Jamal D. Rahman

23 September 2008

Rubaiyat Matahari

Filed under: Puisi — Jamal D. Rahman @ 05:00

Puisi Jamal D. Rahman

1

dengan bismilah berdarah di rahim sunyi
kueja namamu di rubaiyat matahari
kau dengar aku menangis sepanjang hari
karena dari november-desember selalu lahir januari

2

engkaulah sepi di jemari hujan
kabar semilir dari degup gelombang
engkaulah api di jemari awan
membakar cintaku hingga degup bintang-gemintang

3

atas sepi perahuku bercahaya
membawa matahari ke jantung madura
atas bara api cintaku menyala
menantang matahari di lubuk semesta

4

aku peras laut jadi garam
mengasinkan hidupmu di ladang-ladang sunyi
aku bakar langit temaram
bersiasat dengan bayangmu dalam kobaran api

5

batu karam perahu karam
tenggelam di rahang lautan
darahku bergaram darahmu bergaram
menyeduh asin doa di cangkir kehidupan

6

karena laut menyimpan teka-teki
di puncak suaramu kurenungi debur gelombang
karena layar hanya selembar sepi
di puncak doamu kukibarkan bintang-gemintang

7

pohon cemara ikan cemara
menggelombang biru di riak-riak senja
antara pohon dan ikan kita adalah cemara
mendekap cakrawala di dasar samudera

8

di rahang rahasia rinduku abadi
sampai runtuh seluruh sepi
rinduku adalah ketabahan matahari
menerima sepi di relung puisi

9

di relung malam lambaianku menua
juga pandanganmu di kaca jendela
alangkah dalam makna senja
menanggung berat perpisahan kita

10

dari pintu ke pintu ketukanku kembali
tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi
dari rindu ke rindu aku pun mengaji
tak tamat-tamat membaca cinta di aliflammim puisi

2002-2003

Iklan

4 Komentar »

  1. ehm saya suka puisi ini. kesepian yang panjang, teruntai, bersambung. kesepian yang mendekap pembaca untuk merenung. gelap terang cuaca. naik turun kadar kesadaran spiritual. diksi dan metaforanya memberikan elusan yang menghembus bawah telinga, lalu membuka kuntumnya di degup dada.

    silakan singgah di blog saya mas..
    http://budhisetyawan.wordpress.com

    salam,

    Buset.

    Suka

    Komentar oleh budhisetyawan — 28 April 2009 @ 05:00 | Balas

  2. Pak Jamal, puisinya bagus, saya suka, maaf ya…. boleh saya kutip sebagian kan?????

    Suka

    Komentar oleh Eva — 6 Mei 2009 @ 05:00 | Balas

    • Terima kasih. Ya, silahkan.

      Suka

      Komentar oleh jamaldrahman — 6 Mei 2009 @ 05:00 | Balas

  3. Aku memang tak pernah tahu, perempuanku, kapan aku menjadi seorang lelaki, dan kapan aku tak peduli pada kenangan gerimis masa kecil bulan Februari. Tetapi malam ini, di saat kegembiraan ada di antara hembus berpadu dan rintik, aku tahu usia bukan soal kapan seseorang akan berhenti menulis dan mati.

    Suka

    Komentar oleh Sulaiman Djaya — 21 November 2009 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: