Jamal D. Rahman

12 Agustus 2008

Polisi Tidur

Filed under: Esai Sastra — Jamal D. Rahman @ 05:00

Oleh Jamal D. Rahman

Polisi memberikan sumbangan penting pada bahasa Indonesia. Polisi telah turut memperkaya bahasa nasional kita, dan sumbangan polisi terhadap pengayaan bahasa kita tampaknya terus meningkat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan tahun 1990, baru ada 8 istilah berkaitan dengan polisi. Dalam KBBI terbitan tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 12 buah, yaitu polisi ekonomi, polisi hukum, polisi keagamaan, polisi lalu lintas, polisi militer, polisi moral, polisi negara, polisi pamongraja, polisi perairan (laut), polisi rahasia, polisi susila, dan polisi tidur. Istilah-istilah ini jelas memperkaya bahasa Indonesia.

Polisi ternyata cukup rajin menciptakan kosakata. Memperhatikan istilah-istilah di atas, kita bisa menduga kuat bahwa, kecuali polisi tidur dan barangkali patung polisi, semua istilah diciptakan oleh polisi. Hampir semua istilah merupakan bahasa baku dalam lingkungan resmi kepolisian. Masak iya masyarakat (non-kepolisian) mau menciptakan istilah polisi moral dan polisi susila, misalnya? Tidak mungkin. Sebab, mereka pasti bingung sendiri membedakan keduanya.

Adapun polisi tidur, menurut KBBI, adalah bagian permukaan jalan yang ditinggikan secara melintang untuk menghambat laju kendaraan. Benar. Tapi istilah itu membuat saya pusing hampir tujuh keliling. Kenapa polisi tidur? Kenapa bukan gundukan melintang, misalnya? Dari mana istilah polisi tidur itu datang? Dari mana pula datangnya ide membuat polisi tidur guna menghambat laju kendaraan? Bukankah kita punya rambu lalu lintas yang bisa berfungsi memperlambat laju kendaraan?

Jangan-jangan si pembuat istilah itu punya maksud tidak baik terhadap polisi. Dia ingin memberikan citra negatif pada polisi. Kalau benar begitu, maksud si pembuat istilah tersebut telah tercapai. Sebab, kawan saya mengaku selalu kesal setiap kali harus melintasi polisi tidur, dan dengan berkelakar dia bilang, “Ah polisi. Lagi tidur aja bikin susah gue.” Tu kan.

Saya mencoba tidak setuju dengan kawan saya itu. Saya membantahnya. Anda bilang begitu, kata saya, karena anda pengendara yang harus melintasi polisi tidur. Kalau anda warga yang tinggal di sekitar polisi tidur itu, apalagi anda punya anak kecil, anda pasti merasa terlindungi dengan adanya polisi tidur. Dalam posisi itu, kata saya, “Anda akan mengatakan: wah polisi, biar lagi tidur dia tetap melindungi saya.” Saya pun berubah pikiran: jangan-jangan istilah polisi tidur berasal dari polisi sendiri, yang ingin atau merasa melindungi masyarakat bahkan meskipun mereka sedang tidur.

Kawan saya menjawab cepat. “Kalau begitu maksudnya,” kata kawan saya itu, “pasang rambu lalu-lintas kecepatan maksimal 10 km/jam. Tidak mengganggu pengendara. Tidak menjengkelkan. Lebih murah pula.”

“Tetapi,” dengan cepat saya bertanya, “apakah masyarakat kita mau mematuhi rambu lalu-lintas?”

Dalam hal ini, kawan saya itu sepakat dengan saya.

Saya membayangkan kita tidak selalu merasa dikejar-kejar saat berkendara. Saya membayangkan kita menikmati waktu yang merambat pelan di tubuh kita saat berkendara, di kompleks perumahan atau di daerah-daerah ramai. Kita memang ingin selalu menghemat waktu dan tenaga, tapi alangkah nikmatnya menjaga ketenangan dan perasaan-aman orang lain. Alangkah indahnya kita berkendara tanpa orang lain merasa terganggu oleh suara bising kendaraan kita. Tanpa orang lain merasa terancam atau terteror oleh laju kendaraan kita. Memang, ada kalanya kita alpa dengan orang lain. Tapi cukuplah rambu lalu-lintas mengingatkan atau memberitahu kita bahwa kita diminta memperlambat kendaraan kita.

Di sisi lain, alangkah indahnya juga mengingatkan pengendara dengan rambu lalu-lintas. Pasanglah rambu kecepatan maksimal 10 km/jam di mana anda menginginkan pengendara melaju pelan. Jika tak cukup satu, pasanglah dua. Jika tak cukup dua, pasanglah tiga, dan seterusnya. Suatu saat nanti, anda akan menikmati para pengendara motor akan mematuhi keinginan anda tanpa mereka merasa jengkel pada anda.

Pada saat itu, polisi tidur boleh dicoret dari kamus kehidupan kita.***

2 Komentar »

  1. di saat-saat tertentu keberadaan polisi tidur emang menyebalkan…..^_^!

    Komentar oleh vie — 26 Januari 2009 @ 05:00 | Balas

  2. Bapaak.. essai’y keereenn.. hehee

    Komentar oleh Ariani Happy's — 1 April 2012 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: