Jamal D. Rahman

26 Oktober 2008

Cerpen Muh. Asyrofi: Cerita Tanpa Intervensi Bahasa

Filed under: Siswa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Perhatian. Kata itu demikian penting dalam cerpen “Insaf” karya Muh. Asyrofi, siswa SMUN 1 Purworejo, Jawa Tengah (lihat di bawah). Dari situlah masalah dalam cerpen tersebut dibangun, dan di situ pulalah masalah diselesaikan: perhatian dalam hubungan suami-istri. Perhatian adalah kata kunci dalam cerpen itu, dan secara normatif menjadi kata kunci pula dalam keharmonisan suami-istri. Cerpen itu secara keseluruhan ingin mengatakan bahwa tanpa perhatian dari masing-masing suami-istri –¬¬satu hal yang sa¬ngat sederhana sebenarnya– sebuah keluarga bisa terancam bubar.

Dari sudut isi atau tema, cerpen itu paling ti¬dak mengandung dua hal menarik. Pertama, ia ingin menekankan pentingnya perhatian lewat komunikasi yang, katakanlah, sangat tradisional dalam pola hubungan suami-istri, yaitu sekadar bertegur sapa, suami mencium kening sang istri, atau makan bersama di rumah. Bukan dalam pem¬berian emas, intan, atau permata. Perha¬ti¬an itu murah tapi mahal. Murah nilai ma¬te¬r¬i¬al¬nya; mahal nilai moralnya. Guncangan ke¬lu¬ar¬ga Hendra-Manisa berawal dari tidak adanya komunikasi tradisional tadi, yang ber¬lang¬¬¬sung agak lama hingga menjadi tumpukan bom waktu.

Kedua, ini lebih menarik, dari awal sudah jelas bahwa kesalahan pertama dilakukan oleh Hendra, sang suami, meskipun tanpa disa¬¬darinya. Tanpa disengajanya pula. Karena kesi¬buk¬¬annya yang menumpuk hingga pekerjaan kantor dibawa ke rumah, komunikasi tradisional antara Hendra dan Manisa lambat laun tidak berjalan. Tak ada waktu untuk bertegur sapa seperti dulu. Sisa waktu yang ada digunakan Hendra untuk istirahat karena harus menghadapi pekerjaan lagi esok hari. Hubungan suami-istri itu pun jadi dingin, lalu masing-masing mudah marah. Persoalan suami-istri itu jadi meruncing hingga Manisa menuntut cerai.

Yang menarik, persoalan tersebut dibangun secara khas dalam kultur patriarki. Lihatlah ba¬gaimana Manisa tetap menyapa Hendra se¬pu¬¬lang mengajar, tetapi diabaikan saja oleh Hen¬dra. Manisa bahkan tetap menyiapkan makan sang suami. Sebaliknya, Hendra tak lagi me¬negur Manisa karena kesibukannya yang me¬num¬puk. Dan, ketika Manisa mengatakan bah¬wa dia tak tahan lagi tinggal bersama Hen¬¬¬dra, suaminya itu malah menamparnya. Puncak da¬ri hubungan yang bukan saja hirarkis, me¬lain¬kan juga dominatif, itu terjadi ketika Hendra de¬¬¬ngan lembut dan tersedu-sedu menolak di¬sebut tak punya hati nurani. Hasilnya: Manisa ber¬sujud mencium kaki Hendra. Dan, mereka pun saling berjanji untuk saling memberikan per¬hatian. Keduanya insaf.

Secara normatif tentulah benar bahwa per¬ha¬tian demikian penting dalam hubungan sua¬mi-istri. Tapi dalam cerpen “Insaf”, perhatian itu dibangun dalam kultur patriarki: pria bisa melakukan kesalahan apa pun terhadap pe¬rem¬¬puan ¬–termasuk memukul secara fisik— tan¬pa merasa perlu meminta maaf; sebaliknya, pe¬¬rem¬¬puanlah yang harus minta maaf atas ke¬sa¬lahannya, dan hanya dari situlah komitmen ba¬¬¬¬¬ru untuk saling memberikan perhatian bisa di¬¬mulai. Secara ekstrem dapat dikatakan, bah¬wa perhatian adalah imperatif dalam sebuah ke¬¬¬¬luar¬ga. Maka, biarlah kultur patriarki ber¬operasi dalam sebuah keluarga, asal imperatif itu tetap terjaga.

Demikianlah cerpen ini menggambarkan kultur patriarki, sebuah kultur yang memberikan ”hak” kepada pria untuk mendominasi dan me¬nguasai perempuan. Namun di situ jelas pula bahwa kultur patriarki tak hanya disokong oleh pria, melainkan juga oleh wanita. Lihatlah reaksi Manisa setelah dipukul oleh Hendra: istri yang adalah seorang guru itu ”hanya” menuntut cerai. Dan ketika hati Hendra luluh karena tuntutan cerai tersebut, Manisa pun jadi luluh juga. Lihatlah lagi betapa mudahnya Manisa bersujud di depan Hendra, setelah Hendra tersedu-sedu karena dibilang tak punya hati nurani. Begitu mudahnya Manisa ”menyerah” pada Hendra. Dan itu mengukuhkan kultur patriarki dalam keluarga Hendra-Manisa.

Harus segera dikatakan bahwa cerpen ”Insaf” menarik bukan saja karena ia meng¬gam-barkan bagaimana kultur patriarki berope¬ra¬si dalam sebuah keluarga. Juga bukan saja kare-na ia berhasil dengan baik mengangkat masa¬lah (keluarga) dari sesuatu yang seder¬hana, di mana cerita bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya dengan tingkat konflik yang kian tegang, hingga tahap selesaian sebagai pesan normatif keseluruhan cerpen itu sendiri. Yang tak kalah menarik adalah bahasanya.

Sebagai cerpen realis, ”Insaf” sangat didu¬kung oleh bahasa yang mengalir lancar dan jer¬nih, khususnya dalam menggambarkan sua¬sana demi suasana. Bahasa di situ meng¬gam-barkan peristiwa dengan dingin dan datar, sea¬kan-akan pengarang tidak mau peristiwa yang diceritakannya diintervensi oleh bahasa. Pengarang membiarkan peristiwa berlangsung begitu saja, dengan memberikan kepercayaan penuh pada peristiwa itu sendiri untuk menam¬pil¬kan dirinya sendiri. Peristiwa adalah sesuatu yang hidup, sehingga tak perlu dihidup-hidup¬kan lagi. Demikianlah konflik tidak dibuat gem¬par oleh (penggambaran) bahasa yang berle¬bih¬an. Pengarang atau narator seakan hanya me¬motret peristiwa, tanpa melebihkan atau me¬ngu¬ranginya.

Di samping itu, ada rasa bahasa Melayu (Mi¬nang¬kabau?) dalam cerpen tersebut. Perha-ti¬kan beberapa kutipan berikut: Memasuki alam surga dunia yang sebegitu indahnya, sebagai terlalailah insan akan sekelilingnya, di mana kegelapan yang hampa merasuki segenap pen¬juru dunia; Demi didengarnya per¬ka¬¬taan istrinya itu, darah Hendra kembali men¬di¬dih, hingga ia tak segan-segan menam¬par¬nya; Cucuran air mata pelepas sesallah sebagai mu¬ara dari kesemuanya itu.

Sepintas, rasa bahasa Melayu terkesan se¬ba¬gai tempelan belaka dalam cerpen “Insaf”. Tapi pada hemat saya, rasa bahasa Melayu itu cukup penting, khususnya dilihat dari struktur cerita dan teknik berceritanya. Tidak jelas di mana latar tempat cerita, namun dari dialog tokoh-tokohnya tampak bahwa mereka bukan orang Melayu (Minangkabau?). Rasa bahasa Melayu hanya terasa pada narasi atau deskripsi yang diberikan pencerita. Maka, dengan teknik “diaan” (orang ketiga), rasa bahasa Melayu itu berfungsi memberi jarak antara pencerita dan peristiwa yang diceritakan. Ini sejalan dengan posisi pengarang yang hanya memotret peris¬tiwa apa adanya, tanpa menambah atau me¬¬ngu¬ranginya.

Dalam arti kata lain, rasa ba¬hasa Melayu di situ berfungsi menjaga cerita da¬¬ri intervensi bahasa.
Akhirnya, catatan kecil perlu juga diberikan. Mung¬¬kin karena teknik berceritanya yang datar dan dingin, saya merasa dialog antartokoh da¬lam ”Insaf” kurang efektif dalam mendukung ka¬¬¬rak¬¬ter cerita. Dialog antartokoh seakan ter¬se¬ret pada kehendak untuk tidak mengintervensi ce¬rita dengan bahasa, sehingga dialog-dia¬log¬¬¬nya turut dingin dan datar juga. Dialog tak per¬¬nah dibuat untuk memperuncing konflik, ke¬¬cuali sebagai klimaks untuk segera bergerak ke selesaian cerita. Sungguhpun demikian, ”In¬saf” tetaplah cerpen yang berhasil di laras rea¬¬lis. ***

Insaf
Muh. Asyrofi

Manisa berdiri di muka cermin dengan gaya¬nya yang menawan, penuh harum se¬¬mer¬bak kecantikan terpancar dari wajahnya yang ma¬¬nis. Malam hari kala itu. Cahaya lampu kamar agak redup me¬nam¬¬¬bah suasana tenang. Tanpa diketahui olehnya, suaminya Hen¬dra telah menutup pintu kamar perlahan-lahan. Tiba-tiba… hep… . Ia telah memeluk Manisa erat-erat dari belakang sembari mencium pi¬pi¬¬nya yang halus, membisikkan sesuatu yang sebenarnya tak perlu di¬ka¬¬takan. Keduanya tersenyum. Cahaya kasih terpancar dari muka ma¬¬sing-masing. Keduanya telah tahu apa yang mesti dikerjakan, tan¬¬pa harus bertanya-tanya. Memasuki alam surga dunia yang sebe¬gitu indahnya, sebagai terlalailah insan akan sekelilingnya, di mana ke¬ge¬¬lapan yang hampa merasuki segenap penjuru dunia.
Bayang-bayang nostalgia itu masih berke¬camuk di mata batin Hendra, yang tengah duduk termenung dalam kesunyian malam di ruang tamu, sambil melinangkan air matanya yang jernih, yang keluar atas dorongan nura¬ninya. Peristiwa itu, ya, telah meng¬ingat-kannya atas kehangatan cinta kasih pasangan suami-istri muda itu, yang akhir-akhir ini masih dirun¬dung konflik batin. Bertahun-tahun lamanya mereka menjalin cinta kasih, penuh janji sumpah setia sehidup semati atas kedalaman kasih sayang satu sama lain. Setelah sekian lamanya mereka memadu kasih, diteruskannyalah ikatan batin mere¬ka melalui jenjang yang lebih tinggi, jenjang pernikahan. Ke¬dua¬nya mulai mem¬bangun rumah tangga, hidup berkasih-kasihan penuh impian-impian obsesi masa depan, saling mengikat janji untuk saling mempercayai, saling menyayangi, merajut kasih satu sama lain demi keutuhan rumah tangga yang mereka dirikan buat selama-lamanya.
Alangkah indahnya dunia ini, seandainya setiap manusia di dalam¬nya mampu menum-buhkan benih-benih kasih sayang satu sama lain, mampu mengikis habis semua bibit-bibit konflik yang ber¬sarang dalam kalbunya. Akan tetapi… tak dapat disangkal, benda ber-gesek menimbulkan panas. Itulah yang bakal terjadi di kalangan umat manusia. Hanya, semakin besar mereka dapat meredam panas itu dari dirinya, semakin nyamanlah niscaya dunia dirasa. Begitu pu¬la yang tengah dialami pasangan suami-istri Hendra-Manisa akhir-akhir ini.
Hubungan mereka sedikit meregang. Se¬makin jarang terjadi tegur sapa di antara mere-ka berdua. Tradisi cium pun telah punah. Biasa¬nya, sepulang dari tugasnya di sekolah, Manisa menunggu suaminya sam¬bil duduk-duduk di ruang tamu buat menantinya makan siang ber¬sa¬ma-sama. Jika yang ditunggu tak kunjung da¬tang, maka ia me¬nyibuk¬kan diri dengan mem¬baca-baca surat kabar atau buku lainnya. Sua¬¬mi tercinta datang, maka berasa senanglah hati¬nya. Hendra pun de¬mikian. Sepulang dari bekerja, hampir dipastikan ia mendapati istrinya du¬duk-duduk di ruang tamu tengah menantikan dirinya. Dengan riang diciumlah kening Manisa sebagai pelepas rindu. Dalam pada ia meng¬ganti pakaiannya dan mencuci tangan, Manisa mu¬lai menata meja makan hingga selanjutnya me¬reka berdua makan siang bersama-sama. Sering pula mereka duduk-duduk berduaan jika ada waktu luang buat mencurahkan isi hati masing-masing. Ka¬dang-kadang, di sela-sela perbincangan mereka itu nampaklah keduanya melepas senyum sembari menampakkan cahaya cinta kasih satu sama lain. Sampai-sampai per¬nah Hendra merasa terpesona oleh se¬nyum istri¬nya yang menawan itu, hingga timbullah gairah asma¬ra¬nya di sela-sela percakapan mereka. Maka tak segan-segan ia men¬cium pipi Manisa, hingga keduanya tersenyum bersama-sama penuh kemalu-maluan. Tetapi secepat kilat keadaan pun telah berubah.
Satu-satunya penyebab itu semua, hanyalah soal perhatian. Ya, persoalan yang biasa diang¬gap sepele oleh sekian juta umat manusia. Dan, jika dalam kehidupan rumah tangga keluarga saja mereka meng¬anggap hal itu remeh, maka tak dapat dielak dalam rumah tangga yang lebih besar pun masalah demi masalah akan tim¬¬bul, yang sebab awalnya adalah perihal perhatian.
Seiring kesibukan Hendra bekerja di kantor¬nya, hari-harinya di rumah seringlah dihabis¬kannya dengan kegiatan mengurus tugas-tugas yang mesti dikerjakan di rumah. Waktu buat berbincang-bincang dengan istrinya semakinlah berkurang dibuatnya. Sebenarnyalah ia masih memiliki banyak waktu senggang untuk se¬kedar membagi perasaan bersama istrinya. Akan teta¬pi, pada pikirnya, istirahat jauh lebih pen¬ting, sebab besoknya ia harus kembali bekerja. Ber¬kali-kali Manisa hendak memulai perbincangan di antara mereka, namun jarang sekali tegur sapanya itu beroleh ja¬waban yang memuaskan. Sikap yang demikian, yang sering terjadi setiap hari dalam kehidupan tanpa disadari oleh si pelaku hidup, pada mulanya tiada menim¬bul¬kan masalah bagi kehidupan rumah tangga me¬re¬ka. Tetapi, seiring waktu hal yang sepele namun terus-menerus itu mau tidak mau mulai membosankan diri Manisa.
Lambat laun dalam hati Manisa tumbuh pe¬ra¬¬saan tak enak jika hendak menegur atau me¬¬nyapa suaminya. Dan, tak dapat tidak semakin jaranglah terjadi komunikasi antar-mereka. Waktu yang pa¬ling mungkin, yang mau tak mau membuat keduanya mesti bertegur sapa, adalah jika mereka sedang berada di ranjang. Akan tetapi, sua¬sana telah berganti, lain dari biasanya. Hanya tak seberapa la¬ma me¬reka dapat mengeluarkan buah tuturnya. Seiring semakin jarang¬nya si istri menyapa suaminya, maka hal itu pun telah mem¬buah¬kan ke¬engganan bagi Hendra untuk mencurahkan isi hati¬nya se¬bagai yang sebelum-sebe¬lumnya. Jarang sekali Hendra mau mem¬buka mu¬lut¬¬¬¬¬nya di hadap¬an sang istri.
Waktu demi waktu, hal yang demikian telah membuat keduanya mudah marah. Terutama sekali ba¬gi Hendra. Ada kesalahan sedikit saja pada si istri, entah kesalahan itu besar atau kecil, kemarahannya mu¬¬¬dah meluap. Pernah sekali waktu masakan sang istri kurang me¬¬¬¬¬muaskan si suami, maka tak se¬gan-segan Hendra melepas ama¬rah¬¬nya dengan memukul meja ma¬kan keras-keras. Kehidupan se¬macam itu berlangsung bebe¬rapa lamanya, hingga suara teriak adu mulut hampir setiap hari memenuhi rumah itu. Gairah cinta antara mereka semakin memudar, sam¬pai-sam¬pai Manisa pernah bilang bahwa ia su-dah tak tahan tinggal bersama suaminya. Akan tetapi, hal itu bu¬kan¬nya menginsafkan Hendra. Justru api amarahnya semakin ber¬ko¬bar. Demi dide¬¬ngarnya perkataan istrinya itu, da¬rah Hendra kembali mendidih, hingga ia tak segan-segan me¬¬namparnya. Kepedihan hati Manisa tak tertahankan lagi, sampai-sampai ke¬marin ia minta diceraikan saja. Buat apa hidup bersama, jika hanya membuat sengsara?
Tersentak hati Hendra melihat permintaan istrinya dalam ta¬ngisan. Hatinya sedikit luluh. Dalam hatinya ia masih mengakui, bah¬¬¬wasanya ia masih cinta akan istrinya. Seharian ia mere¬nung dalam ka¬¬marnya, tiada berangkat kerja. Dikenangkannya kembali masa-masa lalu mereka, maka sedikit demi sedikit penyesalan merasuk da¬¬lam jiwanya. Hingga malam ini, pe¬¬nyesalannya telah memuncak me¬lalui tangis¬annya di ruang tamu.
Dalam pada melelehkan air mata dalam ketermenungannya di ruang tamu itu, timbullah iba kasihan Hendra terhadap istrinya. Bila hal itu diingat kembali, ah… betapa kejam per¬la¬kuannya terhadap Manisa. Wanita yang dahulu sukar didapatkannya, kini hanya dicam¬pakkan begitu saja. Berangsur-angsur timbullah niatnya hendak me¬min¬ta maaf kepada sang istri. Maka perlahan-lahan Hendra mem¬ba¬ngunkan tubuh¬nya dari duduk melamun, masuk ke ruang te¬ngah. Dida¬¬patinya Manisa tengah duduk seo¬rang diri, menonton televisi. Ya… cantik. Ah, sa¬yang, wajahnya murung sebagai menam¬pakkan kese¬dihannya. Pelan-pelan, dengan air mata masih meleleh di pipinya, Hendra mematikan televisi.
Sekejap dilihat Manisa hendak memarahi¬nya, akan tetapi dalam se¬kejap juga hatinya lu¬luh setelah dilihatnya Hendra melinangkan air mata. Ia hanya tertunduk di hadapan suaminya, tak berani berkata sepatah jua. “Manisa…,” kata Hendra dengan lemahnya dalam linangan air mata, “Aku ingin berbicara dari hati ke hati denganmu.” Maka Hendra berjalan menuju se¬buah kursi dekat meja makan. Duduklah ia, dii¬kuti istrinya yang duduk pula di hadapannya, ber¬seberangkan meja.
“Akankah… kehidupan kita terus-menerus seperti ini, Manisa?” lanjut Hendra dengan nada sayup-sayup.
“Jangan kausalahkan aku, Mas Hendra,” jawab Manisa dengan lemahnya, yang mulai me¬¬nitikkan air mata pula. “Itu semua, karena kau tak punya hati nurani!”
Deg…! Jantung Hendra berdebar demi mendengar perkataan istrinya itu. Api amarah hendak timbul kembali, namun segera dipa¬dam¬kannya sendiri olehnya, seraya katanya, “Maksudmu?”
“Jangan pura-pura, Mas Hendra,” jawab Manisa melemah sembari memalingkan muka. Hati Hendra berasa terpukul oleh sikap istrinya itu. Maka ia kembali berkata, “Adakah kesa¬la¬hanku selama ini terhadapmu, Manisa?” Diam sesaat. Lanjutnya, “Kalau benar ada, katakan¬lah, istriku. Aku siap mendengarnya.”
Dengan air mata berlinang-linang Manisa berkata dengan suara lemah, sebagai keluar dari muara jiwanya: “Kalau itu kehendakmu, Mas Hendra, banyak sekali. Ya, berbulan-bulan lamanya batinku menderita, oleh… sikapmu.” Ia mulai terisak-isak dalam mencurahkan kepe¬dih¬annya. “Kau tiada mempedulikanku. Apakah… hanya karena sibuk, lantas kau tak punya waktu untukku? Sesungguhnyalah, aku juga sibuk, Mas. Setiap hari aku mengajar di sekolah. Tapi… kapan aku mendiamkanmu? Ham¬pir setiap hari aku menegurmu. Sayang, kau tak pernah menghargaiku.” Ia terdiam beberapa saat, menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Hendra terus merenungi per¬ka¬taan istrinya itu. Air mata pun bercucuran. Manisa melanjutkan per¬kat¬aannya. “Kalau memang saya tidak lagi kaubutuhkan… me¬nga¬pakah tak kau ceraikan aku sekalian? Jawab, Mas Hendra!” Yang akhir ini ia berkata setengah berteriak meski air mata terus menyu¬supi rongga hidungnya.
Darah Hendra kembali tersirap mende¬ngar¬nya. Ia menjawab pertanyaan istrinya itu dengan lam¬ban dan lirih, “Manisa… aku masih… men¬cintaimu.” Disentuhnya tangan Manisa pelan-pelan. Ia hendak marah melihat hal itu, namun kemarahan pun berganti iba bercampur keper¬ca¬yaan setelah dipandangnya Hendra me¬neteskan air mata tepat mengenai tangannya sen¬diri. Ia menjawab kata-kata sua¬minya itu perlahan-lahan, walau masih dengan tangisan. “Se¬benarnyalah, yang kuinginkan dalam hidup ini hanyalah per-hatianmu, Mas Hendra. Ingin rasanya aku berdua denganmu, meng¬ulang masa-masa indah… penuh cumbu rayu dan se¬nyum tawa. Hasrat hatiku, ingin kau rayu… kau¬peluk… kaucium… . Ya, hidup berkasih-ka¬sihan. Sesungguhnyalah aku sangat men¬cintai¬mu, Mas Hendra. Tapi… ah, mengapakah kau tega mencampakkan aku?”
Semakinlah hancur luluh hati Hendra men¬de¬ngar ungkapan hati istri¬¬nya itu, yang tak per¬nah ia menduga sebelumnya. Bahwasanya Ma¬nisa sangat mencintainya. Sayang… ia kurang peka akan pera¬sa¬an¬nya, naluri batiniah seorang istri yang menginginkan cinta kasih sang suami. Tapi, kedunguannya, kebo¬do¬han¬nya, ya, semuanya telah mencam¬pakkan istri yang tak ber¬salah itu ke lubang yang penuh lum¬pur. In¬saf¬lah sekarang Hendra akan pe¬rila-ku¬nya selama ini, bah¬wasa¬nya membangun ru¬mah tangga tidaklah cukup hanya meng¬an-dalkan uang atau pun materi. Tetapi, jauh lebih penting dari itu, pe¬ngertian, kesetiaan, perhatian, cinta kasih, penghargaan, pujian, sanjungan, ya, semuanya teramat diperlukan dalam membina rumah tangga yang penuh kebahagiaan.
Akan tetapi, bagaimanapun juga hati Hen¬dra merasa kurang patut dikatakan tiada mem¬punyai hati nurani. Meski ia sadar akan per¬buat¬annya selama ini, tetapi seburuk-buruk¬nya dia, tetap memiliki hati nurani, perasaan, se¬bagai¬mana lazimnya manusia. Perkataan istri¬nya yang satu itu, tak dapat tidak telah me¬nu¬suk hatinya, mencabik-cabik jiwanya yang te¬lah luntur. Amatlah sedih ia merasakan itu se¬mua. Akhirnya, dengan suara tersendat-sendat Hen¬dra menyambung tangisan istrinya dengan ung¬kapan hati pula, katanya, “Ya… . Manisa. Aku insaf sekarang, sudilah kau me¬maaf¬kanku… mem¬beriku kesempatan untuk memperbaiki…. Percayalah, aku takkan lagi mencampakkan diri¬mu… .” Pelan-pelan dihapusnya air mata yang membasahi raut mukanya, serta lanjutnya, “Tapi… per¬kataanmu yang tadi, Manisa… bah¬wa aku tak punya hati nurani, hen¬daklah kau ca¬¬but… . Itu terasa… menyentuh hatiku… .“ Se¬ketika Hendra telah tersedu-sedu, tak dapat lagi menyembunyikan perasa¬annya. Meski ia masih melanjutkan perkataannya: “Kata-katamu itu, amat melukaiku… . Tolong, Manisa. Seburuk-buruknya aku, jangan¬lah kau katakan itu, terhadap … suamimu… . Ya, suamimu sen¬diri, Manisa….” Dengan pandang penuh harap¬¬an, Hendra meng¬amati wajah istrinya se¬bagai mengharap sesuatu sambil me¬megang kedua tangannya dengan lembut.
Berdebar-debar bercampur penyesalan yang amat mendalam meliputi hati Manisa pada pe¬ris¬tiwa itu. Tiada disangka, ia telah me¬nge¬luar¬kan kata-kata yang amat menyakiti suami¬nya, orang yang amat di cintainya, dan yang pintu hatinya kini mulai terbuka. Waktu demi waktu dilepas heningnya suasana malam itu, telah membawa pe¬nyesalan hati Manisa semakin besar dirasanya, yang justru semakin mere¬mukkan nuraninya sendiri. Masih terselip pu¬¬la dalam benaknya, akan dosa seorang istri yang durhaka terhadap suaminya. Tapi…¬apa¬kah per¬buatannya, mengingatkan sang suami, merupakan suatu ke-dur¬hakaan? Atau… boleh jadi hal itu merupakan perbuatan mu¬lia, sebab me¬nuntun suami menuju jalan ke¬be¬¬naran? Ah… benar. Di dunia ini, siapakah yang paling benar? Semua merasa dirinya paling benar, se¬dang kebenaran itu sendiri nisbi. Seo¬¬rang meng¬anggap benar, yang lain tidak. Begitu pun sebaliknya. Jika demikian, lalu, benar atau salahkah perbuatan dirinya pada Hendra…? Tapi, yang jelas, perkataannya yang menusuk perasaan suaminya itu, dirasanya tak dapat lagi dibenarkan. Deraian air mata Manisa semakin deras mengalir-membasahi pipinya. Hatinya luntur. Oleh penyesalan.
Manisa tak dapat lagi menahan gejolak jiwanya. Spontan ia bangkit, melangkahkan kaki dengan terseok-seok. Breg…! Dirubuhkannya tubuh yang lemah itu ke lantai. Bersujud… me¬nangis tersedu-sedu… didekapnya kaki suami¬nya erat-erat, sedang air mata bergulir terus-menerus. Bertubi-tubi kata-kata penyesalan dan maaf keluar dari mulutnya sebagai tak ter¬kon¬trol lagi. Cucuran air mata pelepas sesallah sebagai muara dari kesemuanya itu.
Hendra tak dapat menahan lagi melihat hal itu. Air mata ber¬cucuran, membasahi rambut Ma¬nisa yang hitam lembut. Pelan-pelan ia mem¬bungkukkan badan, memegang kedua bahu istrinya. Di¬di¬ri¬kannya dirinya dan istrinya, sehingga keduanya berdiri berhadap-ha¬dapan dalam tangis masing-masing. Manisa masih saja tersedu-se¬du sambil sesekali menghapus air matanya sendiri. Ia hanya ter¬tunduk. Kepe¬dihan rindu yang selama ini bersarang dalam hati Hendra telah mendapatkan jalan keluar. Sekonyong-konyong, Hen¬dra mendekap tubuh istrinya yang lemah tak berdaya itu erat-erat. Manisa pun melayangkan jiwanya, merubuhkan diri dalam pelukan sua¬minya, sebagai muara kepedihannya selama ini. Kedua suami-istri tiada henti-hentinya mencurahkan air mata da¬lam pelukan ma¬sing-masing, dalam perasaan ma¬sing-masing, antara insaf dan pe¬nye-salan, an¬¬tara pedih dan pengertian, menuju ter¬bukanya pintu ger¬bang pemaafan sebagai awal terciptanya kehidupan baru… .***

Muh. Asyrofi, SMUN 1 Purworejo, Jl. Tentara Pelajar 55, Purworejo, Jawa Tengah 54111.

Sisipan Kakilangit, Horison, Februari 2002

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: