Jamal D. Rahman

20 September 2008

Paus Merah Jambu Zen Hai: Puisi di Luar dan di Dalam Sistem Bahasa

Filed under: Kritik Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Puisi-puisi Zen Hae adalah sebuah percobaan membangun struktur puisi di dalam dan di luar sistem bahasa. Disadari atau tidak oleh sang penyair, beberapa puisi Zen Hae (yang terhimpun dalam Paus Merah Jambui, Yogyakarta: Akar Indonesia, 2007) menyediakan sarana yang cukup memadai bagi pembaca untuk mendekatinya, tetapi sebagian puisinya yang lain hanya menyediakan sarana yang amat terbatas untuk mendekatinya. Dalam arti kata lain, sebagian puisinya sangat memudahkan saya memasuki inti puisi itu sendiri, sementara beberapa puisi lainnya menyulitkan saya untuk masuk ke dalam inti puisi. Memudahkan atau menyulitkan itu rupanya sangat tergantung pada apakah jalinan internal puisi berada di dalam atau di luar sistem bahasa.

Kesan pertama tentang puisi-puisi Zen Hae ini memaksa saya untuk menunda untuk sementara dalam membicarakan aspek tematik puisi-puisinya, kecuali dalam batas yang saya anggap perlu dan relevan dalam rangka membicarakan aspek teknis puisi-puisi itu sendiri. Di sini akan dibicarakan bagaimana puisi-puisi Zen Hae beroperasi di luar dan di dalam sistem bahasa, berikut konsekuensi yang ditimbulkannya. Akan kita lihat juga sepintas lalu kemungkinan lain sebagai sebuah percobaan dalam puisi Indonesia, jika struktur (diksi) puisi di luar sistem bahasa memang dilakukan secara sengaja.
Unsur penting dalam sistem bahasa adalah kohesi dan koherensi. Kohesi menunjuk pada keserasian dan kepaduan unsur-unsur bahasa secara sintaksis; koherensi menunjuk pada keserasian dan kepaduan ide, gagasan, ungkapan perasaan, citraan, atau asosiasi secara semantik. Kohesi dan koherensi dengan demikian adalah kepaduan jalinan internal bahasa, yang pada akhirnya memproduksi makna yang kokoh dan konstruktif. Dalam arti itu maka kegagalan bahasa mengikuti sistem bahasa akan menimbulkan kekacauan sintaksis dan kekaburan semantik, yang pada akhirnya mengakibatkan kegagalan bahasa itu sendiri memproduksi makna. Pada tataran itu maka bahasa kehilangan fungsi komunikatifnya.

Dalam pandangan saya, karena puisi menggunakan medium bahasa, puisi bagaimanapun sejatinya bekerja dalam sistem bahasa. Bahkan puisi yang paling eksperimental sekalipun. Puisi yang memanfaatkan licentia poetica secara maksimal pun sejatinya bekerja dalam sistem bahasa. Sudah tentu dalam batas tertentu sistem bahasa puisi berbeda dengan sistem bahasa umum. Jika sistem bahasa umum melakukan fiksasi makna, atau membuat makna bahasa sedemikian pasti sehingga ambiguitas dihindari sejauh mungkin, maka bahasa puisi justru merangsang ambiguitas seluas mungkin. Namun demikian, dasar-dasar sistem bahasa umum tetap berlaku pada puisi. Ambiguitas bahasa puisi disuburkan bukan di luar sistem bahasa, melainkan di dalam sistem bahasa itu sendiri. Oleh karenanya, membiarkan puisi bekerja di luar sistem bahasa akan mengaburkan makna yang mungkin diproduksi oleh bahasa puisi. Puisi yang bekerja di luar sistem bahasa akan menyulitkan pembaca untuk memasuki inti (makna, pesan) puisi itu sendiri.

Dengan demikian, sistem bahasa bisa menghindari ambiguitas, ambivalensi, dan polisemi, namun bisa juga menyuburkannya. Dalam bahasa puisi, ambiguitas, ambivalensi, dan polisemi disuburkan secara maksimal terutama oleh metafor. Dalam pada itu, keberhasilan puisi dalam mendorong ambiguitas, ambivalensi, dan polisemi untuk memproduksi makna sangat tergantung pada sejauhmana metafor dan imaji terorganisasi dan terstruktur dalam sebuah sistem bahasa.
Dengan dasar pikiran sederhana itu, marilah kita memeriksa puisi “Di Halte Malam Jatuh” (halaman 1), puisi pertama dalam Paus Merah Jambu:

akhirnya, aku mahir menggambar hujan
menirukan langkah-langkah pulang
menulis reklame-reklame sunyi dan menempelnya
di bebatang pohon sepanjang jalan
dan di sebuah tikungan tujuh kelopak bintang
gugur sebelum pagi kembali

“bus yang penuh sesak itu akan berangkat?”
tanyamu. orang-orang masih terus mengembara
tak ada bintang di langit
: nujuman nasib, kompas para kafilah
di mana-mana kautanam bendera. aku ingin
berkibar-kibar mengikut gelombang hujan
menjejaki liang rahasia sepanjang uluran senja
tetapi, duh, selalu ada yang kauisyaratkan
lewat deru angin yang tertahan di awal musim

aku jadi terbiasa menyimpan cinta
di batu-batu. mungkin besok
akan menjelma gadis kecil
yang belajar mengeja kata-kata bunga
aku akan menunggunya, memberinya ciuman
menyematkan melati (dan belati)
“dan bus itu,” kataku, “akan berhenti di terminal
yang tak ada bintang.” seperti usia
kota-kota lapar. letih dan tidur
tik … tik … tik … hujan menombaki senja
malam jatuh dengan ubun terluka.

Dari segi sintaksis, puisi di atas kohesif. Di situ tak ada struktur kalimat yang membingungkan. Tetapi secara semantik, kita dibuat bertanya-tanya apa hubungan antara aku mahir menggambar hujan dengan (aku mahir) menirukan langkah-langkah pulang dan (aku mahir) menulis reklame-reklame sunyi dan menempelnya/ di bebatang pohon sepanjang jalan. Pertanyaan serupa dapat diajukan untuk bait-bait berikutnya puisi tersebut. Jawaban saya negatif. Yang lebih musykil lagi, ide demi ide atau citraan demi citraan itu bukan saja tidak saling berhubungan, melainkan dibiarkan berdiri sendiri-sendiri dari awal hingga akhir puisi, sehingga kita tidak mendapatkan kesatuan makna yang dapat dipandang sebagai inti puisi. Dengan kata lain, dalam pandangan saya, karena inkoheren secara semantik maka puisi tersebut tidak bisa memproduksi makna secara maksimal.

Puisi “Bandang” (halaman 84) adalah contoh lain puisi yang secara radikal mengabaikan koherensi:

tuan, di ladang
matahari pantat dandang
tapak liman rindu ganggang
berkelindan

lalu tujuh arwah telanjang
memanjat pohon santan
: kencing jadi hujan

tapi
kauayun kapak−mabuk
mendongak hutan tonggak
bumi mati pucuk

musnah rongga tanah
meluap segala−menggenang
kota bandang!

siang malam
jaring maut mekar di teluk
tak habis duka disindik
bertangan-tangan

ayo ke seberang, abang
bikin proposal, gelar seminar
“kota ditelan kolam”

anak-anak meriang
“ibu, raung siluman empang”
“hanya gerung katak betung,
buyung”

orang lendir di pesisir
memasang insang dan capit udang
“hiruplah segala bala,
raja air!”

tapi
sepanjang malam
ia hanya menekur dan bertelur
mengerang dan merejan

fajar tanpa azan
kerik akbar riang-riang
: ohoi, telur dendam
seantero kota

nanti,
semua menetas−bebas
terbang-berenang-melata
menyerbu segala penjuru

ludah paling tuah
cakar paling bakar
pagut paling maut
beraksilah!

tu(h)an akan tamat!

Pada hemat saya, di samping mengabaikan koherensi, puisi “Bandang” juga mengabaikan makna atau pesan. Tampaknya, yang ingin ditekankan dalam puisi itu adalah aspek lain dari puisi, yaitu efek visual dan musikal. Ditulis secara simetris, puisi tersebut jelas memberikan efek tipografis secara visual. Sementara itu, melalui rima, asonansi, dan aliterasi ia memberikan efek musikal secara relatif maksimal. Tetapi untuk memberikan efek visual dan musikal, harga yang harus dibayar ternyata cukup mahal: diabaikannya kemungkinan produksi makna dari puisi itu sendiri. Apologi mungkin diberikan terhadap puisi “Bandang”, misalnya bahwa puisi itu adalah semacam sampiran dalam pantun, dimana pembaca bisa memberi isi sendiri sebagai makna yang lahir dari sampiran tersebut. Jika demikian, masalahnya adalah seberapa efektif puisi di atas berfungsi sebagai sampiran sehingga pembaca benar-benar teraktifkan untuk dan bisa memberi isi yang berarti?

Agar lebih jelas bahwa kesulitan saya memasuki beberapa puisi Zen Hae lebih karena diabaikannya sistem bahasa dalam puisi-puisi Zen Hae sendiri, marilah kita bandingkan puisi di atas dengan puisi “Ira dalam Ruang” (halaman 15) berikut:

ira, kapan ruang ini akan dibom
aku makin membusuk dan berjamur

ira, kapan ranjang ini akan diberangus
berahi di kelaminku jadi salju. sementara
kau masih menangisi bulan padam di jambangan
itu hanyalah warna kutukan dari mayatku yang gelisah
dari suara-suara hujan yang parau

ira, rentangkanlah tanganmu ke langit
di sana pelangi akan mengepakkan sayapnya
menjadi burung-burung dan halilintar.

Saya bisa memasuki puisi “Ira dalam Ruang” dengan mudah. Saya menikmati imaji-imajinya, membayangkan asosiasi-asosiasi yang ditimbulkannya, menangkap ambivalensi perasaan aku-lirik yang gelisah menunggu sebuah “akhir” dari kehancuran dan kesia-siaan namun tetap memiliki harapan meskipun di dalamnya ada juga kecemasan. Makna seperti ini hanya mungkin lahir dari puisi “Ira dalam Ruang” yang bekerja dalam sistem bahasa: kohesi sintaksis dijaga dengan rapi, koherensi semantik diperhitungkan dengan hati-hati. Dengan koherensi, metafor demi metafor terorganisasi dan terstruktur sedemikian rupa membangun satu kesatuan makna.

Puisi yang juga memperlihatkan kerapian sintaksis dan keteraturan semantik adalah “Aku dan Tungganganku” (halaman 94). Atas alasan itu, simbolisasi di situ dapat berfungsi secara optimal. Ditulis untuk atau tentang Agam Wispi (1930-2003), penyair eksil kita itu, puisi “Aku dan Tungganganku” dengan indah melukiskan perasaan dan pikiran (Agam Wispi sebagai penyair eksil dan) seorang yang dibuang, dengan metafor yang hidup, padat, dan mengesankan. Citraan-citraannya tersusun rapi dan bersih, sehingga secara keseluruhan puisi tersebut sangat mempesona. Puisi itu cukup panjang, saya kutip sebagian:

kau menyebutku orang buangan. aku seorang kelana, sebenarnya. aku tidur dan jaga di atas kudaku. aku dan tungganganku adalah satu. kami saling meringkik saling menggoda. hiya, sambil melintasi kota-kota masa silam, kuseru kata-kata paling tajam. kubisikkan lagu paling merdu: “tubuh digodam pulang jiwa ditebas terbang. oi”

ah, betapa ajaib siklus waktu. kutagih pagi dibayar petang. kuminta pulang diberi buang. dari kandang macan ke asem lama ke teluk tonkin ke nanking ke leipzig ke kanal-kanal amsterdam. tersuruk di rumah jompo bagai orang mabuk gadung. menunggu salju turun, memindai tahun mati.

pernah kuminta camar bersarang dan bertelur di atas tumpukan buku. menetas jadi lidah-lidah api. huruf-huruf terbakar. kata-kata mengaduh. bukan karena api tapi karena rindu. anak-bini berbiak di benak, seperti jamur kuping di kayu lapuk. mekar dalam suhu minus duapuluh. ribuan mil jauhnya, ribuan mil jauhnya, tapi dapat kudekap dalam sekejap. bisa kucium dalam sajak.

tapi sajakku jutaan bintang merah di bawah langit tanpa pintu. setiap malam melayang-meliuk-menukik, jatuh dan aus di pepucuk putri malu. serupa arah luku ditarik kerbau mabuk daun singkong sampo kuru (sic!). sajakku jejak kaki kaum tani yang menghadang buldoser selepas zuhur. racau pemabuk di tepi danau ketika panen tiba. sedang doa, mantra merah tua itu, hanya batu penyusun dinding. tindih-menindih, saling jabat. makin tinggi makin padih. tuhan pergi dari puncak menara, ternyata.

kukenang turang. jalan turun-naik sepanjang medan-lubuh pakam. oi, kampung halaman, hanya bisa kukenang. bukankah tubuh dibikin dari tanah. tapi jiwa menampil bentuk di mula cipta. menolak rumah di ujung usia. jiwaku pergi ke mana ia suka. tidak ke kubur, bukan ke sorga atau neraka. mungkinke planet paling jauh. asal ada kopi dan tembakau dan perempuan bermata biru dan bintang-bintang berekor putih.

mungkin aku akan pulang sebelum sebuh negeri tenggelam oleh kutuh tuhan. tapi aku tak tahu negeri apa, pulang ke mana, tuhan siapa. kugelar peta buta. telunjukku menunjuk seperti jantung seorang tiran, ke negeri impian: satria uzur dan putri cantik, baju zirah dan tombak kayu, kincir angin dan iblis hijau, seekor bagal kurus dan langit coklat tua. tembok-tembok hitam yang meruapkan bau gandum, menggemakan sepotong nyanyian orang gipsi: …

….

aku dan tungganganku berjalan ke arah cahaya. kota-kota baru dibangkitkan. segalanya masih sangat muda ….

Puisi lain yang mengesankan bagai saya adalah “Dalam Ribuan Sajakmu” (halaman 32). Pertama-tama puisi tersebut bekerja dalam sistem bahasa, dimana kohesi dan koherensi dijaga dengan amat baiknya, lalu di atas itu ia menghidupkan makna dengan cara meng-eratkan hubungan-hubungan internal puisi itu sendiri lewat jalinan metafor dan citraan-citraan yang mempesona. Secara tematik puisi itu berbicara tentang kematian, tema yang ditulis oleh banyak penyair lain, dan Zen Hae sampai pada citraan yang khas miliknya. Kecemasan menghadapi kematian dilukiskan dengan: sunyi dan badai kembali membakar kenangan/ di jendela… dan udara dingin berguguran/ dalam paruku dalam kamarmu/ menyelimuti reruncing sajak. Sementara, keikhlasan menerima maut dilukiskan dengan bersama rumput dan para pelayat kau mengantarku/ ke bukit-bukit batu. di sini, katamu/ “kepulanganmu dipercepat api dan airmata”. Ketika kematian itu benar-benar tiba, dalam ribuan sajakmu tak pernah lagi kautemukan/ jejakku. Pada hemat saya, puisi ini menunjukkan bahwa Nur Zen Hae sangat potensial menjadi penyair lirik yang kuat, yang mampu mengolah metafor dengan cermat, mengeksplorasi bahasa dengan otentik, sekaligus mengekspresikan renungan dan penghayatannya secara orisinal:

sunyi dan badai kembali membakar kenangan
di jendela. lalu tubuhku lindap dalam gelombang
awan mendung. menzuhurkan kepedihan hidupmu
dan udara dingin berguguran
dalam paruku dalam kamarmu
menyelimuti reruncing sajak
tapi aroma kematianku tercium sampai pembaringan
melewati kamar-kamarmu: terburai oleh tangisan

juga matahari masih menembakkan keranda lewat
serpihan hujan. lalu kengerian tidurmu tersulut
dalam cuaca pagi. penuh kabut mengucur
tapi gagal memeluk hujan yang jatuh di tepi jurang
didera kegamangan
bersama rumput dan para pelayat kau mengantarku
ke bukit-bukit batu. di sini, katamu
“kepulanganmu dipercepat api dan airmata”

dalam ribuan sajakmu tak pernah lagi kautemukan
jejakku. juga jerit anak-anak yang terbadik jalanan.

Sampai di sini, tak perlu diragukan kemampuan Zen Hae menulis puisi yang bisa bekerja secara efektif dalam sistem bahasa, yaitu puisi yang dengan amat bagus mempertimbangkan kohesi sintaksis dan koherensi semantik. Sehubungan dengan beberapa puisinya yang mengabaikan koherensi, pertanyaan kita adalah: apakah inkoherensi atau ketidakteraturan semantik dalam beberapa puisinya merupakan kesengajaan atau tidak? Jika tidak, maka kita sedang menghadapi kelalaian berbahasa seorang penyair. Jika ya, sejauhmana konsekuensi-konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya telah dipertimbangkan?

Dalam pertimbangan saya, kalau inkoherensi dalam puisi-puisi Zen Hae disengaja, artinya dilakukan secara sadar, maka puisi-puisinya dapat dipandang sebagai perlawanan terhadap norma keteraturan dalam sistem bahasa –lepas dari apakah perlawanan itu membuahkan hasil atau tidak. Namun di sisi lain, Zen Hae ternyata tidak melepaskan diri sepenuhnya dari norma keteraturan sistem bahasa, seperti ditunjukkan oleh 3 puisi terakhir di atas. Ambivalensi ini membuat perlawanannya terhadap norma keteraturan dalam sistem bahasa sebagai perlawanan yang tidak radikal. Dengan kata lain, perlawanan itu hanyalah perlawanan setengah hati, yang justru bisa membatalkan pentingnya inkoherensi sebagai tindakan yang dilakukan secara sadar.

Tapi bagaimanapun, jika inkoherensi itu merupakan tindakan sadar seorang penyair, sesuatu tengah menantang di hadapan kita: bagaimana inkoherensi itu bisa memproduksi makna yang mempesona dan mengesankan? Kalau bukan kohesi dan koherensi, sarana apa yang disediakan puisi demi mengorganisasi metafor-metafor dan citraan-citraannya, yang seringkali berlepasan satu sama lain sekaligus saling berdesakan? Bisa juga, di antara metafor dan citraan yang berlepasan satu sama lain itu terdapat ruang kosong yang bisa mengaktifkan pembaca mengorganisasikanya secara koheren menurut caranya sendiri demi memproduksi makna. Tapi kalau begitu, bukankah puisi akan kehilangan kecemerlangan intrinsiknya? Salam.***

Pondok Cabe, 3 Agustus 2007

*) Makalah disampaikan pada peluncuran dan diskusi buku puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu (Yogyakarta: Akar Indonesia, 2007), di Darmint Café, Pasar Festival, Kuningan, Jakarta, 3 Agustus 2007.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: