis, linear, dan tanpa intensi, sedangkan pemahaman adalah cara kerja ilmu budaya atau humaniora untuk menyingkap perilaku manusia dan kebudayaannya yang kompleks, tidak kausalistis, tidak linear, dan mengandung intensi. Merevisi dikotomi tersebut, Ricoeur menegaskan bahwa penjelasan dan pemahaman tidak bisa dilihat secara dikotomis. Penjelasan adalan konsep yang bisa dipraktikkan pada bahasa lisan yang telah dibakukan dalam tulisan, sedangkan pemahaman adalah konsep yang bisa dipraktikkan untuk mengungkap makna teks dimana interpretasi merupakan salah satu unsur pentingnya. Dikemukakan secara sederhana, berbicara tentang struktur, distansiasi dan apropriasi sebuah wacana, misalnya, adalah penjelasan (explanation), sedangkan berbicara tentang makna atau pesan apa yang terkandung dalam sebuah wacana atau teks —dan untuk sebagian itu berarti interpretasi atau tafsir— adalah pemahaman (understanding). Yang pertama bekerja pada wilayah objektif; yang kedua bekerja pada wilayah subjektif.

Dengan berbagai argumennya yang meyakinkan, proyek hermeneutika Paul Ricoeur jadi anti-historis dan meninggalkan hermeneutika romantis. Paul Ricoeur sangat menekankan otonomi semantik. Dalam kaitan itu, teks bersifat otonom pula untuk melakukan dekontekstualisasi baik secara historis, sosiologis, maupun psikologis, yaitu membebaskan diri dari cakrawala maksud terbatas penulisnya. Dengan demikian, teks membuka diri seluas-luasnya bagi penafsir. Untuk memahami dan menafsirkan teks, kata Ricoeur, kita tidak memproyeksikan diri ke dalam teks, melainkan membuka diri terhadapnya. Dalam proses itu, teks akan mengalami rekontekstualisasi, yaitu bahwa penafsir memberikan konteks baru pada teks tersebut sesuai dengan cakrawala sang penafsir sendiri. Dengan cara itu, seorang hermeneut akan memberikan relevansi baru terhadap teks yang mungkin sudah usang, sekaligus menguak kemungkinan-kemungkinan maknanya yang tak terbatas.

Lalu, di manakah batas kesahihan sebuah pemahaman atau penafsiran? Menurut Ricoeur, penafsiran memang mesti diselamatkan baik dari dogmatisme maupaun skeptisisme. Untuk itu, Ricoeur mengajukan konsep validasi yang akan menguji sebuah penafsiran melalui logika probabilitas, sebuah disiplin argumentatif yang memberikan dasar yang kuat pagi sains individual. Logika validasi, kata Rioeur, memungkinkan penafsiran atas teks bergerak secara produktif antara dogmatisme dan skeptisisme, tanpa harus terjatuh ke dalam klaim hermeneutika romantis. Dengan logika validasi pula, sebuah interpretasi bisa diinterupsi, dibatalkan, atau dikukuhkan.

Melihat argumen dan asumsi-asumsi dasarnya, hermeneutika Ricoeur tak pelak lagi sangat relevan dan bermanfaat untuk dijadikan metode penelitian ilmu budaya.***

Iklan

2 Komentar »

  1. Uastadz Jamal D.Rahman,

    Saya tertarik dengan artikel tadz Jamal ini, bukan karena kedekatan geografis tempat saya dilahirkan dengan tadz Jamal (antara Pasar Telaga-Lenteng), tetapi karena kajian ilmu budaya dan kebudayaan memang dekat dengan minat saya.

    Tadz Jamal, sekadar ta’aruf. Saya alumni TMI Al-Amien tahun 1991, kemudian melanjutkan pendidikan selanjutnya ke Tunis, Tunisia dengan konsentrasi kebudayaan Islam. Saat ini saya bekerja di Penerbit Erlangga sebagai Editor Agama dan Sosial Budaya untuk buku-buku umum.

    Saya melihat pentingnya kerjasama dengan tadz Jamal sebagai sastrawan dan sebagai Pemred majalah satra Horison. Salah satu inprint Erlangga, yaitu esesnsi menerbitkan buku-buku sastra, novel (fiksi dan non fiksi), saya berharap bisa bekerjasama dengan tadz Jamal dalam diskusi atau launching buku-buku novel Erlangga, atau iklan di majalah horison.

    Tadz, tentu saya berterima kasih sekiranya bisa mendapatkan alamat/no.kontak tadz jamal, untuk memudahkan komunikasi selanjutnya. Trimakasih.

    Salam,

    Fath.Rahman Yahya
    PT. Erlangga Jl.H.Baping 100 Ciracas Jaktim
    HP. 085 693 764 449

    Suka

    Komentar oleh Fathurrahman Yahya — 4 Desember 2008 @ 05:00 | Balas

  2. teriamakasih atas tulisannya. saya sangat senang dng tulisan ini sebab saya adalah orang madura yang berdomisili di kota Pontianak kaalimantan barat yang belum tahu banyak dengan kebudayaan sendiri. selain itu saya juga seorang pendidik (guru sekolah dasar mengajara Bahasa Inggris). tolong pak ustad lengkapi dengan contoh2 yang banyak. untuk referensi saya. trims.

    Suka

    Komentar oleh tayam — 26 Oktober 2009 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: