Jamal D. Rahman

1 November 2007

Rubaiyat November

Filed under: Puisi — Jamal D. Rahman @ 05:00

Puisi Jamal D. Rahman

1

november, ya november
jika tahun-tahunku berakhir desember
januari lepas, waktu pun gemetar
di abad keberapa lagi akan kutemukan cintaku

2

november, ya november
jika di tanganku matahari bertakbir
bulan kugenggam, bumi pun berzikir
ke titik mana lagi harus kukembalikan cintaku

3
november, ya november
jika tak kutemukan juga seutas akar
dan hutan resah di belitan belukar
di tanah mana lagi harus kutanam ketenangan gelisahku

4

november, ya november
jika pecah batu mataair
dan gerak masih diam di dalam sumber
bulan apalagi akan bangkit dari batu-batu rinduku

5

november, ya november
jika angin berjejak di pasir
dan pantai tak menerima lagi bulan semilir
laut mana lagi akan berdebur dari atlantik hatiku

6

november, ya november
jika kejora tertulis di selembar janur
lalu tiupan angin membuatnya gugur
bintang apa lagi harus kutulis di janur-janur kesepianku

7

november, ya november
jika ombak usai di puncak debur
dan waktu usai di batas umur
airmata apa lagi akan tumpah dari doa-doaku

8

november, ya november
jika doa meminta airmata terakhir
langit leleh dan matahari pun mencair
bintang apa lagi takkan mengekalkan cintaku

9

november, ya november
jika angka tanggal dari kalender
dari jam dinding, detik pun gugur
fana apa lagi bisa memahami keabadian rahasiaku

10

november, ya november
jika gunung dan lembah bertemu di surat penyair
rahasia kalam bangkit dari balik tabir
tak ada, tak ada yang lebih kekal dibanding rahasia-rahasiaku

2003-2004

Iklan

5 Komentar »

  1. kog masih belum banyak isinya? di sini kan bisa pajang foto-foto narsis lho?

    Suka

    Komentar oleh helwatin najwa — 25 Juli 2008 @ 05:00 | Balas

  2. Goo2d. masih menggigit puisinya

    Suka

    Komentar oleh ahmadi — 18 September 2008 @ 05:00 | Balas

  3. salam kenal saya ian mahasiswa s2 sastra persia di university of tehran, iran senang bisa membaca puisi2 anda
    oia maaf setahu saya form puisi anda bukanlah rubaiyyat, rubaiyyat itu ritmenya AABA, dan memiliki karakter khusus yg rumit yang saya kira tak ada padanannya dalam sistem sastra indonesia jadi salah besar kl puisi anda disebut rubaiyyat…
    sori ye jd kayak mengguri ne, soale yg gw pelajari emg bgt tp sukses bro bwt lu berkarya trs!!!!

    Suka

    Komentar oleh Ian'z — 13 Januari 2009 @ 05:00 | Balas

  4. Saudara Ian, terima kasih anda telah membaca puisi saya. Salam kenal juga. Saya senang sekali dengan komentar kritis anda. Anda beruntung bisa belajar tentang rubaiyat di jantung rubaiyat itu sendiri, dan karena itu pastilah anda memahaminya dengan baik.

    Sebelum saya menulis rubaiyat, saya menulis puisi-puisi bebas, yang berakar terutama pada puisi tradisional Madura, kampung halaman (budaya) saya. Puisi tradisional Madura adalah puisi bebas, yang –dalam kebudayaan Madura– lebih tua daripada pantun atau syiir yang masuk ke Madura kemudian.

    Belakangan saya tertarik untuk menulis puisi terikat. Dalam konteks kebudayaan yang saya kenal, maka saya bisa menulis pantun, syiir, atau rubaiyat. Tapi satu hal jelas bagi saya: saya tidak akan setia sepenuhnya pada bentuk tradisinal puisi-puisi terikat itu. Ya, saya akan melakukan –dalam kata-kata anda– “kesalahan besar”. Maka, saya menulis rubaiyat sebagai bentuk perpaduan dari ketiga bentuk puisi tersebut (pantun, syiir, dan rubaiyat). Itu sebabnya, bentuk rubaiyat saya berbeda satu sama lain (misalnya “Rubaiyat Matahari” dan “Rubaiyat November” –yang terakhir ini saya juga mengadaptasi atau mengambil bentuk surat Ar-Rahman dalam Al-Quran). Jadi, saya memang menerobos batas-batas formal rubaiyat, syiir, dan pantun. Saya menyebutnya rubaiyat lebih karena bentuknya yang 4 larik (sesuai arti etimologis kata itu dalam bahasa Arab) –dan jumlah larik itu sama dengan jumlah larik pantun. Bentuk syiir saya ambil persamaan bunyi pada akhir setiap lariknya. Dan, bentuk pantun saya ambil sampirannya.

    Bentuk yang tak kalah jauh saya terobos (langgar) adalah pantun. Dengan kacamata tradisional maka tak akan terasa ada pantun dalam rubaiyat-rubaiyat saya. Yang saya terobos terutama bentuk formal sampiran dalam pantun. Dalam pantun tradisional, sampiran dan isi dibedakan dengan amat tegas. Dalam beberapa rubaiyat saya, saya berusaha mencairkan atau mengaburkan batas antara keduanya. Batas antara sampiran dan isi tidaklah tegas. Lebih dari itu, dalam “Rubaiyat Februari”, 3 larik pertama setiap ruba’i sesungguhnya dapat dipandang sebagai sampiran, dan hanya 1 larik terakhir setiap ruba’i merupakan isi –tapi itu akan terbaca demikian kalau kita untuk sementara menanggalkan kacamata tradisinal kita yang kaku bin ketat tentang pantun.

    Dan dengan itu semua, saya mencoba membuka kemungkinan kreativitas dalam puisi Indonesia modern, sebuah percobaan yang masih sangat dini tentu saja.

    Sekali lagi terima kasih atas perhatian anda. Salam hangat dari Jakarta. Tolong sampaikan salam saya untuk Ahmadinejad hehe …. Bravo.

    Jamal D. Rahman

    Suka

    Komentar oleh jamaldrahman — 13 Januari 2009 @ 05:00 | Balas

  5. perkenalkan pak jamal, nama saya Bagus andriono, sedang menempuh S1 geografi du UI. perta kali saya kenal pak jamal ketika di SMA ada buku yang berjudul “Garam-garam hujan”, waktu saya sangat senang membacanya. entah kenapa puisi-puisi dalam buku tersebut sangat menarik bagi saya. jika berkenan, tolong kunjungi blog baru saya (yang mungkin baru satu dua tulisan) dan mohon beri komentar Anda. karena saya sangat inin meningkatkan kemampuan berbahasa khususnya dalam menulis puisi. terima kasih.

    Suka

    Komentar oleh bagus — 20 Mei 2009 @ 05:00 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Jamal D. Rahman

demi masa, demi kata

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

kafe sastra Jamal D. Rahman

membicarakan puisi dan cerpen anda

%d blogger menyukai ini: