Jamal D. Rahman

26 Oktober 2008

Jilbab Biru sebagai Representasi Budaya: Penjelasan The Signifying Order

Filed under: Senggang — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Manusia hidup dengan kebudayaan yang secara sosial diproduksi untuk memberikan dan mencari makna pada hidup manusia itu sendiri. Untuk sebagian, makna hidup manusia dibentuk atau ditentukan oleh arti (meaning) kebudayaannya, atau arti yang dia berikan pada kebudayaannya. Untuk mencapai hidup yang bermakna baik secara eksistensial maupun sosial, manusia kadangkala mencari atau memberikan arti baru pada kebudayaan mereka yang secara sosial dan kultural telah lama terbentuk, atau bahkan menciptakan kebudayaan baru. Dalam konteks itu, arti sebuah kebudayaan bisa bersifat personal, bisa pula bersifat sosial. Arti kebudayaan bersifat personal bilamana seseorang memiliki arti tertentu tentang sebuah produk budaya atas dasar pandangan pribadinya di luar pandangan kolektif komunitas pemilik produk budaya itu sendiri. Arti kebudayaan bersifat sosial bilamana arti sebuah produk budaya mengikuti konvensi, norma, atau nilai yang dianut suatu masyarakat.

Jilbab adalah salah satu produk budaya, yaitu pakaian penutup seluruh rambut wanita yang mengandung arti relijius (Islam), dan bentuk atau modenya relatif khas Indonesia (Melayu), yang berbeda dengan kerudung, berbeda pula dengan penutup rambut wanita Muslimah Timur Tengah, Turki, atau Iran misalnya. Sebagai ekspresi keagamaan, jilbab bisa mengandung arti personal. Namun sebagai produk budaya, jilbab pastilah mengandung arti sosial-budaya sesuai dengan kode-kode sosial-budaya jilbab itu sendiri. Tulisan ini akan melihat jilbab (sebagai contoh kasus) sebagai produk dan representasi budaya dalam sistem semiosis, hal mana proses pemaknaannya secara sosial ditentukan oleh pola hubungan kompleks tanda-tanda sosial-budaya, namun secara umum diatur atau diarahkan oleh signifying order (sebuah konsep dari Danesi dan Perron, Analyzing Cultures: An Introduction and Handbook, Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press, 1999). Akan ditunjukkan juga kesulitan-kesulitan teoritis dan praktis proses pemaknaan jilbab sebagai representasi budaya.

Memberikan atau mencari arti kebudayaan pada dasarnya adalah sebuah proses semiosis. Dalam perspektif semiotik, kebudayaan pada dasarnya adalah sekumpulan tanda (signifier [Saussure], representamen [Peirce]) yang menunjuk pada arti (signified [Saussure], object [Peirce]) tertentu, dan selanjutnya menunjuk pada arti atau interpretasi (interpretant [Peirce]) lain yang kadangkala tak terbatas. Demikianlah manusia menciptakan sebuah kebudayaan untuk menghadirkan arti tertentu, untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, norma, nilai, atau keyakinan mereka. Dalam arti itu maka produk kebudayaan adalah representasi budaya, yaitu aktivitas penggunaan tanda-tanda budaya yang membawa atau menghadirkan arti tertentu yang disepakati oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah sistem arti yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat, yang direpresentasikan melalui tanda-tanda budaya, dimana tanda-tanda budaya itu bisa bekerja secara semiotis melalui a signifying order.

Signifying order, menurut Danesi dan Perron, adalah sistem yang kompleks tentang tipe-tipe yang berbeda mengenai tanda yang, dengan cara yang bisa diketahui, melekat pada pola-pola representasi yang bisa digunakan oleh individu dan kelompok untuk membuat atau mengganti sejumlah pesan. Dirumuskan dengan bahasa lain, signifying order adalah sistem kognitif seseorang atau masyarakat yang mendasari hubungan antartanda sehingga tanda itu bisa mengandung arti atau pesan. Dengan sistem kognitif itulah seseorang atau masyarakat bisa memahami (pesan atau arti) sebuah tanda, dan dapat menggunakannya untuk menyampaikan atau menerima pesan tertentu. Ketika saya mendengar atau membaca kata Borobudur, saya hanya akan mengerti bahwa maksudnya adalah sebuah candi yang sangat penting dan punya nilai sejarah, terletak di Magelang, Jawa Tengah, jika ada signifying order antara kata Borobudur dan saya atau jika saya mengetahui signifying order kata Borobudur itu sendiri.1

Dalam kaitan itu adalah penting menggarisbawahi konsep Danesi dan Perron tentang representasi. Berbeda dengan pengertian umum tentang representasi, yang biasanya diartikan sebagai “menghadirkan sesuatu (kembali)” atau “menghadirkan arti suatu tanda”, representasi Danesi dan Perron adalah aktivitas menggunakan tanda dalam hubungannya dengan kemungkinan-kemungkinan arti yang dikandung tanda itu sendiri. Dalam arti itu maka jilbab adalah representasi budaya dalam pengertian umum, dan melihat jilbab sebagai tanda semiotis dalam hubungannya dengan makna-makna yang dikandungnya adalah representasi budaya dalam pengertian Danesi dan Perron. Aktivitas memaknai tanda ini —atau representasi dalam pengertian Danesi dan Perron— ditentukan atau diarahkan oleh signifying order, yang sendirinya juga merupakan produk budaya.

Representasi jilbab dalam pengertian Danesi dan Perron —jadi, aktivitas memaknai jilbab sebagai tanda semiotis— dapat dijelaskan dengan signifying order jilbab itu sendiri. Dalam konteks ini, Danesi dan Perron meminjam konsep-konsep semiotik dari tokoh-tokoh semiotik dan linguistik terkemuka, khususnya Saussure dan Peirce. Perspektif Saussurean menjelaskan signifikasi jilbab sebagai penanda yang menunjuk pada petandanya, yaitu kain penutup seluruh rambut wanita, menunjuk lagi pada petanda lain, misalnya agama Islam, menunjuk lagi pada petanda berikutnya, misalnya agama Islam Indonesia, menunjuk lagi pada petanda berikutnya, misalnya ketaatan pada agama. Signifikasi ini bisa bekerja sedemikian rupa karena kode-kode budaya dan konvensi sosial —yang secara keseluruhan merupakan signifying order— dikenal oleh pelaku kerja semiosis.

Sementara itu, perspektif Peircean memberikan penjelasan lebih kompleks. Dalam perspektif Peircean, arti (meaning) jilbab berada pada tataran interpretan, yaitu misalnya agama Islam, agama Islam Indonesia, dan taat pada agama. Di sini, lahirnya interpretan-interpretan tersebut dimungkinkan karena jilbab adalah legisign. Legisign adalah tanda yang objek dan interpretannya ditentukan oleh konvensi atau kode sosial. Peirce membedakannya dengan qulisigns dan sinsign. Qualisign adalah tanda yang memberikan kualitas pada, atau memperoleh arti setelah menyatu (embodied) dengan objek (misalnya warna merah pada bendera). Sedangkan sinsign adalah tanda individual yang digunakan dan bisa dimaknai secara subjektif oleh penerima tanda (misalnya kata binatang jalang dalam larik puisi Chairil Anwar “Aku ini binatang jalang”).

Selanjutnya, masih dalam perspektif Peircean, karena jilbab adalah legisign maka interpretan yang dihasilkannya adalah argument, yaitu penafsiran yang secara sosial-budaya bisa dibuktikan benar. Adalah benar bahwa wanita berjilbab adalah seorang Muslim, seorang Muslim Indonesia (Melayu), dan taat beragama (setidaknya dalam hal menjalankan perintah menutup rambut sebagai aurat). Inilah hasil dari proses semiosis yang diarahkan atau ditentukan oleh signifying order jilbab sebagai representasi budaya. Jika ternyata interpretan itu keliru, misalnya bahwa ternyata si pemakai jilbab bukan seorang Muslim, maka bisa dipastikan proses signifying order tidak bekerja sesuai dengan konvensi sosial dan kode budaya, sebab tanda (jilbab) yang dibicarakan adalah legisign. Dikatakan dengan kalimat lain, sebuah interpretan legisign bisa keliru manakala komponen-komponen penandaannya tidak mengikuti konvensi, kode, atau ketentuan yang diterima secara sosial, atau ada penyimpangan dalam signifying order legisign itu sediri.

Sampai di sini, kita tidak menghadapi kesulitan baik teknis maupun teoritis dalam proses pemaknaan jilbab sebagai tanda semiotis atau representasi budaya. Signifying order menyediakan perangkat teoritis yang memadai tentang tata kerja (sintaksis) tanda dan tata pemaknaan (semantik)-nya. Kesulitan teknis dan teoritis akan kita hadapi ketika kita “menggeser” jilbab ke jilbab biru, yakni dari jilbab sebagai legisign ke jilbab biru sebagai sinsign. Kesulitan akan muncul pada tataran interpretan, bukan object —sebagai representamen, jilbab biru jelas bisa menunjuk langsung pada object-nya, yaitu apa yang kita sebut sebagai jilbab biru dalam kebudayaan kita.

Masalahnya, jilbab biru merupakan sinsign, yaitu tanda individual yang arti atau interpretannya tidak ditentukan oleh konvensi sosial atau kode budaya. Apa arti (interpretan) biru pada jilbab? Apa arti jilbab biru? Bagaimana dan atas dasar apa kita mesti memberikan arti (interpretan) pada jilbab biru? Adakah perangkat teoritis semiotik yang memuaskan dan meyakinkan untuk itu?

Menggunakan konsep the signifying order Danesi dan Perron, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan konsep konotasi dan anotasi. Konotasi adalah perluasan secara bebas cakupan arti sebuah objek melalui asosiasi atau analogi. Sedangkan anotasi adalah bentuk konotasi yang makna emotifnya tergantung pada nada dan konteks tertentu. Dalam arti itu mungkin kita mengasosiasikan jilbab biru dengan (biru) langit, dan karena itu kita memberikan interpretan keluasan; mungkin juga kita mengasosiasikan jilbab biru dengan (biru) laut, dan karena itu kita memberikan interpretan kedalaman. Tetapi, cukup meyakinkankah interpretan-interpretan atas dasar asosiasi ini untuk bisa diterima? Dapatkah dibuktikan bahwa jilbab biru benar-benar mengandung makna kedalaman (penghayatan keagamaan, misalnya) atau keluasan (pemahaman agama, misalnya) pemakainya? Pada tataran inilah kita menghadapi kesulitan baik teknis maupun teoritis. Sebuah tanda individual agaknya akan melahirkan interpretan individual pula. Tampaknya kita harus cukup puas bahwa, meskipun merupakan produk sosial dan representasi budaya, legisign hanya akan memberikan interpretan subjektif yang tidak bisa kita uji secara objektif berdasarkan konvensi budaya.

Jika kebudayaan adalah proses sistem penandaan, dan penelusuran semiotis ingin menunjukkan bagaimana tanda merujuk pada dunia atau makna (signifikasi), maka konsep signifying order dengan baik bisa menjelaskan aspek sintaksis sistem penandaan. Tetapi, menghadapi legisign atau tanda-tanda individual, semiotika menghadapi tantangan teoritis untuk merumuskan atas dasar apa sebuah tanda individual merujuk pada suatu dunia atau makna dan perangkat teoritis apa yang bisa digunakan untuk menguji bahwa hasil penelusuran semiotis bisa diterima. Tantangan teoritis ini diajukan dalam hubungannya dengan Danesi dan Perron, karena signifying order yang mereka kemukakan mengasumsikan tendensi esensilistis, yaitu bahwa pada tanda selalu ada esensi yang dapat ditemukan melalui investigasi semiotis yang cermat dan seksama.

Jilbab biru hanyalah satu contoh atau kasus, bahwa investigasi semiotis atas sebuah tanda bisa mencapai penafsiran yang meyakinkan pada tataran konvensi sosial dan kode budaya —yang prosesnya diarahkan oleh signifying order— sekaligus membuktikan bahwa, pada tataran tanda individual, investigasi semiotis tidak bisa mencapai penafsiran yang sama meyakinkannya —yang antara lain disebabkan oleh keterbatasan perangkat teoritis signifying order dan semiotik secara umum. Salam.***

Pondok Cabe, 19 Oktober 2008

1Konsep signifying order Marcel Danesi dan Paul Perron dapat kita bandingkan dengan konsep ground Charles Sander Peirce, yang sayangnya tidak disinggung oleh Danesi dan Perron meskipun mereka meminjam konsep-konsep semiotik Peirce. Menurut Peirce, ground adalah sesuatu —misalnya kode— yang atas dasar itu sebuah tanda berfungsi sebagai tanda. Atas dasar ground sebuah representamen, maka representamen tersebut bisa menunjuk pada objeknya atau interpretannya (Noth 1990: 42; Zoest 1993: 16).

1 Komentar »

  1. terima kasih sudah diperbolehkan mengisi, blog yang bagus dan menarik.
    lihat juga blog-ku
    http://muhammadzaidan.wordpress.com/
    salam kenal yah.

    Komentar oleh muhammadzaidan — 12 November 2008 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: