Jamal D. Rahman

26 Oktober 2008

Cerpen Eko Putra: Memotret Gelisah dengan Kamera Bahasa

Filed under: Siswa — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Pernahkah engkau gelisah hingga tak bisa tidur? Pernah. Engkau gelisah saat jatuh cinta dan diharu-biru oleh rasa rindu yang amat dalam. Engkau gelisah saat tugas-tugasmu menumpuk, mulai tugas sekolah hingga tugas ekskul dan kegiatan lain di luar sekolah. Engkau gelisah karena harapan, impian, khayalan, dan fantasi-fantasimu sendiri. Engkau gelisah saat menunggu hasil ujian yang amat menentukan masa depanmu. Engkau gelisah dan merasa tertekan, hingga sulit tidur dan tak tahu apa mesti kaulakukan.

Lalu, dapatkah engkau melukiskan gelisahmu, hingga gelisahmu itu tergambar dengan jelas dan konkret? Tidak selalu. Tapi Eko Putra, kawanmu dari SMAN 2 Unggul Sekayu, Banyuasin, dengan baik melukiskan perasaan gelisah tokoh rekaannya lewat cerpennya yang cukup bagus, “Mimpi dan Nafas-nafas”. Engkau sudah membacanya. Atau masih akan membacanya? Bacalah (di bawah). Di situ engkau akan merasakan perasaan tokoh “aku” yang sedang gelisah di tengah malam yang sepi. Tokoh itu gelisah oleh rasa cinta pada seseorang. Dia berkhayal macam-macam tentang dan bersama orang yang dicintainya itu.

Dalam cerpen itu sendiri boleh dibilang tak ada cerita. Tidak keliru jika dikatakan bahwa cerpen itu lebih merupakan lukisan atau gambaran suasana batin tokoh “aku” yang sedang gelisah. Tokoh itu terbangun tengah malam, tak bisa tidur, mundar-mandir di kamarnya, kadang memeluk guling, menulis puisi, dan berfantasi tentang orang yang dicintainya. Hingga subuh tiba.

Tak ada cerita yang dahsyat. Tapi Eko Putra seakan menangkap perasaan tokoh “aku” yang bergemuruh dahsyat. Dan dia melukiskan kedahsyatan perasaan “aku” yang bergemuruh itu menjadi sebuah cerita yang menarik kita baca. Jadilah cerpen tersebut sebuah lukisan atau penggambaran yang hidup tentang perasaan seorang tokoh rekaan yang menggelora. Dengan kata lain, Eko Putra tidak bermaksud menceritakan sebuah alur dari rangkaian peristiwa demi peristiwa atau kejadian demi kejadian. Dia mencoba menangkap momen demi momen perasaan sang tokoh yang bergolak, dan itu tak kalah menarik dibanding alur peristiwa atau kejadian sebagai rangkaian sebuah cerita.

Memang, dalam cerpen itu terdapat juga alur cerita. Mulai tokoh “aku” terbangun, mundar-mandir di kamarnya, memeluk guling, menulis puisi, berkhayal wanita yang dicintainya datang, lalu terbang berdua ke cakrawala, hingga “aku” tersadar dari lamunannya, kemudian melaksanakan shalat subuh. Tetapi bukan alur itu benar yang penting. Alur di situ hanyalah alat untuk melukiskan kedahsyatan kegelisahan “aku”. Dengan alat itu, kita merasakan dunia batin “aku” yang benar-benar terguncang.

Yang penting dalam cerpen itu adalah bahwa ia berusaha mengungkapkan sesuatu yang bergolak luar biasa di dalam batin tokoh “aku”. Cerpen Eko Putra memotret sesuatu yang amat sublim, yang bergolak keras namun jauh di bawah permukaan dunia batin sang tokoh. Dengan demikian, Eko Putra tak hanya memotret peristiwa yang berlangsung di permukaan. Alih-alih dia menggali dan menyelam jauh ke kedalaman batin tokoh rekaannya. Di kedalaman batin tokoh itulah, dia melihat dan menemukan sesuatu yang memang luar biasa. Itulah yang dia potret. Itulah yang dia lukiskan.

Di atas semuanya, Eko Putra memiliki alat memotret dengan kemampuan yang sangat baik. Ibarat seorang juru potret, dia telah menemukan sebuah objek fotografi yang bagus, didukung oleh kamera canggih yang bisa menangkap setiap detail objek, didukung pula oleh kemampuan memotret sang juru potret yang andal. Tanpa kamera yang canggih dan kemampuan memotret yang baik, sebuah objek sebagus apa pun tak akan melahirkan foto yang bagus.

Alat memotret Eko Putra tak lain adalah bahasa dan imajinasi. Bahasa dan imajinasi kawanmu ini ibarat kamera canggih di tangan juru potret yang andal. Jadilah hasil bidikannya sebuah foto yang indah dan terang, warnanya tajam, komposisinya bagus, dan detail objeknya tertangkap dengan baik bahkan hingga bagian-bagiannya yang paling kecil. Tak mudah, dan tak banyak, orang berhasil memotret objek yang samar-samar bahkan gelap ini.

Akhirnya, satu hal perlu ditekankan. Karena cerpen bagaimanapun adalah cerita, Eko Putra perlu menyadari bahwa cerita dalam cerpen bagaimanapun sangat penting. Maka, tantangan Eko Putra ke depan adalah bagaimana membangun cerita dengan alur dan latar yang “nyata”. Dengan kamera canggih di tanganmu, Eko, engkau pasti mampu memotret dengan baik peristiwa “nyata” yang dahsyat: kerusuhan sosial, kemiskinan, korupsi, dan lain-lain. Selamat mencoba.***

Mimpi dan Nafas-nafas
Cerpen Eko Putra

Malam diselimuti hasrat yang tergelas oleh gejolak rasaku. Bersama semburat yang terbias oleh cahaya bulan separuh. Sementara kerlingan mataku, menerawang kaki langit. Dan menembus seberkas rona yang terbalut serpihan batu bintang dalam galaksi mayapada.
Sejak tadi bola mataku sulit sekali terpejam. Entah kenapa? Mungkin aku merindukan pujaan hati. Yang terbersit dalam penantian aforisma cinta. Dan terbawa galau bersama getaran-getaran rasa yang bergelantung di pulur sukmaku. Terbalut oleh deru yang berputar dalam fragmen darahku.
Aku berusaha melenyapkan gejolak yang membuncah dalam taman kalbu. Sambil membolak-balik posisi tubuh dan mendekap gulungan sarafku. Aku memeluk guling di atas dipan reot warisan dari ayah. Ke kiri, ke kanan. Badanku meringkuk terbujur di atas kasur. Berbagai posisi tubuhku. Masih saja carut-marut logika berseteru. Bersama detak jantung dan menelusuri denyut nadiku.
“Aa… aakh… ah!”
Mengapa perasaanku. Mengambang dan terbesit di benak seolah lingkaran setan. Yang terderai di antara api murni dengan gumpalan asap kelabu. Aku sangat resah, bertabur linglung dan kikuk oleh kemelut yang terapung dalam selubung tali raga. Dan sangat dramatis sekali.
“Hem!”
Aku bergumam sambil berseloroh menuruni dipan. Dan kakiku menjuntai menjejaki lantakan yang berjejer di lantai kamarku. Mataku melirik jarum jam yang berdenting. Ternyata waktu menunjukkan pukul 02:00 dini hari.
“Wah, ternyata hari sudah hampir pagi,” ucapku. Seharusnya saat ini aku lelap dan menikmati lindap bawah sadarku. Tapi entah mengapa aku sangat resah menunggu cinta. Memang sebuah rasa harus tercurah. Dalam serpihan kelopak kasih. Yang tersirat di antara siluet dalam fragmen manusia.
Pada malam ini, dan di sini. Hasratku terpenggal oleh lolongan para bilur jalanan. Bersama sayup-sayup kokok si jago yang terekam oleh telingaku. Dan nyanyian jangkrik seolah bersenandung dengan serunai cintaku. Istana ilusi menggantung dan melintasi pelupuk mata. Lalu merasai lintau lara yang terbelah oleh sarat melodi napasku.
Aku mondar-mandir, bolak-balik dengan jarak yang tak menentu. Seolah-olah roda-roda kereta api. Yang bercengkrama dengan alotnya petilasan di rel-rel gentala. Jengkal menaut tapak. Duduk, berdiri dan resahnya hatiku.
Aku merasa letih. Lalu menarik kursi kecil yang berada di pojok kamar. Kemudian melabuhkan pantatku sambil bersandar. Termangu bersama pancaran neon yang membilas di ambang neraca pagiku. Aku membuka lemabaran-lembaran memori otak. Dan mencoba melenyapkan gejolak batinku.
“Aha… yeah!”
Aku seperti mendapatkan sentuhan euforia. Dan mengubur sketsa lara. Yang menempel dalam sizofrenia. Bersama kemelut parodi jiwaku. Tanganku meraba selembar kertas dan mengambil pena. Lalu menggoreskan guratan kata demi kata, kalimat bersambung kalimat dan bait bertaut bait. Tersusun dalam kanvas yang tercurah secercah hasratku.
Syair malam. Terangkai dalam kutipan subjek yang berlipat makna. Selesai sudah. Jemariku menemani kertas dan tinta bisu. Lalu aku menyelam dalam renungan diksi rima baladaku. Bersama racauan lidah melintir kalimatku.
***
Di sini, malam lindap bersama melodi jasadku. Ditemani serpihan nafas yang terburai oleh xenofobia. Dan kelok sudut petilasan mengelas rindu.
Isi bait pertama penggalan sajakku. Aku mendasari dan meraut kepalan kata dalam rima.
Lalu nafasku berhenti sejenak. Dan melanjutkan bait berikutnya.
Sungguh… sebat yang terapung dalam kelopak kasihku. Nisbi… suara di seberang, tonggak di ujung nafasku. Dan kerlingan bola mata menerawang oleh dian mayu.
Bait kedua kurenungkan. Dan gejolak kutempuh bersama deburan rasa. Yang bersemayam di taman jiwa.
***
Aku sangat meresapi kata-kata. Penggalan puisi itu seolah kekuatan magis yang memusnahkan galauku. Kemudian bibirku melafalkan bait yang terakhir dari sajakku.
Mungkin, lalau karma. Dan aku adalah duka dunia. Rindu …, tak ada kicau dalam terali pusara. Dan di sini aku meniti hati.
Puisi singkat, hanya tiga bait. Tetapi aku seolah berhasil melepaskan borgol yang membekam kedua tangan. Bagaikan merpati putih yang terlepas dalam terali bajanya. Kalimat di ujung subjek menjadi teman malamku. Dan aku merasakan kemelut dalam juring angan. Musnah bagaikan kobaran api yang padam karena percikan air embun.
“Ukh…!”
Badanku terasa letih. Dan tulang-tulang terasa remuk. Darah menyusup dalam sum-sum. Ditemani oleh detak aorta ragaku. Aku merasakan dunia terbalik dan bergoyang. Bersama deru angin di lorong pembuluh darah. Aku terhenyak, ada suara halus menyapa. Suara itu bersumber dari balik jendela kamar. Ia memanggilku dengan suara yang sangat merdu dan memikat.
“Andi… Andi, mari ke sini. Rengkulah daku, kita bersenda di haluan kasih. Terbang di mega jingga bersemayam di ufuk magenta.”
Pelan-pelan kubuka tirai yang menghalangi jendela. Aku terpukau, terlena, terbuai dengan keanggunan parasnya. Aku sangat gugup.
Tubuhku terasa gemetar. Sambil terbata-bata aku mencoba membuka suara.
“Kak, kamu siapa?”
Wanita itu tersenyum padaku. Sambil berkata mesra ia menatapku.
“Aku adalah mimpi indahmu. Aku adalah dewi malammu. Aku adalah bidadari pagimu. Aku adalah cinta sejatimu. Aku ingin berkelana bersamamu.”
Ucapannya membuatku sangat terpana. Aku benar-benar limbung, seolah bumi tak berpijak di pelataran kota manusia.
Tidak percaya aku sangat terpukau. Sambil berusaha menenangkan detak jantung. Aku mencoba menanggapi ucapan wanita itu.
“Tidak! Tidak mungkin. Aku tidak mempercayai ini.”
Seperti terhipnotis aku melesak dalam euforia, dan keluar dari jendela. Kurangkul tubuh sang bidadari. Mendekap tubuh sintalnya. Dan memeluk mesra dirinya. Meremas jemarinya. Dalam rajutan benang sakralku.
Aku benar-benar bahagia. Besama lencana yang terapung di antara perhiasan mahkota pelangi. Aku terbang bersamanya. Seperti burung yang mengepakkan sayapnya di ranting kuasa. Melayang di urnal sarafku ia menggandeng tanganku. Melintasi lorong-lorong jalanan. Bersama derik seriosa di atas bukit tonggi. Dan di lorong itu kami menyapih baliho-baliho lima puluh kota. Sungguh dunia dalam genggaman tanganku. Diam dalam rengkuhan naluriku dan tertopang erat. Bagaikan jeruji yang mengusung serapan jasadku.
Terlena dan aku sudah mengambang. Bulan ingin kubidaki dan bersamanya aku mengawang. Melanglang buana. Karena begitu asyiknya, tak kusadari ribuan batu bintang menyeruduk tubuhku. Aku gemetar. Sketsaku remuk tak berpilin. Tanganku lemas terkulai. Dan genggamanku terlepas, aku terpisah dari sang bidadari.
Semburan asap pekat melumat pelipisku. Aku terhempas di antara titik terasing. Terpental dengan jarak jutaan kilometer. Nyawaku seperti lepas dari jasad. Melejit dengan seluruh teriakan yang tersimpan di selaput geletar kerongkonganku.
“A… a… aa… aw… aa… w… www… prang… trang… krasak!”
Nafasku tersengal bersama cucuran keringat. Kulihat buku-buku berantakan dan berhamburan di lantai.
“Ukh… haeh… haeh…!”
Untung saja hanya mimpi belaka.
“Hem… mm!”
Ilusi telah membuatku lalai. Aku terlalu banyak berkhayal. Seindah angan akan bertasbih dan terangkum dalam jiwa. Jika aku berusaha mewujudkannya.
Kulirik jarum jam yang terus berputar. Telah menunjukkan pukul 04:30. Aku merapikan buku yang berhamburan dan menyusunnya kembali. Lalu membenahi dipan tuaku. Kudengar suara ibu di dapur. Ia sedang bekerja sangat cekatan. Menyiapkan sarapan pagi untuk kami sekeluarga.
Aku berjalan gontai menuju sumur. Lalu mengguyur sekujur tubuh dengan air. Sayup-sayup kudengar lengkingan suara azan subuh. Mengalun bersama serunai yang berkumandang di antara sukmaku. Aku berwudhu. Lalu bergegas mengambil sarung dan berlari menuju mushola. Kutunaikan kewajiban. Bersimpuh dan bertasbih kepada-Nya. Melafaskan keagungan dan kemuliaan-Nya. Berharap pada sebuah penantian. Penantian dalam hasrat yang tak terlukiskan.***

Eko Putra, SMA Negeri 2 Unggul Sekayu, Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sisipan Kakilangit, Horison, Januari 2008

2 Komentar »

  1. salut, di usia yang masih belia anda demikian lihai bermain diksi…..

    Komentar oleh mashdarzain — 9 April 2009 @ 05:00 | Balas

  2. Eko putra memang berbakat, sebagai penyair tapi. Cerpennya terkesan sebagai sajak naratif yg panjang. Tapi diluar itu cerpennya memukau, dan diksiny benar2 indah

    Komentar oleh Ardani — 12 April 2009 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: